Exodus
September 30th, 2008 by A. Masaswasana Soer
Rumah itu benar-benar lengang, tidak ada tanda-tanda keberadaan penghuni di sana. Aku mulai meragukan kebenaran alamat yang kudapatkan. Kugeretakkan gigiku karena gemasnya. Gemas karena sudah telanjur berpenat-penat untuk sampai ke Magelang, dan segala kepenatanku itu sia-sia.
“Kamu mencari Kama?”
Suara itu membuyarkan semua kegemasanku. Aku mencari arah datangnya suara itu. Seorang tua berdiri di pinggir jalan. Usianya terlihat agak lebih tua dibandingkan ayahku yang sudah menginjak usia enampuluh. Dengan penasaran, kuiyakan pertanyaannya.
“Seminggu yang lalu Kama ditangkap polisi. Punya ganja, katanya. Karena rumah ini cuma Kama yang menempati, maka rumah ini kosong sekarang. Memangnya kamu mau bermalam di sini?”.
Tampaknya orang tua itu sudah mengetahui permasalahan yang kuhadapi. Dengan kebingungan, aku menjawab, “Iya, Pak. Satu-satunya harapan saya adalah tinggal di rumah ini bersama Kama. Sekarang saya tidak tahu harus tinggal di mana lagi.”
Lelaki tua itu mengulurkan tangannya kepadaku.
“Nama saya Samin.”
“Saya Prana, Pak,” jawabku.
“Bicaralah seperti halnya berbicara dengan kawanmu. Saya belum ingin merasa tua. Ehm, kamu mau tinggal di rumah saya? Kebetulan saya tinggal sendiri.”
Karena bingung harus tinggal di mana lagi, aku langsung mengiyakannya tanpa perlu berpikir panjang. Aku pun beranjak mengikutinya.
Orangtua itu membawa sebuah motor tua, agaknya sudah mencapai tingkatan antik. Aku bergegas memboncengnya, melesat jauh ke kaki gunung Tidar. Sepeda motor itu memasuki sebuah pedesaan bernama Tirtoseto. Mungkin masih jarang orang yang mengetahui keberadaan desa ini, karena letaknya yang jauh melintasi hutan. Namun demikian, desa ini sudah terjamah aliran listrik.
Penduduk Tirtoseto terhitung masih jarang, sebuah nuansa pegunungan yang nyaman, jauh dari keramaian. Rumah Bapak Samin terletak di atas sebuah talud, di bawahnya terhampar tanah persawahan Bagian depan rumah adalah teras yang cukup lapang, lengkap dengan set mebel untuk duduk bercengkerama. Teras itu terasa hangat di daerah pegunungan yang dingin seperi ini. Mungkin karena sugestiku, lampu pijar yang menyala memerah itu terasa sehangat kobaran unggun perkemahan. Mungkin pula karena aku masih saja terkagum-kagum pada rumah ini. Rumah ini memang begitu sederhana. Dindingnya terbuat dari kayu jati berpolitur. Demikian pula dengan lantai parketnya. Sungguh berbeda dengan rumahku yang bertembok kukuh lagi menjemukan.
Bapak Samin mempersilakanku masuk, namun aku memilih untuk duduk-duduk dahulu di teras ini. Aku ingin menikmati dahulu pemandangan ini sebelum hilang ditelan bosan. Pemandangan malam ini memang sungguh menenangkan. Dari kejauhan, lampu kota Magelang tampak seperti pantulan kerlip bintang yang berserakan di langit. Langit malam ini telah mengusir jauh awan abu-abu menjadi hujan, sehingga himpunan bintang waluku dapat terlihat jelas malam ini, seperti serakan kelereng yang dulu sering kumainkan bersama Han dan Arman.
Ah, Han dan Arman! Entah di mana mereka sekarang. Aku masih mengingat saat Han pindah ke Palembang. Ya, saat itu aku baru saja naik kelas dua SD. Sejak saat itu, tak pernah lagi aku mendengarnya memanggil-manggil namaku dari luar pagar rumah. Dan Arman, terang saja aku tak pernah melihatnya lagi. Dia adalah adik Han dari lain ibu. Saat melahirkan Han, ibunya meninggal. Kemudian ayahnya menikah dengan seorang wanita yang kelak melahirkan Arman.
Entah mengapa aku semakin lupa pada wajah mereka.
Aku berpaling, kuinjakkan kakiku ke dalam rumah kayu itu. Langkahku terhenti. Kulihat Bapak Samin duduk menungguku di kursimalas. Tampaknya ia telah memperhatikanku yang sedari tadi melamun sendirian di teras. Demikian hingga aku berpikir bahwa aku tak akan duduk sebelum ia berkata: duduklah.
Dan keluarlah suara yang sejak tadi kutunggu dari lisan Bapak Samin.
“Duduklah, buatlah kursi itu menjadi berguna.”
Segera aku duduk mengistirahatkan kakiku. Kurasakan kelopak mataku semakin memberat, namun aku ingin untuk tetap terjaga. Ingin aku mengatakan sesuatu buat mencairkan kebekuan ini, namun lisanku terasa malas untuk sekadar mengucapkan sepotong basa-basi. Aku merasakan kantuk yang luar biasa diakibatkan oleh hawa malam yang dingin. Aku merapatkan kerah jaketku, berharap ini akan menghangatkan leherku.
