KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Panggih

Satu

Masih pagi, bahkan terlalu pagi. Udara dingin serasa menusuk tulang dan kabut masih tebal memenuhi jalanan yang juga masih sepi. Beberapa orang yang baru turun dari masjid melewati jalan itu. Sementara dari masjid itu juga masih terdengar orang mengumandangkan wirid dan puji-pujian, dan dari langggar sebelah sana agak jauh dari rumahmu masih terdengar pengajian usai subuh.

Pelataran rumah-rumah masih gelap, dan lampu teras masih menyala semua. Memang suasana yang dingin dan sepi itu membuat orang betah di atas ranjang berlama-lama bergulat dengan mimpi-mimpi. Embun pagi di taman teras rumahmu menutup hijau dedaunan, sementara beberapa orang berseliweran mempersiapakan sesuatu dengan mata yang masih mengantuk. Sedangkan kelengangan pagi yang berbalut dingin belum juga beranjak.

Aku masih berdiri di luar pagar tembok rumahmu. Aku tidak pasti apakah kamu sudah bangun atau belum. Kalau toh belum, aku maklum karena tentu kamu lelah dengan persiapanmu sendiri, disamping sebagai calon mempelai kamu tidak boleh terlalu lelah.

Sebenarnya sudah sejak semalam aku datang dan sengaja duduk disini, menghindar dari pandangan orang. Aku bahkan berharap tidak ada orang lain yang tahu kedatanganku tetapi sebaliknya aku yang banyak mengetahuinya.

Kabar tentang pernikahanmu aku terima kemaren sore dari temanmu satu kost, barangkali aku terlambat mengetahui karena beberapa hari aku tidak masuk bekerja, ada satu urusan yang harus aku selesaikan. Begitu mendengar berita itu aku tersenyum, aku membayangkan gunung es yang meleleh dan menimbulkan banjir di hatimu. Kamu, adik, teman, sahabat dan barangkali kekasihku akhirnya menikah dengan orang yang entah apakah kau cintai ? Entah mengapa aku merasa bahagia kamu jadi menikah. Apakah kamu percaya kalau aku merasa bahagia ?

Barangkali aneh kedengarannya kalau aku bahagia. Bagaimana mungkin, aku yang sering kali menyatakan perasaan kasih dan sayangku juga tidak pernah berhenti sms kamu sekarang aku bahagia dengan pernikahanmu ? Yang pasti apakah rasa bahagiaku itu muncul karena aku tak lagi bisa memberi pilihan apa-apa padamu ?

Aku sungguh menyadari dengan keadaanku sekarang apakah mungkin aku memberikan suatu pilihan. Aku yang bermuka buruk dengan tubuh cacat dan bongkok, juga tidak punya kekayaan apa-apa seperti calonmu yang punya mobil dan anak orang terkaya di daerahmu tidaklah pantas untuk disejajarkan dengan aku, disamping aku tidak merasa pasti apakah kamu juga mencintaiku.

Sesungguhnya rasa sayang dan cintamu hanya aku dengar dari beberapa teman dekat yang berkesimpulan bahwa kamu mencintaiku. Meskipun dari dirimu aku tidak menangkap tanda apapun, bahkan sebaliknya kamu selalu cenderung memusuhi dan mengejekku, dan kita sering bertengkar atau berdebat tentang perasaaan itu, dan itu yang pada saat - saat tertentu membuat aku merasa sedih.

Kesedihan itu yang kadang menumpuk dan tidak jarang mengendap tanpa bisa aku tumpahkan pada siapapun. Aku sengaja tidak mengatakan padamu karena aku tahu kamu akan tertawa dan dengan kata-kata khasmu : MBLENEK ! dan itu yang akan aku terima.

Bertemu dengan kamu waktu pertama kali, aku sama sekali tidak menaruh perhatian apapun, bahkan cenderung aku abaikan. Kamu yang menurutku cukup kasar sebagai perempuan dan penampilanmu yang menurutku tidak terlalu menarik tidak membuatku punya alasan yang cukup untuk memperhatikan kamu. Dan aku sangat yakin kamu pun punya kesan yang sama padaku atau lebih dari sekedar begitu.

Kesanmu pertama mengenalku seperti kebanyakan orang lain, tidak akan menaruh perhatian untuk sekedar memandang. Aku sangat tahu, tidak ada satu orang pun di lingkunganku yang tertarik memandangku,

Bagaimana akan tertarik. Wajahku hitam, mataku buta sebelah, kaki dan tanganku pengkor, punggung bongkok, dan berjalan seperti dackocan, sangatlah tidak ada yang bisa membuat orang lain tertarik bahkan hanya untuk sekedar melirik.

Kalau toh ada itu adalah orang yang merasa kasihan dan menganggap aneh penampilanku dan kemudian menertawakan atau sekedar mencibirkan bibirnya sambil mengumpat : NGGILANI !

Betapapun tidak sempurnanya aku saat ini, aku tidak perlu merasa tercampakkan dan terbuang dari lingkunganku. Sebaliknya aku tidak peduli dan tak mau tahu bagaimanapun orang lain memandangku. Toh mereka hanya memandang bahkan mengejek dan menghindari aku. Mereka tidak pernah mau memahami kenapa aku ada ?

Matahari mulai beranjak, perlahan tapi pasti sinarnya menyentuh dedaunan dan menguapkan embun di atasnya serta sedikit demi sedikit mengusir kegelapan, membangunkan orang-orang dari tidur dan mimpi-mimpi mereka.

Aku melihat pintu rumahmu mulai terbuka dan lirih terdengar lagu kasidah dari sound system di ruang tamu. Beberapa kerabatmu mulai menata ruangan untuk perhelatan pagi ini.

Sesuai rencana pagi ini adalah acara akad nikahmu dengan seorang pria yang tidak pernah kau perkenalkan padaku, karena menurutmu itu rahasia pribadimu dan tak seorangpun yang berhak mengetahuinya. Juga tidak seorang pun yang kamu biarkan tahu apakah kamu mencintainya atau tidak, pria mana yang telah meminangmu, itu semuanya menjadi kumpulan pertanyaan yang tidak bisa lepas dari bola kepalaku.

