Worth Over Risk
September 14th, 2008 by lynnroddick
“Elisha! Elisha!” seorang anak perempuan berambut cepak memanggilku keras-keras.
“Ada apa sih, Tin? Kau mengagetkanku!” ujarku ketus.
“Maafkan aku. Tapi…tapi ini benar-benar buruk. Aku tak sanggup menyampaikannya padamu di sini. Cobalah kau temui guru olahragamu yang agak gemuk itu di ujung lorong ini. Dia…dia…cepat!”
Tina sepertinya sudah tidak bisa berkata-kata lagi saking besarnya rasa takutnya padaku dan juga karena suaranya yang tersengal-sengal sesudah berlari sepanjang koridor sekolahku yang bercat keemasan. Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari menuju Pak Danny.
“Ada apa sih? Kenapa dia jadi aneh hanya gara-gara sebuah berita yang pasti bukanlah berita penting, ya kan?” kataku pada Pak Danny. Pak Danny berkacak pinggang menatapku seolah-olah aku adalah gadis sengsara yang tidak punya masa depan.
“Elisha, kau sebaiknya mulai bersikap baik, terutama mulai saat ini,” ujarnya datar. “Ayo, ikuti Bapak.” Aku, dengan enggan, mengikuti Pak Danny menuju ruang kepala sekolah.
“Kenapa lama sekali? Perawatnya kan sudah menunggu lama!” kata kepala sekolahku sembari menyodorkan telepon tua itu padaku.
“Siapa ini?” tanyaku kasar.
“Maaf, apakah ini Elisha Wicaksono?” jawab suara di seberang sana. Sebelum aku menjawab, dia sudah meneruskan kata-katanya,”Ini RS RSVP. Kami ingin memberitakan berita duka. Ayah Anda ditemukan tewas di ruang kerja pribadinya di Arab. Kami menduga serangan jantung— “ suara perawat sialan itu tak terdengar lagi olehku. Aku sengaja melepas telepon itu dari telingaku.
Pak Danny dan kepala sekolahku terdiam yang menatapku,”Kau tak apa-apa kan, Elisha?” Pak Danny menanyaiku. Aku belum menjawab. Aku masih belum mengerti benar yang dikatakan oleh perawat itu. Ayah meninggal? Tidak mungkin. Sejam yang lalu beliau masih bertengkar denganku tentang masalah tenis di telepon. Dan dia terdengar sangat sehat. Tidak mungkin. Aku tidak percaya ini! Ayah tidak mungkin meninggal!
Aku kontan berlari keluar ruang kepala sekolah bersama setumpuk pertanyaan yang belum terjawab meninggalkan Pak Danny dan kepala sekolahku terpaku di ruang bercat hijau lumut itu. Aku menyukai ayahku. Tapi aku tidak mencintainya. Aku sedih. Tapi aku tidak menangis. Sambil terus berlari, aku melewati anak-anak sekolahku yang menatapku kebingungan. Beberapa dari mereka bahkan berbisik bertanya-tanya,”Ada apa sih?”.
Aku tetap berlari menuju kelasku dan segera meraih tasku. Sahabatku, Anette dan Desty, menanyaiku macam-macam. Namun tidak kuhiraukan mereka. Aku dengan cepat menuju mobil Jeepku. Kunyalakan mesinnya dan segera menyetirnya ke apartemenku di Jalan Arbor. Tujuh belas menit kemudian aku mendapati diriku sudah terkurung di kamar mandi apartemenku. Aku berbaring di bathtub. Berpikir. Bertanya-tanya. Ayah meninggal. Tidak mungkin. Bohong. Mungkin saja perawat itu benar. Uh, pikiranku berkecamuk menjadi satu. Saat itulah bayangan tentang ayahku yang sudah tiga seperempat tahun tidak bertemu denganku melayang-layang di langit-langit kamar mandiku.
Aku berusia enam tahun ketika aku mengutarakan padanya keinginanku untuk menjadi seorang petenis profesional. “Tidak. Impian konyol apa lagi sih, Elisha?” kata Borat Wicaksono membelai rambut pirangku. Ya, impianku untuk menjadi petenis profesional tingkat dunia terbesit di pikiranku saat aku masih sangat belia, yaitu saat aku baru menapaki usia enam tahun. Itu bukan hanya sekedar keinginan semata. Seminggu sebelum aku berkata pada ayah keinginanku itu, sepupuku yang bernama Sally Boorth mengajakku dan Ayah untuk bermain-main tenis di sebuah klub tenis terkenal. Ayahku mengiyakan ajakan SB—begitulah aku memanggilnya, dan ibunya. Sore itu adalah pertama kalinya aku mengetahui tentang tenis. Aku memegang raketnya. Aku mencoba memukul bolanya. Aku berlari dan berlari mencoba untuk menghalangi bola itu menggelinding dan berhenti di bidangku. Semua orang di klub tenis memperhatikanku dengan seksama. Mereka yang tadinya sibuk dengan kegiatan mereka sendiri-sendiri memperhatikan seorang gadis kecil berusia enam tahun yang baru pertama kali menyentuh raket.
Setelah merasa kecapekan, aku minum susu coklat yang kubawa dari rumah di bangku penonton klub tenis itu sambil melihat ayahku ganti bermain bersama SB. Seseorang dari sekian banyak orang yang tadi memperhatikanku menghampiriku. Tubuhnya besar dan kuat.
