Temaram lampu dalam ruangan sempit dipadu dengan hingar bingar suara musik yang menghentak bersaing dengan tempik gembira wanita-wanita muda dengan beraneka ragam busana super minim sehingga nampak keseksian tubuh mereka. Mereka meliuk dengan tubuh penuh peluh mencipta aroma yang khas perpaduan antara berbagai bau-bauan, keringat, parfume, alkohol dan asap rokok. Lelaki berkulit putih berhidung mancung menjadi penonton yang ramah dan murah seyum, mata mereka begitu antusias menikmati tubuh-tubuh yang meliuk mengikut rentak musik yang tak pernah berhenti walau sesaat.
Wanita-wanita perkasa yang hanya mempunyai dua tangan dan dua kaki namun mampu mengemban segala tugas dari sang boss. Wanita muda yang dalam kesehariannya tunduk dan patuh dengan segala aturan di rumah boss kini di hari minggu mereka menjadi wanita merdeka tanpa ikatan, lepas dari kungkungan peraturan, lepas dari pantauan orang tua, lepas dari segala macam bentuk ikatan. Mereka menjadi diri mereka sendiri terlepas dari berbagai norma yang selama ini selalu ditanam dalam kehidupan mereka sebagai gadis timur yang terkenal santun dan berkepribadian.
Di salah satu sudut yang temaram, Norima terpaku menatap kaumnya wanita muda yang berasal dari negri yang sama yang selalu menjunjung tinggi adat ketimuran seakan mereka lali dari mana mereka datang dan untuk apa mereka menapak kaki di negeri kosmopolitan ini. Andai saja emak dan bapak mereka tahu, andai saja suami mereka tahu mungkinkah mereka bersedia melepas buah hati mereka, mungkinkah….? Gadis-gadis desa itu kini telah menjelma menjadi wanita modern itulah yang ada dalam benak mereka karena mereka bisa menginjak arena diskotik sebuah tempat yang jauh dari angan mereka semasa di kampung. Mereka bisa mencicipi minuman yang memabukan tanpa harus ragu kena tampar sang bapak. Mereka merasa bangga bisa berpeluk ria, bercium mesra dengan bule-bule tampan meski dengan bahasa Inggris yang minim toh bule-bule itu lebih suka dengan bahasa tubuh mereka lebih suka bicara dengan jemari mereka. Wanita-wanita itu tak akan silau dengan yang lain.
Tanpa Norima sadari butiran bening menganak sungai di pipinya. Meski ini bukan yang pertama Norima menyaksikan jiwa-jiwa muda yang bergolak berbaur dengan dunia asing yang tak pernah dan tak mungkin pernah dikenalnya seandainya mereka di desa, dunia gemerlap kini menjadi sebagian dari dunia mereka. Betapa sakitnya Norima bila terus menerus duduk dari satu diskotik ke diskotik lainnya, sakit…!! Dan itu bukanlah jiwanya, itu bukan dunianya. Inginnya Norima menghentikan langkahnya dan lari dari dunia itu, namun tiap kali niat itu ada bayang emaknya yang menghembuskan nafas di pangkuannya hadir seakan menagih janji Norima untuk mengajak pulang adiknya yang entah di mana rimbanya. Tenggelam di dalam gemerlap negeri yang menjadi tujuan mereka tuk merubah kehidupan mereka yang terpuruk dalam kemiskinan.
“Mak, mengapa Mak ijinkan Sari pergi? Lalu bagaimana dengan rencana kuliahnya? Mak tahu kan Ima pergi ke luar negeri demi adik-adik Ima. Ima ingin mereka jadi orang pintar dan sukses Mak.” Betapa terkejutnya Norima mendengar adiknya Sari yang baru tamat SMA sudah dalam proses di penampungan PJTKI
“Maafkan Emak, Nduk. Kamu tahu Sari kan? Dia itu lain, tidak seperti kamu. Tanpa sepengetahuan dan tapa seijin Emak dia sudah ada di penampungan, itupun emak tahu dari Kang Parman yang anaknya jadi sopir di sana.” Ada isak yang terdengar oleh Norima
“Sudahlah Mak…Ima nggak menyalahkan Emak. Ima akan jaga Sari. Emak jangan susah yaa,” Ima berusaha menghibur hati orang tuanya yang sudah lama menjanda dengan 5 orang anak.