Pertanyaan itu yang terus aku ulang-ulang dan aku rangkai menjadi semacam beban yang melelahkan, melebihi kelelahanku menempuh berpuluh kilometer jarakku dengan rumahmu.

Pertanyaan itu terdengar aneh dan ganjil barangkali. Bagaimana mungkin orang menikah tanpa rasa cinta. Tapi memang begitulah, jangankan aku, kamu sendiri pun saat ini tengah disibukkan oleh pertanyaan yang sama.

Cinta itu taik kucing ! Itu jawabanmu selalu bila aku tanyakan. Lantas aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Tapi itulah kamu, dan itu pula barangkali yang menarik bagiku. Kamu adalah salah seorang gadis dengan isi kepala aneh, pola pikirmu kadang menjengkelkan dan seringkali membuat aku gemas bahkan seringkali membuat aku tersinggung dan marah. Tapi kamu selalu tidak memperdulikan perasaan seperti itu, bahkan aku berkesimpulan kamu adalah perempuan terjahat yang pernah aku kenal.

Tentu kamu masih ingat betapa aku tersinggung saat kamu menolak bicara waktu aku menelpon kamu di suatu tempat dan menurutku kamu menolak dengan cara yang sama sekali tidak aku suka. Dan tentu masih jelas dalam ingatanmu berapa kali sms permintaan maafmu masuk dan aku sama sekali tidak menanggapinya.

Setelah itu beberapa hari kita tidak saling menyapa. Aku benar benar nggondok, dan kamu merasa bersalah. Tapi ya itu pada ujungnya aku yang memulai sms kamu. Dan apa jawabanmu waktu itu : tidak kah keliru sms mu masuk ke hp ku ? sudah gak marah nih ? Dan akhirnya aku hanya tertawa saja. Aku pikir hubungan kita waktu itu seperti benang kusut yang meruwetkan pikiranku sendiri. Apakah juga pikiranmu ?

Lagu dangdut mulai mengalir keras dari sound system dan memekakkan telingaku. Beberapa penerima tamu, laki laki dan perempuan sudah mulai menempati posisinya masing-masing. Yang perempuan memakai seragam kebaya warna pink dengan bawahan kain panjang warna gelap. Mereka nampak cantik-cantik sementara yang laki-laki memakai beskap dengan blangkon dengan keris terselip dipinggang juga nampak gagah dan tampan.

Berkali-kali wanita wanita cantik penerima tamu memandangku dengan rasa tidak suka bahkan aku menangkap kecurigaan dimatanya, barangkali mereka berpikir kenapa aku disini sejak pagi. JIJIK, ungkapnya sambil meludah. Kalau bisa ia ingin mengusirku tapi ia tak berani melakukannya, tapi pandangannya yang tidak sedap, sinis tak pernah lepas dariku.

Barangkali mereka benar, bagaimana bisa ada orang seperti aku berada di dekat perhelatan mewah dan besar, dimana undangannya dari kalangan tertentu dan hampir semuanya mengendarai mobil mewah dan memenuhi jalanan dan halaman rumahmu, ada gembel seperti aku berada di dekatnya. Pasti akan sangat kontras dan sama sekali tidak menarik bahkan merusak pandangan mata.

Aku tidak diusir dari tempaku karena aku memang bukan gelandangan yang pantas menerima usiran, tetapi barangkali menurut orang-orang di situ penampilanku yang tidak berbusana bagus dan mahal, tidak membawa mobil, tidak beparfum wangi, bahkan sebaliknya berkesan awut-awutan dan kotor karena aku memang tidak mandi sejak kemaren, itu akan membuat gerah di tempat itu.

Aku acuh saja dengan pandangan mereka terhadapku, aku justru saat ini tengah menata hatiku sendiri untuk tidak patah hati. Aku berusaha untuk benar-benar bisa merasa bahagia dengan pernikahanmu. Aku juga tidak akan mempertanyakan kenapa kamu demikian teganya melupakan aku, bahkan untuk sekedar mengundangku menghadiri pernikahanmu, setidaknya sebagai basa-basi, abang-abange lambe.

Aku maklum kalau kamu tidak mengundangku, aku tidak mengatakan kamu lupa, juga aku tidak mengatakan itu kesalahanmu. Tapi aku sangat menyadari kalau saat ini kamu begitu sibuk dengan persiapanmu sendiri. Tentu kamu sudah membeli kebaya dan kain panjang yang warnanya telah kamu pilih dengan calonmu.

Matahari di luar rumahmu mulai beranjak dan mulai menyengat kulitku, tapi aku diam dan bertahan sebaliknya aku lebih sibuk melepaskan diri dari pikiran apapun kecuali memikirkan kamu. Cobalah katakanlah padaku apakah aku berlebihan kalau aku berharap kamu akan keluar barang sebentar untuk menghirup udara luar, karena aku yakin kamu tentu sudah merasa pengap dari bau harum di kamarmu setelah sejak pagi Ibumu meriasmu.
“Bapak datang dari jauh rupanya.“ Suara itu mengagetkan lamunanku. Aku menoleh menatapnya dalam-dalam, seorang pemuda sudah berdiri di sampingku dengan perasaan tidak risih.
“Tidak, tidak terlalu jauh.“ Aku menjawab asal saja.
“Rumah Bapak dimana?“ tanyanya lagi.
“Di sana!“ Aku menunjuk ke atas, ke langit.

Pemuda itu menatap langit mengikuti arah jari telunjukku. Dalam hati aku tertawa.
“Di sana?“ tanyanya dengan rasa tidak percaya.
“Iya. Di sana? Memangnya kenapa?“ Aku menjawab sedikit acuh.