“Perkenalkan gadis kecil, namaku Rafael Nadal. Panggil saja Rafael jika kau mau. Hei, kau…kau baru pertama kali menggunakan alat itu, ya?” Dia menunjuk alat yang sekarang sedang digenggam ayahku. Aku mengangguk pelan. Ingat dengan apa yang ibuku ajari, aku memperkenalkan diri padanya. “Elisha? Nama yang bagus. Dan kau tahu? Itu merupakan nama yang sangat cocok untuk seorang petenis.” Dia tersenyum padaku.
Ayahku menyela pembicaraan Rafael,”Hai, Rafael? Kau sedang mengikuti turnamen di sini, ya? Perkenalkan namaku Borat Wicaksono,” kata ayahku mengulurkan tangannya. Selama hampir setengah jam Rafael dan ayah berbincang-bincang. Sebenarnya ayahku lebih banyak tertawa meremehkan daripada berbicara. Sedangkan Rafael kelihatannya seperti sedang membujuk-bujuk. Ketika seorang petugas dari klub tenis elite tersebut masuk dan memanggil Rafael, Rafael menghentikan pembicaraannya dengan ayahku dan berkata, “Ayolah Borat! Sadari itu! Dia memilikinya. Jadi percayalah padaku, jangan sia-siakan!”
Rafael melambai pada kami dan juga SB dan ibunya. Aku baru sadar kalau Rafael Nadal adalah seorang petenis profesional yang berperingkat tinggi di dunia pada saat aku beranjak sebelas tahun.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, ayah mengajakku untuk mengunjungi makam ibuku—yang letaknya memang dekat dengan klub tenis tersebut. Kami turun selama beberapa menit. Sambil terus memelukku, Ayah terlihat sangat sedih. Bahkan sesekali butir-butir air mata pun jatuh menyentuh lenganku. Aku diam saja. Aku tidak mau mengusik ayahku yang mungkin saat itu sedang membayangkan saat terakhir Ibu menghembuskan napasnya gara-gara kanker rahim.
Setelah sekitar tujuh menit di sana, Ayah dan aku kembali ke mobil. “Rafael teman ayah, ya?” tanyaku berusaha mencairkan suasana sedih Ayah.
“Bukan, sayang. Dia…umm…apa ya istilahnya? Dia sedang mengikuti turnamen di sini. Mungkin beberapa hari lagi dia akan pulang ke Spanyol,” jawab Ayah.
“Spanyol? Apa itu, Ayah?” tanyaku lagi.
Sambil menahan tawa kecilnya, ia berkata,”Spanyol itu tempat yang sangat jauh dari sini. Uh, besok-besok kau pasti akan mengerti,” jawab Ayah.
Ingatan itu ternyata lebih segar daripada yang kuprediksi. Aku menarik kesimpulan dari ingatanku tadi. Ayah tidak ingin aku menjadi petenis. Dia tidak percaya padaku. Dia bahkan tidak percaya pada seorang petenis profesional tingkat dunia. Untuk itu, kuakui bahwa ayahku adalah orang terkeras kepala di dunia. Tiba-tiba seorang gadis kecil memakai baju putih khas petenis terlintas di pikiranku.
Aku berumur sebelas tahun. Aku memakai baju putih. Baju putih khas petenis. “Wah, kau cocok sekali memakai baju ini, Elisha,” ujar Pak Johnson memandangku berputar-putar di depan cermin. “Mulai saat ini kau telah tergabung di tim tenis sekolah kita. Kau akan mewakili SD West Brom di segala kompetisi tenis. Menyenangkan, bukan? Kami akan merasa—,“ ucapannya terputus oleh suara gebrakan. Seseorang masuk ke ruang kepala sekolah Johnson tanpa mengetuk, bahkan mendobraknya. Orangnya sangat familiar denganku. Ayah.
“Kau tak perlu susah-susah mengurusi anakku, Johnson. Aku tak mau dia mengikuti apapun yang berhubungan dengan tenis, mengerti?” bentak ayahku sambil menarikku keluar dari ruang kepala sekolah Johnson. Aku merengek menangis dan menggumamkan seribu kata ‘jangan’ yang terhapus sia-sia karena bentakan ayahku jauh lebih keras. Saat sudah berada di luar, ayahku dengan kasar menanyaiku,”Bagaimana kau bisa diikutsertakan dalam tim sekolah? Kau mendaftar, ya?” Aku menatap matanya yang besar dan hitam. Aku melihat suatu kebencian yang amat sangat di matanya. Namun, sekilas aku juga melihat ketakutan besar. Aku menggumamkan kata ‘ya’. Ia mendesah kecewa dan menceramahiku selama lima belas menit tentang aku yang tidak mungkin bisa jadi petenis.
“Ayah, aku kan hanya ikut tim saja. Ayah kan harusnya bangga akan hal itu,” belaku sinis.
“Pokoknya tidak boleh!” bentaknya pendek.
Seekor semut menggangguku. Aku melemparnya dengan buku-buku jariku. Aku tersenyum pendek ketika mengingat lagi betapa ngototnya aku yang ternyata tanpa sepengetahuan ayahku tetap mengikuti turnamen-turnamen junior. Sebanyak 12 kejuaraan sudah kuikuti dan 3 diantaranya menghasilkan trofi juara pertama dan 6 juara kedua. Ingin rasanya untuk memamerkan hal ini pada Ayah. Tapi di sisi lain, Ayah tidak boleh tahu. Sialnya, media massalah yang justru memberitahu ayahku. Aku jengkel. Tapi aku juga senang. Setidaknya itu membantu menyadarkan ayahku bahwa aku memiliki kemampuan—seperti yang ditekankan Rafael padanya. Yang terjadi justru sebaliknya. Ayah menamparku dan mulai bersikap kasar padaku. Ia mengata-ngataiku. Aku benci. Dalam hatiku selalu bertanya-tanya. Mengapa ayah tidak membiarkanku melakukan apa yang sudah menjadi bakat dan keinginanku?