Sebagai anak sulung Norima tak bisa tinggal diam, begitu lulus SD dia sudah tak mau sekolah. Dari padi sampai sore Norima kecil membantu Yu Nah tetangganya menjaga warung hanya untuk mendapat sedikit imbalan agar bisa meringan beban emaknya.
Norima tumbuh menjadi gadis remaja yang punya rasa tanggung jawab dan berakhlak mulia, meski hanya mengenyam pendidikan dasar Norima tak pernah menyerah pada nasib niatnya untuk mengantar adik-adiknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi membawanya sampai ke negeri Jacky Chan. Berbekalkan do’a Emaknya dan diringi pandang penuh harapan ke empat adiknya Norima mantap melangkah.
Jauh dari keluarga membuat Norima semakin dewasa dan lebih hati-hati melangkah. Tiap dollar yang dia kirim itulah kebahagian Norima. Tiap tetes peluh dan airmata kerinduannya terbayar lunas bila mendapat berita keempat adiknya naik kelas. Norima tak pernah menyesalkan masa remajanya yang telah berlalu dan tak pernah dia nikmati, kebahagiaan keluarganya adalah kepuasan dirinya.
Kesabaran Norima semakin teruji semenjak Sari sudah mulai menapak kakinya di Hong Kong. Dunia kemewahan yang selama ini jauh dari kehidupan mereka membuat Sari lepas kontrol, dengan gaji yang didapat semakin mempermudah meraih kemewahan yang diinginkan.
“Mbak…aku tetap menghormatimu sebagai seorang kakak. Tapi Mbak tidak punya hak untuk mengatur setiap langkahku. Aku sudah besar dan punya kehidupan sendiri jadi tolong kalau Mbak masih mau kuanggap kakak jangan terlalu jauh masuk dalam kehidupanku!” Norima terduduk, ingin dia menangis tapi dia tak mampu. Hanya diam dan terpaku itu yang dia mampu lakukan. Dari tempat duduknya dilihat Sari melangkah tanpa beban, tubuhnya yang semampai hanya dibalut rok mini di atas lutut dengan top pink tanpa lengan.
“Maafkan Ima, Mak. Ima tak bisa menjaga Sari dengan baik,” hanya kalimat penyesalan itu yang dia bawa tiak kali masa cutinya tiba
“Tapi kamu masih jumpa adikmu kan Nduk?” pertanyaan itu benar-benar memukul hati Norima, inginya dia tidak berbohong pada emaknya namun kejujuran pasti lebih memukul batin emaknya yang sudah mulai tua. Norima hanya mengangguk tanpa berani menatap mata emaknya.
“Tuhan ampunkan Ima yang telah bebohong pada Emak!” jerit hatinya. Andai Emak tahu kalu Ima sudah kehilangan Sari adiknya. Andai Emak tahu. Tak bisa Norima membayangkan betapa hancur hati emaknya.
“Tidak! Emak tidak boleh tahu! Sebelum semua terlambat aku harus bisa mengajak Sari pulang, apapun caranya!” janji Norima pada dirinya sendiri.
Dilungkan tiap hari liburnya menyusuri tempat mangkal para TKW dengan penuh harapan besar bisa mengendus jejak Sari, namun semuanya sia-sia. Norima tak bisa menepati janjinya untuk membaw Sari pulang ketika emaknya berbaring lesu di rumah sakit.
