KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan September 2008

Rumah itu benar-benar lengang, tidak ada tanda-tanda keberadaan penghuni di sana. Aku mulai meragukan kebenaran alamat yang kudapatkan. Kugeretakkan gigiku karena gemasnya. Gemas karena sudah telanjur berpenat-penat untuk sampai ke Magelang, dan segala kepenatanku itu sia-sia.

“Kamu mencari Kama?”

Di sini,

aku menatap kilau kemilau kembang api

sendiri…

Cahayanya menyibak wajahku yang tersapu angin malam

Ribuan bahkan jutaan kenangan melintas

mengusap air mataku…

Di sini,

Aku mendengar dentum-dentum kecil kembang api

suaranya terasa memekakkan telinga

karena aku hanya sendiri…

malam itulah malamku

malamku melihat dan mengenalmu

lewat tatapanmu

lewat senyumanmu

yang tak pernah henti kau lemparkan padaku

yang membuat aku tersipu malu

kau masih ingatkah saat itu

saat wajah manismu terus menatapku

saat kehadiranmu terselimuti rasa kemisteriusan

yang memanjang

Rey lepaskan balutan hatinya yang penuh kenistaan, bibir tipisnya memutih. Gerakan tangannya melemah. Disadarinya hatinya memuai akan kehadiran seorang Harrafidiz Soma yang berdiri di sebelah sosok gaun putih di atas mimbar Tuhan.

Mereka mengucap janji sehidup semati dalam kesaksian cinta.

Musnah harapan Rey menahan degup jantung yang terbakar.

Tanpa lelah ku menunggumu

Di tengah deru menggebu waktu

Kutunggu hingga menit-menit berlalu

jam-jam bisu

hari-hari sendu

masa lalu

Kutunggu kamu

Berjuta asa masa depan bertingkah

menyembul di antara kesendirian

kutulis bayangmu

Kutunggu kamu

Kapankah datangmu?

(Yk.11.06)

Katakan Padaku

Katakanlah padaku,

di mana aku bisa menurunkan hujan

kulihat langit menghitam dari dalam kamar

Hei, aku ada ide

bagaimana kalau kukirim awan

bersama prangko dan amplop ke alamatmu

supaya hujan turun di sana

basahi bumi tandus dan kering

dan kau

Aku akan menganggap semua usai

Begitu pula kau

Takkan coba kutangkap kau

Meski kebimbangan selalu merogoh dadaku

menjauh ataukah diam

Kau sudah tak lagi hiraukanku

Apalah aku bagimu, hah?

walau kuteriak sekalipun keras di gendang telingamu

Tetap saja suara dari mulutku tak sampai di telasar hatimu

Lama tidak bertemu,
Lama tidak menyapamu,
Lama tidak sms kamu
Tahukah kamu
Kenapa ?

Aku tidak sibuk
Aku punya banyak pulsa
Aku sehat-sehat saja

Tapi aku sengaja tidak menghubungi kamu
Karena aku ingin menabung
Kerinduan
Yang aku petik
Kalau sudah menjadi buah yang lebat memenuhi pohon
Kaluau sudah menjulang seperti gunung,
Kalau sudah luas
Seperti samudra.
Kalau sudah tidak terhingga
Aku ingin rinduku
Selalu kau jaga,

Satu

Masih pagi, bahkan terlalu pagi. Udara dingin serasa menusuk tulang dan kabut masih tebal memenuhi jalanan yang juga masih sepi. Beberapa orang yang baru turun dari masjid melewati jalan itu. Sementara dari masjid itu juga masih terdengar orang mengumandangkan wirid dan puji-pujian, dan dari langggar sebelah sana agak jauh dari rumahmu masih terdengar pengajian usai subuh.

kamu dan aku
kapan kita saling menyatu
dan kapan kita saling melepas rindu
di antara senyum-senyum yang merekah
serta doa yang teriring untuk kebahagiaan kita
kamu dan aku
bila malam gelap berdoa agar dapat menjadi satu
bila pagi datang bersujud agar dapat bertemu
jarak kita bagai bumi dan langit
sedangkan kamu dan aku
berusaha mendekatkan bumi dan langit
kadang langkah kakiku terasa lemah
tapi kamu menopangku dengan kekuatan cinta yang tanpa batas
yang semakin lama semakin kuat bukan semakin rapuh
yang bila di uji akan semakin tumbuh dengan subur
bukan semakin layu
kamu dan aku sebentar lagi akan menjadi satu
bila waktu telah tiba dan restu telah datang

Next »