Aku merasa pegal-pegal padahal aku hanya beberapa menit saja di bathtub. Aku melepas bajuku dan mencari pakaian lain di lemari pakaianku yang terbuat dari kayu mahal cherrywood. Ketika aku menemukan kaus berwarna abu-abu dan celana pendek, aku menarik keduanya dengan cepat keluar dari lemari. Sehelai pakaian berwarna biru muda terjatuh diikuti sepuluh helai pakaian lain yang berebutan keluar seolah-olah lemari itu adalah penjara terkejam mereka. Aku mengambil pakaian biru muda tersebut serta mengembalikan pakaian-pakaian lain ke dalam ‘penjara’ mereka lagi. Pakaian biru muda itu masih pucat. Sepucat terakhir kali aku memakainya.
Aku berumur tiga belas tahun saat aku berhasil membawa trofi bergengsi nasional yaitu trofi juara Cincinnati Terbuka. Aku bisa mengikuti kejuaraan itu karena ayahku pergi urusan bisnis ke Arab. Ayah menitipkanku pada tetangga kami—yang sebetulnya tidak kalah sibuk dengan ayah. Kepala SMPku lah yang mendaftarkan dan mengirimkanku ke kejuaraan tersebut. “Kau memang berbakat, Nak,” ucap berpuluh-puluh orang yang menyaksikan kemenanganku.
Aku keluar lapangan berusaha untuk menghapus keringatku yang terus mengucur setelah mengalahkan seorang gadis dari SMP East Gate dua set langsung 6-4 dan 7-5. Puluhan wartawan berebut untuk menanyai kepala sekolahku. Aku, yang sudah sangat capek—dan puas, berusaha untuk melewati kerumunan orang menuju keluar lapangan. Ketika sudah tidak ada orang lagi yang mengikutiku, aku pergi ke gerbang keluar tempat diselenggarakannya kejuaraan. Seorang laki-laki tinggi berkulit putih kurus menyambutku. Dengan senyum kecut. Borat Wicaksono sudah berdiri di sana menanti anaknya. Kukira beliau sekarang di Arab. “Selamat, sayang. Kau berani sekali. Ayah takut kau akan sedih kehilangan teman-teman dekatmu. Ini, ambillah.” Ia menyodorkan berkas-berkas di map kuning yang dibawanya. “Ucapkan selamat tinggal pada sekolahmu dan juga teman-temanmu,” katanya sambil menggandengku meninggalkan lapangan. Aku membaca berkas-berkas yang diberikan ayahku. SMP Duston.
“Ayah tidak berniat memindahku ke sini, kan? Ini kan sekolah ketat berasrama sialan di Lansing?” kataku sambil melepas genggaman ayahku. Ayahku tidak menjawab. Ia malah menarikku ke mobilnya yang segera melesat menuju bandara.
“Barang-barangmu sudah ada di bandara. Kau tinggal mengikuti Salma. Kalau kau sudah turun di bandara…apa itu namanya yang ada di Michigan, kau langsung cari taksi yang akan mengantarmu ke apartemen yang sudah kubeli di sana. Nah, selamat belajar,” katanya sambil berusaha akan mengecup pipiku.
Aku marah padanya dan mendorong bibirnya dengan tanganku sebelum sampai ke pipiku,”Ayah tidak serius, kan? Kenapa ayah selalu melarangku bermain tenis? Kenapa ayah tidak membiarkan aku melakukan apa yang kusuka sama seperti ayah lain? Kenapa ayah membenciku? Kenapa ayah mengusirku?”
“Kau tak akan mengerti. Yang jelas kau akan berterima kasih padaku suatu hari, Elisha. Sudahlah, ini nomor telepon Ayah di Arab kalau-kalau kau ingin menghubungi Ayah,” katanya sambil berlalu. Aku menangis keras-keras. Air mataku membasahi kaus biru muda yang saat itu sedang kukenakan.
Aku memakainya. Aku memakai kaus itu. Ya, aku ingat saat dimana ayah mengirimku ke SMP Duston—dan sekaligus SMA Duston, sekolah tua di Michigan yang terkenal dengan lingkungan sekolahnya yang tertutup. Tak ada anak yang bisa seenaknya mengikuti kegiatan di luar sekolah—apalagi mengikuti sebuah kejuaraan tenis yang menurut mereka melanggar hukum sekolah. Aneh. Selama lima tahun aku berada di Michigan, Ayah hanya mengunjungiku enam kali. Itu pun hanya terjadi di satu setengah tahun pertama. Sebenarnya Ayah tak sejahat itu. Ia sudah berusaha meneleponku setiap hari. Bayangkan saja! Setiap hari! Akulah yang tidak mau menjawab panggilannya karena menurutku itu sebanding dengan apa yang telah dilakukannya padaku. Selama lima tahun aku hanya bermain tenis lima kali, sekali dalam setahun menunggu waktu liburan musim panas tiba. Untuk itu saja aku harus mengendap-endap ke klub tenis.
Lima tahun pun berlalu dengan cepat. Saat ini Elisha Leigh Wicaksono berumur delapan belas tahun dan duduk di kelas tiga SMA Duston, Lansing, Michigan. Detik ini ia sedang berada di kamar apartemennya menyelesaikan mimpi masa lalunya ketika telepon di dekatnya berdering. Ia tidak mengangkatnya. Ia ingin sendiri. Ya, aku memang ingin sendiri. Ketika dering telepon berhenti, aku memecet tombol pesan, suara seseorang terdengar panik, “Elisha, kau di apartemen, kan? Aku ingin kau meneleponku kapan pun setelah kau mendengar pesanku. Aku, Desty, dan Diane. Telpon salah satu dari kami, oke?” Suara Annete menghilang. Aku pun tertidur di ujung tempat tidur perakku.
