Altar Itu Untouchable
September 27th, 2008 by rey_khazama
Rey lepaskan balutan hatinya yang penuh kenistaan, bibir tipisnya memutih. Gerakan tangannya melemah. Disadarinya hatinya memuai akan kehadiran seorang Harrafidiz Soma yang berdiri di sebelah sosok gaun putih di atas mimbar Tuhan.
Mereka mengucap janji sehidup semati dalam kesaksian cinta.
Musnah harapan Rey menahan degup jantung yang terbakar.
Dikecupnya layar putih berlukiskan wanita itu.
“Semua tak harus berjalan dengan semestinya,” ucapnya sembari menatap bingkai foto di sela saku dompetnya
Riuh tepuk tangan dan ucapan selamat dihaturkan kepada pasangan muda di atas altar kembang cinta.
Nasi terasa basi kurasa, sup terasa pahit kutelan. Tak dapat kuhampiri genggaman tangan yang sudah menyatu itu, terasa menembakkan shotgun di kepalaku bila raga ini berdiri menyatukan tangan dengan hati tak rela.
Dia telah pergi dengan mimpi indahnya, merajut kasih bersama gelombang hidupnya yang baru. Tak bisa kutunjukkan wajahku, tak pula bisa kuberikan airmataku. Semua begitu untouchable.
Kusandarkan keningku diatas punggung Fitri yang duduk di depanku.
“Kamu masih mencintainya?” tanyanya dengan penuh perhatian. Rona merah di pipinya berubah menjadi sendu. Cinta di hatinya terasa diombang-ambing di atas kapal tua.
Hatiku mengutuk dengan keras diiringi setan-setan mengacak-acak ironi jiwaku, kugigit kemeja suci ini dengan keras, kutahan jeritan hanya untuk menahan keperihan yang mendalam. Pikiranku kacau dan kupeluk Fitri dari belakang sembari mengukuhkan mataku yang penuh darah kebohongan.
Fitri nampak terpukul akan pengkhianatan cinta yang sudah diberikannya selama ini, namun dia mengerti dengan tulus akan rasa kehilangan orang yang dicintainya. Hatinya tak kalah bergejolak sedalam pusaran air di tengah muara. Namun seorang Fitri tak setegar aku. Digenggamnya dengan keras pergelangan tanganku hingga meninggalkan bekas. Tak mau dia kehilangan seorang Rey Khazama yang memiliki kekuatan cinta begitu besat
“Rey, Fitri sayang kamu! Kenapa Fitri bukan orang pertama yang kamu jumpai,” ucapnya dengan nada lirih. Terdengar dengan jelas suara gemecik air yang melenting jatuh keatas perhiasannya.
“Rey gak bisa jawab Fit! Maafin Rey,” jawabku disertai suara serak bercampur dengan airmata yang masuk hingga menyumbat kerongkonganku.
Fitri mencoba untuk tegar, dan menahan dengan sepenuh tenaga perasaan cinta yang dimilikinya terhadap Rey. Hatinya seperti melayang antara dua dunia, cinta dan ketulusan. Dengan tangan yang bergetar, dibalikkannya badannya dari kursi besi itu dengan perlahan dan memelukku dengan erat, cengkraman tangannya seperti meremas pasir putih dari pantai surga. Keras dan ingin menggapai, namun tak dapat terjangkau, karena semua itu semu. Bibirnya mencium leherku dengan lembut. Gerakan hatinya tak terbatas namun suara batin masih tak dapat menerima takdir Illahi yang memberikan malaikat ini menangis karena mencintaiku.
‘Ya Tuhan bisakah kau pindahkan perasaan itu kepada wanita yang sedang kau takdirkan di atas pelaminan itu,’ ucapku dalam hati.
Ritha dan Bulba hanya bisa diam menatap peristiwa sedih ini. Mereka tak dapat berbicara sepatah kata pun, mulutnya terkunci. Ingin menawarkan hati namun itu bukan kuasa mereka. Jalinan persahabatan begitu kuat untuk menjaga perasaan masing-masing. sebuah kata sakral pembunuh hati yang bernama CINTA.
“Fitri bakal ngejar kamu, Rey! Kemanapun kamu pergi bakal Fitri kejar,” bisik Fitri dengan airmata sedu-sedannya.
Aku tak dapat menjawab, karena aku tak mau menyakiti ketulusan yang diberikannya. Cahaya cintanya masih samar dalam dahaga ini. Apakah aku mampu mencintainya seperti aku mencintai seorang Gina Pritania, aku tak tahu. Lebih baik aku menafsirkan diriku dalam keheningan sejenak.
“Rey, gak bisa kasih kamu harapan Fit. Tinggalin Rey sejenak buat mikirin sesuatu yang gak adil bagi Rey,” jawabku memegang kedua bahunya, dalam keharuan air mata.
Fitri tak mau menatap wajahku, nampak hanya setetes air yang harus kuberikan kepadanya, bukan cinta instant seperti yang diharapkannya. Setelah beberapa saat mata itu tidak saling bersatu, Fitri akhirnya menunjukkan sorot matanya kepadaku dengan perlahan. Dan berkata, “Fitri cinta sama kamu Rey!”
Aku belum dapat menjawab kata itu dan hanya menghibur hatinya dengan sebuah pelukan manis beserta satu kecupan di keningnya. Malam itu berakhir dengan cukup tenang. Bulba dan Ibu Ritha berulang kali menghiburku dengan candaan khas pasangan bos dan atasan itu. Sementara Fitri menghiburku dengan terus memegang tanganku dengan erat hingga acara pernikahan antara Gina Pritania Milandha bersama Harrafidiz Soma itu selesai, sekali-sekali dia merapikan rambutku untuk sekedar menunjukkan kepada orang lain, “biarpun wajah Rey biasa saja tapi hatiku hanya untuknya”. Rey memang beruntung, tapi cintaku terlalu buta untuk memandang Gina.
Sementara pasangan bahagia itu nampak tertawa bahagia menyulut api keperihan yang berjelaga dalam hati, dengan senyum lebar mereka menyodorkan salam dan menerima ucapan selamat dari keluarga, rekan, dan sahabatnya. Kali ini cinta berada dalam posisi kesalahpahaman. Canda tawa tersimpan dalam kotak suara, kunci itu telah hilang, menyepi dalam semak berimbun. Gita cinta yang selama ini tersimpan dalam memori indah menjadi luka bagiku.
Cinta menusukkan dirinya pada jantung perangkai cinta. Semua cerita telah usai ditelan isi bumi. It’s untouchable
ini sambungan cerita milandha y ?
tapi kok g nyambung gt sih ama judulnya ?
cerita Milandha dan Altar itu Untochable bukan cerita yang sama. karakter Rey di “Altar itu Untouchable” berbeda dengan karakter Rey di “Milandha” namun terdapat kesamaan nasib hingga saya menamakan karakternya sama.
prinsip cerpen kan harus tamat, satu kali cerita selesai.
thanks for comment
sabar atuh, kang……