KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

A Flower for Dyas

Namaku Dyas, mahasiswi salah satu akademi kebidanan terbaik di Semarang. Hari ini, 24 Juli, adalah hari wisudaku setelah mendalami pendidikan akademi selama tiga tahun. Sudah terlalu lama penantian dan pengorbananku ini, tak berlebihan bila aku menyebutnya ’antusias yang ekstrem’.

***

Bapak begitu marah ketika beliau membuka raporku. Kontan saja beliau terkejut melihat angka 5 terpampang di samping tulisan ‘Mata pelajaran Matematika’. Aku pun sama terkejutnya. Belum dimarahin pun aku sudah tak dapat membendung air mata.

“Apa ini! Begitu bodohnya kamu hingga nilai matematikamu hanya mendapat angka lima. Katamu kalau ulangan selalu bisa mengerjakan!” bentak Bapak. Beliau selalu menuntut keperfeksionisanku, mungkin itulah jiwa mudanya dulu yang ingin diwariskan kepadaku.

Keadaan seketika hening oleh monolog Bapak. Akhirnya, Ibu pun mengutarakan pendapatnya.

“Sabar, Pak. Ibu tak percaya Dyas nilainya hanya segitu. Pasti Bu Rom salah memasukkan nilai. Ibu yakin,” bela Ibu.

Memang, harus kuakui, Ibu merupakan sosok yang sangat sabar, mengimbangi watak temperamental Bapak. Sering ketika Bapak marah besar, Ibulah yang menenangkan kemudian.

“Mungkin saja. Besok akan kuklarifikasi langsung. Aku tidak percaya bahwa Dyas, yang kugembleng selama ini, nilainya memalukan.” Bapak mengakhiri pembicaraan.

Keesokan harinya, Bapak berangkat ke sekolah dan menanyakannya langsung kepada Bu Rom. Tetapi, hasilnya nihil. Bu Rom selalu saja mengelak untuk memberikan daftar nilai ulangan umum dan harian. Menyalahi aturanlah, kurang bijaksanalah. Entah. Usaha Bapak untuk meminta Bu Rom kembali meninjau pekerjaannya kalau-kalau beliau salah memasukkan data juga tak berhasil. Saya tidak pikun, ungkap Bapak menirukan ucapan Bu Rom.

Ya, meskipun aku baru berusia sepuluh tahun, tapi aku sadar apa yang sebenarnya terjadi. Aku memang sengaja dikalahkan agar tidak mendapatkan peringkat teratas. Ini sudah yang ketiga kalinya oleh guru yang sama. Tapi kali benar-benar keterlaluan. Mengapa harus nilai Matematika. Tak ingatkah Bu Rom bahwa semester kemarin aku membawa nama baik sekolah dengan menjadi juara Lomba Mata Pelajaran bidang Matematika.

Kuyakini, memang keadaanku sendiri serba salah. Jaman ini masih dipenuhi praktek nepotisme, kata Bapak kemudian. Setiap siswa yang belajar privat ke Bu Rom pasti mendapat nilai yang bagus, entah dia pandai atau malahan bodoh sekalipun. Sudah menjadi rahasia angin, saat sehari sebelum ulangan, pasti Bu Rom selalu memberikan bocoran kepada murid-murid privatnya. Sebenarnya, aku juga sangat ingin ikut les privat tersebut tetapi Bapak tidak memperbolehkannya. Membuang-buang duitlah, menambah kebobrokan. Aku sampai tak ingat apa lagi serapah lanjutannya.

“Lagipula, Bapak juga masih sanggup mengajarimu. Tak perlu harus les ke Bu Rom,” tambah beliau.

Aku hanya bisa merenungi nasib. Memang mayoritas, murid-murid les Bu Rom adalah anak-anak orang yang sudah mapan. sedangkan Bapak bukanlah orang kaya. Beliau hanya berprofesi sebagai tukang las wiraswasta di sebuah desa kecil, Gundih. Ibu pun juga hanya seorang ibu rumah tangga sehingga tidak mempunyai penghasilan tambahan.

Harapanku sederhana saja. Kenaikan kelas nanti, kuharap gurunya bukan Bu Rom lagi. Cukup dua tahun saja bersamanya.

“ Tuhan, aku ingin kemampuan otakku dihargai dengan sepatutnya,” pintaku polos. Apakah ini berlebihan?

***

Oops, kuhentakkan memori tersebut. Aku sudah dewasa sekarang, bukan lagi seorang gadis kecil yang polos.

“ Dyas, itu giliranmu untuk dirias,“ ujar Lea yang tampak cantik sekali selesai dirias.

“ Oke,” sahutku mantap. Kuletakkan tasku di meja sembari berjalan ke arah meja rias.