* * *
Tubuh ayah dibaringkan di sebuah peti hitam yang sangat besar. Mobil-mobil berlogokan perusahaan ayah banyak yang parkir di lokasi makam St. Mark yang bersebelahan dengan gereja tua. Salib besinya sudah mulai berkarat. Banyak terlihat orang Timur Tengah yang mondar-mandir. Sambil menunggu segala sesuatunya beres, aku berjalan kecapaian menuju gereja tua yang bersebelahan langsung dengan lapangan klub tenis elite. Aku berjalan di tengah-tengah gereja menuju altar.
“Ada yang bisa kubantu, gadis cantikku?” suara seorang biarawati menggugah lamunanku tentang betapa indahnya altar yang berhiaskan emas tersebut.
“Oh, tidak. Uh, sebenarnya saya kemari untuk memakamkan ayah saya,” kataku sambil melirik peti hitam besar yang baru pagi tadi sampai di Lunken Airport, Cincinnati.
“Ah, jadi kau putri Borat yang tinggal di Lansing, ya? Aku mengenal ayahmu sangat baik. Perkenalkan namaku Aloysius. Kau ternyata sangat mirip dengan ayahmu, ya? Terutama mata hijaumu itu,” katanya sambil mempersilakanku duduk di tempat duduk jemaat paling depan. Selama sekitar tujuh belas menit ‘berceramah’ tentang kehidupan ayah dan ibuku, suster Aloysius menyebutkan sebuah nama yang aku sama sekali tidak mengenal.
“…katanya kau juga mahir bermain tenis seperti Linda, ya? Seandainya hal buruk itu tidak menimpanya, tentu dia bisa menjadi—“
Kata-katanya terputus oleh suara parauku,”Linda? S-Siapa Linda? Apa dia kerabatku juga?”
Sambil terhenyak ke belakang suster itu menanyaiku,”Ya Tuhan, apa ayah atau ibumu tak pernah memberitahumu? Demi Tuhan aku tidak bermaksud memberitahu hal ini padamu jika kau tak tahu. Tapi baiklah. Dengar, Linda adalah orang yang sangat mirip denganmu. Caramu berjalan, caramu berbicara, dan caramu bermain tenis mungkin, sama dengannya. Berbeda denganmu, Linda sudah pergi. Dia meninggal seusai menjuarai sebuah turnamen di Anaheim. Dia kakakmu, sayang.” Suster itu mengucapkannya dengan sangat jelas. Linda. Aku memiliki seorang kakak yang sampai detik ini belum penah kutemui.
“Lantas mengapa dia meninggal? Uh, maaf suster,” aku tidak sengaja menginjak sepatu kremnya.
Sambil menghela napas ia berkata,”Waktu itu dia berumur 15 tahun. Dia membela SMP Mariemont City. Di final kejuaraan tersebut, dia mengalahkan SMP umm, aku lupa apa namanya. Padahal SMP tersebut adalah juara bertahan. Setelah kakakmu menjuarai turnamen bergengsi itu, ada seorang dari mereka yang membuntuti ayah, ibu, dan kakakmu ketika dalam perjalanan pulang. Orang itulah yang menikam kakakmu. Mengerikan, bukan? Ayah dan ibumu tidak terluka karena memang kakakmulah yang menjadi target. Aku mendengar adanya isu politik dalam pembunuhan itu. Sepertinya, gadis yang Linda kalahkan berasal dari negara bagian yang berbeda paham politik dengan Cincinnati. Sejak saat itu orang tuamu sangat trauma dengan tenis. Namun kupikir setelah ibumu meninggal, ayahmu merasa bahwa sejarah tersebut tak akan terulang lagi padamu, Elisha, karena aku sering membaca berita kemenanganmu di berbagai media massa.”
“Permisi, saya rasa acara pemakaman ayah Anda bisa dimulai saat ini, Nona Wicaksono,” sela seorang Timur Tengah.
“Uh—trims,” kataku padanya,” terimakasih juga, suster. Umm, semoga Tuhan selalu memberkati Anda,” kataku serak karena aku tak tahu lagi harus mengatakan apa pada seorang suster gereja.
“Baiklah kalau sudah siap semua. Kupanggilkan pendeta Nicholson dulu, oke?” kata suster Aloysius sambil meninggalkanku dengan si Timur Tengah.
Setelah mengikuti seluruh acara misa arwah dengan khusyuk—kata-kata pendeta Nicholson ternyata sangat tidak membosankan dimana biasanya aku bahkan sempat tertidur di gereja di dekat apartemenku.