“Di langit?“
“Ya, di langit.“

“Kok di langit?“ ulangnya dengan rasa tidak percaya.
“Iya. Coba kamu perhatikan awan dan mega-mega itu, aku hidup di sana.“

Aku memandangi wajah anak muda itu dan dia kelihatan lucu dengan kebingungannya.
“Aku kadang terbang dari satu awan ke awan lain, dari satu mega ke mega lain, mengikuti arah angin. Aku bisa terbang mengarungi kawasan langit. Kau tahu, di langit tubuhku jadi biru,“ kataku meneruskan kebohonganku.
“Bapak seperti burung?“ sergahnya dengan rasa tidak percaya.
“Lebih dari itu. Bukan hanya burung, tapi bisa juga jadi kapas, bahkan kadang-kadang jadi angin itu sendiri. Waktu jadi angin aku berhembus perlahan dan lembut. Itu bila aku tengah baik hati dan disamping sepasang kekasih. Tapi juga terkadang aku bisa menerjang dan merusakkan apapun yang aku temui, menyengsarakan orang lain, menimbulkan penderitaan. Pada saat seperti itu aku merasa sangat perkasa bisa membalas sakit hatiku.“
“Sakit hati? Kenapa?“ tanyanya penasaran.
Aku tidak menjawab beberapa saat. Sementara hening, tanpa suara. Aku sibuk menata perasaanku sendiri.
“Bapak bukan manusia dong!“
Aku tidak menjawab, aku pandangi wajahnya dengan penuh perasaan dan akhirnya aku cuma tersenyum.
“Maaf Bapak datang untuk acara ini.“
“Acara ini?“
“Iya, pernikahan adik saya ini?”
“Ah, masak aku datang untuk itu. Memangnya saya siapa?“

“Terus…”

Lagi lagi aku tidak menjawab, aku juga tidak tersenyum. Aku cuma menundukkan kepala menatap jari-jari kakiku yang bersandal jepit.
“Apakah saya mengganggu kalian?“ tanyaku.

“Ya secara langsung enggak sih, hanya ……“
“Hanya apa?“
“Sedikit.“ Suaranya menggantung.
“Apakah karena penampilan saya?” tanyaku penasaran.
Kini ganti pemuda itu yang diam. Aku tahu pemuda itu tidak sampai hati mengatakan yang sejujurnya.
“Apakah karena penampilan saya?“ Aku mengulang pertanyaan yang sama.

Pemuda itu tidak menjawab dan sejurus kemudian dia meninggalkan aku menemui beberapa orang di dekat pintu masuk.

Dia berbisik pada temannya. Barangkali dia mengatakan bahwa benar aku tidak waras, masak ada orang rumahnya di langit, bisa jadi kapas, bisa jadi angin.
“Usir saja!“ kata temannya setengah berbisik.
“Untuk apa? Apa alasan kita mengusir?“
“Mengganggu,“ timpal yang lain.
“Aku gak berani,“ katanya balas berbisik.
“Kok takut? Sama orang gila gitu kok takut?“
“Wong gendeng anyaran aja. Apanya yang mesti ditakuti,“ kata yang lain.

Aku terkesima dengan perkatakan terakhir itu. Aku orang gila? Aku orang gila? Apa benar aku sudah tidak bisa dibedakan dengan orang gila? Aku berdiri dari duduk dan berjalan beberapa langkah menghampiri genangan sisa air hujan di dekat situ. Aku ingin melihat bayanganku di air untuk memastikan apakah benar aku gila?

Di air aku melihat bayanganku sangat buram dan hanya sekilas tampak wajahku yang muram. Aku terkejut kenapa aku harus muram? Sementara kamu saat ini berada pada saat yang penuh bahagia.
“Lihat apa yang dilakukannya?“ bisik seorang gadis pada temannya.
“Semakin parah kelihatannya, masak minum pakai air genangan gitu,“ kata yang lain sambil meludah, kemudian menutup mulutnya dengan saputangan.
“Apa dilaporkan ke polisi aja?“
“Untuk apa?“
“Biar diusir.“
“Ya biar tidak mengganggu pemandangan.“

Mendengar itu aku menoleh ke arah suara itu. Aku tidak marah bahkan aku merasa pandanganku cukup lembut. Tetapi gadis yang kupandang itu malah bersembunyi di balik teman-temannya.
“Nah rasain lu dipandangi!“
“Ih. Takut. Jijik!!“

“Makanya jangan sembarang omong.“

Aduh gimana nih?“

“Udah kamu di sini aja, biar aku halangi.“

Perempuan cantik itu hilang di antara punggung teman-temannya.

Aku melihat bayanganku kembali di genangan air, dan pada air itu aku bertanya, “Hai air yang jujur, katakanlah padaku apa benar aku gila?“
Air itu diam tidak menjawab. Aku diam beberapa saat menunggu jawaban air, dan memberinya kesempatan untuk mengamati wajahku. Tapi air tetap diam.
“Hai air yang jujur, katakanlah padaku apa benar aku gila?“ Aku ulangi pertanyaan yang sama. Tapi air juga tetap diam tak memberi aku jawaban. Aku meninggalkan genangan itu, aku mengumpat JANCUK ! Dan kembali ke tempatku semula.

Lagu dangdut kini berganti dengan lagu-lagu sholawat mengalun dari sound system dan aku mencoba untuk menikmatinya tapi otakku terhalang pikiranku sendiri. Saat ini aku tengah disibukkan oleh pertanyaan tentang diriku; kenapa aku berpayah-payah ke sini, mengorbankan perasaan mengorbankan harga diri hanya untuk menghadiri acaramu yang kamu sama sekali tidak mengerti akan kehadiranku. Kenapa aku harus menempuh berpuluh kilometer kalau hanya untuk menerima penghinaan dari orang disekitarmu dengan mengklaim aku GILA ! Dan beribu pertanyaan lain tiba-tiba muncul secara bersamaan dan semuanya berebut untuk mendapatkan jawaban dan perhatianku.