Lea memang cantik. Watak perfeksionis menuntutnya untuk sempurna dalam segala hal, termasuk berdandan. Entah mengapa dulu kami bisa bersahabat, pasalnya aku juga memiliki bibit-bibit perfeksionis. Kuakui, kami bersaing dalam hal akademik. Aku tak pernah menyembunyikan kekecewaanku apabila nilainya lebih tinggi daripada nilaiku. Begitu pula dia. Tetapi, memang dialah yang selalu kuajak untuk berdiskusi, untuk sharing, untuk bergembira, semuanya. Persahabatan yang aneh.

Kulihat wajahku di cermin rias. Benar, aku memang semakin matang sekarang. Mungkin sedikit gemuk sekarang, tapi tak apalah. Mbak Marni-yang meriasku-dengan hati-hati mulai menyisir rambutku. Aku pun teringat akan sesuatu hal.

***

Perlu waktu yang lama untuk menyerap isi surat penting ini. Telak, seakan ada orang yang menampar pipiku. Itu hanya karena kata ‘TIDAK DITERIMA’ di sisi kiri-tengah surat. Perlahan air mataku mengucur. Pelan tetapi semakin deras saja. Impianku untuk melanjutkan SMA favorit di kota Solo pupus sudah. Padahal, aku telah menyiapkan sebuah rencana untuk masa depanku yaitu bersekolah di kota lain yang taraf pendidikannya lebih maju. Solo memenuhi segalanya. Kota ini sangat strategis bagiku mnegingat kualitas pendidikan yang diselenggarakan sangat menjanjikan, ditambah tidak terlalu jauh dari rumah orang tuaku. Aku hanya bisa memandangi ratusan siswa lainnya yang gembira karena diterima, yang dipeluk orangtuanya dengan amat bangga. Sakit. Mengapa aku harus menjalani kejadian ini, sesalku dalam hati. Keoptimisan dan keyakinanaku ternyata berbuah seperti ini.

Aku hanya bisa memaki kebodohanku dulu. Sewaktu EBTANAS[1] berlangsung, aku masih belum dapat melupakan Mas Ilham, anak SMA sebelah SMPku. Kami baru putus waktu itu. Itu memang kisah cinta monyet pertamaku sehingga aku tak dapat melupakannya begitu saja. Meskipun dalam kondisi ujian, aku masih terus mengingatnya. Dan ternyata, itu membuahkan kesialan bagiku. Yang jelas, nilai EBTANASku tak mencukupi untuk masuk ke sekolah yang kuinginkan. Bagaimana aku bisa menerangkan semua ini kepada kedua orangtuaku, terutama Bapak.

Gontai, aku melangkah pulang. Sesampai di rumah, aku mengabarkan kegagalan ini, tanpa menutupi satu hal pun. Terlihat mereka sangat kecewa. Bapak malah tampak berang.

“Sudah Bapak katakan kalaupun kamu mau mencari SMA, tidak usah ke Solo, di Purwodadi[2] masih bagus. Beginilah hasilnya. Kamu pikir mau pakai uang siapa,” sembur Bapak.

Aku tak mampu menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan tangisan sesenggukan. Aku sama sekali tak mampu memandang wajah seram Bapak. Ibarat pertandingan, aku sudah knock-out dulu sebelum bertanding.

“Sudahlah, Pak. Kapan coba Dyas pernah meminta sesuatu pada kita, cuma sekali ini saja,” bela Ibu sambil memelukku.

“ Tidak. Kamu itu sombong. Tawaran Budhe yang ingin menyekolahkanmu ke SPK[3] kamu tolak mentah-mentah, sekarang kamu kena getahnya,” lanjut amarah Bapak.

Amarah semakin membuat beliau tampak tua. Semburat merah kasar tersaji di pipinya. Kerutan-kerutan semakin memperjelas emosinya. Ibu hanya berdiri di sisiku, mengelus rambutku.

“Pak, kasihan Dyas. Sudah tidak usah diungkit-ungkit lagi,” kembali Ibu membelaku.

Aku berlari keluar ruangan, ke teras rumah. Air mataku bertambah deras. Di teras, kulampiaskan tangisku sejadi-jadinya. Salahkah diriku. Aku memang hanya seorang anak tukang las. Tetapi salahkah diriku bila aku bercita-cita menjadi seorang arsitek. Itu hanya bisa dilalui dengan tepat lewat jalur SMA, bukan SPK. Aku tidak ingin menjadi bidan seperti yang Budhe harapkan. Aku ingin ARSITEK, bukan BIDAN, jeritku dalam hati.

Aku duduk termangu menatap malam. Air mataku masih menetes, belum berhenti mengalir rupanya. Segala macam pikiran berkecamuk dalam benak dan khayalku. Ibu duduk di sampingku, menemaniku, juga sama termangunya. SMA negeri manapun sekarang sudah menutup pendaftarannya. Apakah aku harus mendaftar di sekolah swasta buangan? Tidak, itu bukan langkah yang bijak. Apakah aku harus mendaftar tahun depan? Tidak, aku tidak sudi. Aku tak akan menempuh jalan ini. Ataukah aku harus menerima tawaran bersekolah di SPK? Lama aku merenunginya. Mungkin ini jalan Tuhan yang sudah ditakdirkan untukku.

Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, kelakuanku benar-benar dipantau oleh Bapak. Aku harus mampu menjadi contoh yang sesempurna mungkin bagi adik-adikku. Jarum jam dinding telah menggenapkan dirinya di angka satu, dini hari. Aku masih merenung di teras rumah ditemani Ibu, masih saling membisu pula.

Ya, tak apalah aku bersekolah di SPK. Dimanapun kita bekerja asalkan kompeten, maka sukses tak akan jauh nantinya. Optimisme kembali menjalariku. Lagipula, SPK yang ditawarkan juga SPK yang berkualitas, bukan sekolah sembarangan. Aku telah memilih jalanku sendiri, meskipun bukan jalan yang kusukai dan kurencanakan. Mungkin ini jalan yang terbaik. Bintang-bintang kelihatan saling berpencar, seolah-olah menyetujui keputusanku ini.

“Bu, aku mau disekolahkan Budhe di SPK,“ ujarku memecah kesunyian.

***

“Mbak Dyas, kenapa menangis?” ujar Mbak Marni. ”Wong mau diwisuda kok malah nangis,” tambahnya dengan aksen Jawanya yang kental.

Kaget, aku mendengarnya. Kulihat di cermin memang terdapat beberapa tetes air mata. Cepat-cepat kuusap air mata yang sedikit meleleh di pipiku.

“Hehe, nggak kok. Cuma terharu saja tiba-tiba sudah waktunya wisuda,” balasku sekenanya.

Aku baru mengenal Mbak Marni sekarang, tapi nampaknya kami sudah saling kenal satu sama lain. Dia memang lihai dalam berkomunikasi dengan pelanggannya. Grapyak, istilah Jawanya. Ya, memang kita harus professional dalam menjalankan pekerjaan, apapun itu.

Yo wis. Tapi kalau nangis ya mbok pada tempatnya. Kalau nangisnya sekarang nanti make-up-nya luntur. Nanti saja kalau acara wisuda sudah selesai, baru deh ditumpahkan itu air mata,” wejang Mbak Marni polos. Rambutku sekarang diberi jel-entah apa itu, agar sanggul nantinya terpasang kuat.

“Dyas, mau pilih kebaya yang mana. The green or the blue one?” tanya Lea. Mendadak dia muncul dari kamar ganti, sambil membawa dua stel kebaya, satu di tangan kanannya, satu di pundaknya.

“Aku sudah memutuskan untuk memakai yang merah. Sudah kupesen kok. Nggak usah terlalu khawatir,” ujarku setengah berteriak.

Sudah lebih dari dua kali, aku mengatakannya. Atau jangan-jangan dia naksir kebaya merah itu, sehingga dia tak peduli menanyaiku berapa kalipun. Dia ingin mengalihkan perhatianku dari kebaya merah itu. Siapa tahu aku lupa, mungkin pikirnya seperti itu. Dasar Lea.

“Oke deh, Non. Gitu aja pakai teriak.”

Di kamar ganti, kukenakan kebaya merah ini. Merah, simbol keberanian dan optimisme. Pertama kali, aku mengenakan kebaya adalah saat acara arisan keluarga di rumah Budhe, Pati. Masih pantaskah diriku.

***

Jaman telah berubah. Tiga tahun, aku tinggal di asrama SPK, di Temangung, sebelah barat daya Pati. Jarak yang cukup jauh pula dari rumahku. Di sini, aku dibiasakan untuk mengenal berbagai macam karakter. Tetapi, jaman memang telah berubah, sayang.

Betul, aku memang salah satu siswa terpandai di sini. Betul, aku memang salah satu mahasiswa yang sangat aktif di bidang organisasi. Betul, di akhir kelulusan aku menjadi juara umum, meski harus puas di tempat kedua. Tapi apa itu berguna sekarang. Hatiku kembali getir. Aku tidak ingin berhenti menuntut ilmu sampai taraf ini saja. Aku ingin kuliah diploma untuk menjadi ahli madya kebidanan. Rencanaku sudah matang, dan aku akan memastikan hal itu.

Tetapi mengapa jaman harus berubah? Akademi-akademi kebidanan di Indonesia serentak mengubah sistem penerimaan mahasiswanya. Materi ujian masuknya adalah materi untuk anak SMA. Sekarang, akademi kebidanan lebih diutamakan untuk siswa SMA, bukan SPK. Memang, kebijakan ini dikeluarkan agar siswa lulusan SMA dapat lebih banyak terserap pada bidang ini. Bagi mereka ini lebih adil, karena selama ini memang didominasi oleh siswa SPK. Tetapi, ini sangat tak adil bagi kami, bagiku, yang merupakan lulusan SPK saat ini. Kebijakan ini memang mulai berlaku sejak tahun lalu. Setidaknya, kami lebih beruntung dari angkatan di atas kami. Sedikit banyak, kami tahu materi macam apa yang akan diuji nantinya. Aku dan banyak temanku hanya bisa pasrah menanti nasib. Tentu saja, materi SMA sulit untuk dikerjakan oleh anak SPK, yang paling pintar sekalipun.

