Kahuripan 12A
Agustus 19th, 2008 by Alit_Dewanto
Kapan hari kerjaku berhenti? Suntuk dan bosan. Kuamati cercahan ranting di luar jendela kantorku. Kantor, kalau aku boleh menyebutnya, meski jarang sekali aku berada di sini.
Aku baru saja sampai dari Pontinak. Ada klien yang memutuskan untuk menyidik dan menyisir seluruh rumahnya kalau-kalau terdapat sesuatu berharga yang ditinggalkan alamarhum ibunya. Belum genap sebulan yang lalu, aku masih berada di kota Kupang, pelimpahan kasus pencurian aset sebuah perusahaan ekowisata. Sekarang Mr.T sudah memanggilku lagi. Benar-benar di luar batas kemanusiaan.
Pohon-pohon-entah jenis mahoni atau mangrove- masih melambaikan dahannya, seolah ingin menata dirinya agar nampak lebih indah di mata orang lain. Kuputuskan untuk duduk sebentar, masih dua puluh menit terisa. Akan kuikuti apa maumu.
********************
Di gerbong itu, kulihat dia naik. Lemah tapi anggun. Aku sampai berpikir bisakah dia melewati palang naiknya dengan cara berjalan seperti itu. Malam masih hangat, setidaknya dia memiliki jaket untuk dikenakan nantinya. Wajahnya, kulihat sayu tapi menimbulkan rasa ingin melindungi bagi setiap pria yang melihatnya. Kuning langsat, sedikit ternoda dengan kepulan asap kereta api. Masih bimbang. Dia melangkah seakan-akan menggendong gunung, tertatih-tatih. Dia mencari-cari tempat duduknya. Ia menyusuri lorong kotor penuh sampah di kereta api. Perlahan ia melongok untuk memastikan seatnya.
“ Maaf, Pak. Saya dapat tempat di nomor 12 A. Bapak duduk di tempat saya,” tegurnya kepada seorang bapak-bapak keriput yang sedikit kumal dan nekat. Bapak itupun beranjak dari kursinya. Kudengar dia berbicara beraksen Jawa, masih medhok. Aku sedikit terkekeh melihat adegan tersebut. Memang apapun bisa terjadi di kereta berstatus ekonomi ini. Menduduki tempat orang, salah satunya.
“Kereta Kahuripan di jalur 6 akan segera diberangkatkan dari stasiun Kiaracondong Bandung dengan tujuan Solo,” terdengar suara petugas dari mikrofon.
Aku pun naik. Sudah diatur agar tak jauh dari tempat duduknya. Dia seperti melamun, memikirkan beban berat yang harus ditanggungnya. Dia menyandarkan kepalanya pada jendela, melihat kekelaman malam yang penat. Kupandangi lagi wajahnya dalam temaram terang yang semu, akbat lampu yang sangat redup. Dia menitikkan air mata. Ukh, ingin rasanya aku memeluknya, menggapainya, menenangkannya. Tapi, tahukah dia apakah aku terus mengamatinya, tahukah dia bahwa aku terus menginginkan untuk memandang wajahnya. Setiap gerakannya menimbulkan detak yang berbeda, frekuensi yang berbeda fase, istilah dosen Fisika. Tapi seakan dia terlelap dalam lamunannya. Yah, lebih baik dia tertidur untuk merasakan sedikit kedamaian dan penghiburan akan masalahnya.
Sesaat aku membayangkan sudikah kiranya kalau aku harus melakukan pekerjaan ini. Bolehkah aku mengagumi wajahnya. Betapa bodohnya aku. Bukankah segerombolan cercaan yang akan kuterima nantinya. Aargh, kututup mata ini sejenak. Jangan masturbasi di sini, perintah otakku pada diriku sendiri.
********************
Terdengar seorang lelaki memanggil sebuah nama dan dia menoleh. Namanya Kartika. Dia dan lelaki itu tampak sangat akrab. Kucoba untuk mengusir pikiran-pikiran negatif yang terus merasuki otakku. Tidak, mereka pasti hanya teman biasa, ujarku sendiri dalam hati. Tetapi semakin kulihat, semakin patah asa ini. Mereka bergandengan tangan, dan tak bisa kubohongi diriku sendiri ketika melihat mereka berciuman. Ehm, kurang mesra untuk sepasang kekasih, gumanku. Mereka berjalan ke arah warung yang berjudul ‘Tongseng Kambing’. Aku pun mengikuti mereka.
