Tanah-Tanah Emas
September 3rd, 2008 by nrinawati
Kulihat ada perubahan yang sangat besar semenjak aku tinggalkan tanah kelahiranku, para petani tertawa girang setiap hari. Sudah seminggu sejak tersiar kabar tentang penemuan keramik Cina oleh salah seorang warga, orang-orang menjadi gila. Tetanggaku yang sebenarnya pemalas tiba-tiba berubah menjadi petani tangguh yang rela diguyur hujan dan dihantam badai demi mendapatkan kepeng bolong atau sekadar pecahan patung peniggalan Majapahit di sela-sela lumpur mereka. Belum lagi tingkah pembuat bata merah yang kegirangan karena di tanah galiannya terdapat beberapa potongan patung dan manik-manik. Maka melihat perilaku orang-orang ini aku seolah mendapati para pemburu harta karun yang lupa diri. Kelakuan mereka semakin menjadi ketika barang-barang antik itu ditaksir jutaan rupiah oleh penadah-penadah dari kota.
Pagi ini istriku mati-matian mengupayakan makan pagi. Setidaknya hari ini ia sedikit manusiawi, karena sejak aku berkenalan dengan lumpur pasca pengunduran diriku sebagai abdi negara di salah satu instansi pemerintah, aku selalu berangkat memanggul cangkul dengan lambung yang hampa. Istriku itu tentu memiliki harapan yang luhur atas apa yang ia upayakan pagi ini. Secara halus, sebenarnya istriku ini ingin berkata, “ Wahai suami andalanku, singsingkan lengan bajumu. Segeralah engkau telusuri pagi yang senyap ini karena aku tak mau engkau kalah bersaing dengan tetangga-tetangga kita yang tempo hari menemukan piring emas…”
Matahari masih belum terjaga ketika kakiku menapaki jalan berbatu yang tergelar angkuh di depan mata. Ia seumpama musuh yang menantang untuk ditaklukkan setiap hari. Rumput-rumput masih basah ketika kaki telanjangku memasuki barisannya yang panjang. Sesekali terdengar ratapan jangkrik dan gemercik air ketika menyeberangi sungai kecil di balik rimbunan bambu yang berderit-derit terkena angin.
Aku pikir, aku adalah orang pertama yang menyapa embun, menemui matahari, dan beramah-tamah dengan ular-ular sawah yang masih mendengkur dalam tanah. Ternyata aku salah. Orang-orang telah mendarat di sawahnya masing-masing, jauh lebih awal. Padahal sebelumnya, mereka adalah sekumpulan penarik selimut yang bergeming meski muadzin subuh mengajak mereka menegakkan tiang agama.
Aku sampai di sawah peninggalan ayahku ini saat matahari telah merekah. Sehingga mulai tampaklah olehku paras-paras rindu rupiah yang berpeluh lelah sedari pagi. Pagi ini, aku benar-benar menyaksikan petani-petani yang mati-matian memaksa mata cangkulnya mematuk tanah topsoil yang dangkal itu. Mereka memaksimalkan penglihatan untuk fokus pada buruannya, hingga semut yang sedang buang air pun malu-malu karena gelagatnya terlihat oleh manusia yang berubah menjadi elang pengais tanah itu. Semua saling berharap agar mata cangkulnya mematuk salah satu artefak Majapahit di tanah Trowulan yang subur ini.
Rupanya tetangga-tetanggaku ini adalah tipe orang yang hanya bisa berkonsentrasi pada satu pekerjaan, hingga ketika aku melintas pematang yang memisahkan petak-petak sawah, mereka spontan mendongakkan kepala dan melemparkan kata-kata mutiara. Dan jka dikumpulkan dalam satu paragraf, mereka sebenarnya ingin berkata. “ Ora bakal iso oleh rejeki tah lek tangine ae kedhisikan srengenge….” ( tidak akan dapat rezeki lah kalau bangunnya saja keduluan matahari ). Aku seperti murid Sekolah Dasar yang terlambat masuk sekolah dan dicerca teman-teman sekelasku lalu siap dihukum dengan menghormati bendera sampai siang.