“Lha wong, anak SMA saja belum tentu bisa, apalagi anak SPK,” gerutu salah seorang temanku.

Paling tidak, ujian masuk diadakan dua bulan lagi. Aku tak mau menyerah dulu. Meski mustahil, akan kucoba untuk mempelajari materi SMA selama dua bulan ini. Aku harus mampu, pikirku optimis.

Memang, kenyataan hampir selalu dapat diprediksikan-asalkan tidak ada keajaiban. Aku gagal lulus tes di salah satu akademi kebidanan populer di kota ini. Menangis, tentu saja. Paling tidak semua temanku yang ikut tes juga mengalami hal serupa. Kupikir, mengapa berlama-lama menjalani kesedihan. Aku masih sangat muda, pompaku memacu semangat kalbu.

Daripada menyesalinya, aku harus memikirkan hal lain. Aku tidak bisa kuliah tahun ini. Lalu, aku harus tinggal dimana. Budhe sudah memberi tawaran untuk tinggal di Pati, rumah beliau.

“Bantu-bantu Budhe, sambil persiapan ujian akbid tahun depan. Budhe kan sudah tua. Daripada di rumah tidak bisa apa-apa,” wejang beliau suatu saat. Budhe memang memilki satu unit rumah sakit bersalin. Sering, bila sedang liburan semester, aku disuruh pulang ke Pati untuk membantu pekerjaan beliau.

Nah, memang ini sangat riskan menjawab masalah ini. Aku sudah dititipkan kepada Budhe, jadi keinginan beliau harus aku penuhi. Rumah di Gundih memang tidak bisa memberikan harapan. Aksesnya sangat terbatas, bertolak belakang dengan jiwa mudaku.

Kuraih selembar kertas dan sebuah pena. Kuputuskan untuk menulis surat kepada keluargaku.

Kepada Bapak, Ibu, dan adik-adik semua.

Bagaimana kabar semua di Gundih?

Dyas baik-baik saja di sini, tak kekurangan suatu apapun. Dyas ingin menyampaikan sesuatu hal yang akan menentukan masa depan Dyas. Dyas sudah memutuskan setelah melalui pertimbangan yang matang.

Aku agak gemetar ketika menuliskan poin ini. Aku harap ini penjelasan yang tepat. Sambil menghembuskan napas aku mengeraskan tanganku untuk membuat pena kembali mengisi kertas.

Bapak-Ibu sudah tahu bahwa saat ini lulusan SPK sulit untuk melanjutkan kuliah di akbid manapun. Banyak teman Dyas, yang saat ini, memilih untuk langsung bekerja dengan hanya mengandalkan ijazah SPK mereka. Tetapi Dyas tidak mau. Dyas ingin KULIAH . Banyak pula yang meneruskan ke akper-akademi keperawatan- karena memang kebijakan akper belum berubah. Tetapi Dyas ingin menjadi BIDAN, bukan sekedar perawat. Dyas sudah gagal sekali, tetapi Dyas akan mencoba terus.

Oh, aku masih belum lupa akan kegagalanku masuk akbid kemarin. Aku masih menyesal sampai sekarang. Aku bertekad tak akan mengecewakan mereka. Aku memang tak berkutik menghadapi soal-soalnya..

Kubalikkan kertas, karena sudah penuh. Ehm, aku memikirkan kata-kata yang tepat untuk dituliskan selanjutnya. Radio mengalun mengiringiku menulis. Entah lagu apa itu, aku tidak begitu tertarik. Kulanjutkan menulis.

Dalam waktu dekat ini, Dyas memutuskan untuk tinggal di rumah Budhe. Budhe sudah tua, bahkan akhir-akhir ini, untuk memberikan suntikan harus Dyas yang lakukan. Jadi Dyas akan tinggal di PATI. Dyas tidak bisa tinggal di Gundih, di rumah. Itu sangat egois. Ini saatnya Dyas membalas kebaikan Budhe yang telah menyekolahkan Dyas di SPK. Dyas yakin Bapak-Ibu menerima keputusan ini.

Doakan Dyas, ya.

Teriring salam sayang dari ananda

Dyas

Menangis kini mungkin sudah menjadi bagian dari hidupku. Biarlah. Tetapi kutegaskan ini bukan kecengengan, tapi tangis ketegaran. Mataku basah dan sembab ketika kulipat surat dan memasukkannya ke dalam amplop. Sekali lagi, aku hanya bisa berdoa, berpasrah.

“Tuhan, kuatkanlah jiwaku ini,” doaku selesai.

***

“Dyas, ngapain kamu lama-lama di ruang ganti. Tidur ya, Non. Cepetan mobil sudah nunggu, “ teriak Lea dari luar.

Lucu sekali melihatnya, berlari-lari kecil dengan busana jarik seperti itu. Aku jadi teringat adik terkeciku, sekarang dia sudah bersekolah. Dulu ia selalu berlari-lari kecil mengejarku ketika aku pulang ke rumah, dan aku menyambutnya, membopongnya masuk ke dalam rumah. Lega aku dapat mengingatnya kembali.

