Imah, Aku Kehabisan Kata untuk Membohongimu
September 10th, 2008 by achmad darwis sutejo
Malam belum larut, namun sudah mulai sunyi. Sesekali terdengar suara gemerisik daun pisang yang saling bergesekan satu dengan lainnya atau kerik belalang di sela semak-semak. Di langit, bulan tak tampak. Bintang-bintang serupa noktah-noktah berpijar tak sempurna di atas lembaran kelam. Seekor kalelawar melintas di bawahnya, mencicit, lalu berggelayut pada sebuah mangga ranum yang tergantung di bawah tangkainya. Sebuah hidangan istimewa tersaji di hadapannya.
Imah telah tidur sejak tadi. Ia tampak pulas di atas sebuah ranjang kusam. Ia dekap erat guling cilik yang juga sudah kusam di sampingnya. Sesekali ia lepaskan, namun ia cari lagi seakan tak mau kehilangannya. Bantal cilik yang mengganjal kepalanya mulai basah oleh titik-titik keringat yang merembes dari pori-pori kepalanya.
Melihat Imah terlelap seperti ini membuat hati Satta, janda setengah baya yang tinggal dengan cucunya itu, menjadi lega. Ada tiga hal yang membuatnya lega. Pertama, ia bisa istirahat setelah seharian mengemong Imah. Kedua, di sela istirahatnya ia bisa mengupas kulit kacang tanah milik Haji Latip. Itulah kerja rutin malamnya setelah Imah terlelap, seperti yang ia lakukan saat ini. Satta akan mendapatkan upah lima ratus rupiah untuk setiap liter kacang tanah yang dikupasnya. Rata-rata dia mengupas empat liter setiap malam. Upah mengupas kulit kacang tanah itu, ia jadikan tambahan untuk membeli beras dan lauk dan sesekali membelikan Imah es kepada tukang es keliling. Ketiga, ketika Imah tidur, dia tidak akan bertanya lagi, “Nek…kapan Imah sekolah?” atau “Nek..kapan ke pasar Candi untuk beli seragam?” atau “Nek…kapan beli buku baru?” atau pertanyaan-pertanyaan lain yang bersangkut dengan sekolah lainnya.
Pertanyaan Imah itu berawal ketika Agil, teman seusianya, lewat di depan rumahnya. Agil baru datang dari pasar bersama ibunya. Ia menenteng sebuah buku tulis baru. “Imah, Yadin…aku baru beli buku baru niih! Kata Ibu, Rabu depan aku masuk sekolah!” kata Agil, pamer pada Imah dan Yadin yang sedang asyik main rumah-rumahan tanah di bawah pohon kersen yang tumbuh di samping halaman rumah Satta.
“Coba lihat sini!” panggil Yadin dan Imah nyaris bersamaan.
Dengan melompat-lompat kegirangan, seperti anak sapi yang menghampiri induknya, Agil segera menghampiri Imah dan Yadin. Ia memperlihatkan buku barunya.
“Bagus sekali! Ada gambar doraemonnya,” kata Yadin.
“Iya, seperti yang di TV Haji Latip itu!” timpal Imah.
“Jangan dipegang! Tanganmu belepotan tanah. Nanti bukuku kotor!” cegah Agil, ketika Imah mau meraih buku di tangannya.
Imah pun terdiam. Ia membatalkan hajatnya.
“Kalau bapakku, mau belikan baju seragamku hari Selasa depan, di pasar Gapura,” kata Yadin.
“Kalau Imah, kapan?” tanya Agil.
“Tidak tahu! Nanti aku tanya nenekku dulu,” jawab Imah.
“Gil…ayo pulang dulu! Bukunya letakkan di rumah dulu, Agil ganti baju dulu, nanti baru main lagi!” ajak Adah, ibu Agil yang mulai tadi menunggu. Agil pun melompat-lompat menghampiri ibunya dan bergegas pulang.
Sejak saat itu, sekolah, buku, seragam, tas, pensil dan penggaris menjadi kosa kata baru dalam percakapan sehari-hari antara Imah dengan Yadin atau Agil, sekaligus menjadi pertanyaan-pertanyaan yang berkali-kali ia lontarkan kepada Satta, neneknya. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah bongkahan-bongkahan batu yang selalu menghimpit dada Satta. Adalah belati yang mengiris perasaanya. Mendatangkan beban berat dan rasa perih di perasaannya.
