Secangkir Kopi
September 3rd, 2008 by rizqi
Setiap orang punyai kebiasaan unik yang berbeda. Bambang terbiasa menikmati secangkir kopi sebelum memulai aktivitas. Terbangun dari tidur langsung menuju kamar mandi. Mempersiapkan diri sebaik mungkin agar bisa tampil percaya diri di depan kelas. Tidak lupa memakai minyak wangi dan semir rambut yang paling mengkilap. Sedikit bergaya di depan cermin dan merasa siap mengajar. Tibalah waktunya menikmati secangkir kopi yang sedap. Kaki melangkah ke dapur tapi ternyata tidak ada sebutir pun kopi. Guru muda itu sedikit kecewa.
“Aku harus membeli kopi,” pikirnya segera.
Tanpa disadari tampak seorang pria tua yang sangat dikenalnya. Pria tua itu tengah mengumpulkan tenaga sesudah terbangun dari mimpi dan sama-sama menginginkan secangkir kopi. Melihat Bambang bermuka masam tidak sedap dipandang, dia merasa gelisah.
“Ayah, persediaan kopi kita habis. Aku akan membeli kopi di warung terdekat,“ kata Bambang.
“Bagus,” sahut ayahnya. “Ayah juga ingin minum kopi.”
Bambang mencari warung yang menjual kopi terdekat, kebetulan ada warung yang cukup dekat dari rumah berjarak 30 m. Pria yang sudah menekuni pekerjaan guru sebagai mata pencaharian selama 3 tahun ini melangkah dengan semangat. Sesampainya di warung itu terdengar pertengkaran sepasang suami istri yang seru. Dia berkecil hati dan pasrah tidak minum secangkir kopi pagi hari.
“Masih pagi sudah bertengkar!” komentar spontan dari Bambang.
Sempat berniat mencari warung lain, tiba-tiba ada seribu alasan menghentikan langkahnya. Mulai jarak yang jauh hingga sikap enggan berkeringat nanti merusak penampilan. Ada warung terdekat tapi dia tidak bersedia melunasi hutang sekarang dan malas bila menambah jumlah hutang. Bisa saja Pak ridwan meminta segera membayar hutang padahal Bambang belum gajian.
“Anak muda suka menghutang, kemana saja uangmu?” ungkapan Pak Ridwan yang sangat menyinggung perasaan.
“Gaji guru tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari,” sambut Bambang suatu ketika.
Bambang pasrah lagi dan kecewa belum bisa menikmati secangkir kopi lalu kembali ke rumah dengan tangan hampa.
“Belum dapat kopi?” tanya ayahnya setiba Bambang di pintu rumah.
“Belum”, ucap Bambang pasrah. “Semoga di sekolah ada secangkir kopi.”
Beberapa lama kemudian, Bambang datang agak terlambat. Memasuki kantor yang sepi hanya ada Saeful salah satu pegawai tata usaha yang sedang bekerja.
“Saeful, kenapa minumannya selalu teh?” tanya Bambang yang langsung memasuki kelas terburu-buru tanpa memperhatikan jawaban Saeful.
“Aneh!” ungkap Saeful sedikit merasa heran.
Waktu terus berjalan, detik berganti menit terus meninggalkan kesibukan manusia. Tapi Bambang sedang berduka karena belum meminum secangkir kopi hari ini.
*****
“Tunggu sebentar, kami sudah memanggilnya.” Kata Saeful pada wanita muda itu.
“Iya, aku akan menunggu!!”
Kedatangan wanita muda misterius menemui Bambang menjadi buah bibir para guru di kantor. Semua menebak wanita itu calon istri Bambang. Sejenak merenung, pandangan mata wanita itu menyaksikan Bambang di depan pintu. Bambang tersenyum, jantung berdetak kencang lalu wanita itu juga tersenyum. Dari luar ruang tamu ada perbincangan hangat para guru tentang Bambang yang dikunjungi wanita cantik.
