KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Agustus 2008

Malam

Saat ini

Mentari masih menunjukkan cahayanya

semua kendaraan masih lalu lalang di jalan

Ketika Mentari mulai berusaha mengumpat dari penghuni dunia

Sang Ratu Malam muncul dengan indahnya yang tak berusaha mengalahkan terangnya Mentari

Kesunyian melanda dunia

Semua gelap, tenang, damai, dan… sunyi

Aku merenung dengan selimut malam
Memikirkan dirimu yang terbengkalai sendiri di rumah

Aku hanya menyampaikan kata rindu
Dari tiupan angin malam

Berharap engkau bisa menerima
Salam rindu yang t’lah ku kirim

Aku ingin bersama - samamu
Disaat selimut malam dingin dengan sepi ini

Ku berjalan melintasi dunia dalam perjalanan panjangku
Tanah demi tanah
Setapak demi setapak

Hingga saat kulihat hutan yang teramat luas menghadang langkahku

Kuputuskan memasuki hutan itu untuk sejenak melepaskan lelahku dan menghilangkan lapar dan dahagaku

Di dalamnya kujumpai pohon besar dengan daunnya yang berwarna kelabu yang berdiri kokoh ditemani burung-burung kecil yang bermain riang diatas dahannya

Di lembah dimana kesunyian dan hening berkawan dengan sejuta kesedihan
Kuhempaskan diriku dalam pelukan dingin sang kabut
Hingga kutemukan matahari
Dan membawa langkahku
Ditemani ilalang dan kerikil jalan yang menemani peluhku dan letihku
menuju titik akhirku mimpi panjangku

Udara dingin mendekapku erat.

Menemaniku di gelapnya malam yang kian melarutkan aku dalam kesunyiannya

Kutatap langit, tampak sedikit mendung ia.

Awan yang terserak menghampar di setiap sudut cakrawala yang kehitaman

Aku tak tahu apakah kegelapan langit malam telah merenggut cemerlang putihnya awan dan menyisakannya dalam kelabu, atau awanlah yang telah menodai langit malamku dan memisahkanku dari bintang-bintang kecilku.

jalan ini kosong
hati sirna
manusia hanya identitas
cantelan tanpa guna

lintasan kejam
cadasan bengis hidup
menujuk ari mahluk
plantasi kulit besi

nistakan manusia
rasa dan pri
dewakan dewa setan
memuja puji maksiat

geliat lumpur dosa
lumuri manusia
uang kotor
jabatan bengis

kuasa laknat
iman setan
akidah berhala
kiblat deposito

Malam lalu kau memberitahu dalam keadaan bermasalah. Banyak hal kini membuatmu tiada rasa gairah, setia, dan derma dari siapapun kecuali aku.

Ya, itu adanya malam kemarin.

Malam ini kau tuangkan itu di telinga kananku, di bawah langit hitam berbintang sebelah tangan. Dalam hangatnya kopi sajian warung, kau terus larutkan ceritamu seiring malam yang kian larut.

Tak ada nyanyian dalam guratan keperihan jiwa
Angin semilir menghalangi terik langkahku
Ketika kumulai memasuki kegelapan
Sunyi, buta, gelap, dan sepi
Itulah yang kurasakan sekarang

Indonesia Raya telah berubah
Tanpa rasa peduli dan penuh sorot kebencian
Seluruh penghuni Indonesia Raya telah bermimpi

Kebahagiaan tidaklah abadi,
hilang sekali tersapu oleh air mata
di saat tak ada yang mendengar,
di saat dunia serasa menolak,
di saat semua orang,
bahkan orang yang terdekat
serta yang begitu disayangi dan menyayangi,
tak dapat mengerti dan tak mempedulikan

Pagi datang mentari terasa hangat
Angin bertiup terasa sejuk
Sungguh takjub karunia-Mu
Aku pengagum-Mu
syukur akan nikmat-Mu
saat kebahagiaan datang
senyuman menyelimuti Bumi
padang rumput luas menghijau
terasa menentramkan hati
Malam tiba bulan purnama bersinar
menyinari seluruh jagad raya ini
seperti dunia matreya
penuh dengan teratai
membawa perdamaian
cinta kasih yang universal
memimpikan kebahagian
bagi semua makhluk hidup

« Prev - Next »