KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Desember Tanpa Ending

Rintik-rintik hujan mengiringi ketukan-ketukan yang diciptakan oleh penaku. Aku duduk termenung menatap ke arah radio butut yang dari tadi mengeluarkan suara samar-samar. Kemudian melirik ke arah cerpenku yang belum juga selesai. Memandangi kata-kata berbaris bagaikan semut itu membuatku mengantuk. Oleh karena itu, kuputuskan untuk beranjak dari kursiku untuk membuyarkan semua rasa kantuk itu. Kuputar pinggangku ke kanan dan ke kiri, menepuk bokongku yang terasa panas karena sudah berjam-jam duduk lalu berjalan ke dapur.

Aku membuat secangkir kopi dan sembari aku mengaduk bubuk kopi dan gula dalam air panas, kulayangkan pandanganku ke kamar kosong dan gelap yang beberapa bagiannya dikuasai oleh sarang laba-laba. Tidak ada seorang pun menghuni kamar ini. Hanyalah ayah yang sesekali masuk ke dalam. Sebelum aku kembali ke mejaku sambil membawa cangkir berisi kopi, mataku sempat mengerling ke arah televisi, VCD, dan loudspeaker-barang hasil jerih payah ibu. Sesampainya di depan meja, aku menengadah sebentar ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul sepuluh malam dan kemudian duduk. Kutelusuri lagi cerpenku mulai dari awal sampai kata terakhir yang kutulis, bingung akan meneruskan ceritanya. Inspirasi berhenti karena rasa kantuk masih terus menyerangku meski telah meminum kopi. Beberapa kali aku menguap. Belum sempat aku meletakkan kepala di atas kedua lenganku yang saling bertopang di atas meja, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah sehingga rasa kantuk pun kembali buyar.

Aku beranjak dari tempat duduk dan membuka pintu.

“Bapaknya ada, Dek?” tanya pria yang menurutku umurnya sudah sekitar 30-an itu sambil menyunggingkan senyuman.

“Bapak belum pulang. Mau ngapain ya, Pak?” aku berbalik tanya.

“Mau mengambil sepatu. Katanya kemarin kan datangnya malem-malem aja,” ucapnya sesuai dengan dugaanku.

“Yang mana?” tanyaku lagi sambil mepersilahkan masuk. Kemudian dia mengambil salah satu sepatu dari atas mesin jahit di sampingku.

“Rupanya belom siap, Dek!” keluhnya, “Nanti tolong dikasih tahu ya sama Bapak.”

Aku hanya mengangguk.

“Adek nggak malem taon baru-an?” dia bertanya kembali.

Aku hanya menggeleng.

“Masa sih?!” tanyanya seperti menggoda. “Tapi bapaknya malam taon baru-an ya…,” ledeknya sambil tersenyum genit.

Apa sih orang ini! Kataku dalam hati. Kemudian hanya bisa menyunggingkan senyuman yang sedikit pahit.

“Kalau begitu jangan lupa bilang ya kalau orang punya sepatu ini tadi datang,” ucapnya mengakhiri sembari keluar dari rumah. Aku pun turut mengikutinya. Dia men-starter motornya yang diparkirkan di depan rumah sambil menganggukkan kepala tanda permisi. Seraya aku melemparkan senyuman pada orang tersebut, pandanganku menerawang ke segala sisi jalan yang kosong-melompong, langit malam yang begitu gelap saat itu.

Kuletakkan tanganku pada gagang pintu, kudorong pintu itu dan kemudian menguncinya dengan menarik engsel pintu ke kiri. Setelah itu kembali duduk di depan mejaku. Aku mendongak ke kamar tempat dua adikku tertidur lelap. Karena mejaku berada tepat di samping kiri pintu kamar sehingga memudahkanku untuk memperhatikan mereka.

Mereka pasti lapar, pikirku. Tapi apa boleh buat, ayah tak kunjung pulang sampai jarum jam telah menunjuk ke angka sepuluh lewat. Kutatap adik laki-lakiku lebih dalam. Dia tertidur begitu lelap seakan semua dosa telah lepas dari dirinya. Setiap hembusan napas yang dia keluarkan terikut juga dosanya keluar dari raga. Seandainya dia selalu seperti ini, anganku. Seharian ini dia di rumah saja tidak seperti biasanya. Aku selalu bertanya mengapa dia tidak bisa berubah. Tetapi seraya pertanyaan itu sering muncul di benakku, aku sadar bahwa tidak mudah untuk hidup sebagai dirinya. Aku tahu bahwa dia berada di bawah tekanan. Jika dia tidak melakukannya, dia akan diancam oleh teman-temannya, sebaliknya jika dia melakukannya dia selalu disudutkan di rumah. Sementara harus diakui ayah pun tak memberi contoh yang baik. Memikirkan hal ini, aku pun teringat akan kata-kata orang tadi, “Tapi bapaknya malam taon baru-an ya…”