Aku merasa pusing dan aku tidak tahu kenapa aku harus merasakan itu. Padahal beberapa bulan terakhir ini aku tidak lagi merasakan seperti itu. Kini tiba-tiba muncul dan aku mencoba untuk tidak terbawa. Aku tidak ingin kelihatan lemah di depan orang-orang yang sama sekali tidak memberikan tempat untukku dalam pernihakanmu pagi ini. Orang-orang yang tidak mengerti betapa perasaan nestapaku melebihi perasaan seorang sutradara yang gagal mementaskan karyanya. Tapi sejujurnya apakah kamu tahu perasaanku yang seperti itu ?

Perlahan aku hela nafas. Aku menghirup udara dalam dalam dari mulut dan perlahan aku hembuskan melalui hidung seperti yang aku latihkan pada teman-teman di teater untuk menghilangkan segala beban pikiran pribadi. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa menguasai diri.

Rombongan mempelai pria datang dengan mobil sedan memasuki halaman rumahmu, orang-orang pada sibuk menyambut, sementara ibu-ibu di bagian dapur berebut keluar ingin melihat sang mempelai. Sebanyak itu orang-orang bergerombol berebut untuk bisa melihat sehingga menghalangi pandanganku pada mempelai itu. Aku mencoba menjinjitkan kaki dengan harapan pandanganku bisa menembus gerombolan orang-orang itu, tapi tubuhku yang tidak tegap justru bongkok ini malah terbatas untuk menerobosnya.

Aku hanya menghela nafas panjang dan dalam. Aku tidak tahu apakah aku menyesal tidak bisa melihat sang mempelai? Ataukah aku menyesal tidak dapat melihat orang yang berhasil melelehkan gunung es di hatimu? Atau aku menyesal tidak bisa melihat orang yang telah mengusir mimpi-mimpiku tentang kamu yang telah terlanjur aku anggap sebagai kekasihku.

“Edan! Mantene ngganteng tenan,“ ujar seorang ibu.
Pancen pinter tenan Mba’e kalau milih jodoh,“ timpal yang lain.

Weh pancen temenan kok, ngganteng!“
Opo anakku bisa yo dapat suami seperti itu,“ celetuk seorang ibu setengah ngiri.
Weh, yo ngimpi!“ ejek yang lain.
“Tapi anakku si Genduk gak elek–elek banget,“ sang ibu membela diri.
Yo sopo ngerti Genduk dapat rejeki koyok Mba’e.“
“Amin, amin.“

Dan rasan–rasan itu berlangsung sampai calon mempelai memasuki ruangan perhelatan.

Aku hanya bisa membayangkan wajah Primus Yustisio, atau Baim, atau Tengku Rian, atau bintang-bintang sinetron yang tampan itu mirip dengan calon suamimu. Aku merasa yakin seleramu tidak jauh dari wajah-wajah kayak gitu. Aku tahu seleramu cukup bagus untuk memilih calon pendamping. Sehingga mana mungkin pengantin pria seperti aku.

Aku berharap yang kubayangkan adalah benar. Sehingga itu semakin memastikan bahwa aku memang telah tersingkir dari hidupmu dan tidak pantas lagi diingat, apalagi diperhitungkan. Membayangkan yang demikian aku jadi tidak tahu apakah kamu sempat mengingatku setelah bertemu dengan orang tampan seperti bintang sinetron.

Tapi aku sudah tidak perduli lagi. yang ada dalam kepalaku adalah aku ingin teriak sekeras kerasnya biar gundah hati ini, rasa tercampakkan ini, rasa tidak terpedulikan, rasa nista pecah berantakan menjadi puing-puing yang memenuhi jalanan dan berakhir dengan hangus terbakar matahari.

Ingin rasanya aku berlari kencang sambil teriak-teriak memanggil namamu biar kamu mendengar dan keluar kemudian melihat keberadaanku di sini. Ingin aku misuh dengan segala macam pisuan dan mengumpat apa saja yang aku temui biar aku puas bisa menumpahkan semua beban. Biar orang lain semakin merasa pasti bahwa aku memang gila. Sangat gila. Sungguh gila. Teramat gila.

Tapi itu tak aku lakukan. Aku tak mau acaramu terganggu. Acaramu bisa rusak dengan ulahku. Aku hanya diam. Aku hanya diam. Aku hanya diam tidak bergerak sedikit pun seperti mayat yang tidak mungkin menggerakkan apapun bahkan sekedar untuk menarik nafas. Aku benamkan pandanganku ke tanah, aku tanamkan pandanganku di sana. Biar dia terkubur dan dimakan cacing atau semut atau dimakan apapun sampai tak bersisa sama sekali.

Ibu-ibu yang bergerombol satu demi satu meninggalkan tempat dan kembali ke dapur untuk mempersiapkan hidangan jamuan atau menyiapkan segala yang lain dan aku masih mendengar celoteh mereka meski samar-samar.

Ih mantene ngganteng yo Yu?“

“Iyo koyok bintang pilem.“

“Ah koyok tahu tahu o bintang pilem ae.“

“Lo sing nok TV iku kan bintang pilem to Yu?“

“Mestine sugih yo?“

“Yo mesti no yo, opo sih sampean?“
Dan serangkaian kata-kata pujian muncul dan berhamburan memenuhi ruangan dapur berbaur dengan aroma masakan.

Aku belum bisa memastikan apakah calonmu memang seganteng bintang film, sekaya konglomerat. Kalau toh benar aku bersyukur. Aku yakin kamu tentu sudah dengan pertimbangan matang untuk memilih pasangan hidup. Nggak salah kalau memutuskan menerima pinangan dari orang ganteng, kaya, punya banyak mobil, dan rumah mewah di perumahan mewah.

Aku menengadah ke langit, aku mencari bayanganmu di antara awan. Aku berharap menemukan dirimu yang sedang berceloteh dengan kata-kata panjang, tidak terputus, dan terus menerus. Aku berharap bayanganmu di atas awan sana sedang mendongengkan kisah cintamu di masa lalumu yang mempurukkan dirimu pada satu kesimpulan bahwa cinta itu tidak ada bagimu. Aku masih berharap bahwa awan yang tertiup angin itu jatuh di depanku dan ada bayanganmu yang bisa aku ajak bicara, bisa aku tanya banyak tentang dirimu.