Sembari ‘mengintai’ mereka, aku hanya dapat termangu bermain-main dengan pikiranku sendiri. Tak mungkin wanita selemah itu melakukan sesuatu yang dituduhkan kepadanya. Aku hanya ingin bosku salah salah dalam menulis pesan. Kuraih handphoneku, kubaca ulang pesan dari Mr. T
“Kiaracondong stasiun, Bandung, 24 Mei, Kahuripan 12A. Ikuti dia. Jangan sampai lepas.”
Itulah jobdeskku. Entah mengapa aku enggan melakukan pekerjaan ini. Mengapa harus dia yang menjadi objekku. Kejahatan macam apa-yang sampai hati-dia lakukan. Jangan-jangan dia pernah menolak pinangan Mr.T sehingga begitu dendamnya menyuruhku untuk membuntutinya. Sudah rahasia angin bahwa bosku itu doyan ’jajan’ gadis-gadis yang masih perawan.
Prakk..Bunyi tersebut mengagetkanku, membuyarkan lamunanku. Begitu pula orang lain yang kulihat.
“ Mas Ilham jangan pernah mengucapkan hal tersebut lagi kepadaku. Kita hanya baru bertunangan. Dan aku akan menolak lamaran Mas Ilham, bila Mas terus bersikap seperti ini!” teriak Kartika seraya menitikkan air mata.
Orang yang dipanggil mas Ilham tersebut merespon dengan hanya berdiri-tampak berang pula-kemudian berjalan meninggalkan Kartika yang menangis sendirian. Oh rasanya ingin kupukul lelaki itu. Dasar pengecut, umpatku pelan-tapi cukup terdengar oleh sebelahku. Tega-teganya dia membuat Kartika-yang polos dan lemah itu-menangis. Ingin kupeluk tubuh wanita itu dan menenangkannya. Kurasakan handphoneku bergetar.
“Jangan sampai Anda berbicara dan terpikat kepadanya.” Pesan dari Mr. T
Entah roh apa yang sedang mengendalikanku. Kuingat ramalan kartu tarot- Madame Shenia- kemarin. Rasi bintang sedang dikuasai planet Saturnus, berarti pertanda baik. Entah benar atau tidak, nyatanya aku tak bisa mengerem kakiku, untuk melangkah mendekatinya.
********************
“Sebenarnya Mas Dewa kerja di mana sih? Tika nanya kok nggak pernah dijawab,” ujarnya suatu hari.
Urgh, sikap manja dan polosnya itu membuatku benar-benar tak kuasa menahan gejolak jiwaku ini.
“ Ya serabutanlah. Ke sini oke, kesana pun tak masalah. Jaman sekarang susah kan mencari pekerjaan tetap yang sesuai dengan jiwa kita,” jawabku mencoba jujur.
Dia menggelangkan kepalanya, pertanda kurang suka terhadap jawaban yang kuberikan. Tanpa menoleh sedikitpun, dia menghirup udara segar sejenak. Matanya menatapku dengan sangat keheranan. Refleks, aku membalasnya dengan hal yang sama pula.
“ Ah, Mas Dewa terlalu idealis. Yang benar, jaman sekarang yang penting dapat kerja, dapat uang, keluarga senang, kita pun aman.”
Sesederhanakah pikirannya? Inilah yang aku dambakan bila aku mencari seorang pendamping. Tidak neko-neko. Biar aku nanti yang bekerja, dia yang mengurus anak-anak kami. Aku mulai memikirkan kebenaran kartu tarot Madame Shenia.
“Susah Mas jadi orang kecil seperti Tika ini. Cari kerja di mana-mana gagal terus. Mungkin di sini aku bisa dapat pekerjaan. Apa sajalah, asal halal,” lanjutnya.
Aku hanya memandangnya. Jawaban yang dia berikan selalu polos, terpancar inner beauty-nya, kalau menurut kamusku.
Kami berjalan menyusuri stadion Manahan- yang merupakan pusat kota Solo- tempat semua kalangan berkumpul dengan ramainya. Aku tak dapat menyembunyikan kekagetanku ketika menapaki kota ini. Benar-benar unik. Di trotoar-trotoar jalan tersebar puluhan warung lesehan yang disebut hik-menurut istilah penduduk lokal.
“ Mas, bagaimana kalau kita mampir ke hik Pak Kumis.”
