Cerita Cinta
September 25th, 2008 by hendi_ana
Senja kutermenung, menatap langit dan rona merah pada mentari.
Merasakan semilir angin yang bergerak mengikuti arah angin.
Dan kegelisahan yang menyesakkan dadaku,
membuat diriku ingin menumpahkan segala keluhan.
Di kegelapan malam, aku mendekapi tidurmu.
Di kegelisahan hati, aku memahamimu.
Dan waktu yang terus berjalan menyaksikan kehidupan,
membuatku selalu berharap
untuk dapat menghabiskan masa terakhirku bersamamu.
Tapi, pertengahan bulan sepuluh di abad dua puluh satu pada perhitungan waktu. Kurasakan kebimbangan, keraguan dan kegelisahan.
Di waktu terakhir seakan kau tak mengenalku.
Di setiap pertemuannya, tak sedikit pun kau tersenyum padaku.
Yang ada hanyalah tatapan dingin tanpa perasaan cinta.
Yang jauh terasa sakit dari sebelum kau khianatiku.
Kau bukanlah kau!!!
Kau bukanlah cinta yang kukenal!!!
Aku sadar, mungkin aku terlalu banyak berharap padamu.
Tapi, bila kuingat masa bulan kedelapan tahun ini.
Jauh….
jauh dalam keegoisan dan tatapan dingin.
Kau…….
Begitu baik dan ceria.
Yang di setiap tatapan misterinya,
menciptakan teka-teki yang begitu rumit.
Namun, di situlah kau ambil hatiku.
Kau hiasi hariku dengan penuh kehangatan.
Dan kau……
Kau mendapatkan cintaku untuk yang kedua kalinya
Kau tahu, apa yang kini kurasakan?
Membatin dalam kesakitan.
Menelan seluruh kata-kata ’cinta’ dan ’sakit’ darimu.
Menepis kekhawatiranku.
Menangis dalam setiap tegukan peristiwa.
Dan bersandiwara di depan topengmu yang manis.
Aku merindukan dirimu yang dulu!
Di manakah kehangatan bersamamu?
Kehangatan yang selalu membawaku terbang jelajahi duniamu.
Aku merindukanmu!!!
Dan bila aku merenung dan berfikir apa itu cinta.
Cinta artinya memberi kasih sayang dan tak harus menerima.
Cinta tak dapat ditepis…
Walau ku yakin dengan cinta ini,
pantaskah kau menerima pengertian dariku untuk kesekian kalinya?
Cintaku yang tulus tak tertipu oleh tawa suram,
walau cinta tulus itu teguh dan setia.
Apakah segalanya baik untukmu?
Apakah itu indah bagimu?
Dan dalam renungan jiwaku.
Jauh mencari jawaban kedalam hati.
Jauh lebih dalam melebihi kedalaman cinta.
Dalam benakku bertanya,
apakah aku harus tetap mencintaimu?
Apakah aku harus setia menunggumu?
Setelah apa yang kudapat selama ini.
Setelah apa yang kau berikan padaku.
Pantaskah kau dapatkan cintaku lagi?
Pantaskah?
Haruskah aku mencintaimu hingga kau sadar?
Haruskah?
Segala yang telah kurasakan,
menjadikan hati ini beku, lemah tanpa tekad.
Hari-hari yang kurasakan begitu suram.
Jauh lebih buruk dari sebelumnya.
Terjatuh dan sakit, itulah diriku kini.
Menjalani hidup tanpa semangat.
Merenungi makna tanpa cinta.
Sedetik pun, tak berkedip.
HATIKU…….
MATI…….!!!!
Selepas Oktober, kuberpisah denganmu.
Membiarkan semua yang telah terjadi.
Menjadi kenangan semu yang tersimpan.
Tanpa berharap, segalanya kan kembali…..
Bandung, 17 September 2008