Dalam Angan Abrey
September 17th, 2008 by TIA CTQ
Abrey berdiri di balkon, menatap sendu kamar Lila, tepat di depan kamarnya. Lila, gadis belia yang lebih muda lima tahun dari pada Abrey, menjadi tempat curhatnya selama ini. Meski Lila masih 18 tahun, namun Lila yang paling mengerti dirinya. Abrey melihat gorden kamar Lila yang masih menyala tersibak angin malam. Abrey tahu, Lila belum tidur. Pasti Lila masih sibuk mencari inspirasi untuk novel terbarunya. Lila, sudah dua tahun ini menjadi penulis dan dua dari lima novelnya telah diterbitkan.
Abrey akhirnya kembali ke kamar dan menghempaskan diri ke ranjang. Ditatapnya langit-langit dengan sebal. Kemarin dia menemukan Lila sedang kencan dengan teman sekelasnya di kafe milik tetangga mereka. Bukan cemburu, bukan, tapi hanya…. ah, tak bisa diungkapkan. Lila sangat disayanginya. Dia tak rela Lila yang selama ini bersamanya bergandengan dengan lelaki selain dirinya. Egois, iya, karena Abrey terlalu menyayangi Lila.
Tok tok tok. Seseorang mengetuk pintu kamarnya yang bercat biru langit. “Iya, sebentar,” jawab Abrey malas.
“Lila? ngapain kamu ke sini malam-malam? Sudah jam sembilan. Waktunya tidur”
Lila tak menjawab, tapi malah menangis. Abrey yang bingung dengan sikap Lila segera mengajaknya masuk dalam kamar, lalu menanyakan alasannya menangis. Abrey memberinya tisu.
“Dion, Dion, hiks… hiks… Aku putus dengan Dion.”
Sakit hati Abrey melihat Lila sedih, namun jauh di lubuk hatiya, terdapat sebuah perasaan di mana dia juga tak mengerti istilahnya. Abrey merasa senang. Entahlah, sebagian dari hatinya bersorai karena Lila tak bersama lelaki lain lagi, tapi bersamanya kembali.
“Sudahlah Lil. Jangan sedih. Kan masih ada Abrey di sini,” hibur Abrey sambil membelai rambut panjang Lila. “Gimana kalau kita lihat bintang di luar sana.”
Lila pun berhenti menangis, karena Lila senang melihat bintang dari loteng. Lalu mereka berdua naik ke loteng dan kesedihan di wajah Lila berkurang.
“Brey, makasih ya. Aku sudah tak sedih lagi.”
Abrey membalasnya dengan senyuman dan menyuruh Lila segera pulang.
***
Pagi hari, Abrey berangkat bekerja dengan mobil jaguar yang baru dibelinya minggu lalu. Dia melihat Lila berpamitan pada orang tuanya dan mengebel klakson agar mereka mengerti bahwa dirinya mengucapkan salam. Lila dan ibunya pun melambaikan tangan. Abrey meninggalkan rumahnya dengan senyuman.
Di kantor, Nana memberinya setumpuk dokumen untuk ditandatangani. Nana juga mengingatkan bahwa pagi ini pukul delapan ada meeting dengan inverstor Jepang. Abrey mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menandatangani tumpukan kertas itu. Dan, Nana pun meninggalkan ruangannya.
Abrey berhenti sejenak, pikirannya melambung tinggi di langit. Wajah Lila tiba-tiba memenuhi kepalanya. Lila, seorang gadis yang penuh semangat dan tak pantang menyerah inilah yang telah membuatnya tak bisa tidur akhir-akhir ini. Lila telah menghipnotisnya dengan keluguannya. Abrey masih tak mengerti apa yang sedang terjadi padanya. Abrey tak tahu kalau itu dinamakan Cinta. Abrey berpura-pura naif, karena Lila masih kuliah, dan cinta ini tidak boleh terjadi.
***
Di kampus, Lila masih sibuk dengan novelnya. Penerbit memberinya deadline minggu ini. Itu artinya dia harus menyelesaikannya segera. Namun, saat ini, di kantin kampus, Lila malah melamun, bahkan tidak menghiraukan temannya yang mengomel karena dosen mereka tidak datang dan itu artinya mereka membuang-buang waktu ke kampus. Padahal, hari ini, hanya ada satu mata kuliah. Lila tak peduli teman di sampingnya berkicau bagai burung parkit. Kepalanya dipenuhi Abrey, si tetangga sebelah yang terkenal karena kebaikan dan ketampanannya. Abrey, lelaki blasteran Inggris itu telah mencuri hatinya sejak dua tahun yang lalu, namun karena umur Abrey jauh di atasnya, nyali Lila menciut untuk mengungkapkan perasaannya.
” Lil, Lil. Ada yang manggil tuh.” Dina, temannya yang cerewet itu menepuk bahunya sampai Lila terkejut.
“Apa?” tanya Lila tak mengerti.
“Ada yang manggil kamu. Tuh di arah jam tiga.”
