KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Dan Langit pun Tersenyum

Sambil menggigit rotinya, Rena memperhatikan dua orang yang sedang bermain layangan itu dari jauh. Dia heran sendiri mengapa rasa rotinya hambar. Padahal di bungkus plastiknya tertulis jelas ‘Roti Cokelat’.

Mungkin angin yang pagi itu bertiup kencang telah menerbangkan cita rasanya jauh-jauh meninggalkan pantai tempatnya sedang duduk sendiri di sebuah bangku semen. Ataukah lidahnya yang memang telah kehilangan kemampuan mengecap rasa, sebagaimana hatinya yang tengah kehilangan harapan?

Rena hanya menyendiri dalam sepi sambil terus mengigit rotinya, walau setiap gigitan itu menjadi semakin tidak enak. Wajahnya yang kuning langsat dibingkai jilbab biru, sebiru lautan luas yang terhampar di hadapannya dan langit yang cerah berawan di atasnya, berusaha menyembunyikan perasaannya.

“Kok menyendiri sih, Bukannya have fun bareng temen-temen yang laen?” Sebuah suara membuyarkan suasana hening yang berusaha diciptakan Rena. Aldi rupanya sudah duduk di sampingnya.

“Rena lagi nggak mood nih.” Jawabnya. Rena tidak ingin diganggu, sebenarnya. Dia hanya ingin menyendiri meratapi kesedihannya. Tapi dia juga tidak mau mengusir Aldi.

Aldi tahu bagaimana perasaan Rena, karena memang tidak sulit menebak ekspresi wajahnya. Rena biasanya selalu ceria dan tak pernah melepaskan senyuman dari wajahnya. Sangat kontras dengan rona wajahnya sekarang.

“Ada banyak hal yang bisa menghiburku jika sedang murung,” ucap Aldi, “tapi yang paling kusukai adalah langit.”

Aldi berdiri, lalu menengadah ke langit biru dengan tersenyum. Lama, dia membiarkan keheningan kembali menjalar, lalu dia menutup matanya, dan membukanya lagi. Dia tahu Rena mulai memperhatikan kata-katanya, maka dia melanjutkan,

“Siang hari ada awan, dan malam hari ada bintang-bintang dan rembulan. Dan yang paling penting, langit ada di mana-mana. Bukankah itu berarti kau selalu punya teman setia?

“Perhatikan awan di atas sana! Tersenyumlah, dan apa yang kemudian kau lihat? Memang, hal itu tidak harus sama dengan yang dilihat orang lain. Tapi banyak hal yang bisa dilukiskan oleh awan, tergantung apa yang ingin kau lihat.”

Aldi mengakhiri dengan tersenyum pada Rena yang perlahan akhirnya mulai membiarkan senyuman merekah di wajahnya yang cantik.

“Terima kasih!” ucap Rena pada Aldi. “Itu sangat menghiburku.”

***

Sore hari, ketika bus pariwisata yang membawa rombongan studi wisata itu menikung masuk ke sebuah jalan, Rena mulai bisa mengikis kesedihan di hatinya. Dan sepertinya tidak ada yang tahu kalau hari ini dia bersedih, kecuali Aldi.

Cowok itu duduk di barisan kursi paling belakang bersama kawannya. Mereka berbicara sambil tertawa-tawa kecil. Kawan Aldi, Arga, memegang sebuah layangan berwarna oranye, dan menceritakan kesenangannya bermain layangan hari ini.

Ketika bus akhirnya berhenti di depan sebuah hotel, satu persatu penumpangnya mulai turun dan melangkah memasuki hotel. Rena, bersama sahabatnya Fira, berjalan sambil bercerita mengenai kesan hari ini. Fira senang akhirnya bisa menerbangkan layangan untuk pertama kalinya, dan dengan gembira dia menceritakannya pada Rena.

***

Malam itu penuh bintang yang berkelap-kelip menghias langit. Bulan muda yang baru terlihat sepertiganya bersinar pucat, menambah pucat wajah Rena yang waktu itu sedang berdiri menengadah di atap hotel.

