KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Memori Tyva

Tidak pernah terpikir olehku beginilah akhir dari kisah cintaku. Padahal, setelah sekian lama berpisah akhirnya aku bisa bertemu kembali dengannya. Namun, kenapa justru pertemuan itu berakhir dengan perpisahan yang abadi. Dia sudah terlalu jauh untuk aku gapai sekarang dan terlalu jauh untuk bisa kususul.

Lima tahun yang lalu. Pertemuan singkat yang membuahkan hubungan penting antara aku dengannya. Saat itu, aku dan Rian bertemu di supermarket. Tanpa sengaja tentunya. Aku yang doyan ice cream coklat memang harus selalu rutin pulang balik supermarket ini

Rian tidak sengaja menabrak mobilku katika dia memundurkan mobilnya. Setelah dia meminta maaf kepadaku berkali-kali akhirnya dia mengajakku minum di sebuah kafe. Siapa coba yang mau menolak ajakan cowok keren seperti Rian. Walaupun pada akhirnya ice cream coklatku gak kebeli dan kena marah mama habis-habisan gara-gara bamper mobilnya penyok.

Pertemuan itu ternyata tidak berakhir begitu saja. Cowok itu selalu rutin main ke rumahku dan menjemputku ke sekolah. Rian memang cowok yang menyenangkan. Sangat menyenangkan malah.

Aku semakin gembira ketika Rian memintaku untuk menjadi pacarnya. Aku memang menyukainya. Tapi, aku membutuhkan waktu satu minggu untuk menjawab permintaannya itu. Yah… karena inikan first lovenya aku, jadi aku gak kepengen cepat-cepat patah hati. Tapi, akhirnya aku mengiakan juga. Dan sejak saat itu kita resmi pacaran.

Aku senang banget jika ada di dekat Rian. Dia cowok yang sangat baik dan pengertian tentunya. Dia memang bukan tipe cowok romantis yang suka memberi bunga dan coklat kepada ceweknya. Dia selalu memberikan candanya ketika aku sedang kesal, memberikan senyumnya ketika melihatku, dan memberikan kebahagiaan yang sangat berarti dan itu semua gak ada bandingannya dengan bunga dan coklat.

Tapi, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Setelah kita lulus SMA aku mulai kehilangan Rian. Dia tidak pernah datang lagi datang malam minggu, tidak pernah menelpon, tidak pernah menemuiku. Aku sudah berusaha mencarinya. Aku selalu menelponnya, tapi nomornya tidak aktif. Aku datang ke rumahnya, tapi kosong. Rian seperti hilang ditelan bumi. Aku tidak tahu kenapa dan apa yang terjadi padanya.

First cut is the deepest. Benar kata orang-orang. Aku tidak tahu perasaan benci atau sedih yang melanda hati aku. Aku selalu berusaha mencari informasi tentangnya setiap saat, tapi nihil. Tidak ada satupun kabar tentangnya yang bisa aku dengar. Padahal aku belum mau berpisah dengannya. Kalaupun harus jangan begini, pergi tanpa pamit ninggalin aku sendirian.

Sudah hampir dua tahun berlalu. Aku pun sudah hampir menyelesaikan tahun ke duaku di universitas. Tapi tetap tidak ada kabar tentang Rian. Tidak satu pun teman-teman sekolahnya yang mengetahui keberadaannya. Ohh Tuhan…. Aku benar-benar sudah capek. Tapi aku gak bisa berhenti. Aku harus menemukan Rian dan menanyakan alasannya kenapa dia meninggalkan aku begitu saja.

Akhirnya kesempatan itu datang. Aku sedang membantu mamaku menyiapkan makan malam ketiak bell berbunyi.
“Ty, buka pintunya dong.”
“Oke, Ma!!!” Aku yang lagi menyiapkan piring di meja makan segera berlari menuju pintu depan.
Aku terkesima ketika mengetahui siapa tamu yang datang itu. Rian berdiri di hadapanku, tersenyum. Dia tampak kurus dan capek. Tanpa sadar aku berjalan menghampirinya, memegang wajahnya, dan langsung memeluknya ketika menyadari bahwa Rian yang berdiri di hadapanku sekarang adalah Rian yang sebenarnya, bukan hanya hayalanku saja.
Rian mengelus lebut rambutku. “Apa kabar, Ty???” tanyanya.