Inilah terakhir kalinya aku dapat melihat ayahku sedekat ini. Mereka mengijinkanku untuk melihat ayahku sedekat ini. Wajahnya masih kurus, tapi kelihatan lebih berisi. Kulitnya masih halus, tapi kelihatan jauh lebih berkerut daripada terakhir kali aku melihatnya. Mungkinkah egonya masih sekeras dan sekuat dulu meski sekarang ciri khasnya tersebut sama sekali tidak kelihatan pada jasadnya yang harum tersebut? Ingin rasanya aku mengatakan padanya sejuta kata rindu yang belum mau turun dari mulutku yang perlahan-lahan berkerut sedih. Ayah, ini aku anak bandel Ayah. Tapi Ayah tidak menjawab sapaanku. Bahkan sampai akhir hayatnya tak ada tanda-tanda Ayah mengijinkanku bermain tenis. Mengapa? Mengapa? “—Sejak saat itu orang tuamu sangat trauma dengan tenis. Namun kupikir setelah ibumu meninggal, ayahmu merasa bahwa sejarah tersebut tak akan terulang—“ suara suster Aloysius terngiang-ngiang di pikiranku. Linda? Kakakku? Ayah bahkan tidak pernah membicarakan apapun tentangnya. Ayah tidak mengijinkanku bermain tenis karena kematian Linda? Kematian kakakku yang ada hubungannya dengan tenis? Oleh karena itu ayah melarangku melakukan apapun yang berhubungan dengan tenis? Lalu mengapa saat aku berumur enam tahun ayah mengiyakan ajakan SB untuk bermain tenis? Apa waktu itu ayah tidak menyangka bahwa akhirnya aku akan menyukai olahraga tersebut? Ayah tak ingin aku mengalami hal yang sama dengan Linda. Oleh karena itu ia mengurungku di sekolah Duston?
“Permisi,” kata orang Timur Tengah yang tadi mengucapkan kata yang sama saat ia menyela pembicaraanku dengan suster Aloysius, ”maaf, ayah Anda sebaiknya cepat dimakamkan kecuali Anda butuh beberapa menit lagi untuk mengucapkan selamat tinggal padanya?” tanyanya sopan. Aku menggeleng dan mempersilakannya menutup peti hitam tersebut dan membawanya ke tanah perkuburan.
Aku terbangun di sebuah ruangan besar berdinding coklat keemasan. Kepalaku serasa berputar-putar. Tunggu! Bukankah aku tadi berada di…samping peti ayah? Lalu? Si Timur Tengah? Oh, tidak.
“Kau sudah sadar rupanya. Ini segelas air mineral. Minumlah,” kata suster Aloysius mengagetkanku sambil membawa segelas air mineral.
“Mengapa aku di sini?” tanyaku sebelum meminum air pemberian suster tersebut.
“Kau pingsan, sayang. Tadi semua orang panik. Kau tadi menangis dan langsung ambruk begitu saja. Kami menyadari beban yang kau pikul. Kau baru saja kehilangan orang yang sangat kau cintai.” Tanpa menghiraukan ucapan suster Aloysius, aku berlari keluar ke tempat pemakaman. Sekarang hari menjelang sore. Sambil berlari, kulihat jam tanganku. Jam tiga. Lima jam sudah aku pingsan. Aku memasuki pekarangan pemakaman. Aku mencari-cari letak makam ayah. Akhirnya kulihat makam yang di atasnya terpahat patung malaikat kecil memainkan instrumen yang dibawanya. Malaikat kecil itu sedang duduk di atas batu kecil yang bertuliskan nama ayahku dan tanggal kematiannya. Aku merenung sebentar. Aku mengerti sekarang. Ayah sangat menyayangiku. Ayah takut aku akan celaka hanya gara-gara tenis. Sekarang aku mengerti. Aku menyayanginya, tapi aku mencintai tenis. Aku menangis. Aku tak bisa mempercayainya. Aku menangis! “Apa yang harus kulakukan?” bisikku dalam hati sambil terisak. Hanya satu tempat yang ada di benakku. Bangunan di sebelah gereja St. Mark akan memberiku jawaban tentang apa yang harus kulakukan.
Udara di klub tenis Strengthfield sangat sejuk sesejuk tiga belas tahun yang lalu. Tetapi klub itu jauh lebih sepi daripada tiga belas tahun silam. “Apa mungkin karena ini hari kerja, ya?” pikirku.
Seorang ballboy yang sudah agak tua tapi masih kelihatan segar bugar menanyaiku, ”Maaf, Anda sedang mencari seseorang? Oh Tuhan! Kau kan—“ ia terhenyak ketika melihatku.
“Uh, ada apa? Uh, saya ingin mencari—“ kalimatku terputus.
“Kau juara Cincinnati Terbuka, Elisha Leigh Wacaksono! Ya Tuhan, ada apa kau ke sini? Ayo, silakan masuk…silakan masuk,” serunya ramah.
“Oh, terimakasih. Sebenarnya nama keluarga saya adalah Wicaksono. Umm, tiga belas tahun lalu saya bertemu Nadal. Anda tahu Rafael Nadal, kan? Dia sekarang mungkin sudah berumur tiga puluhan tahun. Kau tahu bagaimana cara menghubunginya?” tanyaku. Sebenarnya di dalam hatiku juga bertanya-tanya mana mungkin seorang ballboy mengetahui hal itu. Menyebutkan nama keluargaku saja salah. Namun saat itu, pikiranku sudah sangat kacau.
“Maaf sebelumnya. Saya tidak tahu. Namun saya bisa menghubungkan Anda dengan atasan-atasan saya yang mungkin lebih mengetahui tentang hal tersebut. Bagaimana, nona Wacaksono?” tanyanya.
“Wicaksono. Terimakasih,” ucapku sambil membiarkannya membimbingku menuju ruangan atasan ballboy tua tersebut.
Aku memasuki ruang yang besar. Pintu masuknya terbuat dari logam besar mahal yang tersusun dari logam-logam yang lebih kecil. Dua orang berbusana super rapi sedang terlibat pembicaraan serius. “Tuan Gillard, tuan Glenmont. Apa saya mengganggu Anda berdua? Maaf, tapi saya membawa tamu yang pastinya akan sangat menyenangkan. Silakan, nona,” kata si ballboy mempersilakanku masuk. Dengan gerakan yang sangat cepat, dua orang yang tadinya sedang duduk berbincang serius sekarang terlompat dari kursi mereka masing-masing.