Air mata bening menetes dari pelupuknya yang terkatup. Rena menangis. Itulah air mata yang tadi sore tertahan di balik tawa palsunya pada sahabatnya. Syukurlah, karena dia tidak ingin sahabatnya tahu kalau dia bersedih. Dia tidak ingin sahabatnya tahu, bahwa dialah yang membuatnya bersedih. Itu bukan salah siapa-siapa. Rena tahu bahwa dirinyalah yang bersalah, karena dia terlalu mencintai seseorang.

Di tempat yang tidak terlihat oleh Rena, seseorang duduk di balik bayang-bayang gelap sambil memperhatikan cewek itu sedang menangis dari jauh. Hatinya sedih, tapi dia bukanlah tipe orang yang cengeng. Dia hanya diam sambil sesekali memandang langit. Hiburlah aku, desahnya.

***

“Hari ini benar-benar menyenangkan!” ungkap Fira. Senyum ceria memang tidak pernah lepas dari wajahnya seharian ini. “Tahu nggak, aku nggak akan ngelupain hari ini seumur hidupku. Banyak hal menyenangkan yang terjadi.”

Rena yang mendengarkan tersenyum, “Oh ya, apa aja?” Tanyanya.

“Hari ini aku akhirnya bisa nerbangin layangan buat yang pertama kalinya seumur hidupku. Awalnya aku nggak nyangka kalo bakalan diajak main layangan sama Arga, tapi begitu dia liat ada yang jual layangan, Arga langsung ngajak aku main. Aku bilang ‘Aku nggak bisa main.’ Tapi dia bilang bakal ngajarin aku caranya. Ya, aku mau aja akhirnya. Trus, dia ngajarin aku. Ternyata main layangan nggak susah-susah amat. Ato mungkin karena Arga yang ngajarin ya, jadi aku cepet bisa. Tapi memang nggak susah kok. Dan, yang nggak akan kulupa, waktu Arga ngajar aku…, dia nyatain cintanya ke aku. Aku kaget banget, nggak nyangka dia bakal ngelakuin itu. Dan, aku terima.”

“Oh ya!? Selamat ya kalo gitu!” ucap Rena memberi selamat pada sahabatnya. Walaupun sebenarnya hatinya sedang remuk, dia tetap memaksakan senyum paling ceria di wajahnya.

***

Telepon di kamarnya berdering. Jam di dinding masih menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Dengan linglung Arga mengangkatnya sambil bertanya dalam hati siapa yang menelepon malam-malam begini.

“Halo?”

“Ga, aku pengen ngomongin sesuatu ama kamu. Ke atap ya, ini penting! Trek…. tuuut… tuuut… tuut…”

Ada apa sih dia menyuruhnya ke atas sana malam-malam begini, kalau ketahuan guru bisa gawat jadinya. Katanya penting, tapi masa harus tengah malam seperti ini? Arga bertanya-tanya dalam hati selama perjalanannya meniti tangga menuju atap hotel. Sesekali dia menguap karena memang masih mengantuk.

Begitu pintu atap dibuka, hawa dingin lagsung menerkam. Arga menggigil memeluk diri sendiri. Lalu dilihatnya orang yang memanggilnya berdiri memunggunginya di sisi atap, bersandar pada pagar pembatas.

Arga mendekat dan bertanya, “Ada masalah penting apa yang perlu dibicarakan?”

***

Keesokan harinya mereka berwisata ke daerah pegunungan, sebuah desa yang berada di puncak gunung tinggi. Dari sana terlihat danau luas di salah satu lembahnya, beriak tenang di antara barisan pegunungan hijau. Hawa daerah itu sangat dingin dan angin berembus kencang meniup punggung pegunungan yang ditumbuhi pohon-pohon pinus.

Orang-orang menikmati panorama indah itu dari salah satu sisi pegunungan yang mengarah ke danau di bawahnya. Mereka duduk di sepanjang pagar pengaman jalan, dan ada juga yang berjalan-jalan di trotoar.

Bus pariwisata yang ditumpangi rombongan Rena berhenti dan parkir di depan salah satu toko oleh-oleh. Sebagian besar rombongan turun untuk menikmati pemandangan dan membeli oleh-oleh, tetapi Rena tetap tinggal di bus. Hari ini dia kembali jadi pendiam, tidak berkata sepatahpun sejak pagi, bahkan tadi pagi dia tidak menyentuh sarapannya sedikitpun.

“Kamu kenapa Ren, sakit?” tanya Fira yang duduk bersebelahan dengannya.

