KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Sumunar

“Ibu berangkat ya Sayang,” kukecup kening Sumunar, anakku. Dia mengangguk.

“Ol-olnya ya Bu.”

“Beres, Mak. Titip rumah dan Sumunar ya,” aku berlalu sambil menitip pesan kepada Mak Ti, pengasuh Sumunar sejak masih bayi merah. Mak Ti sudah seperti keluarga di rumah ini. Tak jarang Mak Ti “menegurku” karena terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan di luar hingga Sumunar kurang perhatian. Aku tak pernah tersinggung dengan “omelannya”. Menurutku itu karena rasa sayangnya yang begitu tulus pada Sumunar.

“Ya Mbak, hati-hati,” jawabnya. Kusambar kunci mobil di atas meja makan baru beberapa langkah menuju garasi, telpon di ruang keluarga berdering.

“Mbaaakkk ! Telpon dari bu Dewi!” Mak Ti memanggil. Aku segera ke ruang keluarga dan mengangkat telpon.

“Hallo, ada apa sih Jeng Dewi, pagi-pagi udah calling, saya buru-buru nih”.

“Aduh biasa deh Jeng yang satu ini, pagi-pagi udah go publik mau ke mana sih ?”

“Biasalah, nganter uang santunan pendidikan ke Yayasan Yatim Piatu, kalau tidak kita siapa lagi yang mau peduli,” tuturku.

“Bener-bener, setuju aku. Gini lho Jeng, sudah ketemu sekolah yang bagus belum buat anakmu ?”

“Belum, padahal udah tiga bulan ini aku dan bapaknya observasi ke sekolah-sekolah SMP se Surabaya. Malah kemarin aku semaleman ngakses internet cari informasi ya belum ada yang sreg tuh.”

“Nah, mangkanya itu Jeng, pagi-pagi aku mruput telpon. Aku dapat informasi dari iparku, di Wiyung ada sekolah bagus. Full day, standart international, bahasa komunikasi sehari hari menggunakan bahasa Inggris,” jelasnya.

“Sepertinya masuk kriteria tuh, berapa biayanya ?” tanyaku.

“Pendaftaran lima belas juta, SPP per bulan tiga juta dua ratus lima puluh, sudah termasuk biaya kegiatan extra kulikuler,” rincinya.

“Nggak masalah itu, gini aja, aku minta alamat lengkapnya, nanti setelah dari yayasan aku ke sana.”

“Ooooo gitu. Ini lho alamatnya, Jalan Raya Wiyung No. 115″.

“Jaalaaann Rayaaaa Wiyung nomerrrr seratus lima puluh belas. Thank’s ya Jeng”.

“Sama-sama, daaaaahhhh,” Jeng Dewi mengakhiri percakapan. Segera kututup telpon bergegas ke garasi, masuk mobil, kustater, dan segera meluncur.

Saldo terakhir lima puluh ribu rupiah. Lama aku memperhatikan angka 50.000,00 yang tercetak di buku tabungan Sumunar, sementara suamiku diam sambil menyedekapkan tangan, tatapannya tak lepas dari Sumunar yang duduk di hadapannya.

“Gimana, sudah bisa menjelaskan ?” tanya suamiku. Sumunar tetap diam, keplanya terus menunduk.

“Memang kamu butuh apa sih Sayang, kok tabungannya tinggal sekian. Semua kebutuhanmu kan sudah Ayah dan Ibu penuhi, kalau kamu butuh uang untuk keperluan lain tinggal minta nggak perlu ngambil uang tabungan,” akhirnya aku ikut bicara. Setiap bulan suamiku memberi sejumlah uang kepada Sumunar untuk dimasukkan ke dalam tabungan. Antara Sumunar, aku, dan suamiku sudah ada kesepakatan setiap Sumunar akan mengambil uang dari tabungannya harus memberi tahu aku dan suamiku, ini untuk melatih dia mengatur keuangannya tetapi masih dalam pengawasanku dan suami. Baru kali ini dia melanggar kesepakatan itu. Akhirnya dengan mata berkaca-kaca Sumunar menyampaikan ……..

Malam berlalu semakin larut. Aku masih enggan masuk ke alam tidur, sementara suami di samping mungkin sudah melanglang buana ke alam mimpi.

“Kasihan Emak Bu. Kalau tunggakan SPP Mbak Nisa nggak dibayar, ijazahnya nggak diberikan dan Mbak Nisa tidak bisa daftar sekolah”. Hatiku miris mengingat cerita Sumunar tadi, kebijakan macam apa itu, ijazah disandera karena ketidakmampuan ekonomi. Bagaimana jumlah orang miskin di negara ini semakin berkurang, untuk memasuki tahap menaikkan harkat dan martabat saja terhambat karena suatu alasan yang semestinya bisa dicarikan solusi lain.

Sudah banyak kebijakan-kebijakan pemerintah mengenai pendidikan, fenomena-fenomena pendidikan yang aku kritisi bahkan hampir setiap hari keluar masuk yayasan panti asuhan menyumbang dana pendidikan, tetapi kasus menyandera ijazah yang sudah sering terjadi di negeri ini justru luput dari perhatianku ! Lebih parahnya lagi itu dialami seseorang yang setiap hari nampak di depan mataku dan ikut berjasa mengasuh serta mendidik anakku ! Aku baru sadar sekarang, dua bulan terakhir ini sikap Mak Ti memang berbeda, sering  termenung, beberapa kali memecahkan perabotan dapur. Itu semua pasti karena saat itu dia sedang dibebani pikiran masalah sekolah anaknya dan aku tidak peka!

Aku bangkit dari tempat tidur, kubuka pintu kamar anakku. Sumunar sangat lelap. Perlahan aku naik berbaring di sampingnya. Kutatap wajah Sumunar, kudekap dia.

“Ibu telah belajar sesuatu darimu,” bisikku.

One Response to “Sumunar”

  1. on 07 Oct 2008 at 08:20rhaya

    bgus bgt cerita na, bkin Q jd terharu bgd…

Tinggalkan Komentar