Orangtua itu mengeluarkan sebungkus kretek filter dari saku kemejanya. Kemudian berpalinglah pandangan matanya ke bawah meja kecil di sampingnya. Ia menemukan bungkus rokok yang telah kosong, kemudian ia jadikan sebagai asbak. Ia nyalakan batang rokok pertamanya, kemudian ia lemparkan bungkus rokok yang baru dibuka itu padaku. Rupanya ia tahu bahwa aku merokok, mungkin terlihat dari bibirku yang kering kecokelatan penuh nikotin. Kunyalakan kretek filter itu kemudian.
Asap membumbung ke langit-langit yang terbuat dari kepang bambu, diselingi cerita-cerita yang rumit seperti cerita antara guru dengan muridnya. Memang awalnya aku hanya menceritakan cerita-cerita ringan, namun orangtua itu menanggapinya dengan sangat penuh perhatian. Ia tahu, namun tak mau tahu bahwa semua yang kuceritakan hanyalah sekadar basa-basi pembuang waktu. Dan kucoba terus berbicara, hingga kemudian habislah sebungkus kretek filter itu buat menemani percakapan kami yang menjemukan itu.
Bapak Samin menengok ke arah jam bandul tua bermerek Lima yang terlihat masih sangat terawat. Jarum pendek telah menunjuk angka satu, waktu yang terlalu pagi untuk pergi tidur. Sejenak Bapak Samin menguap.
“Tidurlah di kamar itu, Nak,” ucapnya sambil mengarahkan telunjuknya ke kamar yang dimaksud. Dan kuakhiri perbincangan malam itu dengan sebuah ucapan terimakasih yang terasa demikian basi di mulutku.
—
Malam itu aku bermimpi tentang masa kecilku, tentang Han, dan juga Arman, serta mereka yang telah lama tak pernah kuimpikan lagi. Masa kecil memang begitu naif, dan kenaifan adalah milik anak kecil, kata orang. Namun ada juga orangtua dengan kenaifan yang tak jauh berbeda, di samping mereka yang memiliki hati yang penuh debu kelicikan. Ya, debu-debu itu muncul seiring dengan bertambahnya usia, seringkali menggumpal, dan sukar untuk dihilangkan.
Di balik semua itu, ada kenaifan yang semakin menguat atau justru menghilang dari diri seorang manusia. Dulu saat masih kanak-kanak—dengan naifnya—seringkali aku menggugat pikiran manusia dewasa yang penuh dengan debu kelicikan. Namun kini sebaliknya, aku telah bertambah usia, dan aku merasakan pula perasaan mereka yang pernah tergugat olehku. Dalam mimpiku ini, aku melihat diriku yang masih kanak-kanak yang tengah menggugatku atas segala debu dalam pikiranku.
Inikah perbedaan antara aku yang masih kanak-kanak dengan aku yang sekarang ini? Kini, segala yang pernah kubenci: kerumitan, asap tembakau, jauh dari rumah, dosa, nafsu, dan kedurhakaan justru membaur mesra dalam diriku. Dulu, seringkali aku menilai segala sesuatu secara sepihak dari mata kanak-kanakku saja. Namun tentulah tak mungkin pada saat ini jika aku melihat semuanya melalui satu kacamata saja. Perlu berbagai macam kacamata, seiring dengan semakin merabunnya mata intuisi kita.
Mimpi malam itu membuatku tak nafsu makan keesokan harinya. Mimpi itu terus membuatku berpikir tentang perubahan dan exodus yang terjadi padaku. Dan exodus akan terus terjadi hingga jati diri yang sesungguhnya terinsafi.
Dalam kegalauan ini, aku teringat pada Bapak dan Ibu di rumah. Terbayang perasaan mereka ketika menjumpai kamar anaknya yang telah lengang. Aku telah minggat dari rumah, exodus tak tentu rimbanya. Tentu tak pernah kusangka semua akan jadi seperti ini. Manusia hanya bisa menyangka-nyangka dan tak pernah dapat memastikan sebuah kebenaran. Hingga demikianlah kata “kejut” muncul dalam kamus bahasa manusia: ketika manusia menghadapi sesuatu yang terjadi di luar kapasitas sangkaan mereka.
Seringkali sesuatu terjadi tanpa membiarkan kita mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu. Seperti bencana tsunami 2004, semua hanya bisa terkejut menyaksikan naiknya air laut secara tiba-tiba menyapu habis semua yang berjaya di daratan. Kita tahu bahwa sebelumnya tidak ada pemberitahuan akan adanya bencana terlebih dahulu. Dan semua ini adalah surprise, kejutan. Kejutan, sebuah kata yang ada dalam perbendaharaan kamus peradaban manusia ini telah hadir ribuan tahun sebelum kejutan tsunami itu ada.
Sekali lagi, lewat tsunami itu manusia mencoba exodus: ke tempat yang lebih baik, ke tataran rohani yang lebih baik menurut norma, serta tentunya menuju kondisi yang berbeda dari yang sebelumnya. Semua tentang exodus ini, membuatku berpikir bahwa kehidupan manusia adalah segala sesuatu yang memungkinkan terjadinya perubahan, hingga semuanya terasa begitu relatif dalam pandangan mata batin.
Astaga.
Telah kuhabiskan waktu berjam-jam di teras ini untuk pemikiran yang tiada habisnya ini. Waktu benar-benar berlari dengan cepat dalam exodus ini, tanpa memberikan kesempatan yang kedua kali kepada manusia.
Aku mengerang. Kusebut sebuah nama yang telah jarang kusebutkan lagi.
NGantuK Nich bara ceritanya… ZZZZ…. ga ada seru2nya… bye