Burung
Agustus 19th, 2008 by Alit_Dewanto
Hari ini aku adalah burung. Terbang mencari dahan terbaik untuk berteduh, merehatkan diri. Aku hanyalah burung, yang bisa menatapmu dari balik jendela. Engkau sedang bercumbu dengan kekasih barumu. Kulihat dia hanya sekedar mainanmu saja. Kau nampak begitu menikmati hidup, entah apapun itu bentuknya, di tengah hiruk-pikuknya peternakan Regalo Grande yang sama sekali belum mapan.
Sayang, aku hanyalah burung. Sekompleks apapun emosiku, tak akan mampu kujelaskan: kau tak akan pernah mengerti lagi. Angin bertiup sesuai kemauannya; engkau mendengar bunyinya, semilir sepoi menghempaskan tubuhku ke salah satu ranting yang lapuk. Nyatanya sekarang aku memang belum bisa menyesuaikan diri dengan hawa musim panas California ini.
Sambil mengitari pohon-yang kadang kusebut elephant tree[1] ini-sekedar mengingatkanmu saja, dulu akulah yang menemuimu di bar Colze’s Cocina itu. Aku yang datang menghampirimu, sekali lagi. Aku hanyalah seorang pria baik-baik saja, tak lebih dan tak kurang. Saat itu kebun anggur ayahku sedang menghadapi suasana pelik mengenai lisensinya. Aku duduk sambil melahap seporsi tortilla[2] ketika tiba-tiba kulihat seorang gadis berada di panggung. Seorang gadis yang nampaknya sama sekali bukan tipe ideal yang selalu kudambakan.
Bahkan dulu, kau pun sama sekali tak bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Kata-katamu sangat terdengar aneh, ditambah lagi aksen Meksikomu yang membuat segalanya menjadi kacau. Kau mulai menari, menggoyang-goyangkan tubuhmu, membuat seluruh penonton, tak terkecuali aku, terkesima. Alunan lembut gitar di sampingmu nyatanya tak kuasa mengalahkan keerotisanmu. Aku sangat menanti pertemuan empat mata denganmu. Aku berkali-kali menghubungi manajer bar, kalau-kalau bisa menemui dirimu. Kuhitung sudah tiga kali aku memohon kepadanya, belum terhitung dua kali bercekcok dengannya perihal statusmu.
Ya, tapi aku adalah burung sekarang. Secerdas apapun diriku, tak akan bisa kutuliskan dalam bahasamu. Empat bulan, akhirnya aku mendapatimu sendirian. Empat bulan, aku hanya bisa menghela napas melihatmu di panggung. Empat bulan, kutahan dahaga untuk mengampirimu. Empat bulan pula, aku selalu masturbasi mengingat gerakanmu, alih-alih rupamu malah. Engkau terduduk sendirian, termangu tanpa harapan sama seperti nasib ribuan pekerja ilegal Meksiko yang hendak dideportasi ke daerah asal mereka.
Wajahmu mengandung sebuah umpan yang tak akan bisa diterjemahkan oleh lelaki normal manapun. Hanya nafsu yang bekerja. Aku menanyaimu kalau-kalau kau ingin sesuatu untuk dimakan. Aku kebetulan memiliki sekotak sandwich yang belum disentuh. Bien Seńor[3], itulah jawaban pertama yang kudengar dari mulutmu sendiri. Saat itu, aku baru sadar bahwa kau adalah orang Meksiko yang sama sekali tak menguasai bahasa Inggris. Aku pun tak sadar apa yang harus kukatakan. Entah roh apa yang menguasaiku, nyatanya hatimu pun tertambat olehku.
Setiap gerakan indah, kau sadari berasal dari Pencipta. Kau sangat rendah hati. Un regalo[4], kau selalu menyebutnya demikian. Aku tak bisa menyembunyikan kekagumanku. Hingga kudapati, kau adalah pekerja illegal. Datang ke Amerika tanpa sebuah dokumen apapun. Aku selalu bertanya dimana kau menyiman dokumen-dokumenmu. Itu sangat penting untuk menyatakan dirimu benar di hadapan para petugas dari kantor Imigrasi. Kau selalu mengelak untuk menjawab, sampai di suatu malam, ketika hanya ada kita berdua, kau memberiku pengakuan yang mengejutkan. No documentos. Yo no tengo esa clase de papeles[5].
Aku adalah burung, melintasi pohon ek yang menjulang tinggi. Dahannya sama ringannya dengan pohon sebelumnya. Aku telah berulang kali melintasi pemakaman yang telah kau atur sangat apik. Kau rutin menyambangi makamku setiap hari di Sonoma’s Hollow. Kau rajin menabur bunga dan menyirami tanah pekuburanku. Kuda-kuda jenis Arabianku juga kamu pelihara dengan baik-baik pula. Kau memang istri sejatiku. Tanpa sadar penuh, memang aku mengawinimu. Kurang pertimbangan dan tergesa-gesa, itulah kata-kata ayahku, dulu.
Tapi, aku harus menikahimu waktu itu. Aku sama sekali tak rela engkau di deportasi ke negaramu. Untunglah petugas Imigrasi itu memberikan tenggang waktu selama empat hari. Hari pertama untuk meyakinkan diriku sendiri. Hari kedua untuk meyakinkanmu untuk mau menikah denganmu. Hari ketiga untuk meyakinkan kedua orang tuaku. Dan hari keempat untuk melangsungkan pernikahan. Sebab kau ini bukan sanak saudaraku, bukan siapa-siapaku pula. Maka aku harus membuat dirimu menjadi siapa-siapaku, meskipun untuk menjadi seorang pendamping hidup. Aku hanya ingin melindungimu, Patrona-mu.
Kita hidup bersama lama sekali. Lama sekali hingga kau menyaksikan pemakaman kedua orangtuaku. Semakin erat hubungan kita hingga ada istilah ‘dadakan’ lagi, hingga penyakit yang dinamakan lupus ini merenggut nyawaku. Kupikir, sia-sia dulu kau membawaku ke San Fransisco untuk pemeriksaan MS[6]. Ya, itu sudah nasib. Dios[7]lah yang telah mengatur segalanya. Aku merasa bahagia kau mau menguburkanku dekat makam orang tuaku.
Tapi, aku hanyalah burung. Kulintasi seluruh area lembah Sonoma, yang terbentang sangat luas. Aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan, meninggalkan seluruh kemapanan yang telah kau atur dan kebahagiaan yang telah kau simpan untukku. Aku tahu ‘lelaki itu’ berganti setiap minggu. Kau sendiri yang mengganti mereka apabila kau sudah bosan. Ternyata, tak ada lelaki lain di hatimu. Akulah satu-satunya lelakimu. Itulah yang membuatku semangat untuk terus terbang..terbang..dan terbang.
Hari ini, aku hanyalah burung. Esok hari, aku akan kembali, entah dalam wujud apa. Aku akan terbang ke tempat di mana kau nanti akan menyusulku kelak. Awan cumulus pun tak bisa menghalangiku.
[1] Pohon gajah terletak di gurun Sonora di ujung selatan California dan Meksiko bagian barat Laut, hidup sampai ketinggian 762 meter[2] Kue bundar tipis dari bahan roti tak beragi dan jagung, biasanya berisi daging, keju, dan bermacam-macam[3] Baik, Tuan.
[4] Talenta itu.
[5] Tidak ada dokumen. Aku tidak punya dokumen setingkat itu.
[6] Mitral Stenosis, semacam pemeriksaaan jantung
[7] Tuhan, God