Sambil memesan jeruk hangat, aku pun menelan dua bungkus nasi kucing khas Solo. Entah mengapa dinamakan nasi kucing. Mungkin porsinya yang kecil-hanya segenggam tanganku-cocok untuk dimakan sebagai porsi kucing. Semakin dekat padanya, rasanya semakin tak jauh surga ini berada.
“Mas, Tika boleh minta SMS tidak? Cukup satu saja,” pintanya.
Aku sama sekali tak berdaya untuk menolaknya. Kusorongkan handphoneku padanya.
“Ketahuan sekarang kalau Mas Dewa bohong. Akau sama sekali tak percaya pekerja serabutan bisa memiliki handphone secanggih ini.”
Dia tersenyum, memamerkan deretan giginya, gingsul, tetapi kelihatan sinkron dengan bentuk mulutnya yang oval. Kuingat ini memang handphone pertama yang kubeli menggunakan uangku sendiri, gaji pertama. Apalah katanya, mana mungkin aku mengaku pekerjaanku sebenarnya.
“Agaknya kita harus sepakat, jaman sekarang, kualitas handphone tidak bisa menjamin kedudukan dan profesi seseorang. Banyak bos-bos yang handphone-nya sederhana. Sebaliknya kuli bangunan saja sudah punya model 3G. Lagipula ini hadiah dari bosku kok,” jawabku sediki bergeser, tak mengeser sedikit pun untuk menatapnya. Matanya itu sayu tapi indah. Heran aku, dia tidak ada cacat di hadapanku.
********************
Aku hanya bisa berdiam diri. Apakah aku yang salah. Kucoba meraih gitar di hadapanku dan memainkan sebuah lagu. Sumbang. Ah, aku bukan Dewa Budjana. Kuletakkan lagi gitar ke tempatnya. Kucoba mendendangkan, mengiringi sebuah lagu di kaset. Fals. Uh, aku bukan Phil Collins. Kunyalakan radio di atas lemari. Siarannya, lagu-lagu keroncong, yang sama sekali tak akan pernah kusukai. Terdesak dorongan hati, aku pun pergi keluar kamar kos yang kusewa, sekedar mencari angin. Bu Eni-dosen psikologi-semasa kuliah dulu selalu menganjurkan bahwa jalan-jalan malam sangat baik untuk untuk kesehatan pikiran apabila kita sedang gelisah. Suhu rendah akan memompa adrenalin untuk terus beraktivitas. Adrenalin akan terus berpacu sehingga peredaran darah otak menjadi lancar kembali, ceramahnya. Dia salah satu dosen favoritku meski nilaiku untuk mata kuliah yang dia ajarkan selalu memenuhi dalil Rantai Karbon, deretan C-C-C-.
Uh, Solo di malam hari tetap panas juga, gerutuku dalam hati. Aku berjalan menyusuri jalan M.H. Thamrin berbusanakan kaos tipis, meski kegerahan tak bisa kutepis. Berharap mendapat kesunyian, malah keramaian yang kudapat. Terdengar segerombolan anak muda sedan menghabiskan malam mereka di hik Pak Min. Sungguh, Solo merupakan kota yang tidak pernah tidur. Sering aku berpikir keras kapankah kota ini istirahat. Heran aku menyaksikan pemandangan tak lazim ini: anak-anak muda-yang mengaku dirinya gaul-masih betah nongkrong di trotoar-trotoar jalan. Apa tidak ada kafe atau semacamnya yang bisa didatangi. Andai saja, mereka di Bandung, pasti sudah mati kedinginan. Belakangan, kuketahui pula bahwa hik-hik tersebut belum mau tutup bila belum terdengar adzan subuh.
Aku pun terus berjalan. Otakku kembali memikirkan beberapa ide yang berlalu-lalang saat ini. Semasa kuliah dulu, aku selalu diajarkan untuk membuat beberapa planning. Aku masih meragukan perintah dari Mr. T. Dan aku memilih untuk tidak menuruti anjurannya. Dia sudah semakin tua, pikirku pendek. Tapi, bagaimanapun juga dia adalah bosku.
Siang tadi, aku sudah menghubung Madam Shenia.
”Kartu tarotku mengatakan: saat ini alammu sedang dikuasai planet Mars, berarti akan ada peperangan dalam batinmu. Awan Jupiter bergerak menyelimutinya, berarti itu adalah peperangan yang sangat sulit. Harus ada banyak pertimbangan. Tapi tunggu dulu, jarak Bulan tak sampai atu mil, dekat sekali. Berarti akan ada penyelesaian dalam waktu dekat ini. Sebaiknya, sekesaikan masalah ini dalam minggu ini. Aku menyarankan hari Selasa depan, sesuai primbon lahirmu,” jelasnya, tanpa henti, tanpa menghiraukan responku sama sekali.