“Iya. Sebentar lagi. Lea, togaku mana?” tanyaku balik sambil menutup pintu kamar ganti, menyisir seluruh ruangan dengan kedua mataku.

“Di pojok rak rias. Sudah kukatakan tadi. Pikun atau tuli,” candanya. “ Cepetan dipakai. Aku menuju mobil.”

Aku cepat-cepat memakainya, dan tergesa-gesa masuk ke mobil.

“Gimana Non? Perasaan yang mau diwisuda,” sambut Toni bercanda, mahasiswa Gizi Masyarakat, salah satu teman kami yang bersedia menjadi sopir.

Di depan stir mobil, dia meringis menolehku ke belakang. Lea yang duduk di depan pun ikut nimbrung.

“Udahlah. Lihat Dyas lagi tegang-tegangnya. Maklum, nanti bakal ada sesuatu yang spektakuler. Kamu tahu nggak kalau IPK Dyas tertinggi.” Lea menimpali. “ Ntar pasti namanya disebut rektor dua kali, haha.”

Meskipun kami bersaing, aku yakin dia tulus mengucapkan hal tersebut. Tanpa rasa iri, hanya ketulusan. Aku agak sungkan menanggapi perkataannya.

“Jangan manyun terus dong. Emang dari dulu, otakmu encer………..”

Toni terus nyerocos tanpa henti. Dia memang berbakat untuk selalu memuji. Kadang aku heran apakah dia dilahirkan untuk memuji keunggulan orang lain. Kemarin malam, kami memang sempat bertemu, ngobrol, tanpa Lea. Dia mengakui bahwa dirinya bukan pemilik otak encer, semangat pun biasa-biasa saja. Tapi, paling tidak dia sudah menjadi teman yang sangat baik bagiku, bagi Lea pula.

“Apa-apaan kalian. Norak,“ responku sambil tersenyum malu.

Mobil pun berjalan. Kulayangkan pandangan ke arah luar. Pohon demi pohon seakan-akan beriringan berjalan, silih berganti terbias oleh mataku.

***

Waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam. Belum terlalu dingin untuk berada di loteng atas. Aku mengambil posisi duduk bersedekap.

Budhe sudah semakin sakit. Aku sangat memprihatinkan beliau. Di masa tuanya, Budhe bukannya mendapat ketentraman, melainkan kesengsaraan yang semakin akut. Aku teringat kata pepatah. Apa yang kamu tuai, itulah yang kamu tabur. Bukan rahasia lagi, Budhe memang menerapkan didikan yang luar biasa keras dan kolot pada anak-anaknya. Sekarang, para kakak sepupuku itu sudah mampu bekerja sendiri. Hasil didikan tersebut menunjukkan bahwa kasih sayang mereka ‘semu’ kepada Budhe. Mereka menghormati Budhe jika dan hanya jika saat mereka berbicara kepada Budhe saja. Selebihnya umpatan, kadang makian terlontar dari mulut mereka. Ngrasani, istilah Jawanya.

Tak salah, bila Budhe sudah pikun sekarang. Usia beliau bahkan sudah melewati sembilan windu. Sebenarnya, beliau sudah berkeputusan untuk memberikan hak rumah kepada salah satu anaknya, Mbak Ema. Yang jadi masalah, kakaknya yang lebih tua, Mbak Santi, menginginkan rumah itu pula. Alasannya, ingin mengenang peninggalan warisan orangtuanya. Hingga tak terelakkan lagi, bentrok dan adu mulut antara keduanya. Kuakui, sebenarnya aku tak mau ambil pusing dengan kejadian tersebut. Tetapi yang merisaukanku, dalam pertengkaran tersebut, mereka menyebutkan namaku. Anggapan semua orang memang saat ini, aku telah menjadi orang kesayangan Budhe. Selain penurut, aku juga tak segan-segan membantu Budhe dalam segala hal. Bagiku itu lebih dari sekedar membalas budi. Malahan itu membuat Mbak Ema resah.

“Bagaimana kalau rumah bersalinnya diwariskan pada Dyas. Padahal jauh hari anakku sudah meminta untuk meneruskannya,“ ujar mMak Ema suatu saat.

Mungkin itu terlontar karena terdorong rasa kesalnya kepada kakaknya. Aku paham dan mengerti bagaimana perasaannya. Tetapi hatiku juga terluka karena ucapan itu. Sekejam itukah diriku nantinya. Sedikitpun tak pernah terbersit dalam benakku: membujuk Budhe untuk mewarisakan rumah sakit bersalin kepadaku.

Mbak Ema memang akhir-akhir ini terlihat sangat cemberut. Penyebabnya ialah kegagalanku masuk akbid sekarang sudah terhitung lima kali, dalam dua tahun. Wow, ini rekor bagiku. Cemberut bukan karena prihatin atas kegagalanku, melainkan karena dia melihat Budhe sudah jor-joran dan menghabiskan banyak dana untuk pendaftaranku, transportasi, dan sebagainya.