Aku melepaskan pelukanku dari Rian. Kesedaranku pulih seketika, aku mengangkat tanganku dan menampar wajahnya.

“Kemana kamu????!!” tanyaku sinis.
Rian memegang pipinya yang memerah karena tamparanku. “Maafkan aku, Ty,” gumamnya pelan.
Aku mendengus kesal. “Maaf kamu aku tolak. Sekian lama kamu menghilang baru sekarang kamu nemuin aku. Pake nanya apa kabar segala.” Rian tersenyum kecut. Dia menarik tanganku lembut.

“Eh….. mau kamu bawa kemana aku????”
Rian memandangiku lekat-lekat. “Aku mau ngajak kamu jalan-jalan. Udah lama gak pergi bareng kamu.” Rian tersenyum. “Aku rindu sama kamu.”
Aku diam. Ngajak jalan???? Emang dia kira aku cewek apaan. Setelah sekian lama menghilang tanpa kabar enak aja dia datang-datang terus ngajak jalan.
“NGGAK!!!!!” aku melepaskan tanganku dari pegangannya. Rian memandangku memelas.

“Tidak. Sebelum kamu cerita kenapa kamu pergi gitu aja.”
Rian menghela nafasnya berat. Aneh…. Dia bukan Rian yang selama ini kukenal. Senyumnya tidak seramah dulu, wajahnya tidak seteduh dulu, matanya tidak selembut dulu. Rian yang kakulah yang berdiri di hadapanku sekarang.
“Nanti aku ceritakan. Sekarang kamu ikut aku dulu ya….”
Kali ini aku menurut. Banyak hal yang berubah pada Rian dan jelas bikin aku penasaran.

Rian menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
“Kok berenti disini???” tanyaku heran.
Rian tersenyum. “Kenapa?? Takut aku apa-apain ya di tempat sepi begini???”
“Coba aja kalo kamu berani macam-macam sama aku,” jawabku sok berani.
Rian tertawa melihat ekspresi sok hebatku. “Sudah lama aku gak tertawa seperti ini.” Rian masih terkekeh. Aku hanya memandangnya, masih menunggu. “Tenang…. aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu kok. Kamukan orang yang sangaaaaaaat aku sayang.”
“Aku hanya ingin mencari tempat dimana aku bisa mengatakan hal ini kepada kamu.” Aku masih diam.
“Aku mau putus, Ty!!”
Aku tersentak. Ini bukan kalimat yang ingin aku dengar dari mulut Rian. Paling tidak kata-kata putus itu harus keluar dari mulutku. Aku kan yang ditinggalin begitu lama olehnya.

“Kamu ngajak aku ke sini cuma untuk ngomong itu. Putus?????!!!” aku tertawa hambar. “Bukan ini penjelasan yang aku mau. Aku gak butuh kata-kata putus dari kamu. Aku sudah menganggap kita tidak punya hubungan apa-apa lagi sejak kamu ninggalin aku.”
Rian memegang tanganku. “Ty, aku punya alasan melakukan ini semua.”
Aku melepaskan tanganku dengan kasar. “Apa alasannya kalau begitu?? Apa alasannya sampe kamu tega gantungin aku kaya gini???” teriakku. Kesabaranku memang sudah habis.

“Maaf. Aku gak bisa mengatakannya,” jawab Rian. Aku diam memandang Rian.

“Jadi kamu memang tidak mau mengatakannya??!!! Oke, fine!!!!!! Kita selesai sampai di sini. Tidak pernah terpikirkan sama aku selama ini kalo ternyata kamu itu pengecut.” Aku membuka pintu mobil Rian dan pergi meninggalkannya.

Aku memaki-maki sepanjang jalan. Kenapa sih ada cowok seperti dia. Kenapa harus dia coba yang aku sayangin. Dia bahkan tidak mengejarku ketika aku meninggalkannya. Cowok seperti apa yang membiarkan cewek jalan kaki sendirian malam-malam. Untung aku cepat dapat taksi.