Tapi awan hanya bergerak tenang seperti biasanya tanpa memberikan bayanganmu sedikit pun. Aku merasa diacuhkan dan tidak direken sama sekali. Aku tidak bisa apa-apa kecuali diam. Dan seperti biasa, dalam diamku aku menggerutu, mengumpat, dan memaki-maki. Sekali lagi aku menengadah ke langit, aku meludah pada langit. Jancuk, makiku.

Pada ujungnya aku tidak lagi perduli seganteng apa calon suamimu, sekaya apa. Persetan! Yang aku pikir saat ini kenapa angin membawaku ke tempatmu, mengapa waktu mempertemukan aku dengan kamu, mengapa pula kita diperbincangkan dalam cerita-cerita kosong yang terkadang kamu nikmati dan aku nikmati. Tapi kenapa pula waktu tidak pernah mempertemukan hatiku dan hatimu. Apakah hanya karena aku laki-laki jelek dan tidak sempurna dan kamu perempuan yang cantik? Oh, permainan apa ini !! Demikian tidak adilnya !!!!!

Jalanan sudah ramai dengan mobil dari berbagai jenis kendaraan dari bus, colt, sepeda motor, cikar dan dokar dari dua arah jalan yang bertentangan. Aku mengamati perjalanan orang-orang yang mengejar hidup di tengah terik matahari. Alangkah ramainya. Tapi tahukah kamu, bahwa saat ini tengah didera kesepian yang sangat. Suhu tubuhku menyusut dan aku marasa kedinginan seperti bocah kecil yang terkena demam.

Itu berjalan beberapa saat lamanya. Aku mencari-cari sesuatu di saku celananya barangkali ada permen atau makanan kecil atau apapun yang bisa aku masukkan mulut yang terasa kering. Tapi tidak aku temukan apapun kecuali selembar kertas undangan yang diberikan temanmu sebelum aku berangkat dan sudah aku remas-remas. Aku pandangi huruf huruf yang sudah mulai buram itu, dan berkali-kali aku baca susunan huruf yang tersusun membentuk namamu. Aku kemudian meremasnya lagi dan aku banting ke genangan air dimana aku berkaca tadi.

Dalam keadaan seperti ini aku ingin berkesimpulan bahwa ternyata benar kata-kata orang bahwa aku memang gila, tapi kenapa aku harus gila ? Terlalu sederhana apabila pernikahanmu ini yang membuat aku gila. Terlalu berlebihan kalau aku menganggap bahwa pernikahanmu telah memporak-porandakan hidupku. Terlalu riskan kalau aku menganggap aku telah kehilanganmu.

Dari rumahmu samar-samar aku dengar jawaban ijab kobul. Aku terima nikahnya Saguplo binti Sarbi dengan mas kawin sebuah mobil BMW seri 701, dibayar tunai.

Langit tiba-tiba mendung. Dan aku ingin jadi burung lagi, jadi kapas lagi, jadi angin lagi, biar aku bisa terbang dan menghembuskan diriku di jagat raya ini.

Dua

Kehidupan dengan berbagai beban yang menumpuk tentulah bukan kehidupan yang diharapkan semua orang. Hampir pasti setiap kepala mengangankan hidup yang berjalan baik, mulus dan tidak bermasalah bahkan kalau bisa penuh dengan kebahagiaan yang mengalir setiap hari seperti sungai dengan riak riak kecil berbingkai batu batu yang kecil yang memantulkan sinar kala tertimpa sinar matahari.

Tetapi aku? Kehidupan yang diberikan langit padaku sangatlah tidak nikmat untuk dijalani, tidak indah untuk dipandang, tidak merdu untuk disenandungkan, tidak menarik untuk didongengkan, dan sama sekali tidak layak untuk disajikan.

Tetapi apapun, aku harus menceritakannya padamu. Setidaknya pada hari istimewamu ini, kamu bisa mengenalku dan setelah itu toh kamu akan menghilangkan aku dari memori kepalamu. Karena mulai saat ini sudah ada orang lain yang mengisinya dengan penuh. Dan aku sama sekali tidak peduli apakah orang yang mengisi kepalamu itu kamu cintai atau sebaliknya.
Aku juga tidak akan menanyakannya padamu karena aku sangat yakin kamu sudah tidak lagi punya waktu untuk melayani pertanyaan–pertanyaanku. Maka biarlah aku melukis cerita ini di wajah sang bulan. Barangkali suatu saat kamu sempat menengadah ke langit dan memandang bulan, maka kamu tentu akan menemukan cerita ini di sana.

Jangan kamu bertanya, kenapa aku hanya bercerita pada bulan, kenapa tidak langsung padamu, Jangan! Jangan kamu tanyakan itu, karena aku akan berpikir kamu mengada-ada. Apapun jawabanku toh tidak akan berpengaruh apa–apa bagi hidupmu, justru akan semakin menambah luka di hatiku dan menggoreskan bekas yang dalam bagi hidup dan kehidupanku.

Aku kadang justru berharap kamu tidak pernah memandang bulan sehingga tidak pernah menemukan cerita ini. Aku berharap kamu larut dalam hidupmu yang sekarang ini dalam dekapan, buaian, cumbuan, dan gejolak cinta yang membara mebakar tubuh dan seluruh relung hidupmu. Aku mengangankan kamu tenggelam disana, dan kamu kamu tuntaskan desah yang membawamu pada padang bunga yang menyebarkan bau wangi.

Aku tidak tahu harus memulai dari mana, karena begitu banyak yang ingin aku ceritakan dan semua berebut keluar dari memori ingatan hingga kewalahan bibirmu mengucap sesuatu.

