Pengakuan Ana
September 17th, 2008 by wastatama
Pada setiap obrolan-obrolan tentang cinta, Ana hanya tersenyum pahit. Senyum yang diartikan oleh Pandu sebagai senyum kekalahan. Tapi arti itu hanya berlaku dalam hati Pandu. Tak ada niat apalagi keberanian buatnya untuk menanyakan langsung kepada Ana. Takut jika semakin menyakitkan hati, takut jika tebakannya yang asalnya hanya asal-asalan itu salah. Dan puluhan ketakutan yang lain…
Sampai pada suatu ketika, saat kapasitas hati Pandu itu tak mampu lagi menampung dan menahan rasa penasaran, Pandu bertanya langsung kepada Ana.
“Lantas kenapa? Kau hendak mengatakan akan mengobati sakit hatiku? Sebelum kau mengatakannya, aku katakan, aku mampu mengobati lukaku sendiri.” Ana menjawab sinis, seolah ingin menunjukkan ketegarannya kepada pandu tanpa menunggu penjelasan Pandu.
Pandu yang tidak terbiasa dengan perlakuan Ana yang tak terduga itu, hanya tertegun. Lalu mereka-reka cerita yang menyebabkan Ana menjadi seberubah itu. Berbagai kesimpulan kemungkinan hilir mudik di kepalanya.
Merasa tak ada gunanya, Pandu memutuskan untuk pergi meninggalkan Ana yang menurutnya memang sedang ingin sendirian.
Ana memandang kepergian Pandu dengan membodoh-bodohkan dirinya. Kenapa dirinya seperti begitu sombong dengan tidak membagi sakit hatinya dengan Pandu? Padahal dia tahu pasti, Pandu yang sanggup membantu mengobati lukanya.
Rupa-rupa rasa bercampur di hati Ana, dan itu yang menuntunnya untuk memanggil Pandu untuk menghampirinya kembali.
Setelah Pandu datang pun, mulutnya tak segera melahirkan kata-kata. Hanya tegunannya yang membuat Pandu mau menunggu, menunggu dia bersikap.
Ana membuka mulutnya, “Tapi tolong, agar aku bisa menuntaskan kata-kataku, jangan hentikan suaraku.”
Pandu mengangguk, dia tahu benar, Ana tidak sedang bercanda. Suasana hati Ana menguasai suasana sekitarnya. Sore yang muram.
“Seperti yang pernah aku sampaikan, aku kembali minta maaf atas kelancanganku merobek-robek perjanjian yang tak tertulis itu. Aku mengakui bahwa inilah kekalahanku selanjutnya setelah kekalahan-kekalahan yang tak terhitung lagi kemarin. Ini dua penghianatan sekaligus yang paling hina yang pernah aku lakukan.”
“Aku telah menghianati diriku sendiri untuk tidak mudah jatuh cinta, aku telah menghianati keputusanku untuk tidak mengungkapkan cinta. Dan benar, aku memang seorang penipu. Aku seorang penipu diri sendiri yang ketakutan. Kau boleh menyamakan aku dengan anjing atau babi hutan.”
“Tapi kau pun tak mampu memungkiri jika emas, sekalipun keluar dari mulut anjing atau babi hutan tetaplah emas. Bagaimana kalau aku anggap cinta yang kau katakan adalah emas?” Pandu mencoba menegarkan hati Ana.
“Sekalipun emas, jika keluar dari mulut anjing atau babi hutan tetaplah najis jika kau sentuh.” Ana semakin menjatuhkan dirinya, “Tolong hargai permintaanku, jangan hentikan kata-kataku.”
Seketika Pandu mengatupkan bibirnya. Sadar jika dia telah melakukan kesalahan kepada Ana. Lalu tertunduk.
“Aku sadar, inilah cinta yang seharusnya tak boleh terkatakan. Atau jika lebih kasar lagi, haram bagiku untuk mengatakan cinta. Tapi aku sudah siap menanggung dosa atas keharaman ini. Aku siap.”
“Mungkin kau pernah berpikir jika aku menyesal telah mengatakan janjiku kepadamu, mungkin waktu itu aku lupa jika aku manusia, hingga sekarang malah membawaku pada sesuatu yang aku pun sulit membenarkan tindakan ini. Dan kau benar lagi, ini penyesalan terbesarku saat ini. Meskipun sebenarnya berjanji atau tidak pun sama saja. Aku tetap semacam anjing.”
“Jangan berpikir jika yang selama ini aku lakukan untukmu, kepadamu itu sebagai ketulusan. Salah! Aku sama sekali tak tulus, dengan sikapku aku masih berharap bahwa kelak kau akan luluh dengan kebaikanku dan aku dapat memilikimu. Itulah kenapa dulu aku pernah mengatakan kepadamu, “jangan mudah percaya kepada kebaikan yang sempurna, sebab pasti ada sesuatu dibaliknya.” Karena aku melakukannya. Sama seperti orang-orang yang mengharapkan kau.”
Mata Ana menerawang, tapi suaranya terasa lebih ringan. Meskipun wajahnya tak menyiratkan kelegaan.
“Aku tahu kau siap memaki-maki aku. Bahkan mungkin kau pun akan pergi dengan mungkin sedikit kemarahan dengan pengakuanku. Dan mungkin saat itu aku sedang menyesali ketidakjujuranku yang terlalu jujur. Yah, mudah-mudahan aku menjadi sadar jika kebenaran itu memang pahit.”