Sewaktu mendengar kalimat itu terucap dari bibir hitam itu, darah dalam jantungku seakan memuncrat ke seluruh organ tubuh lainnya, air mata juga ingin mengalir melintasi kulit berminyak ini.

Sebelum aku terhanyut dalam lautan ini, tiba-tiba ponselku berdering membuat aku kembali terapung ke atas permukaan. Kulihat nomor yang tidak kukenal di layar, kemudian dengan perlahan jempolku menekan tombol untuk menjawab panggilan masuk tersebut.

“Halo…,” jawabku.

“Di mana Bapak??” tanya seorang pria dari sana dengan logat Bataknya.

“Eee… Bapak belum pulang kerja.”

“Kok selalu dia nggak di rumah! Apa mau cari mati dia?!” tiba-tiba dia berkata dengan nada kasar dan kemudian melanjutkan kalimatnya, “Bilang sama bapak, kalau dia mau cara baik-baik jumpai ke tempatku!”. Ditutupnya telepon namun tidak kutanya siapa dia karena aku sudah tahu.

Setelah itu posel itu kuletakkan kembali di atas meja. Sebelumnya aku menyimpan nomor HP yang masuk tadi agar suatu saat aku tahu itu nomor siapa. Tidak mau aku terlalu mencerna kalimat-kalimat tajam tadi. Dia tak sepantasnya berkata seperti itu. Ingin sekali tadi aku mengatakan, “Tunggu saja Mama kembali dari kuburnya untuk membayar utang itu!”

Mereka semua tidak peduli dengan semua kesulitan yang kami hadapi. Apalagi sejak Ibu meninggal, mereka menjadi seperti pembantai yang haus darah. Senyuman mereka seketika hilang dari bibirnya. Wajah dingin seperi es beku tak teretakkan menguasai. Ah! Pusing sekali mengingat-ingat ekspresi wajah mereka, pikirku.

Aku mencoba mengacuhkan hal-hal itu. Kuambil buku pelajaranku dan kucoba-coba mengerjakan soal-soal yang tercetak di atas lembaran-lembaran putih itu. Seraya mengerjakan soal-soal yang masih sanggup otakku tafsirkan, senyumku terbit mengingat ujian semester beberapa minggu lalu dapat kuikuti walau administrasi di sekolah belum terlunaskan. Namun meski demikian, tetap saja administrasi sekolah yang belum terselesaikan itu terasa bagaikan kuk berat yang membuat pundak ini makin membungkuk. Terkadang terpikirkan untuk menjual barang-barang hasil jerih payah Ibu itu. Tetapi kalau itu dilakukan, rasa bersalah mungkin akan menutupi hati selamanya.

“Apapun yang terjadi, barang-barang yang telah jadi milik sendiri berusahalah mempertahankannya. Jangan pernah menjual apa yang telah dimiliki, itu bukan penyelesaian,” kalimat itu terngiang di telingaku. Sementara kalimat itu masih menetap, lantunan melodi dari radio yang tadinya mayor disikut oleh nada-nada minor. Aku berhenti mengerjakan soal-soal tadi. Otakku sudah tidak sanggup mengelola angka-angka itu. Oleh karena itu, kualihkan perhatianku pada cerpen yang belum kuselesaikan. Sebenarnya aku tidak tahu akan melanjutkan cerita ini karena cerpen ini menyangkut tentang kelanjutan kehidupanku. Ada konflik yang saling berseteru satu sama lain. Aku bingung apakah akan berakhir bahagia ataukah semuanya harus terperosok ke dalam jurang kekelaman.

Tanpa sadar pertanyaan yang terus menerawang di pikiran ini tiba-tiba pecah dan hilang begitu saja ketika muncul suara yang begitu menggelegar sampai-sampai dinding begitu juga aku bergetar. Itu adalah suara khas motor tua ayah. Kugerakkan bola mataku dan juga kepalaku ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul sebelas. Tubuhku berdiri sigap dan langsung beranjak dari tempatku menuju pintu. Tangan ini seperti dipenuhi tenaga yang meluap-luap, hati juga begitu senang akhirnya ayah pulang.