Aku menghempas pintu kamarku. Aku bahkan tidak menghiraukan orang tuaku yang memandangku heran. Aku menghempaskan badanku di tempat tidur. Menangis dalam diam. Hati aku benar-benar sakit. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Semuanya terasa begitu cepat, pertemuanku dengan Rian, pacaran dengannya, berpisah, dan tiba-tiba bertemu lagi. Ini semua benar-benar seperti mimpi.
Aku mengelap air mataku. Bukan Rian yang harus aku tangisi. Cowok seperti itu memang gak pantas buat aku. Cowok yang hanya bisa bikin sakit hati cewek bukanlah tipe cowok yang aku inginkan selama ini. Tapi, kali ini hati aku jatuh pada wadah yang salah. Wadah yang ternyata dimiliki sama cowok seperti Rian. Aku gak bisa pungkiri kalo aku benar-benar sayang sama dia.

Semalaman aku tidak tidur. Semua pertanyaan berkelebat di kepalaku. Sakit, sedih, marah, bencipun menyatu di dalam hati aku. Aku memandang wajahku di cermin. Mataku bengkak. Mungkin karena menangis semalaman. Tapi, ini gak sebanding dengan sakit yang aku rasain. Biarin aja mata aku bengkak segede gajah asal rasa sakit ini bisa berkurang. Aku memegang dadaku. Rasanya benar-benar sakit.

“Ty……………….” Mamaku mengetuk pintu kamarku.
Aku tersentak. Aku merapikan tampangku yang kusut. Padahal aku udah mandi, tapi tetap aja gak bisa menyembunyikan kekusutan tampangku. Mamaku terpana melihat keadaanku ketika aku membuka pintu kamar.

“Tyva???? Kamu kenapa??” tanya mamaku heran. Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku.

“Cuma kurang tidur aja tadi malam,” jawabku singkat. Aku masuk ke dalam kamar di susul mamaku.
Aku duduk di lantai. Memeluk boneka dan diam membisu. Mamaku menghampiriku dan mengelus kepalaku.

“Mama gak tahu ada apa sama kamu. Mama sebenarnya si mau nanya sama kamu kenapa tadi malam kamu menghilang gitu aja gak pake pamit. Terus, pulang-pulang malah nangis dan nyelonong aja ke kamar gak peduliin pertanyaan mama. Mama sama Papak an jadi khawatir.” Jelas mamaku panjang lebar.
“Tadi malam Rian datang,” jawabku pelan. Mamaku tampak terkejut.

“Masa????? Jadi yang dateng tadi malam itu dia??” Aku menganggukkan kepalaku.
“Trus dia ngajak aku pergi sebentar. Katanya mau menjelaskan kenapa dia pergi begitu aja.” Mamaku diam mendengarkan. “Tapi, dia malah minta putus, Ma.” Air mataku kembali menetes. “Dia gak ada bilang alasannya tapi malah minta putus. Coba Mama bayangin gimana perasaan aku.” Aku terisak. Mamaku memelukku.

“Ty!!! Ada kalanya alasan itu tidak bisa diungkapkan.”
“Kenapa, Ma?? Segala sesuatu itu harus ada alasannya dan harus jelas.” Mamaku mengangkat bahunya.

“Mungkin karena dia tidak mau bikin kamu menderita dan sedih kali,” jawab mamaku.
Aku tertawa masam.

“Apa Mama kira begini aku tidak sedih, aku tidak menderita???? Gak pernah hati aku sesakit ini, Ma!!!!” Aku mulai emosi.
“Bisa jadi dengan mengatakn alasannya justru akan menambah luka kamu,” jawab mamaku lagi.
“Ty…… Mama juga gak tahu kenapa Rian sampe melakakukan hal ini sama kamu. Tapi, Mama tidak yakin kalo Rian hanya ingin menyakiti kamu. Mama tahu dia sangat menyayangi kamu.”
“Kenapa kalo dia sayang sama aku dia justru nyakitin aku????” tanyaku lagi.
“Tidak selamanya kita bisa membahagiakan orang yang kita sayangi. Ada kalanya kita harus menyakitinya untuk menghindarkannya dari kesedihan yang mendalam.”
“Aku benar-benar gak ngerti, Ma. Semuanya jadi ribet. Kepala aku sampe mau meledak rasanya.” Mamaku tersenyum. Dia kembali memelukku.