Meskipun demikian, aku tetap hormat terhadap anak-anak Budhe. Aku sudah diberi tumpangan selama ini. Mereka pun baik di hadapanku, cukup menghargaiku sebagai adik sepupu. Tetapi entahlah aku tak mau tahu apa yang mereka rasakan sebenarnya.

Sebagai manusia, aku merasa sangat lemah. Kuusahakan untuk setiap malam berada di loteng atas. Berdoa, merenung, atau apalah. Setiap berdoa, aku hanya ingin agar cepat diterima di salah satu akbid, dimanapun.

“Tuhan, aku ingin KULIAH,” pintaku, menjer1t kecil tertahan heningnya malam.

***

“Dyas, kita sudah sampai. Bengong aja lho. Kamu sakit?” tanya Lea, sembari membenahi pakaiannya.

Sambil membuka pintu, dia masih menyempatkan diri untuk memperbaiki lipstiknya. Sepertinya, dia sudah mengganti warnanya hampir lima kali dalam perjalanan. Toni hanya bengong melihatnya, mungkin karena sudah terbiasa. Dalam hati, aku terkekeh menyaksikan adegan tersebut

“Semalam belum makan ya? Atau sekarang mau cari makan dulu?” tambah Toni, melirikku. Mungkin dia agak merasa bersalah, karena semalam mengajakku ngobrol, tanpa adanya konsumsi apapun. Lagi miskin, begitu kilahnya.

“Tak masalah kok. Tenang saja. Le, sudah bertemu dengan orangtuamu? Bagaimana kalau nanti sehabis wisuda saja?” jawabku sekaligus bertanya.

Aku memeriksa surat undangan wisuda yang diberikan kepada setiap mahasiswa, sebagai tiket masuk ke dalam ruangan. Tersimpan rapi di dalam tasku.

“Okelah, kalau itu dapat membuatmu ceria seperti sedia kala, haha. Tapi kalau sekarang juga belum terlalu telat kok. Paling juga acaranya molor.” Lea melangkah keluar mobil. ”Ton, sehabis mengantar kami, kamu mau pergi ke mana? Kamu sudah janji untuk menjadi juru foto kami.”

“Kampus. Sip, Non.”

Aku pun berjalan beriringan dengan Lea. Kepergian kami dilepas oleh tatapan Toni yang dingin, tak bisa kuartikan. Andai dia tahu apa yang kupikirkan tadi di mobil.

Kami memasuki ruangan sambil menyerahkan surat undangan kami kepada petugas. Bapak petugas itu sepertinya belum profesional dalam menangani tugasnya. Akomodasi yang dia lakukan sangat buruk. Mungkin karena banyaknya tamu yang masuk tanpa antre. Untung, mahasiswa di sebelahku mau mengalah memberi kami jalan masuk terlebih dahulu.

Aku duduk di tempat yang telah disediakan. Aku dan Lea berpisah sementara, berjarak dua baris tempat duduk. Ini seharusnya menjadi hari yang spesial bagiku. Memang acaranya molor, umpatku dalam hati.

***

Dua tahun tinggal di Pati semakin mempertajam naluri kedewasaanku, menjadi semakin matang. Aku seperti ‘dituakan’ di kampus ini. Aku sering dijadikan tempat berkeluh kesah, sharing, atau lainnya. Aku dianggap ceria, dewasa, dan terlihat tanpa masalah. Ya, aku memang kelihatan tanpa masalah, tetapi apakah aku memang tanpa masalah. Tidak. Jarang yang mengerti bagaimana perasaanku.

Kadang aku berpikir kepada siapakah aku harus berpijak sekarang ini. Budhe sudah semakin tua. Bapak dan Ibu masih memiliki tanggungan dua adikku. Aku jadi teringat Insan, adik tertuaku. Kami hanya terpaut satu tahun. Semasa kecil, kami selalu kompak dalam segala hal. Kami sering berkeluh kesah satu sama lain. Kami dekat sekali. Tapi itu dulu. Nasibnya sekarang juga sama sepertiku, dinunutkan pada famili agar dapat bersekolah. Sayang, saat ini dia berada jauh sekali, kondisi yang tak memungkinkan untuk mengontaknya.

Saat ini, aku mengalami masalah yang kuklaim paling berat sepanjang hidupku. Mana yang harus kupilih? Cinta atau iman. Mas Romi, mengapa kau terlanjur masuk ke dalam hidupku? tanyaku dalam hati. Selama satu tahun ini, kami sudah menjalin hubungan. Aku sangat menyayanginya, begitu pula dia. Kami ibarat kunci dan gembok. Singkatnya, kami saling cocok. Dia lebih tua dariku dua tahun. Aku sudah pernah menghadiri acara wisudanya. Bahkan aku sudah sangat akrab dengan keluarganya. Oleh teman-teman, kami dinyatakan sebagai pasangan yang serasi dan ideal. Tapi mengapa aku begitu bodoh untuk terus melanjutkan hubunganku dengannya?