Memang sudah saatnya Imah masuk sekolah. Ia lebih muda lima hari dari Agil yang anak sopir angkutan pedesaan, bahkan tujuh bulan lebih tua dari Yadin yang anak pedagang genting itu. Kedua sahabat Imah itu sudah akan masuk sekolah di tahun ajaran baru ini. Tapi penghasilan dari tiga batang pohon kelapa dan beberapa pohon pisang di pekarangan serta ongkos mengupas kulit kacang atau menyiram tembakau tidak memungkinkan Satta untuk menyekolahkan Imah di tahun ini. Semua itu hanya cukup untuk makan. Tidak cukup untuk uang saku setiap hari. Tidak cukup untuk bayar ongkos becak setiap hari. Tidak cukup untuk bayar SPP tiap bulan. Tidak cukup untuk beli baju seragam baru.
Pernah terpikir oleh Satta untuk berhutang kepada Haji Latip, tapi dengan apa dia akan membayar kelak. Akhirnya, setiap pertanyaan Imah, “Kapan beli seragam?” atau “Kapan beli buku baru di pasar Gapura?” selalu Satta jawab dengan, “Nanti kalau sudah banyak uang!” Ini adalah jawaban yang yang cukup jitu selama ini. Tapi sampai kapan ia akan menjawab seperti itu?
“Neek…!” suara Imah mengigau lirih seperti merintih. Tubuhnya yang tadinya miring, kini terlentang. Tangannya yang mungil bergerak seperti mencari sesuatu, tapi matanya masih terpejam.
Satta meninggalkan kacang-kacang di dalam panci yang sejak tadi dikupasnya, mendekati Imah dan berbaring di sampingnya. Ia menepuk-nepuk pelan paha bocah itu lalu mendekatkan kepalanya dan meniup kening Imah yang ditumbuhi bulir-bulir keringat sebiji beras. Ia tiup kening itu pelan-pelan dengan sepenuh hati. Bau tubuh Imah yang khas segera menerobos masuk ke dalam hidung Satta.
Mencium bau khas keringat Imah, mengingatkan Satta kepada Laway, anaknya dan Ibu Imah, yang telah meninggal satu setengah tahun yang lalu. Laway meninggal bukan lantaran penyakit tumor dalam perut yang dideritanya, tapi karena kemiskinan yang bersarang dalam kehidupannya. Ia tidak dirawat sebagaimana mestinya karena tidak ada biaya. Tiga gram emas, seekor kambing dan tiga ekor ayam telah habis dijual untuk biaya perawatan awalnya. Tapi tidak ada hasilnya.
Kata dokter, Laway harus menjalani operasi dengan biaya sekitar empat jutaan lagi. Uang dari mana sebesar itu? Dawi, suami Laway yang merantau ke negeri jiran Malaysia, tidak mungkin diharapkan. Jangankan mengirim uang untuk nafkah anak dan istrinya, mengirim kabar pun tidak. Seakan dia telah tenggelam di sebuah negara bernama Malaysia, yang Satta sendiri tidak tahu di sudut bumi sebelah mana negara itu berada.
Akhirnya Satta memutuskan untuk merawat Laway, anak semata wayangnya itu, dengan pengobatan tradisional, mencari pengobatan alternatif atau pengobatan mantri desa yang tidak sampai berbunyi juta-juta, hanya ratusan ribu saja. Dua batang kelapa di belakang rumahnya pun ditebang untuk biaya perawatan Laway di rumah dan untuk makan juga. Tapi Laway bukannya bertambah membaik. Kian hari penyakit Laway bertambah parah.
Yang tersisa hanyalah empat batang kelapa dan tiga ekor ayam betina. Tidak mungkin untuk menjualnya lagi, karena semua itu adalah sumber makan tetap mereka. Laway pun tidak mau diobati lagi. Ia selalu berkata, “Tidak usah, Mak! Mungkin sudah garis nasib saya.” Selalu begitu kata-kata Laway kalau Satta mau mengundang orang pintar atau mantri kesehatan dari kampung sebelah untuk mengobatinya.
