Bunga untuk Bunga
September 26th, 2008 by abraham
Malam ini angin berhembus dengan tenang menerpa wajahku. Aku tetap melangkahkan kakiku di trotoar sambil merapatkan jaket kulit warna hitam yang sudah agak kusam. Situasi malam ini terasa aneh, sambil tetap berjalan, kurasakan ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. ”Ehm, aneh.” Kulihat kebelakang, tidak nampak sesuatu pun karena lampu jalan sudah mulai redup. Aku pun segera mempercepat langkahku agar segera sampai di rumah.
Kubuka pintu rumah dengan perlahan-lahan, lalu kutanggalkan jaket dan kuletakkan di sandaran sebuah kursi yang terletak di dekat pintu. Aku pun lalu melihat ke sekeliling rumah. Kemudian aku segera menuju ke kamar atas, dan kulihat Bunga sedang tertidur lelap bersama mamanya berselubungkan selimut warna merah muda.
Aku kembali turun menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Lalu kudengar suara erangan lirih, “Papa..Papa…” Aku pun segera berlari ke kamar atas, kulihat istriku sedang mengelus-elus kepala anakku .
“Kenapa Ma? Apa masih panas ?” kataku lirih kepada istriku.
“Sssst, iya,” jawabnya.
Bunga anakku memang sedang sakit. Badannya yang kurus tampak lebih kurus lagi karena sakitnya tidak sembuh-sembuh. Dokter pun juga sudah angkat tangan akan penyakit yang diderita oleh Bunga. Obat pun juga sudah diberikan dan diminum dengan rutin, namun tampaknnya sama sekali tidak membawa hasil.
“Pa….Papa….?” erang bunga lirih memanggilku.
“Ya sayang….ada apa..?”
“Aku ingin sekali bunga Melati Pa. Yang warnanya putih itu lho Pa.” Sedikit kaget aku mendengar permintaan bunga, karena biasanya yang dimintanya adalah makanan, atau mainan. Tapi sekarang, kok minta bunga?
“Ya Sayang, besok Papa carikan bunga Melati yang banyak ya. Emang bunganya mau untuk apa? Mau untuk mainan ya?” jawabku sambil menahan haru melihat keadaan Bunga yang tak kunjung dingin suhu tubuhnya.
“Ndak Pa, Bunga mau sekarang. Papa belikan bunga Melati ya Pa, sekarang,” jawab Bunga dengan lirih.
“Sayang, sekarang udah malam, toko bunga juga udah tutup, besok saja ya,” ucapku.
Bunga tidak menjawab. Hanya kulihat matanya terpejam sambil meneteskan air mata. Melihat hal seperti itu istriku terus menangis di sudut ruangan. Aku pun tambah bingung.Ya Tuhan, lindungilah anakku, sembuhkanlah dari penyakitnya, dan berikan ketabahan pada istriku, batinku lirih mengucap doa.
Lalu kuusap kepala bunga dengan tanganku, anehnya tubuhnya sudah mulai dingin. Sedikit senang perasannku melihat hal tersebut. Namun, kuperhatikan lagi dengan teliti, Bunga tertidur cukup pulas. Pikiran buruk pun menghampiri otakku, segera kulihat dan kupegang denyut nadinya.
”Ya Tuhan!” Langsung kutelungkupkan telingaku ke dada Bunga mencoba untuk mendengar denyut jantungnya.Namun, tidak terdengar apa-apa.
Melihat hal itu , tubuhku terasa bagaikan disambar petir, ditambah lagi istriku menjerit histeris. Air mataku mulai mengucur deras. Bunga telah tiada.
Keesokan paginya, aku hanya bisa merenung dan meneteskan air mata di samping makam Bunga yang penuh dengan taburan bunga Melati. Terucap lirih dalam hatiku, maafkan Papa, Bunga.
ya………cerpen nya bagus…
wah, pak abraham ternyata suka mengarang yah…
mantap pak
lanjut pak….