Talak Tiga
September 3rd, 2008 by sekar
Aku ceraikan engkau Hamidah binti Abdullah dengan talak tiga
Aku ceraikan engkau Hamidah
Aku ceraikan engkau
Aku ceraikan
Menggigil tubuhku tiap kali mengingat kata talak, dan kalimat tersebut bergaung di seluruh ingatanku, bergema dengan suara bertalu.
Mengapa harus jalan ini yang kujalani, satu perceraian…! Meski Alloh tidak mengharamkan tapi Alloh membenci perceraian. Dan mengapa talak tiga yang harus terlafas darinya, begitu bencikah dia padaku? Adakah kekurangan pada diriku, sebagai istri aku mengabdikan seluruh kehidupanku hanya untuk suami dan keluarga. Tidak ada artikah pengabdianku selama ini ? Kutinggalkan segala yang aku miliki, keluarga, karir, hanya semata Lillahita’allah ingin menjadi istri yang disayang suami, ibu yang dihormati anak, wanita yang dirahmati Alloh. Tak pernah ada keraguan dan rasa terpaksa ketika kulafaskan Kalimat Syahadat. Tak pernah ada penyesalan ketika keluarga membuangku karena kutemukan berjuta keluarga dalam Islam agama suamiku dan juga agamaku. kutemukan sosok imam dalam diri Mas Yos, keluarganya banyak membantuku menjadi muslimah sejati. Lingkunganku banyak membantu mengerti dan memahami makna muslim yang sebenar dan Mas Yos banyak membimbingku menjadi istri dan ibu yang dikehendaki dalam Islam.
Aaah betapa bangga dan bahagianya aku ketika Mas Yos memujiku sangat…sangat cantik ketika pertama kali aku berkerudung. Diajaknya aku mengunjungi kerabatnya, dibawanya aku keliling kampung hanya ingin menunjukkan rasa bangganya terhadapku. Kulakukan semua bukan untuk mencari pujian duniawi tapi kulakukan semata karena inginkan pujian dari Alloh. Mas Yos telah merubah kehidupanku, tak satupun masa laluku yang tersisa. Aku telah menjadi muslim sejati, dalam keseharianku dalam setiap detak jantungku.
“Bu Hamidah begitu taat pada suami yaa…?” itulah kalimat yang selalu kudengar tiap kali aku berjumpa dengan tetangga.
Pada awalnya kurasa itu hanya pujian tapi terlalu sering kudengar nada itu menjadi seperti cibiran. Bahkan semakin hari tak lagi cibiran yang kudengar bahkan umpatan dan ejekan.
“Bu Hamidah itu wanita yang mau diperbodohkan suami, terlalu mendewakan suami sehingga tak mampu memilah mana itu pengabdian dan mana itu pengorbanan.”
oooOooo
Lebih 15 tahun aku mendampingi Mas Yos, tak pernah kuras dia menipuku dan berlaku tak jujur. Di mataku Mas Yos lelaki sempurna meski begitu tak pernah aku merasa mendewakan dia. Kulakukan karena bakti, ketaatanku karena ibadah dan berpatokan pada Islam. Kalau menurut orang lain aku terlalu mendewakan suami, silahkan mereka mau bilang apa.
Meski sering juga kudengar cerita miring tentang Mas Yos tapi tak berani aku berprasangka terhadapnya. Aku tetap menjadi istri yang taat dan patuh padanya, belum pernah sekalipun kulangkahkan kakiku keluar rumah tanpa seijinnya.
Apakah aku istri yang takut suami…? Tidak…! Aku hanya takut pada laknat Alloh yang menciptakan kaum hawa sebagai pendamping kaum adam. Alloh juga telah membuat aturan yang harus menjadi landasan bergerak bagi kaumku yang telah bergelar istri. Jadi salahkah aku bila melangkah mengikut rambu-rambu yang telah ada, salahkah aku bila bergerak searah dengan patokan yang tersurat. Wanita bodohkah aku yang berpikir dan menghayati hidup berpegang pada norma-norma agamaku…?