“Kamu yang sabar aja ya. Setiap hubungan pasti selalu ada rintangannya.”
Aku menganggukkan kepalaku pelan. Tapi, walaupun begitu hati aku tetap tidak tenang. Kenapa Rian jadi begitu aneh dan begitu gak aku kenal.

Sudah beberapa hari sejak kedatangan Rian ke rumahku. Dia tidak pernah lagi menghubungi setelah malam itu. Aku juga tidak berusahan untuk menemuinya. Bukan karena aku gak mau. Tidak ada yang berubah dengan perasaanku sejak malam itu. Hati aku tetap masih sakit, tetap masih heran, penasaran, sedih, bingung. Kenapa justru cowok yang mengaku sangat menyayangi aku yang justru malah menyakitiku sedalam ini. Tapi, walaupun aku menemuinya apa yang seharusnya aku katakan. Apa dia mau menemuiku atau mau menjawab semua pertanyaannku. Walaupun perasaan ingin berjumpa itu kuat tapi aku tidak mau mengambil resiko sakit lagi jika dia malah sudah melupakan aku. Mungkin memang lebih baik begini. Hubungan ini memang tidak seharusnya ada dan lebih cepat berakhir lebih baik sebelum aku benar-benar mencintainya. Tapi, sejujurnya aku memang sudah benar-benar mencintainya.

“Ma…… aku mau ke supermarket dulu ya???” Aku menghampiri Mama yang sedang membaca majalah di ruang keluarga.
Mamaku mendongakkan kepalanya. “Tapi jangan lama-lama ya.” Aku menganggukkan kepalaku.

“Ty…………..”
Aku membalikkan badanku. Mamaku menatapku lekat-lelat.

“Bagaimana perasaan kamu sekarang??”

Aku tersenyum kecut. Mama memang tidak ada bertanya apa-apa lagi kepadaku sejak pagi itu.

“Masih sakit si, Ma. Tapi aku yakin bisa melewatinya.” Mamaku balas tersenyum lembut.

“Mama tau kamu anak gadis Mama yang kuat.”
Aku kembali menganggukkan kepalaku dan pergi meninggalkan Mama menuju pintu depan.

Di tempat inilah pertemuan pertama kali aku dengan Rian. Di supermarket inilah dia menabrak bamper mobilku dan meminta maaf padaku. Ahhhhh….. gak seharusnya aku kembali ke sini. Datang ke sini hanya membuka kenangan lama yang malah akan membuatku lebih sakit. Tapi aku tidak bisa menahan hasratku untuk kembali ke tempat ini. Aku keluar dari mobilku dan menuju ke pintu masuk.
“Tyva!!!!!!!!!!” Aku menghentikan langkah kakiku ketika ada suara yang memanggil namaku. Aku membalikkan badan dan terkejut ketika mengetahui siapa yang baru saja memanggilku.
“Tante Angie???” tanyaku heran. Mama Rian berdiri di hadapanku. Tersenyum lembut seperti biasanya. Tante Angie adalah wanita kedua yang sangat aku hormati setelah mamaku.
Tante Angie menghampiriku dan memelukku erat. Aku hanya diam tidak berbuat apa-apa. Tidak membalas pelukannya tidak pula melepaskan pelukannya.
“Sudah lama kita tidak bertemu. Kamu semakin cantik saja.”
Aku tersenyum.

“Tante juga semakin terlihat muda saja.” Tante Angie tertawa. Tawa renyah yang masih sama dengan yang dulu.

“Gimana kabar Mama?” tanyanya kemudian. Aku mengangkat bahuku.

“Baik,” jawabku singkat.
Tante Angie diam sejenak. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya sekarang. Tapi aku tahu dia terlihat bimbang.
“Kenapa, Tan????? Tante mau masuk kan. Yuk barengan aja sama aku.” Aku membuka mulutku. Tante Angie menggelengkan kepalanya.

“Hmmmm, Ty. Gimana kalo kita ngobrol dulu sebentar. Kamu gak terburu-buru kan. Ntar, sudah ngobrol baru kita belanja sama-sama.”
Aku mengernyitkan dahiku. Sebenarnya Mama menyuruhku cepat pulang. Tapi gak apa deh. Mungkin Tante Angie bisa memberikan penjelasan yang aku inginkan selama ini.

