KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Akhirnya Usop Sunatan

Terik panas matahari siang telah membuat fatamorgana daerah sekitarnya, selain itu terik panas matahari siang juga telah dirasakan sampai ke ubun-ubun kepala bagi orang-orang yang ada di bawahnya. Panas matahari siang juga dirasakan oleh seorang anak laki-laki yang tengah berdiri di lapangan sepakbola di sebelah warung. Anak laki-laki yang berparas manis dengan tubuh kecilnya tampak kebingungan di tengah lapangan. Kedua matanya sesekali melotot begitu pula giginya yang sesekali beradu.

“Aduh, di mana sih itu kelereng?” tandasnya. Kali ini ia membungkukan badannya yang kecil dan jalan merangkak di lapangan.

“Perasaan tadi jalan ke sana, deh!” gumamnya sekali lagi dan ia masih terus membungkukkan badan kecilnya itu. Tiba-tiba muncul dari seberang lapangan, seorang anak yang berbadan besar sambil menggenggam puluhan kelereng.

“Eh, Usop! Lagi ngapain?” tanyanya.

“Lagi main kelereng! Kamu sendiri lagi ngapain, Dong?”

“Aduh, Usop, Usop, banyak kelereng di tanganku tentunya aku mau main kelereng!” jelas Odong.

“O… begitu!”

“Sop, kamu beneran main kelereng? Kok gak ada sih kelerengnya?” tanya Odong.

“Ini aku lagi cari. Tadi ilang!” tandas Usop.

“O… begitu! Jadi kamu cuma punya satu kelereng ya, Sop?” tanya Odong.

“Iya!”

“Kasihan ya kamu! Lihat nih, aku banyak kelereng yang diberikan bapakku karena aku mau sunat,” jelas Odong sambil memperlihatkan puluhan kelereng di kedua tangannya.

“Jadi kamu sudah sunat, Dong?” tanya Usop dengan kaget.

“Iya dong, aku kan pria sejati!” tegas Odong dengan raut wajah bangga setengah tertawa.

“Kapan, Dong?”

“Sudah lama kok, tapi belum dipestakan! Memangnya kenapa, Sop? Kamu sudah sunat belum?” tanya Odong tiba-tiba.

“Belum.”

“Kenapa? Kamu takut ya??” goda Odong.

“Bukan, bukannya aku takut, tapi aku belum siap! “jawab Usop kebingungan.

“Ah, kamu bohong, kamu takut kan?”

“Enggak kok, Dong.”

“Sudah jangan bohong sama aku. Kamu takut kan?” goda Odong kembali dan kini ia terus melanjutkannya pada Usop.

“Usop takut sunat, Usop takut sunat!”

Suara ledekan Odong seakan tengah mengisi kekosongan lapangan yang kini semakin panas saja. Usop berusaha mengacuhkannya tapi itu justru semakin memancing Odong untuk terus mengejeknya. Akhirnya Usop memutuskan untuk melarikan diri dari pandangan Odong yang telah telah memejamkan matanya karena asyiknya tertawa dan tidak menyadari kepergian Usop dari hadapannya.

Sejak kejadian itu Usop selalu menjadi bahan ejekan Odong. Setiap bertemu, Odong selalu mengejek Usop tentang dirinya yang takut sunat. Dan sejak saat itu Usop ingin membuktikan dirinya sebagai pria sejati dan ingin menjadi dewasa seperti yang ditegaskan Odong. Kini setiap hari Usop selalu berusaha menguatkan dirinya agar tidak takut dan siap untuk sunat, selain itu Usop juga berjanji pada dirinya agar Odong yang terus mengejeknya akan merasakan akibatnya.

Matahari pagi sudah menampakkan sinarnya yang indah dan hal itu juga disambut dengan suara kicauan burung dan sahutan ayam yang berkokok yang sudah terdengar sejak subuh. Sinar matahari pagi, kicauan burung dan suara ayam yang berkokok merupakan salam penyambutan pagi bagi setiap orang agar terbangun dan turut merasakannya.