Kembali terngiang di pikiranku: aku tak dapat menyangka, bidang ilmu apa yang pernah ditekuninya, yang jelas ramalannya telah menentukan nasibku. Berkat hari yang ditentukan, aku diterima di sebuah perusahaan elite yang mempekerjakanku sampai saat ini. Pekerjan yang sangat menjanjikan. Ampuh.
Kartika. Dia tidak hanya sekedar cantik tetapi bisa menimbulkan gairah lelaki yang berada di dekatnya untuk memeluknya, melindunginya. Tersimpan sebuah ketulusan dan kesederhanaannya dalam berucap. Ia begitu polos, ramah, mustahil dia bisa melakukan sesuatu yang harus kuselidiki.
Malam tetap berlanjut, tetapi tak pernah kurasakan dingin. Hangat, agak gerah mungkin lebih tepat.
********************
“Apa Mas Dewa yakin-dengan mawar ini-aku akan menerima cinta Mas?” tanyanya menimbang setangkai mawar yang kuberikan sebagai wujud pergumulanku selama ini. Dalam hidupku, inilah pertamakalinya aku ’menembak’ cinta seorang perempuan. Dulu, aku pernah tertarik pada seorang gadis, usianya lima tahun lebih tua dariku. Belum sempat kunyatakan perasaanku, dia terlanjur menikah dengan temannya semasa kuliah. Sial. Aku memang sangat jarang jatuh hati kepada kaum Hawa, meski seing harus kutegaskan aku bukan seorang homoseksual.
Sudah lebih dari seminggu-sampai aku lupa tepatnya-semenjak aku melihatnya di gerbong kereta Kahuripan, perasaanku bergejolak kepadanya. Aku begitu ingin menyatakan rasaku terhadapnya. Orang tuaku sering menanyakan kapan aku menikah, sudah waktunya. Dan kupikir inilah saat yang tepat.
Aku pun hanya bisa mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaannya. Aku tak ingin berpikir macam-macam dan terlalu jauh dulu. Ini lebih dari cukup kurasa.
“Mas Dewa, Tika ini hanya seorang yang tidak memiliki apa-apa. Tika tak berbakat di bidang apapun. Kerja apapun selalu apes. Bahkan kekasihku sebelumnya, Mas Ilham-yang sudah kuceritakan, kecewa terhadapku.”
Dia beranjak dari tempat duduknya, berkeliling mengitari sebelah kanan bangkuku. Terlihat semburat merah di pipinya. Entah malu, ataupun tak menyukai pertanyaanku. Jantungku semakin berpacu mendengar pengakuannya. Andaikan ada gelas di situ, pasti sudah kuremukkan. Semilir angin yang sepoi-sepoi belum mampu mengimbangi panasnya nyala rohku.
“Aku lalai dan tidak cukup pintar. Apalagi Tika ini yatim piatu, seorang diri di dunia ini, sebatang kara. Tika hanya bisa bersyukur masih ada seseorang yang tulus mencintaiku seperti Mas Dewa. Maaf Tika tak bisa meluluskan keinginan Mas,” tolaknya mentah. Kata-kata penolakan yang sangat halus.
Dia menangis. “Maaf sekali. Hanya itu yang bisa Tika katakan.”
“ Tetapi…” Kata-kata itu menggantung di udara. Lidahku kelu mendengar penolakannya. Dia terlanjur pergi, berlari semakin jauh, meninggalkanku sendirian. tak ada yang bisa kulakukan selain memandang kepergiannya. Hening.
********************
Keesokan harinya, aku bertandang ke rumah kosnya. Aku bertekad tak akan mengungkap kembali kejadian semalam. Kami hanya bercakap biasa meskipun hatiku masih terasa pedih.
“Tik, aku numpang ke kamar mandi sebentar.”
“Silahkan.”
Kuraih gagang pintu usai menyelesaikan hajatku. Sepluluh menit, lama sekali. Paling tidak jasmaniku lega sekarang, candaku pada jiwaku. Ups, pintu tak bisa dibuka dari dalam. Jangan-jangan rusak, batinku.
“Tika, tolong buka pintunya,” seruku. “ Tika, pintu tak bisa dibuka.”