“Belum tidur kau, Boru?” tanya Ayah lembut dari atas motornya dengan sebuah kantongan plastik besar berwarna hitam di pegangannya. Aku juga melihat senyuman-senyuman hangat menyapaku. Mereka adalah teman-teman Ayah dan Ibu.

“Halo! Kami tadi sengaja kemari karena Bapak datang ke rumah. Kalian sudah makan?” kakek tua yang masih gagah itu menyapa.

“Belum…,” jawabku tersenyum sembari menghitung ada enam orang yang ternyata datang.

Rumah yang begitu sepi tadinya kini telah ramai. Adik-adikku yang tadinya tertidur pulas sekarang begitu asyik mengobrol dengan teman-temannya. Betapa bahagianya diri ini. Namun tak terasa satu jam berlalu, mereka pamitan pulang. Kami semua pun keluar dari rumah mengantar tamu kami sampai ke teras. Senyuman masih melekat di bibir mereka seraya mereka menghilang.

Ayah berdiri di sebelahku sekarang. Tercium olehku badannya mengeluarkan aroma nira yang difermentasikan atau yang dikenal dengan tuak. Tapi ya sudahlah, pikirku. Kemudian melayangkan pandangan ke langit yang bertabur percikan-percikan kembang api. Langit malam yang begitu gelap akhirnya dipenuhi warna. Semua kekhawatiran yang tadinya sempat menguasai pikiranku dipecahkan oleh senyuman-senyuman hangat itu dan pastinya Ayah yang telah pulang. Senyumku pun ikut mengembang seraya kalimat ini melintas di benakku: “Selama kita memilki kenangan, ‘kemarin’ itu ada. Selama kita memiliki harapan, ‘besok’ menunggu kita.” Ya, besok itu telah di genggamanku! Tidak usah pikirkan ending cerita ini seperti apa. Yang lalu memang masih tetap berada di hati, namun ‘besok’ itu memacuku untuk tetap bertahan agar aku dan semuanya tidak terperosok ke dalam jurang kekelaman.

13 Responses to “Desember Tanpa Ending”

  1. on 22 Aug 2008 at 17:24Tya

    Aku suka..

  2. on 23 Aug 2008 at 10:17TIA CTQ

    go on aja dech nulisnya

  3. on 24 Aug 2008 at 20:12Khawarizmy

    Good post

  4. on 25 Aug 2008 at 23:26Didie

    Asyik juga cerpennya, judulnya pun menarik…
    Lanjutin bro..

  5. on 27 Aug 2008 at 08:24HeLL-dA

    Terima kasih atas atensinya..
    :wink:

  6. on 27 Aug 2008 at 22:02Alya

    Bagus, gw tunggu judul berikutx

  7. on 28 Aug 2008 at 11:45ai

    sederhana,,,
    ceritanya menarik,,,

  8. on 30 Aug 2008 at 22:52jendra

    sederhana…tp…ada kata-kata yang bikin saya ga bisa masuk di ’suasananya’ seperti di awal paragraf. tapi dalam percakapan tokohnya sederhana da lebih saya suka….
    he2 piss..intinya bagus sh!

  9. on 10 Sep 2008 at 18:56miss gaul

    wooii desember mah ada endingnya tauu…
    tanggal 31 desember kan udah terakhir..emang ada tanggal 32 desember kagak ada kaaan?wooooo….
    oh iyaa jangan lupa add msn gw yaa?

  10. on 13 Sep 2008 at 12:35restu

    aq suka kata kata ini “selama kita memiliki kenangan kemarin itu ada. selama kita memiliki harapan besok menunggu itu ada.
    rasanya kalimat itu cocok diucapkan buat aq….

  11. on 14 Sep 2008 at 11:06abid famasya

    Thanks ya. Ni cerita bwat tugas b. Indo ku. Terus berkarya n’ maju terus!!!

  12. on 21 Sep 2008 at 23:26fahrudin ifan

    simple,kreatif,good semuanya dapet disini!

  13. on 26 Sep 2008 at 10:26Yudha yyoe

    Ok banget dah ceritanya,,,,, Aku suka banget. HHhhhmmm,Buat cerita yang banyak lagi yaw,,, Coz ni cerita juga berguna banget,, Kalo nggak ada cerita ini pasti aku nggak bisa ngumpulin tugas..
    Terus berkarya yow!!!

Tinggalkan Komentar