“Permisi. Nama saya Elisha Wicaksono. Saya ingin bertanya tentang—“
Lelaki yang lebih gemuk memotong ucapanku, “Lihat Nicky! Dialah jawaban kita! Juara Cincinnati Terbuka dari Cincinnati. Bagaimana menurutmu?”
Orang yang lebih kurus namun lebih pendek sepertinya tidak terlalu setuju dengan pendapat Richard Gillard, “Dengar, Richard. Dia kan menjuarainya enam tahun yang lalu. Kita benar-benar butuh orang yang terkualifikasi dengan baik”
“Maaf, Tuan Glenmont,” kataku sambil melirik papan nama yang berdiri tegak di depan Nicky Glenmont, “sebenarnya saya menjuarai Cincinnati Terbuka lima tahun yang lalu. Lagipula saya sebenarnya kesini hanya untuk menanyakan apakah Anda bisa memberi saya saran tentang bagaimana saya bisa mengontak Rafael Nadal. Saya tahu dulu dia aktif bermain di turnamen yang diselenggarakan di Cincinnati dan latihan di sini. Jadi saya hanya ingin tahu bagaimana saya bisa menghubunginya,” kataku mantap.
Richard Gillard segera menjawab pertanyaanku,”Ada satu cara. Kau harus terkenal. Kau harus bermain tenis. Aku melihatmu lima tahun silam. Aku tahu kau memiliki bakat yang luar biasa. Ketika itu aku sedang berbicara dengan kepala sekolahmu, Johnson. Kau ingat dia, kan? Nah, ketika aku mencarimu, kau sudah tidak ada. Kemunculanmu kali ini jujur sangat mengagetkanku, Wicaksono.”
Aku melihat suatu peluang emas terbentang di depanku. Tenis. Aku merindukannya. Aku ingin menjadi petenis. Impian lama yang tidak akan pernah usang. Tapi bayangan tentang ketakutan ayah sempat terbesit di pikiranku. Namun rasa kerinduan dan tekad yang besar menenggelamkannya. “Jadi, Anda mengajak saya untuk bermain atas nama klub Anda, tuan Gillard?” tanyaku dengan antusias tinggi.
“Tepat sekali. Bagaimana menurutmu, Nicky?” Richard Glenmont kelihatan bahagia sekali.
“Kita akan lihat nanti.”
* * *
“Elisha, uh, kau bisa memukul lebih keras lagi, kan?” Aaron Daley berkata dari bidang seberang.
“Sekeras apa? Ini!” kataku sambil mengembalikan serve-nya. Aaron tidak mengembalikan bolanya. Ia justru terjatuh.
“Oh, oke. Persiapanmu sudah lebih dari cukup, Elisha!”
“Trims, Aaron. Kau pelatih hebat.”
Dua hari setelah latihan terakhirku dengan Aaron, aku bertanding melawan klub tenis lain dari Kentucky. Banyak sekali penonton yang datang. Mayoritas dari mereka berasal dari Kentucky meskipun pertandingan kali ini diselenggarakan di markas Strengthfield. Aku mendapat jatah serve lebih dahulu. Aku melakukan serve. Bolanya membentur net. Serve kedua meluncur dengan mulus ke bidang lawan. Tapi sepertinya Claire—nama gadis itu—sedang dalam performa terbaiknya. Dia mengembalikan bolaku dengan cepat. Serve-serveku selanjutnya tidak berjalan dengan lancar sampai akhirnya Claire memimpin 4-2. Terdengar desahan kecewa dari bangku Aaron. Aku meyakinkan diriku bahwa aku belum panas. Aku belum konsentrasi.
“Pantas saja ayah tidak mengijinkanmu bermain, Elisha. Kau bahkan kesulitan mengembalikan bola hijau mungil itu,” ejekku dalam hati. Ternyata mengejek diri sendiri bukanlah suatu cara yang bisa menyelesaikan suatu masalah. Claire menutup set pertama dengan 6-2.
“Ini bukan permainanmu kan, Elisha? Buat apa mereka membayarku untuk melatihmu? Tunjukkan kemampuanmu yang sesungguhnya! Itu tadi bukan Elisha. Dimana dia? Bawa kemari orang yang bernama Elisha Wicaksono!” kata Aaron menyemangatiku—atau mengejekku. Claire memulai set kedua dengan masuknya 4 ace-nya. Namun aku bisa membalasnya di game selanjutnya. Aku memimpin 5-3 ketika Claire mematahkan beberapa pukulanku. Aku kehilangan konsentrasi. Claire menyamakan kedudukan hingga 6-6. Aaron—yang mungkin merasa malu—meninggalkan arena lapangan tenis. Suasana bertambah ramai. Tetapi tidak ada yang mendukungku. Tidak juga pelatihku. Suasana ini malah melecutku untuk terus fokus. Sesi tie-break dimulai. Aku memasukkan 1 ace. 1-0. Claire mendapat poin dengan cara yang sama. 1-1. Terjadi net. Break-point. Ace. Aku mematahkan serve Claire. 6-4 untuk Elisha Wicaksono. Aku merebut set kedua dengan kemenangan 7-6 (4). Penonton mulai menipis. Mungkin mereka sebelumnya mengira—atau mengharapkan—kemenangan cepat Claire Dickinson. Aaron belum kembali. Aku mulai berpikir kalau-kalau dia sedang membuat surat pengunduran diri. Masih ada kesempatan untuk mencegahnya dengan memenangkan pertandingan ini.