Pagi indah itu merupakan awal dari keyakinan dan keteguhan Usop dalam menjalani janjinya agar menjadi orang yang berani. Berani dalam segala hal termasuk dalam menghadapi Odong yang sebulan belakangan terus mengganggunya dan segala hal yang telah diucapkan Odong kepada orang-orang tentangnya yang membuatnya nyaris terasing dari pergaulannya.

Langkah kaki kecilnya melangkah melewati ruang demi ruang dalam rumahnya dan langkah itu terhenti tepat di depan dua orang yang tengah duduk di teras depan rumahnya.

“Eh, Usop udah bangun, ya? Udah sholat subuh belum?” tanya Pak Otoy, ayah Usop yang sedang duduk dengan secangkir kopi di tangannya.

“Udah Pak!”

” Pak, Usop mau bicara penting sama bapak,” tegas Usop.

“Penting! Beneran kamu mau bicara penting sama Bapak, tentang apa?” tanya Bapak.

“Iya Sop, tumben kamu mau bicara penting,” tukas Kak Neneng yang dari tadi sibuk menyisir rambutnya kepada Usop.

“Pak, Usop mau sunat.”

“APA!!!” sentak Bapak dan Neneng kaget.

“Usop mau sunat, Pak,” mohon Usop sekali lagi.

Kalimat Usop seketika membuat Bapak yang sedang menikmati secangkir kopi dan Neneng yang sedang menyisir merapikan rambutnya tersentak kaget dan tiba-tiba bangun dari duduknya dan dapat dilihat raut muka mereka berubah seketika.

Usop sadar kata-katanya tadi membuat bapak dan kakak perempuannya itu kaget.

Situasinya sekarang berubah terbalik, perkataan Usop tersebut membuat Bapak dan Kakaknya tersebut kecewa. Hal itu disebabkan karena alasan yang diutarakan Usop pada mereka.

“Usop ingin dewasa agar Odong tidak mengejeku lagi,” ujar Usop pagi itu.

…Δ…

Pagi yang indah sekaligus menegangkan bagi Usop akhirnya telah berakhir. Matahari pun telah naik dan panasnya kembali terasa sama seperti sebelumnya.

Usop tahu kalau harinya dimulai dengan buruk. Dan sepertinya ia tidak tahu bagaimana cara mengakhirinya. Siang ini ketika panas matahari telah dirasakan sampai ke ubun-ubun kepalanya, Odong, seorang anak yang belakangan harus membuat hidupnya buruk datang menghampirinya dengan dengan raut muka yang membuat Usop berpikir keras, “Apa yang akan dilakukannya lagi padaku sekarang?.”

“Usop!” sapa Odong.

“Apa?” jawab Usop sinis.

“Tunggu, tunggu, aku salah sebut, maksudnya Si Usop takut sunat. Ha…ha…ha,” ejek Odong tiba-tiba dan tanpa Odong sadari ucapannya telah membuat orang di hadapannya malu sekaligus marah.

“Maksud kamu apa, Dong?” tanya Usop.

“Masa kamu tidak tahu, aku yakin kamu pasti tahu dengan jelas kata-kataku tadi,” tegas Odong.

Kini Usop tahu apa yang dimaksud Odong dan habislah kesabarannya kini. Marah bercampur malu itu seketika meledak seperti sudah lama akan meledak. Usop yang marah tidak bisa mengendalikan lagi dirinya dan kepalan tangan itu tiba-tiba mendarat tepat di wajah Odong tepatnya lagi mendarat di pipi kanan Odong. Odong terjatuh dengan posisi badan terpelungkup dan tampaknya ia sudah tidak berdaya di atas tanah yang sekarang sudah memerah. Keduanya kini tersadar kalau mereka seperti sedang berada dalam suatu arena pertempuran. Usop adalah sang juara dalam pertempuran itu. Ia menang tanpa adanya perlawanan dari kubu lawan. Pertempuran itu akhirnya berakhir dengan sangat cepat.

