Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Ya Allah…
Jauhkan aku dari rasa cinta yang karenanya Kau kuabaikan
Ya Allah…
Jangan biarkan aku menghamba pada satu kerinduan akan makhluk yang karenanya aku melupakan-Mu
Ya Allah…
Jangan bebaskan kasih sayang hati ini tersemaikan pada makhluk yang karenanya aku kehilangan kasih sayang-Mu
Posted in Cerpen, Khayalan, Fiksi, Renungan on September 25th, 2008 2 Comments »
Titik nol kilometer tidak berupa sebuah menara.
Juga tidak berwujud sebuah tugu peringatan, dengan papan nama yang dipancang permanen, tempat orang-orang bisa berfoto bersama. Dimana nanti mereka bisa memajang foto mereka yang berbingkai perak dengan rasa bangga di ruang tamu, demi bisa menepuk dada dan berkata kepada setiap pengunjung temporernya “Oh ya, saya pernah kesana. Ke titik nol kilometer dunia.” Berusaha sekuat tenaga mengundang decak kagum dan antusiasme basa-basi di sela-sela dentingan cangkir teh dan kopi.
Aku menatap senja di laut, hatiku sedang gundah. Rasanya tangis dan tawa sudah tak dapat aku bedakan lagi. Tawa itu seolah sirna. Sedih itu sudah menjalar di dalam bagian tubuhku, mengisi setiap sendi-sendi tubuhku.
****
Perjalanan manusia yang begitu panjang….
Membawa setiap pertemuan dan perpisahan..
Hari ini aku bertemu…
Dapat menikmati canda tawa, tangisan, dan kebersamaan…
Namun seiring waktu berjalan…
Seseorang datang dan seseorang pergi….
Tiba waktunya bagi semua memikirkan tujuan masa depan…
Tujuan hidup mereka ada ditangan mereka…
Begitu juga tujuan hidupku, ada ditanganku…
Posted in Puisi, Teruntuk on September 24th, 2008 No Comments »
Mungkin kau bahagia melihat merah tak berdarah
Perkampungan tak sepi
Gedung sekolah tak dibakar
Orang-orang tak lagi gusar
Serdadu berbedil telah enyah
Kurasa kau bersuka melihat generasi tak lagi terancam senjata
Tak ada lagi pengumpulan romusa
Engkau ada jembatan itu
Tapi
Kuyakin kau murka melihat merah memudar
Putih mengusut
Cinta menelingkung cita-citamu
Sore ini seperti sore yang lalu. Kududuk di deretan kursi plastik ruang dapur yang kami sulap menjadi ruang rapat. Kepulan asap rokok menyesakkan hidung rekan yang turut terlibat dalam rapat.
Ya, itu giat rutin saban sore.
Waktu mengalir bagaikan air
Ramadhan suci kian terukir
Ketika petang merona jingga
Menghantar hembusan Asma Allah perkasa
Terbukalah semua hijab di hati
Antara noda, dosa dan cela
Mudah-mudahan menjadi sirna
kini ada rasa lapang didada
menuju hari yang bermakna
Ya Allah………….
Ya Allah……………..
Biarkan aku meratap di jalanMu
mencoba mencari secercah ridhoMu
Di dalam hari-hari sunyiku
Ya Allah…………….
Akan ku jatuhkan diri dalam cinta Mu
Akan ku jeratkan hati dalam kehangatanMu
Merajut cinta dalam pesona dan keindahanMu
Hingga akhir detik dalam hidupku
Walau ku coba sembunyikan cemburu di sudut kamarku
namun hati ini tak kuasa menahan egoku
tak mampu meruntuhkan kesombonganku
ketika melihatmu selalu memperhatikan dia
Rasa penat dan resah menyelimuti hatiku
bagai sembilu yang selalu memburu
tak kuasa dendam dan iri tumbuh di hati
Posted in Puisi, Jeritan, Kelam on September 21st, 2008 No Comments »
badanku gemetar.
tak sanggup menahan lelah
mungkin esok aku terkapar
dalam sakit yang parah
hausku tak terminum malam
laparku tak termakan pagi
hanya sahabat bersanding
tertawa mendapat ilmu
tidurku gelisah
kamar tiga begitu panas
meletup,
menyulut,
membakar hati.
sakitku bukan hayat
yang menjadikan mayat
namun, sakit ini menjerat
melumat hati yang tersayat