KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Side Job Effect

Tanpa maksud untuk mengeluh, harus saya akui sebulan ini aktivitas rasanya menggila karena setelah hampir 2 tahun dalam kondisi pekerjaan yang statis, saya memutuskan mengambil pekerjaan sampingan sebagai kontributor freelance sebuah majalah Islami.

Beberapa kali ngobrol-ngobrol, baru-lah ketahuan bahwa si pengelola majalah ingin membuat format baru yang lebih komersial. Dari kontributor freelance, saya pun diminta mengkonsepkan majalahnya, sekaligus menjadi Redaktur Pelaksana. Sebuah keputusan yang sebenarnya diluar dugaan, karena mengingat sempitnya waktu di luar pekerjaan kantoran. Tapi karena kangen banget dengan dunia redaksi dan ini adalah kesempatan untuk ‘melarikan diri’ dari pekerjaan rutin, maka saya pun nekat meng-iya-kan.

Bismillahirrohmanirrohim!.

Menjadi Redaktur Pelaksana, bahkan untuk majalah yang baru berdiri seperti ini, sangat berbeda dengan waktu duduk di posisi yang sama 5 tahun lalu di Bulletin Icon (Islamic Communication) – bulletin dari komunitas Islam independen yang kita dirikan ramai-ramai di Komunikasi UI.

Mungkin karena masih semangat mahasiswa, dipenuhi oleh idealisme, banyak teman-teman yang berminat menulis meski mengaku tulisannya tidak bagus. Tugas-tugas seperti peliputan profil, event, tulisan opini, semua dengan relative mudah terkumpul karena koordinasinya dekat dan redaksi-nya sangat berdedikasi. Untuk desain, kami punya Yena si lay outer super teliti yang sepertinya nggak pernah lelah mengeksplor dunia desain grafis. Untuk masalah dana – meski tidak bisa dibilang banyak – kami punya donatur tetap, yaitu Ketua Jurusan, yang peduli dengan eksistensi karya-karya mahasiswa. Bulletin ICon pun terbit 2 minggu sekali, bermodalkan kertas Samson dari Jatinegara, yang distribusinya kemudian dikerjakan gotong royong sehingga setiap angkatan bisa membacanya.

Ah, kenangan manis…

Namun ketika memasuki dunia nyata, semua tidak sesederhana itu. Dimulai dengan rapat konsep majalah, kami membandingkan beberapa majalah Islam seperti Majalah Masjid Kita (terbitan Masjid Istiqlal), Sabili, Madina, dan lainnya.

Awalnya, saya mengkonsepkan majalah tersebut mengikuti genre majalah travel. Pikiran saya mengacu pada majalah DestinAsian. Saya ingin membuat majalah bersegmen Islamic Tourism yang menonjolkan kekayaan budaya keislaman Indonesia, serta bagaimana Islam melebur dengan kebudayaan masyarakat di daerah. Sudah terbayang majalah ini akan berisi banyak foto, dengan kualitas seperti majalah arsitektur atau desain grafis. Hambatannya pun sudah terbayang: biaya besar.

Karena untuk foto berkelas, dibutuhkan fotografer profesional, atau paling tidak yang berpengalaman. Sessi foto pun tidak bisa asal jeprat-jepret. Yang saya ingat, sewaktu magang di Majalah Griya Asri, ada satu hari penuh yang dihabiskan untuk sessi foto di apartemen Setiabudi, untuk mendapatkan lighting yang tepat, warna dan tekstur yang ‘keluar’, dan sinar matahari yang bersahabat. Sessi foto tidak bisa lagi dilanjutkan pada sore-menjelang maghrib karena gambarnya akan buram.

Maka setelah melalui berkali-kali kompromi dengan menurunkan konsep ke rubrikasi, bayangan impian saya tak sepenuhnya terwujud. Ya tidak apa-apa, itulah team work. Pekerjaan selanjutnya adalah menetapkan topik-topik berita. Lalu pekerjaan lapangan pun dimulai.