Suatu pagi yang cerah di depan Panti Asuhan Anak-Anak terlantar terserak satu bungkusan kain panjang dan sesekali ada gerakan kecil dari bungkusan itu. Sampai ada seorang perempuan paruh baya membuka pintu dan menemukan bungkusan itu.

Mulanya perempuan ini hanya memandang setangah tertegun kemudian melangkah mendekati. Dan sebelum memegang bungkusan, dia menggunakan kakinya untuk menggerakkan sampai akhirnya dia buka dan alangkah terkejutnya melihat seorang bayi laki-laki mungil dalam bungkusan itu.

“Subhanallah!“ pekiknya terrtekan.
“Siapa yang tega meletakkan bayi di sini? Apa tidak merasa kasihan? Astagfirullah!“ Berkali-kali perempuan itu menyebut asama Allah dengan berbagai perasaan.

Itulah aku. Bayi dalam bungkusan itu aku. Hingga sampai saat ini aku tidak tahu siapa bapak dan ibuku, kenapa mereka membuangku, untuk apa aku harus dilahirkan kalau tidak mereka kehendaki ?

Apakah aku hasil hubungan gelap ataukah aku dilahirkan dari rahim seorang ibu miskin yang tidak mampu menghidupi. Ataukah aku lahir dari rahim seorang pelacur yang lupa minum atau memakai pengaman sampai akhirnya aku tumbuh dalam perutnya dan dia tidak mau lebih sengsara dengan kehadiranku dalam kehidupannya.

Aku lahir dalam keadaan cacat fisik seperti yang kamu tahu sendiri.
“Kasihan bayi ini, sudah cacat dibuang pula,“ komentar orang-orang yang melihatku.

Kemudian aku tumbuh dan berkembang menjadi anak cacat di lingkungan panti asuhan. Dan tahukah kamu bahwa aku tumbuh dalam keterasingan dan aku dijauhi oleh teman-teman sepermainan dan jadi bahan olok-olok mereka.

Pernah suatu kali aku menangis karena dipermainkan teman–teman. Mereka mengitariku berbentuk lingkaran dan berputar sambil mengata-ngataiku.

“ Bongkok …….. Bongkok …….. “
“ Pengkor ……… Pengkor ………”

Dan kejadian semacam itu hampir setiap hari mereka lakukan padaku. Dan itu tidak berhenti sebelum aku menangis atau ada pengasuh yang menolongku.

Kenyataan yang menyakitkan itu terus berlangsung sampai aku menginjak remaja. Meski bentuknya berbeda dengan sewaktu aku kanak–kanak. Sehingga aku merasa sendiri di dunia ini. Tidak berbapak beribu, tidak bersaudara hingga pernah suatu kali aku mencoba untuk mati tetapi tidak bisa karena ada pengasuh yang menemukan aku dalam keadaan sekarat dan langsung membawaku ke rumah sakit.

Pada saat aku mulai mengerti arti suka pada lawan jenisku, aku juga menerima kenyataan yang menyakitkan. Semua perempuan yang aku taksir tak ada yang menanggapi bahkan sebaliknya mereka melontarkan ejekan dan hinaan ke arahku.
Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari panti ssuhan dan aku harus bisa hidup sendiri dengan kemampuan yang aku miliki. Meski tubuhku cacat namun tidak demikian dengan isi otakku. Aku tergolong cukup cerdas dan selalu bisa menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan padaku baik di lingkungan panti asuhan maupun di bangku sekolah.

Barangkali Tuhan punya maksud lain menghadirkan aku ke dunia ini. Tuhan yang memberi kecacatan tubuhku namun juga juga membekali aku dengan kecerdasan pikiranku. Dan puncaknya aku diberi kewajiban memegang suatu kegiatan di panti asuhan dan dapat berjalan dengan baik dan sukses. Saat itu aku merasa kalau mereka baru mengerti siapa aku, meski pandangan mereka juga belum berubah sepenuhnya. Hanya kadang kadang saja mereka memperhatikan aku. Itu pun kalau sudah tidak ada orang lain yang bisa melakukannya.

Sampai suatu saat aku bertemu kamu di terminal bus saat aku pulang dari tempatku bekerja. Oh ya, aku lupa belum mengatakan kalau aku bekerja di sebuah bengkel sepeda motor yang berada di tengah kota. Sehingga untuk menuju tempat keja aku harus naik bus dan diteruskan dengan mikrolet.

Dari hasil kerja itu aku bisa membeli tape dan radio juga HP yang selalu aku pakai sms kamu. Meski untuk semua itu aku harus hutang atau tepatnya ngredit. Setidaknya aku mulai bisa bersyukur bahwa Tuhan tidak membiarkanku sendirian tetapi juga diberi kehidupan sebagaimana orang-orang yang lain.

Di lingkungan tempat kerja inilah aku bisa menunjukkan siapa diriku, di samping dalam urusan perbengkelan juga urusan kesenian. Aku mencoba menghimpun teman-temanku untuk bermain teater.

Pada mulanya tidak semua teman sekerjaku yang mendukung ideku tentang teater. Tetapi seiring waktu berlalu banyak juga yang bergabung dalam kelompok teaterku. Sampai kini sudah berkali-kali melakukan produksi yang tempatnya mengambil halaman di sebelah bengkel.

Masih ingatkah kamu pada pertemuan pertama kita ? Ya, di atas bus. Aku ingat benar waktu itu kamu tidak kebagian tempat duduk karena memang sedang penuh. Jujurnya aku ingin tidak memperdulikan sekelilingku apalagi memperhatikan kamu, seperti yang biasanya aku lakukan. Tetapi entahlah perasaan darimana sampai aku mempersilahkan kamu menduduki bangkuku.
Aku merasa kasihan melihatmu berdiri dalam himpitan penumpang yang lain dan kamu terjepit diantaranya. Tubuhmu yang kurus dan wajahmu yang lelah dan memang tidak begitu cantik dan sebenarnya dari pandangan umum tidak menarik, barangkali yang membuat aku merelakan tempat dudukku kamu pakai.

