KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Oktober 2008

Hari yang cerah pagi ini ketika tiba-tiba kurasakan bekas lukaku ini kembali berdenyut-denyut. Luka ini tampak memerah di dadaku, menandakan kemungkinan adanya infeksi. Akhir-akhir ini udara kota Hames dingin, menyebabkanku perlu menyediakan beberapa anti-histamin, untuk mengurangi gejala alergiku. Lagi-lagi luka ini. Luka ini kembali mengingatkanku pada dia, sang pemilik biola itu. Praktikum akan segera dimulai satu jam lagi. Sambil merapikan bukuku, kutengok jam tangan antik yang melingkar di tangan ini. Jam menunjukkan pukul 15.00 sore. Segera kulangkahkan kakiku menuju ruang praktikum anatomi yang terletak di sebelah utara gedung rehabilitasi penyakit jantung tersebut. Kurasa waktu satu jam tidak terlalu singkat bagiku untuk berjalan-jalan sejenak ke gedung sebelah.

Sekuntum Kamboja menyerpih
di ruang hampa berdinding baja
tersayat dawai biola bersepuh perak

tetes hujan tak jua buatnya merekah
pun matahari yang menyinari lembut,
tak seperti biasa

Serpih Kamboja menyibak
tirai salju merah jingga
Dingin…
Ku membeku didekap jeritan sayup malam
dihembus merdu kerincing angin,
lena anganku dihela madu
bunga seribu angan

Tempat pelacuran di mana-mana sama saja. Mau di gang-gang sempit. Mau di hotel-hotel berbintang. Mau di pinggir jalan sekalipun. Sama saja. Yang membedakan hanya pelayanannya saja.

Satu malam lagi aku menjelajahi tempat pelacuran di negeri ini. Kalau dihitung-hitung sudah banyak uang dan waktu yang kuhabiskan untuk melakukan pesiar malam seperti ini. Tapi aku tidak akan pernah berhenti sampai aku menemukan dia. Cinta sejatiku.

Saat penat terasa semua begitu kelam
Hitam dengan segala nikmatnya
Redup dengan segala gelapnya
Hampa dengan segala isinya

Pernahkah kau merasa illfeel?
Ketika dunia mentertawakan sikapmu
Semua insan seperti tumpukan tanah yang siap menggulungku

Atau pernahkah kau merasa bonyok?
Dilempar batu dan dikeroyok oleh pedang lidah?
Ada yang harus kau lakukan?
Dan apa yang harus kau berikan?

Aku akan bertemu dia di sini. Kami sudah berjanji akan bertemu di tempat ini  setelah kami melewati tiga tahun bersama dan satu tahun perpisahan ini. Di tahun tiga kebersamaan kami, dia memutuskan untuk pergi ke kota metropolis, kota yang selama ini selalu ditakutinya dan meninggalkanku di sini. Dia berjanji padaku akan datang kembali ke tempat ini; tempat ia meninggalkanku tepat di hari ke-360.

Aku merangkak di tepian waktu
Coba rengkuh segala bentuk arti yang hadir di riak rasa
Yang terkadang menggelegak lelahkan akal
Dan kemudian ciut
Beku mengkristalkan ketakutanku sendiri

Kesadaranku kini terburai dari cangkangnya
Menyerpih keseluruh sudut masa lalu yang kupijak
Dimana telah kutinggalkan jejak berongga
Yang mungkin telah dipenuhi air mata
Menjadi oase kesedihan di tengah gurun kebencian

Pasir-pasir Sipuh

Pasir-pasir telisik matamu yang mulai merah
Ombak telah memelukmu dalam-dalam

Pasir-pasir sipuh rambutmu
Membungkam mencekam, tergerai
Lalu memergoki hilir yang lari ke muara
Satu persatu, helai tiap helai
Juntai
Pasir-pasir sipuh angin
Mengudara jadi layang-layang

Pilar-pilar berkaca
Pasir-pasir sipuh
Langit runtuh di ufuk kemuning
Rembulan menyantap matahari seketika
Pasir-pasir sipuh warna-warna
Berkelana mencari keemasan janji

Jalan mulai sepi. Sudah jarang orang yang berlalu lalang. Lampu penerang jalan tidak nyala. Sedangkan malam menginginkan cahaya, menggantikan rembulan yang enggan menampakkan wajahnya. Semestinya mereka beradu, seperti malam-malam sebelumnya. Tapi awan menyembunyikan rembulan. Malam hanya bisa diam.

Puing-puing hati yang telah retak
Berserakan ke dasar jiwa
Merepih tiada tara
Ku menunggu…..
Menunggu embunkan berarak membawamu….
Janjikan sedikit asa….
Walau hanya angan
Namun waktu tergelapkan setiba kelabu merenggutku…

bila tiba waktuku
jangan menangis
jangan sedikit pun airmatamu terjatuh
bumi ‘kan jadi saksi
begitu kelam menguasai mimpi
disaat kehilangan menyelimuti hatimu
sungguh sayang kan selamanya
Kau penaku…
Tiada setetes ‘kan terlupa
Selalu menyertai di segala rasa yang ku punya
Bukan hanya secarik kertas tercipta
Namun beribu warna kau tebarkan dalam ruang hatiku
Ku untai kata tanpa batas
Tiada sela hanya lorong gelap
Mungkin waktu tak ‘kan banyak ku miliki
Sebelum semua dunia tenggelam
Dari angan yang tiada tergenggam
tergores kata ‘tukmu dengan ketulusan sayang yang ‘kan selalu bersahabat

Next »