Lila mengedarkan pandangannya ke arah yang ditunjukkan Dina. Betapa terkejutnya dia sat melihat sosok lelaki yang sangat dikenalnya. Senyumnya seketika meruah dan Dina melongo menatapnya. Bukankah beberapa detik yang lalu Lila sedang melamun?
Lila melambaikan tangannya. “Di, aku tinggal dulu ya. Abrey sudah datang menjemput.
“Oke. Kejar saja pangeran impianmu.”
***
Abrey mengajak Lila untuk ikut meeting hari ini. Abrey menyetujuinya karena Lila memaksanya. Lila ingin tahu bagaimana dunia kerja sebenarnya, untuk novel terbarunya.
“Brey,” Lila tersenyum centil ke arah Abrey yang sedang mengemudi. “Kamu terlihat tampan hari ini”
“Makasih Sayang. Oh iya, nanti kamu duduk di pojok saja. Aku sudah menuruh OB untuk menyediakannya untukmu. Tapi dengan satu syarat. Kau diam saja. Apa pun yang terjadi. Kalau tak mau menurut aku takkan pernah mengajakmu lagi”.
“Oke”
Lila tak tahu kalau senyumannya tadi sempat membuat jantung Abrey copot. Abrey mati-matian menahannya agar tidak ketahuan Lila. Namun, yang dilakukan Lila malah mencium pipinya.
“Brey, aku cinta kamu,” katanya kemudian.
Abrey langsung membanting setirnya ke tepi jalan. Pernyataan cinta Lila yang tiba-tiba membuat jantungnya mendadak berhenti.
“Lila, apa katamu?”
“Brey, aku cinta kamu.”
Pernyataan cinta yang selama ini ditunggu-tunggu Abrey malah membuatnya lemas. Abrey tak tahu kalau Lila mencintainya. Lila, gadis remaja itu menyukainya? Oh tidak. ini tidak benar. Setidaknya baru benar kalau Lila sudah berusia dua puluh. Itu artinya masih dua tahun lagi. Abrey menatap bingung Lila, Lila juga melakukan hal yang sama, antara rasa malu dan ketidakpastian.
“Lil.” Hening sejenak, lalu Abrey menghela nafas. “Katakan itu dua tahun lagi, saat aku telah kembali dari Jepang”
“Apa? Kau, kau mau pergi? Meninggalkan aku?”
“Hanya untuk dua tahun. Tadi meeting pertama hari ini, bosku memberi tahu kalau aku akan dimutasi di Jepang dan aku naik jabatan. Lila, bukannya aku tak menyayangimu, sungguh aku sayang padamu, tapi ini demi cita-citaku.”
Sejenak Lila lupa akan pernyataan cintanya tadi. Abrey memang sengaja membelokkan pembicaraan mereka agar Lila lupa. Namun, apa yang diharapkan Abrey ternyata tidak sesuai dengan keinginannya. Nyatanya, Lila malah terisak-isak. Hatinya bagai tercabik-cabik mendengar lelaki yang dicintainya akan meninggalkannya.
“Brey, jawab yang jujur. Apa aku terlalu muda untukmu? Apa kau tidak mencintaiku?”
Abrey bingung harus menjawab bagaimana. Nyatanya dia sendiri juga mencintai Lila.
“Lil”, akhirnya Abrey berkata juga.
“Lil. Aku minta kau menungguku dua tahun lagi. Saat itu kau sudah dewasa. Dan aku boleh berhubungan serius denganmu. Karena kau sudah dewasa. Lila, kumohon mengertilah.”
Lila tak mau mengerti, baginya ini sebuah penolakan. Abrey telah menolaknya. Lila segera membuka pintu mobil dan berlari meninggalkan Abrey. Saat Abrey mengejarnya, Lila sudah naik taksi.
***
Dua tahun kemudian…………
Lila telah menjadi seorang wanita yang cantik. Dari dulu juga begitu, namun Lila yang sekarang adalah Lila yang dewasa. Lila menjemput Abrey di bandara. Dia sudah tak sabar ingin bertemu Abrey. Abrey, selama di Jepang selalu menelponnya tiap akhir pekan. Abrey tak pernah sekalipun tak membalas email-nya. Hati Lila berbunga-bunga akan bertemu dengan Abrey setelah dua tahun berpisah.
“Lil, kamu kenapa sih?” goda ibu Abrey tanpa tahu kalau antara Abrey dan Lila terdapat hubungan spesial. Lila hanya tersenyum
Hai bwt pengarangnya, lam kenal yuah?? W sk critanya,bwt w jd trhibur..
Iseng2 maen kesini&nemuin cerita2 yg bermutu, sekalian nunggu buka puasa gitu.. hwehe… ^_^
Sukses yaw bwt Sang Penulis! Teruslah berkarya!
Lho,… sambungan ceritanya mana,…??? Koq nanggung seh???
aSyEekz cRthH Lo…………….sukseSs yEe………!
Crittanyya BguZ..
KnuPu gug dLanjud.in ajja?
Chayou iia…
BguZ bgDh!
SaLam KnaL!
Sweet!