Tentu kamu masih ingat betapa waktu itu kamu enggan untuk menerima tawaranku. Aku tahu kamu tentu risih dan jijik melihat aku, seperti orang-orang lain yang menjaga jarak saat duduk berdampingan sebangku, atau bahkan ada yang berdiri dari duduk hanya karena tidak mau sebangku denganku.

Aku tidak memaksamu untuk menerima tawaranku, tetapi akhirnya kamu mau juga. Barangkali daripada harus berdiri beberapa jam di atas bus akan sangat melelahkan. Itukah pertimbanganmu ?

“Terimakasih,“ katamu ragu-ragu. Aku menjawab dengan anggukan.
“Mbak’e mau kemana?“ tanyaku kemudian.

“Pulang,“ jawabmu pendek.
Aku paham kalau kamu enggan menjawab pertanyaanku karena aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Aku terus saja mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kamu jawab pula dengan jawaban pendek-pendek dan dengan rasa enggan. Ah, kalau saja aku merasa saat itu mestinya aku malu, kenapa mengajak bicara perempuan yang tidak berminat sama sekali dengan omonganku. Tapi aku sendiri tidak tahu kenapa waktu itu aku begitu bersemangat untuk bicara sampai kamu turun.

Agaknya pertemuan itu bukanlah yang terakhir kali tetapi diikuti dengan pertemuan-pertemuan yang lain, hingga sedikit-sedikit ada perubahan cara kamu menanggapi pembicaraanku, juga rasa rikuhmu dari pandangan orang di sekitar kita yang meremehkan keadaanku.

“Kamu tidak malu?“
“Malu ?. Kenapa?“
“Berbicara dengan orang jelek seperti aku.“
“Enggak.“

“Sungguh?“

Kamu menjawab dengan anggukan dan sedikit senyum terselip di bibirmu.
“Kadang orang hanya melihat kulit tidak pernah melihat isinya,“ katamu kemudian.
“Maksudnya?“

“Aku minta maaf padamu kalau pada awal-awal pertemuan kita, aku menunjukkan sikap yang tidak enak. Barangkali aku juga seperti orang lain yang kamu ceritakan. Tetapi aku berpikir kemudian, kenapa aku hanya melihat luarnya, padahal isinya, maaf, tidak sejelek kulitnya,“ katamu agak panjang.

Kamu tahu saat itu mataku berkaca-kaca. Aku sungguh tidak menduga kamu akan berkata seperti itu. Aku menangkap bahwa kamu mengerti keberadaanku yang seperti ini dan selama aku hidup baru kamulah orang yang mengatakan demikian. Kata-katamu menyejukkan batin dan menyiram kemarau di hatiku. Aku hampir menganggap kamu adalah bidadari yang diturunkan Tuhan untuk memberikan angin semilir di kegerahan hidupku dan dengan telaten menemani dan mendengar cerita-ceritaku yang sesungguhnya tidak menarik.

Setelah pertemuan itu lalu lama tidak bertemu kamu di bus, maupun di bengkelku. Kamu seperti menghilang. Aku mencoba sms maupun menghubungi kamu tapi tidak ada balasan atau jawaban dari kamu. Aku hanya khawatir kamu sakit atau terjadi hal-hal yang tidak-tidak padamu. Namun aku berharap tidak terjadi apa-apa padamu. Kalau kita tidak bertemu mungkin karena jam keberangkatan kita saja berbeda.

Kamu perawat di sebuah rumah sakit terkenal di kota ini, tentulah mempunyai jam kerja yang berbeda dengan aku yang bebas semauku. Barangkali itu yang seringkali membuat kita tidak bisa bertemu.

Dan kalau saja aku boleh berterus terang padamu, aku suka kangen padamu pada saat-saat seperti ini. Cobalah bayangkan berhari hari tak bertemu kamu, rasanya seperti menabung kerinduan yang entah kapan bisa diambil. Apalagi lagi kalau kamu tidak bisa dihubungi, ditelpon tidak menjawab demikian juga di sms, kamu diam. Sungguh apakah kamu pikir ada penderitaan yang lebih menderita dari itu ?

Tiga

Hari belum begitu siang sebenarnya, tapi di bulan ini cuaca tidak begitu baik jadi berkesan buram. Dan aku masih memandangi rumahmu. Masih seperti semula aku duduk di pagar depan rumahmu.

Rumahmu sudah sepi, tapi tumpukan kursi masih berada di halaman yang masih juga terpasang terop. Aku belum melihatmu keluar dari rumah. Aku membayangkan kamu pasti masih tertidur karena kecapean setelah seharian kemaren jadi kemanten.

Atau lebih dari itu karena kamu lebih kecapean lagi setelah melewati malam pertama dengan perjuangan yang jauh lebih berat dari sekedar menjadi manten dan menyalami para tamu. Ah, apakah kamu menangis ?

Aku harap kamu tidak menangis seperti siang itu saat kamu harus menelan kenyataan pahit, kesepakatan kerjamu tidak diperpanjang.

Aku kaget sama sekali tidak menyangka kalau siang itu kamu datang ke tempat kerjaku dengan wajah yang kurang menyenangkan, ada keburaman di matamu. Beberapa saat kamu terdiam di depanku.

“Kenapa diam seperti itu?“ tanyaku.

Dan kamu diam
“Ada apa? Ngomonglah, cerita kenapa kamu buram seperti itu, gak baik pagi-pagi sudah muram.“

Dan kamu masih diam. Aku juga mencoba diam. Dan itu terjadi beberapa lama.

Waktu itu aku merasa kamu menghadapi masalah yang cukup rumit hingga kamu tidak bisa bicara, aku mencoba untuk meredakan kekalutanmu dengan juga diam. Aku tunggu beberapa saat sebelum akhirnya kamu bicara

“Kontrakku tidak diperpanjang. Ini tidak adil,“ katamu tersendat, kamu mencoba untuk tidak menangis.

“Apa? Jadi kamu harus berhenti bekerja?”