“Aku nggak apa-apa kok. Cuma nggak semangat aja,” jawab Rena sambil terus memandang ke luar jendela melewati kaca.

“Bener, kamu nggak papa?”

“Iya, aku nggak papa. Sudah sana, kamu mau nikmatin pemandangannya kan? Ntar busnya keburu berangkat lho.”

“Ya udah. Ntar aku beliin buah deh,” ucap Rena. Kemudian dia pun pergi bersama Arga.

Entah berapa lama dia bisa bertahan dengan perasaan ini. Dia hampir tidak sanggup lagi terus berpura-pura di hadapan Fira. Setiap kali ingat wajah Arga, Rena merasa hatinya membeku. Tapi dia juga masih menganggap Fira sebagai sahabatnya yang paling dekat, dan dia tidak ingin merusak kebahagiaan sahabatnya itu.

***

“Lho! Wajah kamu kenapa Ga?” tanya Fira ketika melihat memar di bawah mata kiri Arga.

Arga tersenyum, “Oh, ini gara-gara terbentur kepala Reza tadi pagi pas aku bangunin dia. Nanti juga sembuh.”

“Memang kepalanya Reza sekeras batu ya, kok bisa sampe memar kayak gitu?”

“Kayaknya sih lebih keras,” jawab Arga dengan nada bercanda.

“Udah diobatin?” tanya Fira. Tanpa menunggu jawaban dia langsung merogoh tasnya dan mengeluarkan minyak gosok. “Sini, biar aku obatin!”

Fira mengoleskan minyak gosok ke luka memar di wajah Arga dengan lembut.

“Adududuh…!” jerit Arga pelan.

“Sakit?” tanya Fira.

“Ah nggak. Enak malah, lagi dong!”

***

Aldi yang dari tadi hanya diam di kursi paling belakang berdiri. Dia akhirnya berhasil mengumpulkan semua keberanian yang dibutuhkan untuk melakukan hal yang selama ini tidak mampu dilakukannya.

“Kamu udah puas?” tanya Arga setelah Aldi selesai mengeluarkan semua amarah yang terpendam di hatinya. Wajahnya sakit akibat pukulan dari Aldi, tapi dia sama sekali tidak membalas.

Aldi diam.

“Aku pikir selama ini kamu memang benar-benar mencintainya. Tapi ternyata aku salah,” ucap Arga. “Kamu nggak secinta itu sama dia, kan.”

“Maksud kamu apa?” tanya Aldi tidak mengerti.

“Kamu nggak bisa ngeyakinin dia kalo kamu cinta sama dia, kamu hanya bisa ngehibur dia buat ngelupain kesedihannya, tapi nggak bisa ngebuat dia bahagia.”

“Itu karena dia nggak mencintai aku. Dia malah cinta sama laki-laki sepertimu,” ucap Aldi emosi.

“Dan aku nggak akan pura-pura cinta dia kalo aku memang nggak cinta. Aku cinta sama Fira, dan dia juga cinta aku. Masalah kami udah selesai. Itu masalah kamu ama dia, bukan aku. Dan aku tau dia sebenarnya juga suka sama kamu, tapi dia belum sadar akan hal itu. Harusnya kamu bisa nyadarin dia kalo kamu cinta sama dia, dengan begitu dia bakal sadar kalo ternyata dia juga cinta kamu.”

Di bawah bintang-bintang dan rembulan muda yang sinarnya pucat, Aldi lagi-lagi hanya bisa terdiam mendengar ucapan Arga. Lambat laun angin malam mandinginkan kemarahannya, dan dia akhirnya sadar apa yang selama ini ada di hatinya. Dia harus mengakui kesalahannya pada Arga.

“Hari ini cerah dan berawan, kata ramalan cuaca.”

Lagi-lagi suara itu yang terdengar. Padahal Rena hanya ingin sendirian, tapi suara itu selalu saja muncul di saat-saat seperti itu. Dan Aldi duduk di sebelahnya.

“Di, aku pengen sendirian. Please Biarin aku sendiri!” pinta Rena.

“Aku pasti orang paling bodoh sedunia kalau ninggalin kamu sendirian dalam kesedihan, padahal kamu butuh seseorang yang bisa menghiburmu. Kalau langit tidak bisa, kuharap aku bisa menghiburmu.”

Rena menangis. “Di….”

