Sekali Lagi Aku Dipaksa Mengeja
September 19th, 2008 by Stebby Julionatan
Sekali lagi aku dipaksa
untuk mengeja kata perpisahan hari ini.
Pada setangkup roti pelengkap pagi
berisi mayonnaise, telur serta pedih
perpisahan meyusup bagai berita kriminal di surat kabar
keji, tapi terlanjur dicermati.
Di beranda rumahku, kau membawa nampan
berisi sesendok garam
“Tinggal diaduk,” katamu,
dengan kopi pahit yang dihantar orang sebelummu
Probolinggo, 30 Agustus 2008
jelek banget bung…
kayaknya kamu ga pantes deh jadi pemenang tahun lalu
puisinya terlalu embrio
gak bernilai seni
maaf…
bung fatkur,
lebih baik bung buat karya aja dulu, daripada ngatain punya orang jelek.
sudah jangan bertengkar, aku aja ga repot kok
@ fatkur, makasih ya buat masukannya
@ lillah, makasih dah dibela
terus berkarya, itu yang terpenting