Pekerjaan lapangan kali ini sebetulnya tidak seberapa dibandingkan waktu di GATRA dulu. Kali ini, saya hanya perlu beberapa kali wawancara dan liputan event. Beberapa tulisan bahkan bisa disarikan dari bahan literatur dan press release.

Tugas yang justru dominan adalah manajemen redaksi, mulai dari koordinasi ke penulis dan pengumpul bahan, mencari dan menghubungi kontributor (alhamdulillah sahabat-sahabat saya pandai menulis, jadi nggak jauh-jauh), laporan ke Pemimpin Redaksi, dan melakukan editing tulisan. Yang menyulitkan adalah bahwa kami belum punya manajemen. Banyak sistem harus kami dirikan bersama-sama dengan pekerjaan lapangan yang notebene dikejar deadline. Keadaan yang tidak sehat sih, sebenarnya.

Karena dikerjakan sebagai side job, intensitas pekerjaan ini bisa dibilang, luar biasa. Sering saya harus menghubungi narasumber di saat jam istirahat, mengerjakan tulisan malamnya sehabis pulang kantor, editing tulisan serta mencari foto di sela-sela pekerjaan kantor, dan meng-sms tokoh-tokoh, meminta komentar mereka untuk ditaruh di halaman khusus. Retno – sahabat saya – yang saya ajak kerja sama juga melakukan hal serupa.

Seakan itu belum cukup. Tiba-tiba deadline dimajukan seminggu!

 ***

Terlepas dari berbagai keluh kesah akan padatnya hari-hari, pengerjaan redaksi majalah ini memberikan pelajaran yang amat banyak soal manajemen media massa.

Bagaimana kita harus memulai dari konsep yang matang dan punya market segmen yang jelas. Idealnya sih bahkan riset pasar, tapi dananya dari mana yah?

Bagaimana konsep itu harus kita godok berkali-kali untuk mendapatkan sisi uniknya, dan bagaimana posisinya di niche yang tersedia di masyarakat (lagi-lagi, soal pasar).

Bagaimana membuat time table untuk satu edisi saja dulu. Memperhitungkan deadline setiap tulisan dan tahapan-tahapannya.

Lalu bagaimana update setiap berita, dan melaporkannya pada pemred yang sudah panik

Bagaimana tetap meminta surat kontrak dan negosiasi sebagai hak dasar kita sebagai karyawan. And you know what you should do when you did not get your rights.

Bagaimana koordinasi liputan, wawancara, pengambilan foto, dan lain sebagainya, the journalist stuffs.

Bagaimana meyakinkan kontributor luar daerah untuk sumbang tulisan.

Bagaimana rasanya membangun sistem, meski kecil-kecilan, untuk manajemen media massa, dan itu membutuhkan satu team yang solid dengan alokasi waktu yang tidak sedikit. Team dengan idealisme yang sama.

Bagaimana rasanya bekerja dalam manajemen yang belum established. Kali ini, pertimbangannya bukan hanya masalah interest, namun kenyamanan bekerja.

Bagaimana rasanya ketika 24 jam rasanya sangat kurang, padahal masih banyak hal yang harus dikerjakan.

Bagaimana belajar sabar saat bahan-bahan penulisan tidak juga dikirimkan.

Bagaimana belajar mencari celah ketika bahan penulisan ternyata juga minim, sedangkan jumlah halaman minimal belum terpenuhi.

Dan bagaimana, mengevaluasi semua yang telah dilakukan. Menimbang baik buruknya secara keseluruhan. Dari segi pekerjaan, investasi waktu, pendapat keluarga, pilihan karir, kesehatan, kenyamanan jangka panjang, ataupun lingkungan.

Salah seorang teman dekat saya mengatakan bahwa Rasulullah berkata, orang yang rugi adalah jika hari ini sama dengan kemarin, dan orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari pada hari kemarin. Untuk membuat hari ini lebih baik dari kemarin, adalah bertambahnya ilmu. Tiada hari tanpa belajar.

Jadi, apapun kendala yang muncul saat belajar, Alhamdulillah saya tetap merasa beruntung. Karena  saya belajar banyak. Banyak sekali.

Tinggalkan Komentar