“Mana Sari Nduk? Apa dia tak bisa cuti?” belum sempat Norima memberi jawaban jemari emaknya berusaha menyentuh wajahnya.
“Emak tak menyalahkan kamu Nduk. Emak tahu selama ini kamu berbohong berusaha membahagiakan Emak. Kamu nggak salah Nduk. Pesan emak kalau kamu ketemu dia sampaikan maaf Emak padanya karena Emak tak mampu memberi kemewahan. Sampaikan ya Nduk.” Norima hanya mengangguk dan anggukan itu ternyata tak mampu dilihat emaknya karena mata tua itu telah tertutup rapat. Wajah tuanya tampak damai di hari terakhirnya. Tak ada air mata yang mengiring kepergian emaknya. Ditatapnya ketiga adik lelakinya.
“Kita harus kuat! Jangan kecewakan almarhum Emak. Berjanjilah kalian akan belajar dengan baik. Jangan coba-coba kalian menengadah melihat kehidupan di atas kalian, selalulah melihat ke bawah. Di sana masih banyak orang yang lebih tidak beruntung dari pada kita.”
oooOooo
“Mbak, ini Joy tetanggaku. Kebetulan dia pernah akrab dengan Sari, mudah-mudahan dia bisa membantu pencarian kita,” Rumi sahabat karibnya, wanita muda yang patut diacungi jempol. Kepribadiannya, perilakunya dan keimanannya tetap terjaga meski hidup di tengah budaya asing negeri ini.
“Joy kenal Sari?” berbinar mta Norima mendengar penjelasan Rumi.
“Duduklah Joy, kita ngobrol di sini. Nggak keberatan kan bantu Mbak?” Joy gadis tomboy yang memang tampan, tapi Norima yakin dia perempuan tulen.
“Sari itu bekas istriku, kami sudah kawin setahun yang lalu. Kalau Mbak tak percaya, Mbak bisa melihat photo-photo kami,” Joy mengulurkan sebuah album. Dengan tangan gemetar dibukanya lembar demi lembar, tak sanggup Norima melihat keseluruhannya. Kali ini tangisnya tak bisa ditahan, segala beban batinnya agak berkurang dengan tangisan.
“Maafkan saya Mabk, saya tidak bermaksud menghancurkan perasaan Mbak sebagai seorang kakak, inilah kebenaran itu. Semenjak kami cerai yang saya tahu sekarang ini Sari suka nongkrong di club-club dengan lelaki bule. Saya tak bisa menunjukkan yang mana. Satu tapi yang pasti mangkalnya di Wan Chai. Apa Mbak sanggup dan punya nyali memasuki dugem di sana untuk menemukan Sari?” pertanyaan Joy menjadi satu tantangan bagi Norima.
“Aku harus melakukannya Joy! Demi seorang adik, apapun Mbak akan lakukan. Dan Mbak yakin, Yang Maha Kuasa melindungi Mbak dari segala macam tipu daya dugem.”
“Joy akan bantu Mbak!”
“Terima kasih Joy.” Ada secercah harapan di hati Norima untuk menemukan Sari. Digenggamnya tangan Joy dan Rumi. Norima mendapat kekuatan dari persahabatan mereka.
Minggu ke minggu mereka memasuki tiap club yang menjadi tumpuan wanita-wanita muda yang bergelar TKW. Mereka tak perduli dengan pandangan aneh orang sekitar, terserah apa pendapat mereka itulah prinsip Norima.
oooOooo
“Saudari menunggu seseorang?” sebuah teguran menyadarkan Norima yang duduk di sudut temaram Laguna Club, salah satu tempat mangkal para wanita muda. Ditatapnya lelaki setengah umur yang duduk tepat di depannya, lelaki bule!
“Mana teman saudari? Bukankah saudari selalu bertiga? Heran kan? Saya selalu melihat kalian, oh ya kenalkan saya Philips,” lelaki itu mengulurkan tangan. Norima hanya mengangguk.