“Tapi biarlah, ini aku anggap sebagai penebus dosa atas ketidakjujuranku. Aku katakan! Semua kata-kata perempuan itu sama. Yang membedakan hanya perlakuan dan sikap mereka.”
“Pandu, aku mencintaimu, menghianatimu, mengecewakanmu dan mungkin dengan pengakuanku hendak membuatmu pergi dariku. Maka sebelum kau benar-benar pergi, aku beritahu sedikit tentang watak perempuan yang menjengkelkan agar kelak kau tidak mudah tertipu. Dan bagiku ini bukti bahwa aku mencintaimu….” Ana tersenyum getir.
Pandu memandang sekelilingnya, takut jika pembicaraan sore itu menjadi sumber tangis Ana yang tak bisa terbendung, tertahan.
“Kita begitu berbeda dalam banyak hal, kita hanya punya satu kesamaan yang tak penting. Itu tak cukup digunakan sebagai alasanmu untuk menerimaku. Kau selalu menjadi perhatian semua orang, sementara aku hanya pelengkap mereka. Kadang bahkan tidak dibutuhkan sama sekali. Biarlah…. Aku minta maaf.”
“Cintaku memang terlalu sederhana, sampai aku tak mampu menjanjikan apa-apa kepadamu. Bahkan aku pun masih mampu hidup, masih mampu bahagia tanpamu. Hanya saja kualitas hidupku akan lebih baik jika kau bersamaku, kadar kebahagiaanku pun akan jauh berbeda jika kau hidup dengan cintamu dalam hatiku.”
Iba juga hati Pandu mendengar kejujuran Ana. Tapi kata-kata Ana belum semuanya sampai kepada telinganya. Masih dengan sabar Pandu menunggu.
“Setelah ini kau boleh pergi, boleh memaki aku. Aku tak pernah mendendam kepadamu, dalam cinta tak ada dendam. Jika ada yang mengatakan bahwa aku menyimpan dendam, yakinkan hatimu bahwa orang itu sedang menipumu.”
“Tapi aku masih berharap jika suatu saat aku telah berhasil membunuh perasaan brengsek ini, kau masih menerimaku sekadar menjadi sahabatmu. Sebab selama aku belum berhasil membunuh perasaan cintaku, selamanya aku tetap menjadi perempuan pencemburu yang tentu saja tidak akan pernah memberi kebaikan buatmu.”
“Kau juga pernah mengatakan kepadaku, kau tak ingin menjadi racun bagiku. Aku sadar betul penolakanmu. Tapi aku tidak pernah menganggapmu sebagai racun, aku menganggapmu sebagai vaksin atau serum. Di hadapanmu, racun tak berarti apa-apa, racun bukan apa-apa lagi. Racun-racun itu tak berarti lagi!”
Seperti tak ingin memberi kesempatan kepada Pandu untuk marah. Dia segera melanjutkan kata-katanya yang sekarang seperti sudah tidak menjadi beban. Sebab semua terlanjur dikatakannya.
“Aku sudah memastikan seperti apa kemarahanmu kepadaku. Kau akan menganggapku sebagai seorang pengkhayal yang seharusnya merasa beruntung karena kau masih mau menemaniku menghabiskan rasa muak kepada dunia. Aku serakah?”
“Karena itulah aku katakan hal ini untuk membangunkan aku, untuk menyadarkan aku bahwa aku sudah terlalu lama bermimpi, terlalu jauh berkhayal. Aku ingin mengakhiri mimpi dan khayalan yang sejatinya sangat menyakitkan ini. Aku ingin berpijak pada bumiku sendiri. Aku tahu, aku bukan yang terbaik buatmu, tapi aku selalu mencari yang terbaik buatku. Maaf…”
Hanya itu yang terakhir keluar dari mulut Ana, selanjutnya tertunduk menunggu kemarahan, atau setidaknya reaksi Pandu. Dengan sedikit harapan agar Pandu dapat mengerti perasaannya. Berharap besar bahwa Pandu akan mendekatinya, memeluknya dan membisikkan kata-kata cinta di telinganya. Seperti yang biasa ia saksikan di televisi-televisi yang begitu didewakannya.
Sementara kebimbangan juga sedang melanda hati Pandu. Bagaimanapun, Ana telah begitu berani mengungkapkan kejujuran yang sangat menyakitkan baginya. Hatinya membuat satu ketetapan.
Didekatinya Ana, begitu dekat, sampai hampir tak berjarak. Dipegangnya pundak Ana. Dan gerakannya hanya sampai disitu.
Dalam ketajaman matanya, dia berkata, “Aku menghargai perasaanmu, aku tahu perasaanmu. Sakit… sesakit dulu ketika aku mencintai seseorang yang juga mencintaiku. Hanya sampai cinta, tanpa ada kenangan indah yang dapat aku kabarkan kepada orang-orang.”
“Beri aku waktu untuk berpikir tentang cintamu,” kata Pandu, masih dengan tatapan tajamnya, masih dengan pegangan erat di pundak Ana.
“Sampai kapan?”
“Sampai aku yakin, bahwa tak ada yang lebih penting dari hal ini.”
Ana menghela napas… berat.
Wanasabha; 120708.
percakapannya terlalu panjang dan berbelit-belit…