KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Pemimpin dan Dipimpin

Sore ini seperti sore yang lalu. Kududuk di deretan kursi plastik ruang dapur yang kami sulap menjadi ruang rapat. Kepulan asap rokok menyesakkan hidung rekan yang turut terlibat dalam rapat.

Ya, itu giat rutin saban sore.

Memasuki bulan ke tiga ini, ia selalu bersuara. Sebenarnya ia tidak mendominasi, hanya saja, bagiku, karakter memimpinnya tidak cocok. Memang tidak ada yang ideal dalam hidup. Setidaknya ada takaran untuk ideal.

Titik-titik takaran itulah yang mulai menyirna dari apa yang terjadi selama bulan-bulan ini. Ku juga terkadang acuh dengan apa yang dibahas dalam rapat.

Kuingat dongeng nenek. Segerombolan srigala menyerang kampung desa. Seluruh penghuni kucar-kacir, padahal, srigala bergerombalan itu hanya 12 ekor. Ganasnya auman dan liarnya mata binatang itu menakutkan semua warga, tanpa terkecuali.

Kepala desa, tokoh desa hingga dukun desa tak kuasa mencari celah melawan si gerombolan srigala. Mereka hanya menatap dan menanti dari seberang sungai, berharap gerombolan itu pergi jauh meninggalkan desa.

Sehari berlalu, sepekan telah terlewati, dan kini memasuki hitungan bulan. Gerombolan srigala tak juga beranjak. Lolongan panjangnya semakin memekakkan telinga.

Warga mulai risau. Anak-anak mulai diserang penyakit. Yang tua makin ringkih. Dukun desa hanya terdiam, terus melanjutkan meditasinya. Berharap ilham dari langit. Asap kemenyan mengabut di wajahnya. Namun, petunjuk itu tak juga muncul.

Kepala desa tak lagi bersuara. Hanya menganggukkan kepala. Tertunduk memandang tanah yang ia pijak. Semua tak dapat berbuat. Pemimpin yang diharap tak dapat berbuat banyak. Sabar, sabar, selalu sabar.

Warga berontak. Mereka meminta tanggung jawab pemimpinnya. Mereka mengelontorkan makian-cacian. Lumrah, itulah sifat dari yang dipimpin. Menanti dan meminta.

Nenekku tak meneruskan cerita itu. Ia lalu bertanya, “Kau memilih posisi sebagai apa?” Kudiam. Memandang Nenekku yang menyekat giginya dengan suntil. Senyumnya manis, seindah wajahnya masa belia.

Sorot mata tepat mengena dua mataku. Dengan lembut ia usap kening hingga daguku. Lalu, kutertidur, tanpa menjawab pertanyaannya.

Esok malam, Nenek kembali mendongeng. Ia melanjutkan cerita segerombolan srigala. Dari 12 ekor, binatang itu berkembang biak. Di seberang sungai, warga mulai berkurang. Anak-anak yang terserang penyakit mulai bermatian. Yang tua mulai meringkuk di atas tanah.

Kegaluhan semakin memuncak. Pemimpin dan yang dipimpin tak lagi menyapa. Tapi, mereka tidak juga beranjak atau coba melawan gerombolan srigala.

“Andai kau di situ, apa yang kau perbuat?” tanya Nenek. Ku masih tak menjawab. Ia tatap mataku, lalu kecup keningku. Lembut…lembut, dan kuterlena, pulas.

Kembali nenek menidurkan. Kali ini ia meminta ku duduk. Ia menghela nafas, lalu membuang suntilnya. Puih…ke bawah tempat tidur. “Nenek tidak bercerita lagi. Tapi Nenek ingin mendengar jawabanmuu,” katanya.

Kudiam, kupeluk erat badannya. Ditariknya wajahku.

“Jawab. Kamu harus menjawab.”

“Aku tidak tahu, Nek,” kataku.

“Kamu harus bisa, katakanlah apa yang dapat engkau katakan dan berbuatlah apa yang dapat engkau lakukan.”

“Maksud Nenek?”

“Cucuku, sebagai orang yang dipimpin, jangan pernah bergantung pada pemimpin. Dalam keadaan terjepit, kau harus berbuat, bertindak. Cepat dan tepat. Manfaatkan kelemahan pemimpinmu. Tunjukkan kemampuanmu. Jangan pernah menganggap pemimpinmu lebih baik darimu. Dan jangan pernah sekalipun kau tunduk padanya. Mengekor dan mematuh. Juga kau ingat, berjalanlah di atas roda aturan. Sepanjang itu bisa kau lakukan, kau akan selamat tanpa pemimpin. Andai menjadi pemimpin, jalankan aturan jangan menyenceng sekalipun. Bila itu yang terjadi, orang-orang yang kau pimpin akan melenceng jauh dari apa yang kau lakukan.”

2 Responses to “Pemimpin dan Dipimpin”

  1. on 05 Nov 2008 at 16:45aDiT

    makasi y atas cerpennya….
    aq ambil buat ngumpul tugas di skola…
    smoga sukses…
    gyahahahahahahahaha..,..

  2. on 05 Nov 2008 at 20:03soetana

    terserah kamu saja, sepanjang mencatumkan pemilik-pengarangnya.

Tinggalkan Komentar