Terlalu banyak pertanyaan yang tak pernah terjawab. Perdebatan batin selalu bergolak dalam tiap rongga jiwaku. Menyesalkah aku dengan keputusan Mas Yos yang melafas talak tiga..? Begitulah, sulit bagiku untuk mempercayai pendengaranku sendiri ketika talak itu terucap. Mungkin benar kata tetangga aku hanyalah wanita bodoh yang mudah diperdaya suami sendiri. Kenyataannya orang ramai tahu benar bahwa Mas Yos punya wanita lain toh tak sedikitpun aku menaruh curiga. Hingga datanglah hari itu, hari yang merubah sejarah kehidupanku.
Seorang wanita muda yang modern dan mempunyai segalanya, datang padaku meminta satu-satunya yang aku punya, cinta Mas Yos. Tak sanggup aku berbagi Mas Yos dengan orang lain meskipun teringin aku menjadi ahli waris sorga yang telah dijanjikan NYA kepada para wanita yang tulus berbagi suami dengan wanita lain alias dimadu. Tidak…!
Dan inilah akhir dari mahligai yang kubangun dengan berpondasikan cinta, beralaskan kasih sayang, bertiangkan keimanan dan beratapkan saling percaya. Satu perceraian…!
oooOooo
“Bodohkah Mama ini Bila..?” Suatu hari pertanyaan itu kembali muncul di benakku setelah beberapa bulan kujalani kehidupanku sebagai janda.
“Orang yang merasa dirinya paling pandai itulah orang bodoh yang sebenarnya, Ma.”
Kutatap wajah ayu Nabila dengan sorot kebingungan. Dia tersenyum.
“Ma, kebodohan hanyalah satu istilah bagi orang yang belum tahu sesuatu. Mama tidak bodoh,” lanjut Nabila.
“Nabila, bencikah Bila pada Papa?” tiba-tiba pertanyaan itu terucap.
“Haruskah Bila membenci orang yang telah mengalirkan darahnya pada tubuh ini Ma? Meskipun Bila ingin sekali membencinya tapi toh sampai saat ini rasa itu tak pernah hadir. Haruskah kita mencari siapa yang salah? Kita lakoni saja jalan yang telah terpampang di depan kita. Mama masih punya Nabila dan Nabila akan selalu mendampingi Mama. Kita tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa tegar, lebih perkasa dari kaum pria. Yaaaa meski secara fisik kita memang lemah tapi kita punya kelebihan, Ma. Mama tahu di mana kelebihan kita sebagai wanita..?” Nabila berhenti sejenak, aku menggeleng.
“Kita sebagai wanita mempunyai Power of Emotional. Kaum lelaki selalu menganggap kita kaum yang lemah karena kita memang terlalu emosional tapi mereka lupa bahwa kaum wanita lebih mudah menekan, meredam gejolak emosi dalam diri kita dibandingkan kaum lelaki. Nah..di situlah kekuatan kita yang sebenarnya.”
Meskipun aku agak lambat mencerna makna kalimat Nabila tapi aku sependapat dengan putriku. Kebenaran kalimat itu nampak pada diri Nabila, aku tahu betapa besar cinta Nabila pada papanya, aku merasakan kehancuran hatinya tak beda jauh dengan yang kurasa. Toh nyatanya tak tersirat pada wajahnya rasasedih, rasa kehilangan. Kulihat ketegaran pada Nabila dia lakoni kesehariannya seperti tak pernah ada yang hilang dalam dirinya meski nyata ada satu jiwa yang kini tak lagi menjadi imam di rumah ini.
Kutatap wajah Nabila, begitu damai dan teduh mata itu. Senyumnya begitu lembut dan tulus. Kami saling berpeluk, kudengar isaknya tertahan.
