KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Cinta Itu …

Aku menatap senja di laut, hatiku sedang gundah. Rasanya tangis dan tawa sudah tak dapat aku bedakan lagi. Tawa itu seolah sirna. Sedih itu sudah menjalar di dalam bagian tubuhku, mengisi setiap sendi-sendi tubuhku.

****

Aku pulang ke kos, wajahku sembab. Tawaku mengambang. Aku semakin tertegun dengan kehadiran seseorang yang sangat membuat hatiku sakit dan menderita. Penderitaan yang juga membuat dia semakin sedih dan tak berdaya.

“Aira, tunggu sebentar! Aku ingin berbicara denganmu,” Deni berusaha memanggil dan memegang tangan ku.

Aku berusaha menepis tangannya, tapi dia bisa memegang tanganku. Aku tahu ini tak adil untuknya, tapi ini juga tak adil untukku. Air mata ini tumpah, dan aku sendiri tidak bisa menahan lelehannya. Enam tahun sudah aku menjalani hubungan ini. Tanpa restu orang tuaku, ataupun restu ibu angkatnya. Ya, Tuhan dosa apa yang kami perbuat, sehingga hukuman ini yang harus kami terima. Aku berdoa dalam hati.

“Maaf, Aira. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tak ingin kehilanganmu, tapi aku juga tak ingin menyakiti Bu. Tuti. Aku hidup dari dia, makan dan tempat tinggal juga dari dia.” dia berkata dengan nada yang mungkin tak bisa aku lupakan.

Hati ini merintih. Hati ini semakin terluka. Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Aku ingin pergi saja dari sini. Aku benar-benar putus asa. Aku tepis tangannya, dan dengan kasar berusaha mendorongnya. Dan BRAAK!! Aku menutup pintu kamar kosku dengan keras.

Aku lemparkan tubuh ini ke tempat tidur. Aku biarkan air mata ini tumpah dengan derasnya. Sebenarnya aku rindu padanya, aku ingin dipeluknya. Tapi apa daya cinta ini mungkin sudah waktunya terkubur. Aku bangkit dari tempat tidur, dan membuka lemari pakaianku. Ada map dengan cap dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Surabaya, serta satu map lagi tentang pemberitahuan beasiswa ke negeri Jepang.

Aku termenung. Aku berusaha mencari jalan keluar untuk masalah ini. Dan aku harus pergi dari kehidupannya. Aku tak mau terluka lagi. Aku juga tak ingin melihatnya bersedih. Enam tahun memang bukan waktu yang sangat sebentar untuk menjalani sebuah hubungan. Tapi kalau akhirnya aku harus memilih. Aku memilih untuk pergi dan itu sudah menjadi tekatku.

Aku mengemasi barang-barangku secukupnya. Sambil bersiap-siap, aku memandang foto kami berdua. Indahnya. Aku menepis bayangan itu. Setelah selesai, aku berpamitan pada ibu kos. Karena aku akan pulang ke rumah orang tuaku di Malang.

****

Sampai juga aku di Malang. Kota sejuk tempat aku dilahirkan. Kedatanganku disambut gembira oleh orang tua serta saudara-saudaraku. Setelah beristirahat sebentar, aku memulai berdiskusi dengn kedua orang tuaku. Aku menyampaikan keputusan yang pasti membuat mereka terkejut.Aku mengutarakan niatku untuk mencari ilmu sampai ke Negeri Sakura. Dan setelah di pertimbangkan, aku boleh melanjutkan studi ke sana.

Tak sampai tiga hari, aku kembali ke Surabaya. Mengurus surat-surat serta paspor. Tak pernah kuhiraukan panggilan lewat telepon dari dia. Tekatku sudah benar-benar bulat, untuk pergi darinya

****

Aku keluar dari taksi yang membawaku dari Konsulat Jenderal Jepang, ketika wajah yang amat aku rindukan sudah berada di depanku

“Kamu mau kemana?” tanyanya
“Tidak kemana-mana!” jawabku singkat
“Kamu mau pergi meninggalkan aku?”
“Tidak ada pilihan lain, aku tak ingin kamu bingung. Dan aku juga tak ingin sakit hati!” sahutku dengan berjalan menjauh darinya.
“Kamu sudah tidak sayang dan cinta aku lagi?”

Pertanyaan yang tak pernah bisa aku jawab. Aku semakin kalut.Tuhan, aku tak ingin kehilangan dia. Aku ingin bersamanya untuk selamanya. Aku tak ingin pergi darinya.

“Cinta itu sudah hilang. Saat kamu sudah menentukan pilihan hidupmu sendiri.”
“Aku cinta kamu Aira. Aku tak ingin berpisah denganmu!” Setelah itu, aku mendengar langkah kaki yang semakin menjauh. Hatiku sakit. Cintaku pergi. Aku jatuh terduduk di depan pintu kamar kosku. Aku sudah tak punya kekuatan untuk berdiri.

****

Hari ini, aku berangkat ke Jepang. Impian yang selama ini aku idam-idamkan terwujud juga. Aku berpamitan pada kedua orang tua dan saudara-saudaraku yang mengantar sampai bandara Juanda.

Dia tidak datang. Orang yang kucintai tidak datang . Tuhan, aku ingin bertemu dengannya sebelum aku pergi meninggalkan Indonesia.

“Cinta itu ikhlas dan sabar. Cinta itu butuh pengorbanan. Aku rela kau pergi untuk melanjutkan sekolah. Tapi aku tidak rela kau pergi meninggalkanku. Hanya karena aku tak bisa menentukan pilhan hidup.” Suara itu terdengar sangat keras di telingaku.

“ Aku menunggumu untuk kembali. Agar aku bisa menentukan pilihan hidup sendiri.”

Aku dipeluknya. Ya Tuhan, dia masih mencintaiku. Dia tak ingin kehilanganku

“Aku pasti kembali. Aku akan bersamamu melewati jalan cinta ini,” kataku dengan isak tangis yang tertahan.

Aku pergi dengan lambaian tangan darinya. Tuhan, jagalah cintaku sampai aku kembali setahun lagi.

3 Responses to “Cinta Itu …”

  1. on 25 Sep 2008 at 23:15fahrudin

    goood…

  2. on 26 Sep 2008 at 23:39Anker

    Datar n biasa

  3. on 03 Oct 2008 at 10:35Linna

    biasa ajja…

Tinggalkan Komentar