Enam setengah bulan Laway hanya bisa tergolek lemah di atas ranjang di rumah dan dua bulan dia dibiarkan tanpa usaha pengobatan yang semestinya. Perutnya yang menjadi sarang tumor itu mengeras. Tubuhnya kering seperti pohon yang meranggas kekurangan air. Matanya cekung. Jari-jarinya yang dulu berisi, kini tinggal ruas-ruas tulang menonjol yang dibungkus kulit keriput.
Seminggu sebelum penyakit itu menamatkan riwayat hidupnya pada lembaran yang terakhir, permintaan Laway hanya ingin tidur dengan ditemani Imah. Imah pun nampaknya juga tidak mau jauh-jauh dari ibunya. Selesai mengaji di surau Haji Pagi, sekitar jam tujuh malam, Imah biasanya langsung merebahkan tubuhnya di samping ibunya sampai tertidur.
Satu hari menjelang ajalnya, Laway berkali-kali menitipkan Imah kepada Satta. “Mak…nampaknya saya sudah tidak akan lama lagi. Saya titip Imah, Mak,” kata Laway dengan suaranya yang sangat dipaksakan, namun tetap saja sangat lirih terdengar.
Kata-kata Laway yang seperti berpamitan itu mengiris-ngiris hati Satta. Ketika itu, ia menjawab kata-kata Laway itu dengan mengatakan bahwa Laway pasti akan sembuh dan masih bisa merawat Imah dengan sebaik-baiknya sampai dia masuk sekolah kelak, sampai kuliah, bahkan sampai Imah menikah. Dengan tenang dan meyakinkan, Satta mengatakan itu. Mendengar jawaban ini, Laway pun terdiam dan tersenyum getir. Sangat getir. Setelah itu, Satta beringsut ke belakang rumah, menjauh dari pandangan Laway dan menumpahkan air matanya yang sudah berjejalan berebut keluar. Air mata itu segera menganak sungai. Satta menahan sesenggukan di belakang rumah. Ia tak mau Laway melihatnya menangis.
Hari itu, saatnya telah tiba. Laway dijemput maut sehabis maghrib, setelah menunaikan shalat dengan berbaring. Imah yang memang tidak berangkat mengaji ke surau karena kondisi kritis ibunya, hanya menangis di sisi ibunya yang mulai kaku. Satta memeluk cucunya yang kini menjadi yatim dengan air mata terus mengalir di pipinya. Saudara dan tetangga segera berdatangan. Mengucapkan bela sungkawa, menghibur Imah dan membantu mempersiapkan pengantaran Laway ke pembaringan terakhir.
Sejak saat itu, Satta memposisikan diri sebagai bapak sekaligus ibu dari Imah. Dialah yang mengambil alih tanggung jawab kedua orang tua Imah. Makan sehari-hari ia dapatkan dari hasil menjual buah empat batang pohon kelapa yang tersisa dan beberapa pohon pisang di pekarangannya. Itu adalah pendapatan tetapnya. Selain itu ia juga bekerja upahan musiman, seperti menyiram tembakau atau memetiknya, mengupas kulit kacang tanah, atau mengumpulkan daun-daun jati, daun-daun bambu, atau daun-daun kelapa untuk dijual kepada pembuat genting di desa Andulang.
“Iih…,” Imah meringis lirih dan membalikkan tubuhnya, membuyarkan Satta dari lamunannya.
Satta yang masih berbaring di sisi Imah segera mengusap-usapkan tangannya di atas lengan Imah. Ia terus lakukan itu dengan penuh perasaan, sampai akhirnya lelap mengantarkan dirinya dan Imah ke alam mimpi.
***
“Neek…minuum!” seru Imah membangunkan Satta dari lelapnya.
Satta segera bangun, bergegas ke belakang, lalu kembali dengan segelas air. Satta melirik jam weker di atas meja. Jarumnya menunjukkan jam 02.10 dini hari.
“Duduk, sayang!” kata Satta.
Imah pun duduk dengan dibantu tarikan tangan kiri Satta. Satta memberikan gelas di tangan kanannya. Imah segera minum. Setengah gelas ia teguk, dan sisanya ia serahkan kepada neneknya. Satta beranjak ke belakang mengembalikan gelasnya, lalu ia kembali ke ranjang.
“Lho…kok masih duduk, sayang? Ayo tidur, ini masih malam lho!” kata Satta.
“Nek…kapan Imah sekolah?” tanya Imah seperti tidak mendengar perkataan Satta.
