Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Saat ini
Mentari masih menunjukkan cahayanya
semua kendaraan masih lalu lalang di jalan
Ketika Mentari mulai berusaha mengumpat dari penghuni dunia
Sang Ratu Malam muncul dengan indahnya yang tak berusaha mengalahkan terangnya Mentari
Kesunyian melanda dunia
Semua gelap, tenang, damai, dan… sunyi
Aku merenung dengan selimut malam
Memikirkan dirimu yang terbengkalai sendiri di rumah
Aku hanya menyampaikan kata rindu
Dari tiupan angin malam
Berharap engkau bisa menerima
Salam rindu yang t’lah ku kirim
Aku ingin bersama - samamu
Disaat selimut malam dingin dengan sepi ini
Ku berjalan melintasi dunia dalam perjalanan panjangku
Tanah demi tanah
Setapak demi setapak
Hingga saat kulihat hutan yang teramat luas menghadang langkahku
Kuputuskan memasuki hutan itu untuk sejenak melepaskan lelahku dan menghilangkan lapar dan dahagaku
Di dalamnya kujumpai pohon besar dengan daunnya yang berwarna kelabu yang berdiri kokoh ditemani burung-burung kecil yang bermain riang diatas dahannya
Di lembah dimana kesunyian dan hening berkawan dengan sejuta kesedihan
Kuhempaskan diriku dalam pelukan dingin sang kabut
Hingga kutemukan matahari
Dan membawa langkahku
Ditemani ilalang dan kerikil jalan yang menemani peluhku dan letihku
menuju titik akhirku mimpi panjangku
Udara dingin mendekapku erat.
Menemaniku di gelapnya malam yang kian melarutkan aku dalam kesunyiannya
Kutatap langit, tampak sedikit mendung ia.
Awan yang terserak menghampar di setiap sudut cakrawala yang kehitaman
Aku tak tahu apakah kegelapan langit malam telah merenggut cemerlang putihnya awan dan menyisakannya dalam kelabu, atau awanlah yang telah menodai langit malamku dan memisahkanku dari bintang-bintang kecilku.
jalan ini kosong
hati sirna
manusia hanya identitas
cantelan tanpa guna
lintasan kejam
cadasan bengis hidup
menujuk ari mahluk
plantasi kulit besi
nistakan manusia
rasa dan pri
dewakan dewa setan
memuja puji maksiat
geliat lumpur dosa
lumuri manusia
uang kotor
jabatan bengis
kuasa laknat
iman setan
akidah berhala
kiblat deposito
Malam lalu kau memberitahu dalam keadaan bermasalah. Banyak hal kini membuatmu tiada rasa gairah, setia, dan derma dari siapapun kecuali aku.
Ya, itu adanya malam kemarin.
Malam ini kau tuangkan itu di telinga kananku, di bawah langit hitam berbintang sebelah tangan. Dalam hangatnya kopi sajian warung, kau terus larutkan ceritamu seiring malam yang kian larut.
Tak ada nyanyian dalam guratan keperihan jiwa
Angin semilir menghalangi terik langkahku
Ketika kumulai memasuki kegelapan
Sunyi, buta, gelap, dan sepi
Itulah yang kurasakan sekarang
Indonesia Raya telah berubah
Tanpa rasa peduli dan penuh sorot kebencian
Seluruh penghuni Indonesia Raya telah bermimpi
Kebahagiaan tidaklah abadi,
hilang sekali tersapu oleh air mata
di saat tak ada yang mendengar,
di saat dunia serasa menolak,
di saat semua orang,
bahkan orang yang terdekat
serta yang begitu disayangi dan menyayangi,
tak dapat mengerti dan tak mempedulikan
Pagi datang mentari terasa hangat
Angin bertiup terasa sejuk
Sungguh takjub karunia-Mu
Aku pengagum-Mu
syukur akan nikmat-Mu
saat kebahagiaan datang
senyuman menyelimuti Bumi
padang rumput luas menghijau
terasa menentramkan hati
Malam tiba bulan purnama bersinar
menyinari seluruh jagad raya ini
seperti dunia matreya
penuh dengan teratai
membawa perdamaian
cinta kasih yang universal
memimpikan kebahagian
bagi semua makhluk hidup
Permanent link to this post (59 words, estimated 14 secs reading time)