“Dyas, kita berdua sudah saling cocok. Kita bisa saling melengkapi satu sama lain. Aku ingin suatu saat nanti kita dapat menikah,” ujar Mas Romi blak-blakan, suatu saat.

Kami sedang berada di bangku depan kamar kosku. Setiap dua kali sehari, dia rutin mengunjungiku, di sela-sela kesibukannya. Dia menggenggam tanganku. Hangat sekali kurasa. Aku menyandarkan kepalaku ke pundaknya. Terasa ringan.

“Iya. Sudah berapa kali hal itu diutarakan. Aku sudah lebih dari sekedar paham,” jawabku lembut.

Tangannya masih menggenggamku. Dalam sekali, dia memandangku. Kuperbaiki letak dudukku, sambil menarik bajuku yang terseret.

“Kalau begitu, sekali lagi aku tawarkan kepadamu. Maukah kamu pindah keyakinan? Aku tahu itu sangat sulit, tapi setidaknya apakah kamu mau mencobanya terlebih dahulu. Siapa tahu cocok,” pintanya sembari menatap mataku, tajam.

Aku menengadah, lepas dari pundaknya. Kudongakkan kepalaku menatapnya. Pertanyaan ini kembali mengusikku. Aku berpikir apakah ini saatnya untuk kembali berdebat dengannya. Dia menyipitkan matanya, menanti jawabanku.

“Mas, keyakinan bukan untuk diperjualbelikan atau ditawarkan seperti ini. Itu masalah yang asasi, dan aku yang paling berhak menentukan keyakinan apa yang cocok untuk diriku. Hingga mati pun aku tidak akan pindah keyakinan,” balasku sedikit kasar.” Untuk hal ini, aku harus sangat egois. Inginku Mas Romi yang menyeberang ke keyakinanku.”

Sudah beberapa kali aku melontarkan gagasan ini. Aku sudah fasih melafalkannya. Kupandangi gelap malam. Bunyi sepeda motor yang menderu hebat menengahi pembicaraan kami sementara.

“Orang tuaku tak akan setuju.”

Ya, aku tahu bahwa orangtuanya ‘sengotot’ keluargaku dalam hal iman. Ini bukan jaminan nantinya. Wajahku menegang, berpaling darinya sejenak.

“Memangnya keluargaku akan setuju bila aku pindah keyakinan. Tidakkah Mas Romi melihat respon Budhe saat kita berkunjung ke Pati, dan mengetahui bahwa kita berbeda keyakinan? Sekali-kali tidak.“

Aku masih ingat Budhe begitu kecut memandang pria ini. Acuh-tak acuh, meskipun tetap sopan. Bahkan Budhe langsung menulis surat kepada orang tuaku, menuliskan ‘kenakalanku’ ini. Respon orang tuaku memang sudah bisa kutebak, tidak setuju pula. Aku memang belum sempat rembugan bersama mereka.

“Kita lebih baik putus kalau masalah ini tidak dapat kita selesaikan. Aku sama sekali tak mau mengorbankan imanku,” aku setengah berteriak. Air mata pun tak bisa kubendung.

Dia bersedekap, menolehku, melalui pandangan yang sangat dingin. Sekilas aku memang merasa aneh, tetapi itu sudah biasa. Kudengar ibu kos sedang berteriak, memarahi anaknya karena menonton sinetron yang tak disukainya.

“Tapi, aku sangat sayang padamu, Dyas. Apakah kamu mau menyayangkan hubungan kita ini,” balasnya dingin, sama sekali tak bergeming, tak terpengaruh oleh apapun.

Pikiranku kalut sejadi-jadinya. Aku melihat dia merasakan hal yang sama pula. Tetapi mimpi buruk ini harus segera berakhir. Enyahlah iblis. Kami berdua tak akan pernah sejalan, selamanya. Yang jelas keputusan harus segara dibuat.

“Ya. Kalau itu lebih baik,” tegasku mengakhiri pembicaraan. Tanpa menunggu jawabannya, aku berlari masuk ke kamar kos, meninggalkan dia sendiri. Dia sangat shock mendengar jawabanku. Aku jelas melihatnya.

Hatiku sangat pilu ketika kalimat itu terlontar begitu saja. Ya, hubungan ini memang harus berakhir. Pasti, aku akan mendapatkan jodoh yang lebih baik. Aku berharap. Air mata masih belum berhenti mengalir menggenangi bola mataku.

“Tuhan, berilah jodoh yang tepat buatku. Paling penting kami seiman.”

 

***

“IPK terbaik jurusan Kebidanan. Satu, Dyas Agustina, dengan IPK 3,55. Kedua, ……,” terdengar suara rektor membacakan pengumuman. Jujur, aku sangat menantikan pengumuman ini.