Set ketiga dimulai. Semangatku berlipat. Saat aku akan turun ke lapangan, samar-samar kulihat di kerumunan, Sally Boorth memanggilku dan meneriakkan ‘Semoga sukses’. Di siang yang sangat panas dan di set penentuan ini, Elisha Wicaksono langsung memimpin 5-0. Ya, ia sudah menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. Claire, yang mulai kehilangan konsentrasi, sempat memenangkan satu game. Namun, Elisha tak mau lama-lama menutup set terakhir ini dengan sebuah ace. Aku memenangkannya. Aaron tak perlu membuat surat itu. Aku harus bertemu Aaron, tapi yang ingin kutemui sekarang adalah SB. “Selamat, sepupuku. Kau memang hebat dari dulu,” katanya dengan mata berbinar.
Setelah berjabat tangan dengan Claire Dickinson yang dengan senyum kecutnya menggumamkan kata ‘selamat’ untukku, aku langsung bergabung dengan SB. Kami berbincang lama sekali dan saling berjanji untuk minum kopi suatu hari. Aku senang. Tapi aku belum bahagia. Aku ingin sesuatu yang lebih. Aku harus masuk ke tingkat profesional. Ya, tingkat pro. Untuk menjadi seorang petenis hebat, aku harus masuk ke tingkat pro. Aku senang. Aku senang karena akhirnya aku bertemu Aaron. Dia sulit percaya aku memenangkan laga tadi. Tebakanku tepat. Sebenarnya ia hendak membuat surat. Tapi bukan surat pengunduran diri. “Aku rasa kemenangan perdanamu membutuhkan suatu surat.”
Hari ini tepat empat puluh hari sejak aku mengalahkan Claire Dickinson dari Kentucky. Sampai hari ini sudah tepat empat kejuaraan junior kuikuti. Aku memenangkan tiga diantaranya. Satu kejuaraan lainnya aku kalah tiga set oleh seorang gadis dari Austin, Texas. Gadis berambut pendek itu memenangkan pertandingan dengan 6-4, 1-6, 7-5. Namun demikian, hasil lima pertandingan terakhir sudah cukup memuaskan Richard Gillard dan Aaron Daley.
“Aku akan segera mengurus keikutsertaanmu untuk turnamen-turnamen pro, Elisha. Kau fantastis. Tapi sebelumnya, tiga hari lagi kau harus menghadapi gadis dari Austin itu lagi. Kau tahu, yang bisa masuk ke pro bulan ini hanya satu orang. Permainanmu oke, tapi belum menghasilkan kemenangan. Kalahkan dia, Elisha! Aku percaya padamu,” kata Richard Gillard.
Saat ini aku berdiri sekitar enam meter dari Lindsay Bar dari Austin. Tiket ini milikku, bisikku. Lindsay memulai pertandingan dengan menyibakkan rambut pendeknya. Serve-nya masuk. 15-0 di game pertama. Aku menyamakan kedudukan hingga terjadi deuce 40-40. Lindsay melakukan serve. Aku mengembalikan bola ke sisi kanan bidangnya. Ia memaksaku berlari jauh mendekati net saat dia membalasku dengan pukulan drop shot. Aku harus pontang-panting ke belakang saat dia mengarahkan bola melambung ke belakang. Para penonton mulai bersorak. Sorakan penonton kali ini adalah sorakan penonton paling berisik yang pernah kudengar. Aku tidak memperdulikan hal itu terlalu banyak. Fokus. Uh, tembakanku meleset. Keluar. Sial! Aku mengumpat keras-keras. Sekarang kedudukan 5-3 di sesi tie-break bagi Lindsay. Bola mulai meluncur ke arahku lagi. Aku mengembalikannya kuat-kuat sampai-sampai tubuhku nyaris kebanting ke kanan. Net. Gadis itu memenangkan set ini 7-6. Aku menggumam kecewa. ketika kembali ke lapangan sampai suatu ketika aku melihat sahabat-sahabatku berdiri di kerumunan penonton. Annete, Desty, Diane berdiri di sebelah SB. Semangatku tumbuh kembali. Di set kedua, aku langsung memimpin 5-4. lagi-lagi set ini harus berakhir dengan tie-break. Tapi kali ini aku memenangkannya. 7-6 untuk si anak Borat di set kedua ini.
Set ketiga berjalan alot. Aku sempat memimpin 1-0 sampai Lindsay menyamaiku 1-1. Tiga jam kemudian kedudukan kami seimbang 6-6. Ya, tiga jam yang sangat melelahkan. Untuk ketiga kalinya, sesi tie-break diadakan. Aku melakukan serve. Ace. Aaron bersorak. Tapi Aaron tak bisa lama bersorak ketika selanjutnya Lindsay memasukkan lima bola. 5-1 untuk Lindsay. Kemenangan sudah di depan mata Lindsay. Kalau pun aku bisa memasukkan bola , itu hanya akan menunda kemenangannya. Sepertinya Lindsay juga merasakan hal yang sama. Namun, itu justru merusak konsentrasinya. Dia melakukan empat unforced-error. 5-5. Semua penonton bungkam. Hening.
Lindsay kembali melakukan serve. Aku mengembalikan dengan sangat baik ke arah kanan. Saat akan mengembalikan bola tersebut ke bidangku, Lindsay terjatuh. Aku merasa kesempatan emas terbuka lebar untukku. Aku membanting bola ke arah kiri. Menurut perhitunganku seharusnya Lindsay sudah tidak bisa menjangkaunya. Tapi dia melakukannya dan malah membuat suatu drop shot. Aku yang tidak mengira akan pukulan itu berusaha keras mengejar bola. Bola itu telah memantul dua kali. Aku hanya terpisah lima sentimeter saja. Buk! Terlambat. 6-5 untuk Lindsay. Satu poin lagi, dia memenangkan pertandingan ini. Udara bertambah panas. Satu poin lagi ia menang.
