KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan September 2008

Hujan deras mengguyur kota sepanjang hari, mengurung aku sendirian di dalam kamar ini. Dari jendela bisa kulihat jeruji perak yang berkilau muram di luar sana, dan dari sela-selanya terlihat pemandangan dunia sebatas yang bisa ditangkap bingkai jendela kecil itu.

Pagi-pagi sekali Aji sudah mengayuh sepedanya melewati pasar-pasar tradisional yang tengik. Roda-roda sepedanya yang sudah tidak lagi bulat akibat termakan usia, sedikit demi sedikit mulai tertutupi lumpur yang belum hilang akibat hujan semalam. Batu-batu besar terpaksa ia terjang demi mendapatkan lahan untuk meloloskan sepedanya. Di sekitarnya kerumunan manusia berjejalan mencari penghidupan dengan berjualan sayur dan buah-buahan dalam bakul rotan. Jalanan sempit selebar tiga meter itu sudah tidak mampu lagi menampung luapan manusia yang sibuk berniaga di pasar itu.

Presiden Padang Ilalang

      “… Tidak seorang pun aku ijinkan menggoyang Indonesiaku ini, akan aku pastikan garudanya tetap mengangkasa di langit Indonesia, akan aku pastikan benderanya terus berkibar meski aku sendiri yang harus mengereknya di puncak tertinggi Indonesia, dan akan aku pastikan setiap silanya mengakar mendarah daging dalam setiap laku dan gerak bangsa ini. Itu adalah janjiku, dan aku tidak akan pernah memaafkan manusia yang mencoba-coba mengancam kestabilan keamanan NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA.” Salah seorang pejabat teras pemerintahan berbadan tegap menghentak-hentak hati seluruh anggota rapat dengan pidato singkatnya yang terucap lantang dan penuh kecintaan yang teramat dalam terhadap Bumi Pertiwi.

Dari seluruh bangunan tempo dulu yang ada di kota ini, menurutku sekolahku yang paling aneh. Bukan karena bentuk bangunannya yang mirip benteng pertahanan dengan dilengkapi kantin sehat. Bukan juga karena nilai historisnya. Karena bangunan ini tidak pernah sekalipun menjadi tempat pembuangan Soekarno. Sekolahku kusebut aneh justru karena fungsinya di masa kini. Pada siang hari sekolahku menjadi tempat yang penuh hikmah, namun saat malam tiba bangunan ini menjadi sarangnya maksiat.

Malam ini angin berhembus dengan tenang menerpa wajahku. Aku tetap melangkahkan kakiku di trotoar sambil merapatkan jaket kulit warna hitam yang sudah agak kusam. Situasi malam ini terasa aneh, sambil tetap berjalan, kurasakan ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. ”Ehm, aneh.” Kulihat kebelakang, tidak nampak sesuatu pun karena lampu jalan sudah mulai redup. Aku pun segera mempercepat langkahku agar segera sampai di rumah.

Petugas kesehatan berkata,
“Untuk orang miskin di bangsal itu.”
Sambil menunjuk sebuah ruang kosong

Terlihat ruang pengap dengan bau pesing
Para pasien duduk berhimpit-himpitan
Dan mereka harus menahan diri untuk tidak buang hajat
Sanitasi mati…

Hujan membasahi tanah merah itu, di sana seorang cowok sedang bersimpuh memandangi nisan itu. Gundukan itu masih memerah, baru saja membenamkan tubuh seseorang, waktu akhirnya membawa pergi sesosok raga. Baru kali ini aku melihatnya terpuruk seperti itu. Sejak mengenalnya, tak sedikitpun rasa duka yang pernah mampir dari wajah itu, tapi kini airmatanya menganak sungai. Begitu berhargakah sosok yang terdiam dibawah sana untuknya. Aku masih menatapnya, lintasan waktu kembali berputar membawaku ke tempat itu, awal pertemuan kami…

Rasa

Manusia hidup dari sebuah rasa. Rasa yang tertinggi dan mulia dari segala rasa yang dimiliki mahluk ciptaan-NYA.

Rasa itu terbesit di kalbuku, pekan pertama di bulan keempat kalender 2008. Rasa ini semakin mengumpal di kala memejamkan mata. Menyesakkan nafas di atas kasur kapuk kamarku.

Hipotesis Sebuah Parfum

Entah kenapa aku bertemu dengan Satria tadi pagi. Laki-laki jetset penganut kapitalisme. Aku juga heran, kenapa kali ini aku terkesima. Bukan karena ketampanan laki-laki bangsawan itu, lebih karena bau parfumnya. Dari jarak dua meter tempat aku duduk, parfumnya—entah merek apa—tercium. Sangat wangi. Kunikmati wewangian itu agak lama. Sedikit kupejamkan mata. Aku baru tersadar ketika wewangian itu dikalahkan oleh bau badanku sendiri.

Senja kutermenung, menatap langit dan rona merah pada mentari.
Merasakan semilir angin yang bergerak mengikuti arah angin.
Dan kegelisahan yang menyesakkan dadaku,
membuat diriku ingin menumpahkan segala keluhan.

Di kegelapan malam, aku mendekapi tidurmu.
Di kegelisahan hati, aku memahamimu.
Dan waktu yang terus berjalan menyaksikan kehidupan,
membuatku selalu berharap
untuk dapat menghabiskan masa terakhirku bersamamu.

« Prev - Next »