“Gimana kabar kamu sekarang. Kuliah kan????” Tante Angie memulai pembicaraan. Kami memilih kafe yang memang lokasinya dekat dengan supermarket. Aku tersenyum.

“Ia. Biasa aja, gak ada yang istimewa kok,” jawabku. Tante Angie menghela nafasnya.

“Tante tau selama ini kamu tersiksa banget dengan sikap kekanak-kekanakkan Rian.”

Aku memandang tante Angie. Ternyata wanita ini memang ingin membahas tentang masalah anaknya. Kali ini aku hanya mengangkat bahuku.

“Kalo aku bilang aku gak tersiksa berarti aku bohong. Tidak ada satupun dari sikap Rian yang bisa aku mengerti saat ini,” jawabku sedih. Tante Angie menggenggam tanganku.

“Tante minta maaf ya, Ty. Rian memang sudah membuat kamu menderita selama ini walaupun sebenarnya dia tidak berniat untuk itu.”
“Mungkin memang harus begini Tante. Tapi, aku mohon sama Tante, bujuk Rian agar dia bisa menjelaskannya kepada aku. Aku butuh penjelasan Tante. Aku bukan tipe cewek yang bisa menerima begitu aja jika seseorang yang aku sayangi meninggalkan aku begitu saja tanpa penjelasan apa-apa.”
Tante Angie diam. Kali ini aku yang menggenggam tangannya, lebih erat.

“Please Tante. Kalo Tante tidak ingin melihat aku menderita seperti ini tolong bujuk Rian untuk menemuiku. Selama ini aku berusaha untuk mencarinya tapi aku tidak bisa menemukannya.” Aku menarik nafasku. “Aku senang ketika Rian akhirnya datang ke rumah. Yah…. walaupun aku sebenarnya marah karena dia sudah ninggalin aku gitu aja. Tapi kenapa justru kedatangannya malah membuat hatiku jadi semakin sakit. Tanpa alasan yang jelas dia ninggalin aku gitu aja.” Air mataku akhirnya menetes. Padahal aku sudah tidak ingin lagi menangisi cowok yang telah membuat aku menderita itu.

“Tyva…………” Tante Angie melengos. “Tante…………… Tante bukannya tidak ingin membantu kamu. Tapi…………….”

“Tapi, apa Tante??? Atau aku aja yang nemuin Rian. Apa aja boleh Tante asalkan aku bisa mendapatkan penjelasan darinya. Aku memang belum tau mau ngomong apa jika bertemu dengannya tapi aku harus bertemu dia Tante,” paksaku. Kesabaranku memang sudah habis. Ibu dan anak memang kelewatan kompaknya.
“Gak bisa Tyva. Kamu gak bisa bertemu dengannya. Dia juga gak bisa menemui kamu.”
Aku tertawa parau. Alasan yang tidak masuk akal.

“Emang kenapa Tante. Apa Rian segitu bencinya sama aku. Apa sih salah aku sebenarnya? Padahal selama ini aku setia nungguin dia datang.”

“Tante tahu kamu setia. Tante juga tahu kalo kamu sangat mencintai Rian. Tapi, Tante juga tidak ingin membuat kamu lebih menderita lagi jika Tante pertemukan kamu dengan Rian.”
“Apa bedanya? Ga ada lagi bedanya sekarang. Aku hanya perlu penjelasan Tante, gak peduli penjelasan itu bikin aku tambah menderita ato tidak.”
“Ty, Rian sudah tidak seperti dulu lagi. Dia bukan Rian yang dulu kamu kenal. Kamu tidak akan sanggup bertemu dengannya lagi.”
“Tante, please……………………” mohonku. Tante Angie kembali menarik nafasnya.

“Oke. Tante akan mempertemukan kamu dengan Rian.” Aku menghela nafas lega. Akhirnya……… Biarpun aku belum siap, biarpun sebenarnya aku tidak ingin bertemu dengannya tapi aku tau bahwa aku harus melakukannya. Setidaknya aku bisa lebih tenang setelah mengetahui alasannya.

Aku benar-benar tidak percaya disinilah aku sekarang. Berdiri mematung. Di hadapanku terhampar pusara orang yang sangat aku sayangi. Orang yang pernah memberikan kebahagiaan sekaligus kesakitan dalam hidupku.