Aku hanya tersenyum. Sontak meriah menggemuruh oleh para hadirin yang hadir. Banyak tangan terulur, mengucapakan selamat. Inilah hariku. Bukan hanya dinyatakan sebagai yang terbaik, melainkan lebih dari itu. Aku berhasil mengalahkan segala pergumulan yang terus-menerus hadir dalam kehidupanku. Aku menang.

Acara sudah selesai. Kami beramai-ramai mengabadikan momen-momen penting ini. Tiba-tiba Toni menghampiriku.

“Ini untukmu, Non. Jangan salah tafsir lho. Ini dari aku, sebagai sobatmu,” ujar seraya menyerahkan bunga itu seperti Romeo menawarkan dirinya kepada Juliet untuk berdansa bersamanya. Aku tertawa keras sekali melihatnya. Dia bahkan tampak senang melihat responku ini.

“Wah, ini kejutan bagiku, Ton,” jawabku sambil memeluknya. ”Yes, u’re my true friend.”

Kami pun kembali ke aktivitas masing-masing lagi. Berfotolah. Bertangis-tangisanlah. Lengkap semua jadi satu. Aku sangat bahagia seluruh keluaragaku hadir, ditambah Budhe. Mereka sangat terharu, menyaksikan keberhasilanku ini. Ibu tak henti-hentinya memelukku.

Dulu, aku memang sempat marah kepada kedua orang tuaku karena menitipkanku pada Budhe. Seakan-akan aku ini dibuang begitu saja. Tetapi, sekarang aku sadar bahwa mereka telah melakukan yang terbaik demi masa depanku. Itu karena kasih sayang mereka kepadaku, karena mereka ingin menyaksikan keberhasilanku.

Di sela-sela perjalanan pulang, kucium bunga yang diberikan Toni.

Harum sekali, darimana dia membelinya ya, pikirku nakal. Sepertinya bunga mahal. Wah jangan-jangan dia berpuasa semalaman untuk membeli bunga ini. Aku jadi tidak enak semalam agak ngomel karena dia tidak mau diajak makan. Kubuka kartu ucapan yang diberikan Toni, berbunyi;

A Flower For Dyas,

kupersembahkan kepadamu sebagai seorang sahabat

yang mengerti betul akan perjuanganmu dalam meraih segala impianmu

ini adalah tanda kemenanganmu

atas segala pergumulan yang telah kau alami

Kamu adalah orang hebat, pastikan hal itu

Selamat dan Sukses terus.

Sobat,

 

Toni

Toni. Dari dulu memang dia selalu mengerti aku dengan sangat tepat, tak pernah meleset. Hatiku sangat trenyuh membacanya. Dia memang sobat sejatiku. Kini aku boleh tersenyum

Ya, akan selalu kukenang setangkai bunga ini, akan terus kusimpan. Aku masih muda, masih harus berjuang lagi. Jalan masih sangat panjang, terbentang ke depan. Aku hanya berharap bunga ini akan terus menjadi saksi atas keberhasilanku. Dulu, aku selalu menangis karena kesedihan. Kini, aku boleh menggantinya dengan tangis kebahagiaan.

“Tuhan, terima kasih.”

 

***

Kisah ini ditulis berdasarkan kisah nyata dari seseorang. Tiga bulan kemudian, dia diterima bekerja di rumah sakit terkenal di kota Kudus. Sekarang, dia sudah menikah dengan seorang laki-laki yang seiman, yang lebih baik. Bahkan, sekarang mereka baru saja dikaruniai seorang anak. Semoga kisah ini dapat memberi inspirasi kepada para pembaca.


[1] Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional, sekarang diganti dengan Ujain Akhir Nasional/UAN.[2] Ibukota kabupaten dimana orang tua aku tinggal.

[3] Sekolah Perawat Kesehatan, setara dengan SMK atau STM.

6 Responses to “A Flower for Dyas”

  1. on 20 Aug 2008 at 11:37chrysalis

    keren..kaya ceritaku..sekarang aku tau,,apa yang kita ga suka belum tentu buruk bagi kita n sebaliknya..

  2. on 22 Aug 2008 at 12:28IREN

    KEREN ABIZZ…..stidaknya cerpen ini memberi gambaran tentang prilaku qta yang buruk

  3. on 28 Aug 2008 at 12:58purwanti

    makasih ya uda bikin cerita ini untuk dp aku baca…aku terharu banget, ceritanya pasti akan aku jadikan sebuah pelajaran yang gk akan terlupakan
    sekali lagi makasih ya……..itu bagus…..bagus banget

  4. on 09 Sep 2008 at 17:15Rhara

    Kak…bagus bgt….
    sekarang aku juga lagi bikin cerpen buat tgs sklh…
    semoga aja aku bisa bkn cerpen yang bagus kaya gini…..

  5. on 01 Oct 2008 at 01:24alit

    tengkyu atas commentnya…….

  6. on 17 Nov 2008 at 13:06indra

    mbak punya contoh kumpulan soal tes masuk akbid nggak???

    olong donk kalau punya kirim di emailku… sensegirls@yahoo.co.id

    makasihhh

Tinggalkan Komentar