Tak ada respon yang kudapat. Terdorong rasa kesal, kudobrak pintunya. Terkejut, responku usai kembali dari kamar mandi. Kartika tidak ada di tempat. Kopernya tidak ada. Mataku menyapu seluruh ruangan. Yang tertinggal hanya perabot asli kamar kos. Tapi ada sepucuk surat, tergeletak di atas meja. Terdorong naluriku, kubuka dan kubaca.
Untuk mas Dewa,
Maaf Mas, selama ini aku telah menyusahkan Mas Dewa. Sebenarnya, aku sudah tahu bahwa aku ‘diamati’ di kereta Kahuripan. Dan benar orang itu adalah Mas Dewa. Sejurus aku berpikir dan mulai menduga siapa Mas Dewa sebenarnya. Dugaanku ternyata benar bahwa Mas Dewa adalah agen dari perusahaan detektif ‘Oxpole’ yang memang berniat mengejarku. Ya, akulah pembobol kode rahasia ‘Oxpole’, dan aku pulalah yang mengeruk sejumlah dollar dari perusahaan finance yang menjadi mitra ‘Oxpole’.
Akan tetapi, aku sangat salut kepada Mas Dewa. Mas Dewa masih memiliki hati tulus meyayangi seorang gadis meskipun hal itulah yang malah menjerumuskan Mas Dewa sendiri. Aku yakin bila peforma Mas Dewa stabil terus seperti ini, cepat atau lambat Mas Dewa akan menemukan gadis yang tepat.
Perlu Mas Dewa ketahui dan pahami bahwa aku memang memiliki sebuah ketertarikan yang berhasil menjerat Mas Dewa. Ketertarikanku ini sering diinterpretasikan sebagai sebuah kecantikan yang menimbulkanrasa ingin melindungi dari setiap lelaki. Aku memang terlihat lemah dan polos. Aku yakin Mas Dewa sadar akan hal tersebut. Itulah kartu trufku. Aku yakin bos Mas Dewa pasti sudah mengingatkannya. Tambah lagi, sosok yang bernama Mas Ilham sebenarnya hanya rekaan saja, sewaanku. Kugunakan untuk meriah simpati Mas Dewa.
Harapanku sederhana. Semoga kita tidak berjumpa lagi dan semoga pula Mas Dewa tidak akan dipecat dari ‘Oxpole’. Handphone dan dompet Mas ada di tanganku sekarang, untuk mencegah hal-hal yang tidak kuinginkan. Maaf. Tetapi aku bukan orang yang mutlak jahat, aku masih punya hati nurani. Sebagai balas budi, kutinggalkan selembar uang limapuluh ribuan dan selembar tiket kereta Kahuripan untuk kembali ke Bandung, besok malam.
Aku rasa ini pemberian yang cukup adil. Selamat tinggal Mas Dewa.
Kartika
********************
Jelas-jelas dia memang seorang ‘penjahat’ yang telah merugikan perusahaan mitra dan penjahat yang telah mencuri hatiku tanpa pernah mengembalikan sejatinya lagi. Jeals-jelas dia sudah menegelabuhi diriku. Tetapi aneh, perasaanku tetap sama terhadapnya. Tetap simpatik. Meski aku tak dapat menyembunyikan kekecewaanku, setitik harapan menerangiku. Ujarnya jika aku terus konsisten seperti ini, maka aku akan mendapat pendamping yang lebih baik. Ya, aku memutuskan untuk memercayainya lagi.
Ya, kebodohan ini harus kutanggung sendiri. Aku hanya berharap bahwa Mr. T tidak akan memecatku dari pekerjaan ini. Ini naluri kelaki-lakian seorang agen detektif, ujarku sedikit bersemangat. Aku akan meminta Madame Shenia untuk meramal hari baikku lagi.
Kupandangi lagi kereta Kahuripan yang sebentar lagi akan membawaku kembali ke Bandung. Dan tepat di depanku ialah kursi 12A, kembali seorang wanita. Aku curiga bahwa dia adalah antek Kartika. Aargh, mengapa naluri seorang agen detektif baru muncul sekarang, kumaki diriku sendiri. Sebenarnya roh apa yang yang menguasaiku hari-hari kemarin, hingga dengan mudahnya aku meletakkan seluruh aspek diriku kepada satu orang.
Tidak. Yang paling penting saat ini adalah bagaimana cara mempertahankan posisiku di ‘Oxpole’. Hanya itu.
ya lumayan lah…