Aku menghapus air mataku. Tidak kusangka justru kankerlah yang membuat Rian memutuskan untuk meninggalkanku. Kanker yang sudah stadium empat dan tidak bisa disembuhkan lagi. Kata Tante Angie selama ini dia berusaha untuk mengobati penyakitnya itu, tapi tetap tidak berhasil. Dia berusaha tidak ingin membuat aku bersedih hanya karena panyakit kronisnya itu. Itulah sebabnya pada akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan aku.

Aku nggak tahu siapa yang bodoh. Aku yang gak peka ini atau Rian yang hanya menganggap aku cewek yang lemah. Beberapa hari ini tidak satu katapun yang terlontar dari mulut Rian. Keadaannya yang kritis membuatnya koma.

Aku memang bisa menemuinya tapi tidak bisa mendengarkan suaranya padahal sudah banyak kata yang telah aku bisikkan di telinganya.

Aku benar-benar syok ketika tante Angie membawaku ke tempat Rian dirawat. Tidak terbayangkan olehku selama ini bahwa inilah Rian yang sebenarnya. Dia begitu kurus dan sangat lemah. Inilah penjelasannya. Inilah alasannya dan aku benar-benar tidak bisa mempercayai bahwa inilah alasan yang sebenarnya.

“Ty….” Mama memegang bahuku.
“Bentar lagi, Ma. Aku mau disini dulu. Mama duluan aja.”
Mama meremas bahuku. Mencoba untuk mentransfer kekuatannya kepadaku. Tante Angie menghampiriku. Dia memelukku dan terisak di bahuku. Aku membelai lembut punggungnya. Rian cowok yang baik. Pastilah orang tuanya akan merasa sangat kehilangan dengan kepergiannya ini.
“Rian sudah tenang di alam sana. Tante jangan bersedih lagi ya??” bisikku.
Tante Angie menganggukkan kepalanya. Dengan digandeng suaminya dia pergi meninggalkanku.

Aku menghampiri pusara itu. Aku membuka tasku dang mengeluarkan selembar kertas lusuh. Surat itu telah aku baca ratusan kali. Berharap Rian akan muncul kembali di hadapanku masih dengan senyum lembutnya dulu. Berharap dia akan bisa ku peluk seperti dulu. Tapi, aku tahu semuanya tidak akan pernah kembali seperti dulu.
“Aku juga sangat mencintai kamu, Rian. Aku akan selalu mengenangmu,” bisikku lirih.

My dearest love,

Aku tau ini bukanlah keputusan yang tepat. Keputusan ini malah akan membuat kamu semakin menderita. Tapi, aku benar-benar tidak punya kekuatan untuk mengatakannya langsung kepada kamu. Aku tidak sanggup melihat air mata itu jika mengalir di pipimu. Apalagi air mata itu justru karena aku.

Ty, aku sangat mencintai kamu dan akan selalu mencintai kamu. Maafkan aku karena tidak bisa memberikan kamu kebahagiaan. Maafkan aku karena justru kepedihanlah yang telah aku suguhkan kepadamu. Tapi, rasa cintaku ini benar-benar tulus dari dalam hati aku. Jadi aku mohon maafkan aku.

Aku juga tahu kamu sangat mencintai aku. Aku sangat bersyukur karena pernah dicintai oleh gadis seperti kamu. Tapi, ini bukan takdir kita. Ini bukan jalan kita. Aku harap kamu bisa menerima semua ini.

Ty, find another guy. Forget about me. Forget about us. Life is a long road and your life must go on. Anggap saja ini semua cerita singkat dalam hidup kita. Cerita singkat yang pernah mewarnai hari-hari sedih dan bahagia kita. Aku yakin pasti banyak cowok yang mau sama kamu. Kamu cewek yang sangat manis. Aku aja langsung jatuh cinta sama kamu sejak pandangan pertama. Apalagi cowok lain.

Ty, jangan tangisi aku lagi. Ingatlah aku hanya sekedar ingatan belaka. Aku tidak ingin melihat kamu terus-terusan bersedih. Duniamu milikmu, jangan sampai rusak hanya karena aku. Tuhan akan menghukumku nanti jika aku membuatmu larut dalam kesedihan. Hapus air matamu dan kembali menjadi Tyva yang tangguh yang seprti dulu.

