Sebuah Penyangga Berengsel untuk Bapak
September 3rd, 2008 by nrinawati
Hembusan angin di malam hari, dengan deru ombak yang menghantam karang di lautan luas. Alangkah dinginnya angin malam itu sehingga terasa menusuk tulang-tulang sendi tubuh kurus dan tua bapakku. Jaring-jaringyang tampaknya sudah mulai usang, rajutan-rajutannya banyak yang bolong karena dimakan usia. Bertahun-tahun modal inilah yang menjadi alat mata pencaharian kami. Setiap hari setelah Bapak melaut, jaring-jaring itu ditata dan dirapikan kembali dengan telaten dan sabar. Bapak berusaha memperbaiki jaring-jaring itu bila ada yang rusak dengan peralatan yang sangat sederhana. Satu demi satu jaring-jaring itupun diperiksa dengan cermat. Dengan ketekunannya sehingga Bapak dapat menyelesaikan pekerjaannya memperbaiki jaring-jaring usang itu. Memang tidaklah banyak hasil laut yang kami dapat. Namun hasilnya masih cukup memenuhi kebutuhan keluaga kami yang sangat sederhana sehari-hari. Terkadang kami mendapatkan hasil yang cukup lumayan sehingga kita bisa menabung untuk keperluan lain. Sebagian hasil laut tangkapan kami sebagian kami jual di pasar lelang ikan dan sisanya kami konsumsi sendiri.
“Lumayan Nak. Hari ini kita dapat tangkapan yang banyak,” kata bapak.
“Syukurlah Pak. Berarti kita dapat menabung dari hasil berjual ikan-ikan ini.”
Dengan hati riang setelah melihat hasil tangkapan kami, aku bergegas dengan penuh semangat memikul dua keranjang besar yang berisi bermacam-macam ikan.
“Tolong ditimbang ya Pak,“ kataku pada penadah ikan yang bersedia membeli ikan-ikan itu.
“Total beratnya sebesar 50 kg, Nak ! “ kata pembeli itu.
Alangkah terkejutnya diriku setelah mendengar hasil berat timbangan semua ikan-ikan itu.
“Bapaaaaak….. ini hasilnya!“ sontak aku berteriak berlari menuju ke arah bapakku yang sedang menunggu karena kelelahan setelah semalam mencari ikan. Terpancar jelas dari raut wajah bapakku menunjukkan kegembirannya atas hasil usaha kami. Aku tertegun sejenak melihat bapak seperti itu. Wajah keriputnya yang sebelumnya menunjukkan garis-garis menurun, sekarang telah berubah sejenak menjadi garis-garis yang sedikit terangkat karena tersenyum lebar dengan mata sayu seperti menahan kantuk yang berat.
“Kasihan sekali bapakku, tubuhnya yang ringkih masih harus melaut dan melawan dinginnya hawa laut,” pikirku. Sebenarnya pekerjaan ini sangat beresiko bagi keadaan bapakku yang sudah tua itu.Tapi dengan keikhlasan dan semangat serta tanggung jawab bapak kepada kami sekeluarga, membuatnya untuk tetap menjalankan tugasnya sebagai nelayan. Memang Bapak adalah pelaut sejati. Dia pemberani, apapun rintangan datang menghampiri, dihadapi dengan rasa percaya diri.
Sudah terlalu lama hujan tak kunjung datang. Setelah lama daerah kami dilanda kekeringan, tiba-tiba sore itu menunjukkan tanda-tandanya akan turun hujan. Tiupan angin agak kencang sore itu. Namun kami masih tetap bertekad untuk pergi melaut. Padahal aku sudah mengingatkan akan resiko yang akan dialami nanti jika kami masih tetap meneruskan pergi melaut. Tapi Bapak tetap saja mengajakku untuk pergi melaut. Dari dulu Bapak selalu begitu, semua keluargaku tidak dapat mencegah jika Bapak sudah berkehendak.
“Ini kan satu-satunya mata pencaharian kita Nak, kalau kita tidak melaut malam ini, besok kita makan apa?“ kata bapak. Itulah alasan Bapak kepadaku sehingga aku tidak bisa membantahnya. Akhirnya kita melanjutkan untuk pergi melaut bersama dengan perasaan khawatir di hatiku. Setelah kami berhasil mendorong kapal itu ke laut, kemudian kami memulai dengan mengembangkan layar kapal itu. Semakin lama semakin menengah kami berlayar. Tak lama kemudian tiba-tiba angin berhembus sangat kencang. Kami berjuang dengan daya upaya untuk mempertahankan kapal supaya tidak terbalik. Ombak bergulung-gulung menerpa kapal kami dengan keras. Tetapi kami masih tetap bertahan. Kemudian kami melanjutkan pelayaran di tengah-tengah deruhnya gelombang sesekali datang dengan tiba-tiba. Belum sempat kami melemparkan jaring-jaring itu, tiba-tiba gelombang ombak besar datang. Sehingga kami kewalahan menghadapi ombak sebesar itu. Daya upaya kami kerahkan dengan sekuat tenaga. “ Krakkkk…..! ” Kapal kami pecah.
