Korban Dendam
September 17th, 2008 by Roy Manu Leveran
Doni masih saja bertahan di atas kursi roda yang setia menemaninya lima belas tahun terakhir. Konsekuensi dendam memaksanya untuk menerima kenyataan sebagai seorang cacat seumur hidup.
Pagi itu, Doni terlihat serius memandangi gambar-gambar masa lalu dalam sebuah album foto yang diselimuti debu. Dibukanya lembar-lembar halaman album itu. Tanpa disadari, titik-titik air mata menetes membasahi kedua pipinya. Dalam benaknya, masih saja digerogoti penyesalan yang begitu mendalam. Di atas kepalanya terus berputar bayangan teman-teman yang masih tersenyum dalam album foto. Wajah-wajah masa lalu itu menggeliat memancing kesedihan hati Doni.
“Wisnu yang malang,” serunya berbisik sambil memandangi gambar seseorang di album foto. Lembaran berikutnya pun terus dibuka Doni. Namun, tangisannya semakin menjadi-jadi. Bahkan dia selalu menggumam sendiri.
“ Peter, Apeng, Heri, Ling-Ling. Mengapa kalian tinggalkan aku sendiri di sini? Dengan keadaan seperti ini!” gumamnya.
“Rina…,” sejenak terdiam, kemudian melanjutkannya dengan penuh dendam, “sungguh teganya kau!”
Sesampainya di halaman terakhir album foto, Doni enggan menutup album itu. Justru dia mengulang kembali ke halaman pertama, begitu terus-menerus tanpa bosan.
***
Doni dan teman-temannya dikenal sebagai gank motor yang atraktif, peduli sekitar, dan sering mangkal di balai kota. Tak jarang mereka turut mendapat undangan untuk mempertontonkan atraksi motor yang mengundang decak kagum itu. Doni, Wisnu, Peter, Heri, Apeng, Rina, dan Ling ling begitu dikagumi saat itu. Saking terkenalnya, beberapa gank motor lain menjadi cemburu pada mereka. Inilah awal petaka bagi mereka.
Kejadian memilukan dimulai ketika Doni dan Wisnu sedang menuju balai kota. Mereka dihadang gerombolan motor lain, seratus meter sebelum balai kota. FanSeng, ketua gank penghalang itu menantang mereka untuk adu cepat di lintasan jalan layang yang baru dibangun. Dengan tegas Doni menolak ajakan tersebut, hingga memicu terjadinya keributan kecil di antara mereka. Wisnu yang berniat melerai, justru jadi bulan-bulanan oleh kelompok gank motor FanSeng. Tanpa ampun. Doni yang diikat tangan dan kakinya, hanya memandangi Wisnu bermandi darah dan tak berdaya dikeroyok puluhan orang. Tanpa kompromi, FanSeng menghujani tubuhnya dengan sebilah pisau. Wisnu tersungkur dan meregang nyawa. Begitu melihat Wisnu terkulai, FanSeng dan kawan-kawannya pergi meninggalkan tempat itu. Doni meratapi tubuh Wisnu yang tak lagi bernyawa, dibawanya jasad Wisnu kepada teman-teman lain yang sedari tadi menunggu mereka di balai kota.
***
Sejak kejadian itu, Peter dan Apeng, menaruh dendam kepada gerombolan FanSeng. Dalam kelompok Doni, mereka dikenal lebih bernyali ketimbang yang lain. Sementara Heri, Rina, dan Ling-Ling menemani Doni yang trauma. Peter dan Apeng bergegas mencari tempat perkumpulan gank FanSeng. Sesampainya di tempat gerombolan FanSeng, Apeng segera menghunuskan samurai ke arah FanSeng. FanSeng terkejut dan takut, sambil berusaha menenangkannya.
“Tenang, Kawan!”
“Kau takut?”
“Bukan begitu. Apa tak ada cara lain untuk menyelesaikan ini?”
“Maksudmu?”
“Bagaimana kalau kita berlomba? Siapa menang boleh melakukan apa saja.”
“Baiklah. Tapi ingat, aku sangat senang mengalahkanmu dan memotong-motong tubuhmu!”
Entah apa di benak Apeng sehingga begitu mudah menerima tawaran FanSeng. Padahal ia orang yang sangat licik. Segera saja arena dipersiapkan dengan rute yang menantang: menembus lintasan rel yang akan dilalui kereta api malam. Hitungan ketiga dimulai dan perseteruan mereka di jalanan tak terbendung. Di garis start, ternyata FanSeng telah mengatur siasat untuk melumpuhkan Peter.
Apeng dan FanSeng terus melaju dengan kecepatan tinggi, sementara Peter tak berdaya dikeroyok gerombolan FanSeng. Apeng yang terlena oleh suasana tak menyadari rencana busuk FanSeng. Di atas medan jalan, mereka saling memotong laju. FanSeng terlihat senang bermain-main dengan emosi Apeng. Begitu jarak mulai mendekati lintasan rel, FanSeng menurunkan kecepatan agar tidak berbenturan dengan jalannya kereta, sementara Apeng terus menaikkan kecepatannya. Tak lama berselang, apa yang direncanakan berhasil.
“Prrrraaakkkk..”