Dulu aku terlalu sibuk mengurus tumpukan berkas-berkas departemen di ibukota sampai-sampai tak peduli pada cangkul-cangkul yang perlahan mencabik-cabik tanah subur ini meter demi meter. Hingga ketika aku kembali di tanah kelahiranku ini, segalanya telah berubah. Sinar matahari demikian jujur memperlihatkan ruralscape Trowulan yang compang-camping. Pedesaan Trowulan yang bersawah-sawah sebagaimana tergambar dalam relief-relief candi pada masa itu, kini berubah menjadi lautan sawah dan tebu beserta pulau-pulau galian tanah liat milik pembuat batu merah.
Aku membiarkan cangkulku bertengger di sudut petak kering ini. Sepertinya ia tak sabar menungguku mengajaknya. Mematuk-matuk tanah agar menemukan sepotong patung atau piring emas idaman istriku. Baginya, mungkin akan menjadi semacam kebanggaan bila ia dapat membantuku menemukan barang antik itu. Bahkan cangkulku ini tak akan terlalu terkuras habis tenaganya jika dibandingkan cangkul di galian tanah milik tetanggaku yang mencetak batu merah. Mereka harus menggali tanah sampai satu setengah meter jika ingin bertemu kepeng bolong, sedangkan petani sepertiku cukup menggali dangkal karena kami hanya mengolah lapisan topsoil.
Sampai matahari merangkak naik pun aku belum juga turun ke sawah. Aku lebih memilih menuggu waktu di gubuk jerami buatan mendiang ayahku. Aku ingat betul saat pertama kali disuruh Ibu mengantar nasi jagung dan sekendi air untuk Ayah, tepat ketika Kepala Desa (Kades) kami datang berkunjung menilik sawah-sawah warganya. Waktu itu sepulang sekolah aku langsung diminta Ibu ke sawah sehingga seragam biru putihku turut kuajak menenteng rantang dan kendi. Kades sedang berbicara serius pada Ayah dan tetangga-tetanggaku. Gaya bicara yang berwibawa menuai simpati pada warga-warganya. Aku pikir, kelak menjadi pemimpin sepertinya, meniru gaya bicaranya yang mewarisi kharisma yang menawan.
Belum usai aku mengagumi kadesku ini, tiba-tiba suara seorang pria muncul dari kerumunan warga yang sedang berunding dengan Pak Kades. Dan suasana tenang siang itu berubah menjadi gemuruh lebah yang terusik sarangnya. Setiap orang sibuk menenangkan yang lain, sampai-sampai tak tahu siapa lawan bicaranya masing-masing. Aku yang sedang menunggu bubarnya pertemuan penting itu langsung mendekat dan ingin tahu. Kutinggalkan rantang dan kendi itu di pematang. Aku takut dan ingin minta perlindungan dari ayahku.
Urung niatku, aku tak bisa mengelabui pandanganku untuk tidak menerima kenyataan di hadapanku. Ayahku yang sangat lembut dan hangat itu tiba-tiba menjadi singa padang pasir. Ia menatap tajam Pak Kades sambil melontarkan pernyataan-pernyataan yang tak disangka-sangka.
“ Sampai mati pun saya tidak akan pernah menjual sawah ini !!! Sejak kapan Kang Mas menjadi budak industri yang bertindak dengan hukum rimba bisnis ?“ lontar ayahku pada Pak Kades yang selama ini telah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri.
“Dengar dulu penjelasanku Dik Samsul. Semuai ini untuk keuntungan kita bersama. Mana mungkin aku mengorbankan wargaku untuk keuntunganku sendiri,“ kata kadesku menenangkan Ayah yang mula tersengal-sengal bicaranya.
“Kang Mas Kades memang tidak mengorbankan warga sini, tetapi keputusan ini mengancam kerusakan lingkungan di tanah subur Trowulan !!!” jawab Ayah sambil menunjuk tanah yang dipijaknya.
“Dik, tanah kita ini dahulu adalah bekas kedudukan pusat kerajaan Majapahit. Dik Samsul tahu sendiri kan, bata merah Majapahit demikian terkenal ciri khas teknik kontruksinya ? Jadi tidak ada salahnya kan kita mewarisi keahlian itu dan menjadikan Kecamatan Trowulan ini sebagai wilayah produsen bata merah terbaik di Jawa Timur ? Apa kita tidak bangga ?“ jelas Kades yang bersikukuh pada argumentasinya. Sementara ayahku tetap pada pendiriannya.