I really love you, Ty. But i’m sorry if i have to say good bye right now before i can say that i love you so much.

Your love,

Rian

16 Responses to “Memori Tyva”

  1. on 20 Sep 2008 at 13:46Arvin

    Cerita nya dari awal dah ketauan sih endingnya. Tapi menyentuh banget kok. Bagus juga jalan ceritanya..

  2. on 21 Sep 2008 at 22:59fahrudin ifan

    cerita kyk gini dah umum bnget…

  3. on 22 Sep 2008 at 15:20sammy

    mayan deh…iya sih dah ketebak dari awal akhirnya

  4. on 23 Sep 2008 at 03:54azuel

    Certinya bagus, sangat menyentuh, aku salut sama pengarangnya, penulis cerita ini punya bakat dalam menulis cerita. Terus lahirkan karya, takkan lari gunung di kejar, begitulah kita dengan jodoh kita.

  5. on 23 Sep 2008 at 09:19memey

    huuuuuuuuuuuuuuuu…………
    sedih banget cerita nya..
    que sampe angisy niy…

  6. on 23 Sep 2008 at 10:50Cuteee...

    bUat 9w kereN qO’.. yang pada komeNtar jelEx la9i katArak kAle ye…….

  7. on 24 Sep 2008 at 16:42Dwi

    g ada suatu karya yang akan tercipta tanpa pemikiran yang cerdas.maju terus ok. yang bilang jelek blm tentu bisa bikin suatu hasta karya.

  8. on 28 Sep 2008 at 06:57d_cutez

    Huaww………………………………1000x
    cdihh b9tZzzz cRtH’e. m’Pe 6w nAn9iZzzz……….. >_

  9. on 29 Sep 2008 at 20:44cakep

    owh.. so sweet.. ^^

  10. on 29 Sep 2008 at 22:09rey_khazama

    klo menurut rey sih bagus alur ceritanys, idenya jg bagus, finishing touchnya juga pas. intinya mah baguslah. menurut rey yah itu jugah! gak tau kalo kata orang lain

  11. on 03 Oct 2008 at 10:40Linna

    bguZ… SuKseZ sLaLu iiah, kk…

    ^^

  12. on 03 Oct 2008 at 20:56wulan_lover

    ceritanya bikin aku bocor lg!!!!
    ney kayak kisah bneran ja dlm hidupkU!!!!

  13. on 07 Oct 2008 at 14:46NataSha

    Sedih bAngEt !!
    Gua sUka ma ne jaLan ceRita ,, sAma kyaK kisaH CinTa guA Yg di tingGalin ma c0 yg gUa cinTai pLus gUa sAyaNg ..
    I love u s0 mucH Hafiz!!

  14. on 12 Oct 2008 at 10:29qiyut

    creitax keren buanget ampe2 banjir ne d dpn komputer q asli cedih banget critax cumpah….
    yg bc g nangis kebangetan dech

  15. on 14 Nov 2008 at 14:33n1c3

    wow…ceritanya keren abis….aku aja sampai merasa teriris hati. :(
    terus buat cerita yang lainnya ya.

  16. on 13 Dec 2008 at 08:28Tya Shetya

    Sumpah, demi Allah…
    Aku serasa si penulis lg nyeritain kisah aku. Cuma bedanya, namaku Tya, bukan Tyva, tp nama cwokku (hampir mantan tp blm resmi) sm2 Rian. Perjalanan cinta aku juga mirip2 gtu. Rianku menghilang begitu aja dr hdupku tnpa prnah ada salam perpisahan. Ada perbedaan lagi di alasan knpa Rian pergi ninggalin aku. Bukan kanker ganas yg merenggutnya dari aku tapi cewek lainlah yang membuat ia lupa padaku.

    Kadang2 aku suka ngayal, mgkin lbih nyenengin liat dia mati drpd liat dia berkeliaran dgn gadis lain. Egois? Mungkin ya. Tapi smpai kpanpun, dia ga akn pernah bisa ngerasain sakit yg ku derita akibat perbuatannya.

    Buat Penulis.. Terus berkarya ya! Semangat!!

Tinggalkan Komentar