“Ma, tunjukkan ketegaran Mama. Nabila teramat sedih bila Mama terus terbenam dalam perasaan Mama yang semrawut. Bangkitlah Ma! Tak ada kata terlambat untuk memulainya, demi kita Ma!” Permintaan itu begitu mengiris hatiku. Teramat sakit.
“Maafkan Mama Sayang,” hanya itu yang mampu kuucap. Tiba-tiba tubuhku bergetar, aku tergidik!!! Ooooh betapa lemahnya aku.
Tak akan kubiarkan kekalahan ini merenggut masa depanku dan Nabila. Aku harus bangkit dari jurang keputusasaan, aku harus beranjak dari keterpurukan masa lalu. Kata-kata Nabila membangkitkan semangat hidupku yang hampir saja kupadamkan tanpa kusadari.
Aku masih punya kehidupan, aku harus bisa menganyam kembali untaian hidupku yang berkecai, untuk apa terus meratapi nasib. Kalau toh akhirnya Alloh menggariskan jalan hidupku seperti ini maka aku harus ikhlas, nrimo ing pandum, aku harus berusaha mencari hikmah di balik semua kejadian.
Perceraian bukanlah sebuah ending dari kehidupanku. Dengan tamatnya rajutan kasih antara aku dan Mas Yos bukan berarti tamat sudah segalanya. Aku masih punya Nabila sebuah amanah yang telah aku menangkan dalam sidang perceraian. Perceraian bukan akhir segalanya!
Hiks..hiks.. ;(
Ceritanya mengharukan, bikin aku jd ikutan sedih. Tp ada sstu yg bs aq petik, sbg wnta qt hrs tetap tegar mghadapi cobaan apapun!
Bagus ceritanya, sarat makna. Terus berkarya ya mbk
aku suka dengan kalimat ini :
“Kita sebagai wanita mempunyai Power of Emotional. Kaum lelaki selalu menganggap kita kaum yang lemah karena kita memang terlalu emosional tapi mereka lupa bahwa kaum wanita lebih mudah menekan, meredam gejolak emosi dalam diri kita dibandingkan kaum lelaki. Nah..di situlah kekuatan kita yang sebenarnya.”
cerita yang menarik, menunjukkan bahwa wanita memiliki kekuatan yang tidak dimiliki laki-laki…meski kadang harus dihadapi dengan tangis…sometimes, menangis dapat membuat kita lebih kuat…
makasih buat yang telah kasih komentar dan yang dah baca
wow…cerpen yang bagus mang benar hidup ga boleh berhenti sampai disini walau cobaan menghadang kita…
cayo…wanita indonesia….
judulnya buat bulu kuduk merinding bu… cerita pribadi kah…?
ala mak…klo dah kena talak tiga tak bisa rujuk laaa…nak kena cari cina buta dulu… ada idea nak tulis cina buta….
ide yang bagus buat bahn cerita sekaligus buat cermin bukan hanya buat kaum wanita tapi juga kaumku… salut.
istri adalah belahan jiwa… pasti akan kujaga mulut ini dari kata talak. Salam kenal dari Singapore, tahniah sorang amah bisa berkarya dengan ide kehidupan yang berbeza dari yang lain
Nanda percaya, Bunda sekuat Hamidah dan percayalah Bunda saya akan bersikap sama seperti Nabila
thank buat yang sudi baca dan kasih komentar…
KaLimAtH aWaLx LuW (pReVieW);
Aku ceraikan engkau Hamidah binti Abdullah dengan talak tiga
Aku ceraikan engkau Hamidah binti Abdullah dengan talak
Aku ceraikan engkau Hamidah binti Abdullah dengan
Aku ceraikan engkau Hamidah binti Abdullah
Aku ceraikan engkau Hamidah binti
Aku ceraikan engkau Hamidah
Aku ceraikan engkau
Aku ceraikan
Aku