Kata-katanya langsung terpotong ketika merasakan jemari Aldi menghapus air mata dari pipinya. Dia terpaku. Baru kali ini ada cowok yang menghapuskan air matanya. Rena tidak jadi melanjutkan kata-kata yang tadi ingin diucapkannya.

“Aku cinta kamu, Rena!” ucap Aldi pelan tapi jelas. Ditatapnya mata indah Rena untuk memberi tahu perasaannya yang sesungguhnya. Mata itu, Aldi ingin melihatnya dalam senyuman lagi.

Lama, Rena juga hanya menatap Aldi. Kata-kata Aldi barusan seolah telah membekap mulutnya dan membekukan lidahnya. Ia seperti lupa bagaimana cara bicara. Nafasnya berat karena tangisnya memang belum reda.

“Jangan bercanda Di!”

“Selama ini aku suka sama kamu, Ren. Tapi aku nggak mampu ngungkapin itu. Akhir-akhir ini kamu sering murung, dan aku pikir aku tahu sebabnya. Tapi aku nggak pernah kehilangan perasaan itu. Dan yang kulakukan hanya menghapus kesedihan di wajahmu, tapi nggak pernah bisa ngebuat kamu tersenyum lagi. Kalu memang kita nggak ditakdirkan bersama, paling tidak aku ingin buat kamu tersenyum lagi. Aku ingin kamu bahagia. Aku nggak bercanda Ren!” Aldi berucap.

Dan segalanya berubah. Entah mengapa dalam sekejap seluruh beban kesedihan Rena hilang begitu saja, seakan sesosok malaikat telah mengangkatnya dan membuangnya jauh-jauh. Hatinya luluh, dan dia menangis lagi, tetapi bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan.

Aldi berniat menghapus air mata itu lagi namun tangan Rena menangkap pergelangan tangannya.

“Jangan! Air mata ini jangan dihapus,” ucapnya dengan suara bergetar, “ini air mata bahagia. Maafin aku Di, selama ini aku nggak nyadari itu. Aku bahkan nggak tahu, kalau ternyata aku juga cinta kamu.” Rena tersenyum.

Dia baru menyadari kebodohannya. Padahal selama ini ada orang yang mencintainya dengan tulus, tapi dia malah mengharapkan cinta dari orang lain yang tidak mencintainya. Harapannya hanya pada satu hal, dan segalanya ditautkannya pada satu harapan itu. Sampai-sampai dia tidak menyadari, ada hal lain yang mungkin tidak diharapkannya sama sekali, tapi itulah yang terbaik butnya. Kadang kita terpaku hanya pada satu pintu yang terkunci, sampai-sampai tidak menyadari pintu-pintu lain yang terbuka.

Dari jauh Arga memerhatikan Aldi dan Rena. Akhirnya dia tersenyum.

“Kenapa Ga, kok senyum-senyum sendiri?” Fira bertanya.

“Nggak ada apa-apa. Aku cuma tersenyum, karena hari ini langit juga tersenyum. Dan di bawahnya, aku bisa bersama orang yang kucintai sepenuh hati.”

Fira tersenyum. Dia memang sangat bahagia hari ini. Langit biru, tersenyum di horizon. Senyum itu terpantul di permukaan danau. Air mata kadang justru memperindah senyuman, sebab di baliknya ada cerita penuh makna.

5 Responses to “Dan Langit pun Tersenyum”

  1. on 11 Sep 2008 at 16:19davit

    basiiiii bangetttttttt !!!!!!!!

  2. on 12 Sep 2008 at 14:39nja_nja

    bagus sih… Tapi masa Rena sadarnya cepet banget sih?? Padahal baru beberapa menit yang lalu dia ngerasa kecewa. Kayaknya gag segampang itu dech…

  3. on 13 Sep 2008 at 08:42restu

    romantis…tapi ngebosenin

  4. on 13 Sep 2008 at 22:00maylan st john

    Awal ceritanya sudah bagus, pertengahan mulai bisa ditebak, dan endingnya ?????? Rena kok tidak berpendirian begitu sih?
    F_as_luki …. how old are you ???? have you fallen in love before?

  5. on 27 Sep 2008 at 11:08puri

    terlalu sederhana,g mungkin kan seseorang nglupain perasaannya secepat itu..?

Tinggalkan Komentar