Usop tersadar dari kendalinya dan di saat ia tersadar Odong yang sebelumnya terlihat tidak berdaya sudah menghilang dari hadapannya. Kini Usop berlari kencang tanpa arah tujuan. Ia merasa bersalah dengan apa yang telah diperbuatnya pada Odong. Tapi di sisi lain ia merasa dirinya benar dan tidak bersalah karena perbuatan Odong padanya sudah melampaui batas kesabarannya.

Usop berlari terus sambil berpikir tentang apa yang telah diperbuatnya. Dan akhirnya ia menghentikan langkah cepatnya itu di depan rumahnya. Usop berlari masuk ke dalam rumahnya, tetapi terlihat bapaknya sedang menunggu kedatangan Usop.

“Usop, kamu kenapa?” tanya Bapak dengan ekspresi kaget menatap Usop yang datang dengan napas cepat dan berkeringat.

“Enggak Pak, Usop gak apa-apa!” jawab Usop terputus-putus.

“Sop, Bapak mau bicara sama kamu!” perintah Bapak.

Usop perlahan melangkah, kini pikirannya tentang perbuatannya pada Odong berubah menjadi ketakutan. Ia takut kalau Bapak akan memarahinya karena Bapak tahu apa yang telah dilakukannya pada Odong tadi. Ia terus berpikir dan mempertanyakan sesuatu, “Apakah Bapak tahu aku telah memukul wajah Odong tadi? Apa yang harus kukatakan? Hari ini memang benar-benar hari sial buatku!”

“Duduk, Sop!” perintah Bapak.

“Ada apa, Pak?” tanya Usop sambil menampakkan wajah takutnya.

“Bapak tadi bicara dengan Ibu dan kami sudah buat keputusan.”

“Keputusan, keputusan apa, Pak?”

“Bapak sudah pertimbangkan ucapan kamu tadi pagi. Sebenarnya Bapak kecewa dengan apa yang kamu ucapkan tadi pagi, tapi Bapak yakin kamu sudah besar untuk melakukan khitanan,” tegas Bapak.

“Maksud Bapak?” tanya Usop penasaran.

“Kamu secepatnya akan disunat, kamu sudah siap?” tegas Bapak.

“Ah…gak mau ah, Pak!” tukas Usop tiba-tiba.

“Maksud kamu apa sih, Sop? Tadi pagi kamu bilang mau disunat sekarang kamu bilang tidak mau, mau kamu apa sih, Sop?”

“Sekarang terserah kamu, Sop!” tegas Bapak kembali.

Sesaat Usop berpikir keras memikirkan kenapa ia bisa mengeluarkan kata-kata itu, bukankah itu yang diinginkannya. Ia mulai ingat dengan ejekan Odong dan kini ia sudah mengambil keputusan.

“Baik Pak, Usop mau disunat!” tegasnya.

“Kamu ini plin-plan sekali, ya sudah jangan berubah pikiran lagi!” tegas Bapak.

“Iya Pak!” jawab Usop menyesal.

Seminggu sudah berlalu, Usop merasa senang. Hari ini adalah pesta sunatannya. Terlihat ramainya tamu. Suara musik dari orgen tunggal yang disewa keluarganya dan pemandangan yang ia tunggu-tunggu, kedatangan Odong. Masih terlihat jelas memar di muka Odong akibat ulahnya. Dan sekarang ia telah membuat Odong kalah dua kali dalam pertempuran tanpa merasa takut bersalah seperti perbuatannya yang dulu pernah ia lakukan pada Odong. Muka bangga Usop terlihat jelas dan kini ia sudah dapat mengatakan, “Akhirnya Usop sunatan”

Tinggalkan Komentar