Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Rumah itu benar-benar lengang, tidak ada tanda-tanda keberadaan penghuni di sana. Aku mulai meragukan kebenaran alamat yang kudapatkan. Kugeretakkan gigiku karena gemasnya. Gemas karena sudah telanjur berpenat-penat untuk sampai ke Magelang, dan segala kepenatanku itu sia-sia.
“Kamu mencari Kama?”
Di sini,
aku menatap kilau kemilau kembang api
sendiri…
Cahayanya menyibak wajahku yang tersapu angin malam
Ribuan bahkan jutaan kenangan melintas
mengusap air mataku…
Di sini,
Aku mendengar dentum-dentum kecil kembang api
suaranya terasa memekakkan telinga
karena aku hanya sendiri…
malam itulah malamku
malamku melihat dan mengenalmu
lewat tatapanmu
lewat senyumanmu
yang tak pernah henti kau lemparkan padaku
yang membuat aku tersipu malu
kau masih ingatkah saat itu
saat wajah manismu terus menatapku
saat kehadiranmu terselimuti rasa kemisteriusan
yang memanjang
Rey lepaskan balutan hatinya yang penuh kenistaan, bibir tipisnya memutih. Gerakan tangannya melemah. Disadarinya hatinya memuai akan kehadiran seorang Harrafidiz Soma yang berdiri di sebelah sosok gaun putih di atas mimbar Tuhan.
Mereka mengucap janji sehidup semati dalam kesaksian cinta.
Musnah harapan Rey menahan degup jantung yang terbakar.
Tanpa lelah ku menunggumu
Di tengah deru menggebu waktu
Kutunggu hingga menit-menit berlalu
jam-jam bisu
hari-hari sendu
masa lalu
Kutunggu kamu
Berjuta asa masa depan bertingkah
menyembul di antara kesendirian
kutulis bayangmu
Kutunggu kamu
Kapankah datangmu?
(Yk.11.06)
Permanent link to this post (38 words, estimated 9 secs reading time)
Posted in Puisi, Jeritan, Teruntuk on September 27th, 2008 No Comments »
Katakanlah padaku,
di mana aku bisa menurunkan hujan
kulihat langit menghitam dari dalam kamar
Hei, aku ada ide
bagaimana kalau kukirim awan
bersama prangko dan amplop ke alamatmu
supaya hujan turun di sana
basahi bumi tandus dan kering
dan kau
Aku akan menganggap semua usai
Begitu pula kau
Takkan coba kutangkap kau
Meski kebimbangan selalu merogoh dadaku
menjauh ataukah diam
Kau sudah tak lagi hiraukanku
Apalah aku bagimu, hah?
walau kuteriak sekalipun keras di gendang telingamu
Tetap saja suara dari mulutku tak sampai di telasar hatimu
This is a preview of
Sebuah Puisi yang Ditulis Tanpa Sebuah Judul
.
Read the full post (92 words, estimated 22 secs reading time)
Lama tidak bertemu,
Lama tidak menyapamu,
Lama tidak sms kamu
Tahukah kamu
Kenapa ?
Aku tidak sibuk
Aku punya banyak pulsa
Aku sehat-sehat saja
Tapi aku sengaja tidak menghubungi kamu
Karena aku ingin menabung
Kerinduan
Yang aku petik
Kalau sudah menjadi buah yang lebat memenuhi pohon
Kaluau sudah menjulang seperti gunung,
Kalau sudah luas
Seperti samudra.
Kalau sudah tidak terhingga
Aku ingin rinduku
Selalu kau jaga,
Satu
Masih pagi, bahkan terlalu pagi. Udara dingin serasa menusuk tulang dan kabut masih tebal memenuhi jalanan yang juga masih sepi. Beberapa orang yang baru turun dari masjid melewati jalan itu. Sementara dari masjid itu juga masih terdengar orang mengumandangkan wirid dan puji-pujian, dan dari langggar sebelah sana agak jauh dari rumahmu masih terdengar pengajian usai subuh.
kamu dan aku
kapan kita saling menyatu
dan kapan kita saling melepas rindu
di antara senyum-senyum yang merekah
serta doa yang teriring untuk kebahagiaan kita
kamu dan aku
bila malam gelap berdoa agar dapat menjadi satu
bila pagi datang bersujud agar dapat bertemu
jarak kita bagai bumi dan langit
sedangkan kamu dan aku
berusaha mendekatkan bumi dan langit
kadang langkah kakiku terasa lemah
tapi kamu menopangku dengan kekuatan cinta yang tanpa batas
yang semakin lama semakin kuat bukan semakin rapuh
yang bila di uji akan semakin tumbuh dengan subur
bukan semakin layu
kamu dan aku sebentar lagi akan menjadi satu
bila waktu telah tiba dan restu telah datang
Permanent link to this post (109 words, estimated 26 secs reading time)