“Jangankan menjual, menyewakan pun saya tidak akan sudi !!! Apakah pemilik modal itu bisa menjamin kelestarian Trowulan sebagaimana kelestarian keuntungan yang mereka peroleh dari mengais tanah subur ini? “
Dan kini, delapan belas tahun sejak peristiwa itu aku benar-benar menemukan tanah ini telah morat-marit dicabik-cabik industri. Sejak 1986, pemerintah yang bergerak lewat pejabat-pejabat bawah semisal Kades, sibuk merayu rakyatnya agar mau dikontrak sawahnya untuk ditanami gubuk-gubuk pembakaran bata merah
Menjelang azan dhuhur, matahari semakin ganas memanggang punggung-punggung mengkilap yang ruku’ di tengah sawah. Ia terus menjilat ubun-ubunku dengan lidah apinya yang hangat. Sementara itu samar-samar kulihat di kejauhan serombongan pria berbalut batik berjalan mendekati kami. Mereka semua tak kukenal.
“Assalamu alaikum…. Apa kabar istrimu Dar ? Sudah sembuh belum TBCnya ? “ sapa orang yang berpakaian paling mengkilap pada Darmaji, pemilik sawah di seberang kanan garapanku. Tampaknya orang ini sudah sering berkunjung sampai- sampai ia hafal benar nama pemilik semua sawah, lengkap dengan kondisi istri, anak, dan bahkan ternak-ternak yang belum juga bertelur.
“Alhamdulillah sudah baikan Pak,“ jawab Darmaji seadanya.” Lho, Mas ini siapa Dar ? Pemilik sawah baru ? “ tanya laki-laki itu lagi pada Darmaji, didampingi dua pria tinggi besar.
“Oh, ini Mas Karyo Pak, putra bungsu almarhum Pak Samsul. Beliau sudah lama di Jakarta. Baru sebulan kembali ke Trowulan,“ jelas Darmaji sedikit melirik ke arahku.
Aku yang menjadi bahan pembicaraan hanya mampu menyuguhkan senyum pada laki-laki itu. Semenit kemudian ia beramah-tamah sepanjang pematang, menyalami tangan-tangan kasar yang terkena lempung kering yang senang merekat dan kering di telapak tangan.
“Itu tadi orang nomer satu di desa kita Mas. Tiap bulan ngontrol sawah sambil ngasih-ngasih penyuluhan,” kata Darmaji yang seolah tahu jika aku memerlukan jawaban itu.
“Bagus bener Kadesmu Dar. Jaman sekarang mana ada petinggi yang mau nyalami rakyatnya di sawah ? Tengah hari malah,“ kagumku.
“Semoga anggapan Mas benar,” ujar darmaji sambil berlalu menghampiri istrinya yang sudah berdiri menenteng rantang.
Tepat ketika perutku mulai meraung-raung minta jatah makan siang, serta merta Kades yang berpakaian mengkilap tadi menghimbau para petani untuk berkumpul. Rupanya ada makan siang bersama dadakan. Ajudannya tergopoh-gopoh mengusung berpuluh-puluh kotak nasi beserta es teh yang ditampung dalam dandang besar. Sangat cukup untuk mengguyur kerongkongan kami yang tandus siang ini. Belum lagi jajanan pasar yang dibungkus plastik warna-warni.
Usai menjejali kami dengan suguhan warna-warni itu, Pak Kades yang usianya baru empat puluh lima tahun itu mulai angkat bicara.
“Saudara-saudara sekalian, besok lusa kita akan kedatangan banyak tamu dari Surabaya. Mereka bersedia membantu industri batu merah kita. Karenanya saya menghimbau kepada Bapak-Bapak sekalian untuk sudi menjual atau sekedar menyewakan lahannya untuk perluasan galian bahan baku batu merah andalan Trowulan……” jelasnya pelan dan tertata.
Suaranya dibawa lari angin sawah. Dikabarkan pada jutaan mikro organisme yang sibuk bekerja dalam tanah. Dikabarkan bahwa tidak lama lagi kelanjutan hidup mereka terancam oleh keputusan petinggi desa yang dengan lihai menjilati hati para rakyat.
Penyampaiannya sangat baik, topiknya bagus …..
Sayangnya menggantung. But, hey .. good job!