“Siapa dia?” tanya Wati, guru matematika.
“Aku tidak tahu. Wanita itu hanya mengaku teman semasa kuliahnya dulu,” kata Saeful pada para guru yang penasaran.
“Mungkin dia pacar Bambang yang sedang merindukannnya karena lama tidak bertemu, buktinya wanita itu tidak sabar menunggu dan mendatangi Bambang di kantor,” ungkap Sodikin, salah satu guru bimbingan konseling di sekolah.
Di ruang tamu, wanita muda itu meneteskan air mata. Dia larut dalam kesedihan yang mendalam. Merasa bersalah telah membuat Bambang bersedih atas rencana pernikahannya dengan pria pilihan kedua orang tuanya. Terharu akan ketulusan cinta pria yang berada di depannya. Bambang memang masih dan selalu akan merindukan Anita seperti matahari yang selalu menyinari bumi.
“Tidak perlu menangis, aku malu pada para guru di sini!” ungkap Bambang tulus.
“Ini undangan pernikahan kami. Aku minta kamu datang, tunjukkan rasa sayangmu dengan mengikhlaskanku bersanding bersama pria lain!” pinta Anita sepenuh hati.
“Tapi hapus dulu air matamu!”
“Apa kamu tidak akan datang?” tanya wanita itu penuh pengharapan.
“Kamu tega sekali menyakiti hatiku dari dulu sampai sekarang. Aku terdampar di kota ini karena penantian yang panjang atas cinta kita.”
“Aku mengerti tapi keadaan tidak bisa dirubah!” wanita itu sedikit tertekan.
Mereka terdiam tanpa suara, Bambang bersandar di kursi. Menghela nafas menenangkan diri dari semua amarah yang membakar tubuhnya. Tersadar akan sesuatu hal memang sering datang terlambat tapi pada saat itulah kita akan menemukan sebuah makna baru. Jangan pernah mengingat apa yang pernah hilang tapi ingatlah apa yang kita miliki sekarang. Ya, Bambang sudah kehilangan Anita untuk selama-lamanya!
“Sudahlah, ayo lupakan saja semua yang pernah terjadi di antara kita!” kata Bambang.
“Hidup tanpa perubahan bagai taman tidak berbunga. Jarak dapat memisahkan kita tapi hati akan menyatukan kita,” ungkap Anita sambil tersenyum.
“Mari kita hadapi lika-liku kehidupan dengan senyuman dan hati yang tegar!” sambut Bambang dengan senyum.
“Obrolan yang panjang membuatmu lupa mengajar hari ini. Aku punya kenangan satu paket kopi untukmu, aku tahu pasti kamu menyukainya,” kata Anita sambil menyerahkan bungkusan berisi bungkusan kopi itu.
“Kopi yang nikmat!” sahut Bambang menjulurkan lidah.
“Jijik, jangan begitu!” senyum Anita.
*****
Bambang pulang dari sekolah diterik matahari sore yang hangat. Memang tidak semua orang menikmati pekerjaannya tapi berbeda dengan Bambang. Dia beranggapan tidaklah bijaksana membanggakan masa lalu namun harus memikirkan apa yang kita hadapi di masa mendatang. Menjadi guru sebuah pilihan hidup, itulah renungan Bambang.
“Apa yang kamu bawa di tangan?” tanya ayahnya menyambut buah hati kesayangan dan selalu dibanggakannya.
“Apa Ayah sudah minum secangkir kopi hari ini? Aku bawakan kopi special untukmu,” ungkap Bambang.
“Ayo kita minum kopi bersama”, ajak sang ayah. Kopi yang sedap. Bambang memandang langit dan melukiskan wajah Anita di sana tersenyum manis. Wanita yang masih dirindukannya hingga saat ini meski sudah dimiliki pria lain. Benci dan rindu bercampur sama seperti kopi dan gula dalam secangkir kopi. Dia ingin mempersiapkan masa depan sebaik mungkin.
simply shit…keren…love it…gamang…tapi kena…