“Maaf, saya lupa kalau wanita muslim tidak boleh bersentuhan dengan pria yang bukan suaminya. Betul kan? Lalu bagaiman menurut saudari dengan mereka?” Lelaki itu menunjuk ke arena joget, Norima hanya menggeleng.
“Maaf Tuan, kalau mereka menghalalkan apa yang haram biarlah mereka yang mempertanggungjawabkan di hari nanti. Saya bukanlah orang arif yang bisa memberi komentar.” Dilihatnya lelaki itu manggut-manggut.
“Saudari belum menjawab pertanyaan saya, apa saudari menunggu seseorang atau mencari seseorang. Karena saya tahu dan yakin ini bukan dunia saudari.” Norima diam, tak mungkin dia bercerita pada orang asing yang baru dikenalnya.
“Baiklah! Saya tidak akan memaksa saudari, tapi menurut saya sebaiknya saudari jauhi dunia yang bukan milik saudari. Saudari tidak pantas duduk di sini dan sara rasa saudari sudah terlambat untuk menemukan Riri.” Lelaki itu bangkit meninggalkan Norima yang masih terkesima. Otaknya begitu bebal beberapa hari ini tak mampu mencerna semua kejadian.
“Riri..!!” Norima tersentak mengingat lelaki itu menyebut nama itu, nama itu…Riri..!! Panggilan buat Sari yang selalu dilakukan almarhum bapaknya. Bagai tersadar dari mimpi Norima segera mengejar lelaki itu, tak nampak bayangnya. Norima berlari keluar, persis di anak tangga paling bawah lelaki itu berdiri seakan sengaja menunggunya
“Saudari tak perlu tanya apapun. Riri tidak memerlukan pertolongan. Pengalaman yang bisa mengajarnya dan hanya dirinya sendiri yang bisa menolongnya untuk mengerti arti kehidupan. Kita do’akan saja.” Lelaki itu berlalu meninggalkan Norima dalam kebingungan, pada waktu yang sama Joy dan Rumi datang dengan wajah muram
“Mbak kami dapat tahu Sari ada di kantor Polisi. Kami belum jelas masalahnya.” Joy berusaha menjelaskan duduk persoalan, dengan lembut Rumi memeluk Norima yang terkulai di anak tangga. Ditatapnya bergantian wajah kedua sahabatnya untuk mendapat kekuatan. Mata Norima beradu pandang dengan lelaki bule yang melangkah menjauh. Ingin Norima mengejarnya dan meminta penjelasan, diurungkan niatnya. Benar katanya, Norima sudah terlambat menemukan Sari di sini tapi belum terlambat buat Norima mengajak Sari kembali ke dalam pelukan keluarganya.
Cerita sebenarkah…? Lumayan dengan ending yang bikin orang bertanya…
ada beberapa komentar yang masuk ke email pribadi dan personal messeg ke multiply saya menanyakan apakah ini gambaran dari BMI di HK… jawaban saya ini hanyalah cerita belaka
Sebenarnya cerita ini menarik kalau penulis membuatnya lebih panjang dan endingnnya gak gantung. Kalau dalam pikiran Sekar masih banyak ide yang bisa dituangkan dalam cerita ini, kenapa gak dilanjutkan dan dijadikan cerber atau novel?
sepertinya saya mulai menyukai gaya penulisan bu Sekar dan setuju banget dengan komentar mr maylan,,,, diterusin tuh cerita. meski hanya sebuah fiksi pasti ada latar belakang yang nyata kaaan…?
kira2 ada nggak yaa di HK cewek indon yang seperti sari, tulis lagi dong kisah2 tkw kita biar kita bisa masuk dan mendalami kehidupan pahlawan devisa kita… salut sorang tkw bisa berkreasi
ide cerita itu sih ada tapi waktu tuh yang sulit di bagi.. maklumlah nyambi nulis nyambi ngepel… BTW thanks for you all