Kamu menunduk tidak menjawab. Lama kita saling diam waktu itu, kamu sibuk dengan pikiranmu demikian juga aku. Tahukah kamu betapa mengerikan membayangkan bahwa aku akan kehilangan kamu. Tidak ada lagi yang menemaniku bicara, karena kamu tidak akan lagi ke tempatku, tidak ada lagi yang aku goda karena kamu hanya akan di rumah, dan tidak ada lagi cerita yang panjang yang berbusa-busa karena jarak kita akan berjauhan.

“Barangkali Tuhan punya acara lain yang lebih baik buat kamu. Kamu tabah ya,“ hiburku.

Kamu mengangguk tanpa suara kesedihan selintas tampak di pandang matamu.
“Ayolah jangan bersedih begitu.“
“Apa aku gak boleh sedih?”
“Boleh, boleh.”
“Aku nggak nyangka kalau secepat ini.“

Siang yang merambah dengan cahaya buram semakin buram. Dengan kesedihanmu. Dengan perasaan kehilanganmu.

“Kalau aku salah, kenapa tidak ada peringatan sebelumnya? Kenapa tiba-tiba diputuskan begitu saja tanpa pemberitahuan lebih dulu. Aku kecewa, aku ingin protes, tapi untuk apa?“ katamu kemudian.

“Ayo, jangan cengeng begitu. Kamu harus bisa mengahdapi ini semua. Tuhan punya rencana lain yang lebih baik buatmu,“ kataku menghibur.

Dan ternyata benar. Tuhan punya rencana lain, rencana yang lebih membuat aku sakit dan tidak bisa bernapas. KAMU KAWIN, tanpa memberitahu aku.

Memang sejak siang itu aku baru beberapa kali ketemu kamu pada suatu acara perpisahan ke rumahmu, kemudian ke acara seorang sahabat. Dan kemudian kamu menghilang seperti tertelan bumi, sampai aku tahu undanganmu dari mantan teman kostmu.

Sungguh, kalau aku harus bersedih kesedihanku jauh lebih terpuruk dari sekedar kesedihanmu kehilangan pekerjaan waktu itu. Aku bukan sekedar kehilangan pekerjaan tetapi jauh dari itu aku kehilangan hidupku sendiri. Kamu direbut sang nasib dari tanganku. Sungguh !

Kemudian aku langsung ke sini, melihatmu jadi manten, dan menungguimu melewati malam pertama, dengan tetap berdiri dan duduk di depan pagar rumahmu. Aku mencoba melewati rambatan waktu dengan seribu satu kesabaran. Aku mencoba menghitung pergeserannya dari detik demi detik dengan persaan campu aduk antara nestapa dan gundah yang tak terbataskan.

Aku mencintaimu. Tapi untuk apa? Itu selalu yang kau katakan setiap kali aku mengatakannya padamu, dengan dengan tawa serta ekspresi yang aku tak mengira kamu meremehkan aku. Setelah itu semua kembali berjalan seperti biasanya.

Kini aku semakin merasa betapa aku memang mencintaimu, mencintaimu, mencintaimu selalu setiap siang dan malam dan sepanjang hari. Tapi aku sangat tahu bahwa kamu tidak akan pernah mempercayainya.

Kamu tidak akan pernah percaya bahwa arang jelek, bongkok dan jauh dari sempurna ini berani mencintaimu. KONYOL !

Tapi bagiku itu sudah tidak penting lagi, kamu sekarang sudah dalam dekapan laki laki lain yang aku kira lebih mencintaimu dari pada cintamu sendiri. Aku mencoba percaya bahwa dia bisa membahagiakanmu lebih dari janji-janjiku padamu.

Aku menatap langit. Dan langit melemparkan jaring ke arahku. Aku terperangkap. Aku terdiam. Dan aku diam. Tidak bergerak. Tidak juga berontak.

Gerimis yang sedari tadi tertahan kini menjadi hujan yang sangat deras, membawaku pada kedinginan dan basah kuyup. Aku juga belum beranjak karena aku tidak ingin beranjak, karena aku akan beranjak, aku serahkan tubuhku bahkan nyawaku di tempat ini. Aku menyerahkan nasib jelekku pada putaran waktu dan guyuran air hujan, aku pasrah, aku pasrah yang sepasrah pasrahnya.

Sampai akhirnya aku merasa hujan kian lebat dan membentuk banjir yang dahsyat, dan kemudian membawaku pada arusnya, dan aku tak lagi bisa bergerak untuk melawan, ikut hanyut dalam kepasrahanku. Dan itu terjadi beberapa lamanya. Dan kemudian gelap, gelap sekali. Tahukah kamu kalau barangkali aku mati ?

Ternyata tidak. Aku tidak mati. Aku masih hidup. Aku masih bernapas. Dan ketika aku buka mataku, aku pandangi sekelilingku, aku sungguh tidak tahu saat ini aku berada di mana?

Aku di mana ?
Aku di mana ?
Aku di mana ?

Berulangkali pertanyaan yang sama aku lontarkan tapi aku belum menemukan jawaban.

Aku tidak menemukan lagi sinar matahari
Aku tidak menemukan lagi hijau dedaunan
Aku tidak menemukan lagi semilir angin
Aku tidak menemukan lagi suara musik dangdut
Aku tidak menemukan lagi dirimu.

Aku di mana ?
Aku di mana ?
Aku di mana ?

Aku berharap tidak dimana-mana

Aku hanya berharap berada di suatu tempat
Yang jauh
Yang tersembunyi

Di hatimu
Di hatimu
Di hatimu !

One Response to “Panggih”

  1. on 04 Oct 2008 at 05:53Adi

    Detail sangat aku nya
    karakterny kuat
    hmm..tp ekspektasiq g trcpai.ga adil rasany kalo cm dr aku.kenapa ga dr kamu jg?
    Satu,dua,tiga
    satu aku
    dua kamu
    tiga 3rd views

Tinggalkan Komentar