Sambil tertawa, FanSeng menyaksikan Apeng dan motornya dibawa oleh kereta malam. Entah kemana. Dia tak menyangka, semudah itu membodohi Apeng dan Peter.
***
“Wisnu, Apeng, dan Peter telah pergi.”
“Sebaiknya kita membubarkan diri saja!”
“Don, kamu bicara apa? Justru mereka ingin kita tetap bersama!”
“Lalu, apa yang mesti kita lakukan?”
“Balas dendam!”
“Kita harus balas dendam, Don!”
Terjadi perdebatan serius antara Doni dan Heri. Malam berkabung itu memang hanya mereka yang berkumpul di tempat biasa. Ling-Ling trauma dengan kepergian kekasihnya, Apeng. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengunjungi Ling-Ling di rumahnya.
“Kemana Rina? Mengapa hanya kalian berdua?”
“Kami tak tahu. Sejak sore tadi kami tunggu, tapi tidak kelihatan juga.”
Tanpa banyak komentar, Heri menegaskan tujuan mereka datang. Tanpa dipikir ulang, Ling-Ling setuju dengan ajakan itu. Mereka pun terlibat perbincangan serius tentang rencana balas dendam terhadap FanSeng.
Kekasih Doni, Rina, ternyata sudah berada di tempat FanSeng. Entah apa yang dilakukannya di sana. Gadis anggun itu terlihat akrab dengan FanSeng. Seperti kebanyakan perkumpulan motor, gerombolan FanSeng sedang asyik menenggak minuman murahan dan mengadakan pesta dansa jalanan. Bahkan, Rina pun tidak canggung dengan suasana seperti itu, suasana yang tidak didapatnya pada perkumpulan Doni.
Sementara di rumah Ling-Ling, rencana matang disiapkan untuk menghancurkan gerombolan FanSeng. Dengan motor kesayangannya masing-masing, mereka langsung menuju ke tongkrongan FanSeng. Sebelum sampai di sana, Ling-Ling berinisiatif menghubungi kantor polisi terdekat. Akhirnya dengan mengendap-endap, mereka mulai memasuki daerah kekuasaan FanSeng. Betapa kagetnya mereka, terlebih Doni, begitu melihat Rina ikut berpesta pora bersama gerombolan FanSeng. Dengan emosi yang menggelembung, Doni menghampiri mereka, kemudian diikuti oleh Heri dan Ling-Ling.
“Perempuan jalang!”
“Ternyata selama ini kau menipu kami!”
Betapa kagetnya Rina atas kehadiran mereka. Si licik FanSeng langsung mengerahkan anak buahnya untuk memukuli mereka. Tapi, mereka melawan. Heri berlari ke arah motornya. Ling-Ling menyambangi Rina dan menjambakinya. Sementara Doni mengejar FanSeng dengan sebilah sangkur milik ayahnya.
Perkelahian tak berimbang di malam jahanam itupun pecah. Dengan motornya, Heri menghantam gerombolan FanSeng yang tengah sempoyongan. Tetap saja, karena kalah banyaknya orang, mereka bertiga malahan menjadi bulan-bulanan.
Heri terjatuh dari motornya. Doni pun dikeroyok. Sementara Ling-Ling diikat di sebuah tiang telepon yang sudah tak berfungsi. Heri dan Doni terus dipukuli tanpa ampun oleh gerombolan si licik FanSeng. Mereka melayangkan bogem mentah bertubi-tubi hingga akhirnya Doni jatuh tak sadarkan diri. Heri yang terus melawan akhirnya dihentikan dengan sepuluh tusukan di dadanya. Sementara Ling-Ling dijadikan alat pemuas nafsu birahi mereka, sebelum akhirnya dibunuh oleh FanSeng.
Doni berusaha bangkit. Matanya memandang samar motor-motor yang melintas di sekitarnya, kemudian tak sadarkan diri lagi. Tak lama, polisi datang menangkap gerombolan FanSeng, termasuk Rina. Jenazah Heri dan Ling-Ling dievakuasi, sementara Doni dilarikan ke Puskesmas terdekat.
***
Kini, tinggallah Doni sendiri. Wisnu, Apeng, Peter, Heri, dan Ling-Ling pergi. Begitu juga Rina yang mendekam di penjara. Sementara itu, FanSeng dijatuhi hukuman mati, sedangkan rekan-rekannya harus menikmati kehidupan di balik jeruji besi seumur hidup mereka.
“Semoga mereka tenang kini!”
Kata itu seakan menyadarkan Doni dari lamunan panjang bersama album foto yang ada dihadapannya. Selama lima belas tahun, kursi roda, album foto dan tetesan air matalah yang setia menemani Doni. Entah sampai kapan penyesalan itu berakhir.
lumayan
gua ga suka latarny
di saat org2 susah ngadepin khidupan di ngara susah, mereka mala asik2 brantem ngrusn hal ga guna kyk gt.ms byk yg harus diurusin di khidupan ini tauk
sok gaya bgt si org2 ky fanseng
menarik…
sambung-menyambung
balas-berbalas…
dan…
akhirnya hanya jadi kenangan…
sungguh menarik,,,,, dan……..,,,,,,,
cukup sedih juga… apabila kejadian di atas,,,
dibawakan kedalam diri kita