Aku melakukan serve. Lindsay mengembalikannya dengan pukulan melambung ke belakang. Cukup keras tapi tidak spesial. Aku menyambarnya dengan backhand. Keras. Tapi belum cukup keras bagi Lindsay. Ia mengembalikannya. Kuarahkan ke arah kosong di bagian kanan bidangnya. Dia masih mampu mengembalikan. Aku mendikte permainan dengan mendrop-shotnya. Dia berlari kencang menghampiri bola dan mengembalikannya lemah. Bola yang mudah, kusambar dengan pukulan melambung. Ia berbalik ke belakang dan berusaha mengembalikannya padaku. Karena cukup keras, aku mundur dan bruk! Aku terjatuh. Beruntung bola hijau itu tepat mengenai raketku. Bolanya berjalan lemah ke bidang Lindsay. Tepat dua milimeter di depan net. Lindsay yang sudah dapat memperkirakan arah bola dengan mudah maju dan menampar bola itu ke arah kiriku. Aku yang susah payah bangkit seusai jatuh—meski tertatih-tatih—mengembalikan bolanya tepat waktu. Bolanya meluncur mulus ke bidang Lindsay, namun menabrak suatu jaring yang terdapat tepat di tengah lapangan. Lindsay berteriak histeris. Ia menang. Penonton kembali bersorak. Aku tersenyum kelelahan ketika berjabat tangan dengan Lindsay yang tidak berhenti mengumbar senyumnya. Aku gagal ke pro. Sebentar lagi, kegagalanku akan diumumkan secara resmi oleh petinggi turnamen. Orang itu pendek tapi gagah.
“Baiklah penonton semua. Kita sudah melihat pertandingan yang spektakuler dan mendapatkan jawaban tentang pemenang laga kali ini. Lindsay Bar!!! Ia berhak melanjutkan karirnya ke tingkat pro. Oleh karena—“ Seseorang membisikkan sesuatu padanya yang memakan waktu agak lama. “Uh, oke. Baik, atas permintaan direksi pengurus tingkat pro sendiri dan rekomendasi dari seorang petenis ternama dunia, kebijakan untuk memasukkan hanya satu petenis junior ke tingkat pro untuk tahun ini diubah menjadi dua orang. Yang berarti Nona Elisha Wicaksono juga berhak melaju ke tingkat pro. Kita beri tepuk tangan untuk kedua bakat muda kita ini. Keduanya diharap maju.”
Aku? Aku ke tingkat pro? Oh Tuhan, ini mimpi, kan? Aku maju menerima medali yang merupakan lambang melajunya aku ke tingkat pro. Aku dan Lindsay. Penonton bersorak lebih keras. Akhirnya aku dan Lindsay menggabungkan diri di tengah penonton-penonton itu. Aku menemui Annete, Desty, Diane, dan SB. “Elisha! Selamat ya. Lihat, kau berhasil, kan? Aku tahu kau bisa. Kau sudah berterima kasih pada Tuan Nadal. Dialah yang merekomendasikan panitia pro untuk memasukanmu. Dia di sana,” kata SB sambil menunjuk ke arah ujung lain penonton lapangan. Aku kaget. Rafael Nadal di sini? Tapi SB tidak bohong. Aku melihatnya. Aku melihat Rafael Nadal—lagi. Aku berlari menghampirinya. Ia melihatku berlari ke arahnya. Ketika sampai di depan Rafel, aku memeluknya berterima kasih. Ia tersenyum melihat tingkahku. Ia sudah jauh lebih tua daripada dulu. Tapi tubuhnya masih sangat tegap, berotot, dan kuat. Ia membisikkan sesuatu padaku,”Aku tahu kau punya bakat tenis yang fantastis.”
Aku menginjakkan kakiku masuk rumah. Aku masih menggenggam medali pro. Aku berhasil. Aku senang. Tapi perlahan-lahan ada suatu perasaan sedih dalam hatiku. Ayah. Ia belum tahu dan mungkin tidak akan pernah tahu. Aku merasa bersalah tidak mengindahkan larangannya. Tapi bukanlah sesuatu yang buruk yang menimpaku hari ini. Pro. Pro adalah impianku. Aku berhasil menggapainya. Setidaknya aku telah berhasil membuka jalan untuk menjadi petenis sejati. Bibirku mulai basah oleh air mata. Tetapi bibirku juga mulai membentuk senyuman. Aku ingat kata-kata Rafael tadi ketika kuceritakan semuanya. Termasuk tentang Ayah.
“Ayahmu benar. Ayahmu peduli denganmu. Tetapi kau juga harus ingat. Untuk menggapai sesuatu, kau juga harus berkorban. Hidup ini penuh dengan resiko. Ingat itu, Elisha.”
Aku tertidur. Aku bertemu ayah. Ayah tidak terlihat sedih. Tetapi ia juga tidak terlihat gembira. Sikapnya netral saja. Samar-samar aku mendengarnya berkata,”Elisha, ketika kau bangun besok, kau akan menjadi orang yang berbeda. Aku ingin kau mengerti resiko yang mungkin terjadi padamu. Aku hanya khawatir. Jaga dirimu. Ayah menyayangimu.” Dan ia pun akhirnya tersenyum dan menghilang. Di luar kesadaranku, air mataku menetes membasahi medali pro yang masih terus kugenggam dan akan terus kugenggam.
Keren Bangedh….
Aku suka ceritanya… menyentuh bangedh…