“Bapaaaaaaak……..!!!!“ Aku berteriak sekuat-kuatnya.
Pada waktu itu posisi Bapak berada di ujung kapal. Sehingga ombak besar itu dengan mudah menerjang tubuh lemah bapakku. Bapak jatuh dari kapal dan aku berusaha menolongnya dengan sisa-sisa tenagaku yang terkuras setelah melawan ombak besar sebelumnya. Beruntung sekali aku bisa berenang sehingga aku dapat menolongnya. Padahal bapakku tidak bisa berenamg, kulihat kepalanya muncul dan tenggelam, tangannya melambai-lambai seraya meminta tolong padaku. Aku raih tangan bapakku dan aku berusaha menggapai kapal yang sudah terbalik dan sedikit bocor itu. Apa jadinya bapakku jika seandainya aku tidak bisa berenang dan dia melaut sendirian ya, pikirku dalam hati. Beruntung bapakku bisa selamat dari maut malam itu. Namun alangkah terkejutnya diriku setelah melihat kaki kiri bapakku berwarna biru kemerah-merahan akibat jatuh terbentur karang. Bapak hanya diam menahan sakit yang tak terkira. Bapak memang tak pernah mengeluh jika dia sakit selama ini. Bapak memang tangguh. Setelah berhari-hari kami tidak bisa melaut, karena luka kaki kiri bapak semakin parah. Kami tidak sanggup mengobati luka Bapak karena kami tidak mempunyai dana untuk biaya pengobatan bapak ke dokter. Kasihan Bapak, kata hatiku menyimpan kesedihan.
Waktu demi waktu kami lewati tanpa melaut, sehingga kebutuhan hidup kami sehari-hari tidak tercukupi. Tabungan kami makin lama semakin habis, karena terpakai untuk kebutuhan sehari-hari. Kemudian aku memutuskan untuk melaut sendiri tanpa ditemani Bapak. Setiap hari aku tengok keadaan dan merawatnya. Namun dengan pengobatan yang sangat sederhana, luka Bapak tak kunjung sembuh juga, makin lama semakin lemah keadaan Bapak. Syukurlah ada salah satu tetangga kami yang baik dan peduli menawarkan pertolongan dalam pengobatan Bapak. Akhirnya tetangga kami bersedia mengantarkan Bapak ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan. Alangkah terkejutnya diriku ketika dokter menyarankan bahwa kaki kiri bapak harus diamputasi. Ternyata luka kaki Bapak sudah membusuk dan terinfeksi sehingga bakterinya telah menjalar sampai ke lutut. Aku sedih melihat kondisi Bapak seperti itu. Kemana-mana Bapak berjalan dengan satu kaki dengan penyangga sederhana dari kayu.
“Tolong bantu Bapak, Nak!“ kata bapak. Rupanya Bapak menginginkan aku untuk mengantarkannya berjalan ke tepi laut yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal kami.
“Sudah lama aku tak melaut, kurindu suara ombak kecil dan kicauan burung di pagi hari, yang sering aku dengar setelah semalaman melaut,” kata Bapak dengan lirih.
Tepat pada tanggal 8 bulan Agustus tahun 2008 bapakku berulang tahun. Tak ada acara istimewa pada setiap hari ulang tahun keluarga kami, termasuk bapakku. Namun waktu itu aku ingin sesuatu yang dapat menyenangkan hati bapakku di hari ulang tahunnya. Diam-diam aku letakkan sebuah kaki palsu yang sudah lama aku pesan pada seorang ahlinya. Aku membelikan bapak kaki palsu dari uang tabunganku selama aku menjadi loper koran setelah melaut di kota. Aku berjalan sambil membawa kaki palsu itu menuju ke arah Bapak yang sedang duduk di teras depan. Kulihat Bapak memandangi lautan luas dengan matanya yang sayu dan sesekali mengelus-elus kaki kirinya yang buntung itu. Aku menghampirinya di teras depan dan kemudian mendekap erat serta memeluk tubuhnya yang kurus itu.
“Selamat ulang tahun ya Pak, semoga Tuhan akan selalu memberikan berkah kesehatan dan panjang usia pada Bapak. “
“Ini untuk Bapak, semoga Bapak senang menggunakannya,“ kataku.
Kulihat mata sayu bapak berbinar-binar setelah menerima pemberianku itu.
“Kamu memang anak yang baik, Nak,“ kata Bapak terharu
“Ini hanya penyangga berengsel sederhana untuk Bapak supaya Bapak bisa berjalan dengan nyaman, yang saya berikan ini tidak seberapa besar kalau dibandingkan dengan jasa-jasa Bapak kepada kami. Tanpa Bapak semangat membara dan kegigihan tak akan hidup dalam jiwa keluarga ini, terima kasih Pak,“ kataku dengan rasa haru.
Top
Sederhana dan mengharukan!