Pertanyaan itu seperti menohok tajam ke dada Satta. Pertanyaan seperti ini yang beberapa hari terakhir ini sangat tidak diharapkannya.
“Iya nanti, kalau sudah banyak uang,” jawab Satta sekenanya.
“Nek…Imah mau sekolah besok. Agil mau sekolah besok. Yadin mau sekolah besok. Ima juga mau masuk sekolah besok!”
“Iya, iya, kalau besok banyak uang, Imah sekolah besok. Sekarang tidur dulu, nanti didatangi baung[1] lho!”
“Pokoknya, Imah mau besok, Neek! Pokoknya besok besook! Besook, Neek! Besook, Neek!” Imah mulai merengek. Air matanya mengali dari matanya yang sangat mirip dengan Laway, almarhum ibunya. Hati Satta terenyuh mendengar suara rengekan cucunya. Wajah Laway kembali membayang dalam ingatannya.
“Iya, sekarang tidur dulu. Apa Imah mau nenek gendong?! Digendong, ya!? Nenek gendong, Ya!? Cup…cup…cup.”
“Neek…Imah mau sekolah besok, dengan Agil dan Yadin. Pokoknya besok, Neek!” rengek Imah mulai pecah menjadi permulaan tangis. Hati Satta semakin tersayat. Ngilu ia rasakan di sudut dadanya.
“Iya, sekarang Imah tidur. Besok sekolah. Besok ke sekolah. Tidur dulu yaa!? Tidur dulu, ya!? Cup…cup.”
Mendengar jawaban Satta, Imah pelan-pelan mulai berhenti menangis. Seakan ingin memastikan jawaban neneknya, dengan masih merengek dia bertanya, “Benar, Nek?! Benar ya, Nek!?”
“Iya, benar!” jawab Satta meyakinkan. Padahal, Satta sendiri tidak yakin apakah Imah bisa kenal dengan bangku sekolah dengan kondisi ekonomi mereka seperti saat ini.
“Seragamnya beli di mana, Nek? Di Gapura apa Bintaro?” tanya Imah.
“Ya gampang, nanti. Sekarang Imah tidur dulu yaa!? Yuk tidur ya!! Tidur ya!?”
Imah nampak mulai tenang. Satta membaringkan cucunya itu. Ia mengusap-usap dan sesekali mengipas-ngipaskan ujung kain ke tubuh cucunya itu sampai terlelap. Mungkin bermimpi tentang seragam yang dipakai ke sekolah. Atau tentang buku baru. Atau pensil baru. Atau penggaris baru. Atau bermimpi bertemu sahabat dan guru baru.
Malam berselimut sunyi terus merambat perlahan ditingkahi suara kerik belalang dan cicit kalelawar. Berkali-kali Satta mengusap dadanya dan menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya sepanjang mungkin, seakan melepaskan semua beban yang menghimpit hidupnya.
Sebelum mimpi menenggelamkannya, hanya satu harapan Satta di esok hari: tidak ada lagi pertanyaan Imah tentang sekolah, karena dia sudah kehabisan kata untuk membohonginya.
25/2/08/22:22
[1] Baung adalah bahasa Madura: sejenis hantu yang biasa disebut orang tua untuk menakut-nakuti anak-anaknya.
aduh…ceritanya menyedihkan
makasih komentarnya!!
p’tama ngliat judulnya..
“ah, ini pasti tentang p’cintaan..!!”
tapi t’nyata: emm..em..
“cinta yang tak t’katakan..”
T_T
Penggambarannya sangat jelas dan pemilihan kata-kata yang sederhana membuat bacaan ini ringan dan enak dibaca. Sekali baca tak mau berhenti sampai habis. Well done!
mantap…
bagus juga tuh ceritanya,….
menceritakan tentang keadaan desa,
hampir mirip dengan yang pernah terjadi kepada saya…..:((
sangat menyedihkan dan mengharukan…
Singkat..namun mempunyai makna yang benar - benar menyentuh hati…sangat disayangkan sekali apabila ada orang yang sudah bersekolah namun dia selalu melalaikan apa yang seharusnya dia kerjakan sebagai anak sekolah…karena sebagaimana kita tahu bahwa masih ada teman - teman kita yang ingin bersekolah tetapi tidak mampu….so…bersyukurlah kita yang sudah berskolah…