KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Sekali lagi aku melihatnya. Ia hadir setiap kali hari hujan, berjalan melewati depan rumahku. Bungkuk memeluk erat payung berwarna hijau kelabu. Tapi bila hari cerah memperlihatkan cercah hangat senyum Matahari, ia tak nampak–nampak lagi.
Aku sedang membaca koran di teras, menunggu hujan benar–benar reda sebelum mengeluarkan motorku. Sebenarnya bisa saja aku mengenakan jas hujan tapi aku sedang tak ingin terburu toh pertemuan hari ini tidak terlalu penting. Paling hanya bahasan kaum wanita tentang gaun rancangan siapa, pesan catering atau masak sendiri, resepsi di gedung mana, penghulunya siapa, pemberkatannya di gereja siapa. Padahal sudah sering dibahas, sementara calon mempelai lelaki akan sulit untuk mewujudkan keinginan untuk menikah dengan sederhana dan biasa–biasa saja.

Dan ia pun lewat masih berpayung hijau kelabu. Aku sempat melihat wajahnya sebelum ia selesai melewati rumahku. Rona wajah sendu, tatapan lurus seakan enggan untuk digoyahkan.

Siapa dia?
Seperti tersihir aku mengikutinya menyusuri jalan–jalan yang dilaluinya lima meter di belakang tanpa memperdulikan rintik hujan yang dingin. Akhirnya tiba di sebuah rumah. Dia membuka pagar dan masuk. Menurunkan payungnya di teras, nyatanya ia tak bungkuk. Bahunya terlihat bungkuk karena terlalu erat memeluk payung.

Dari jarak ini aku memperhatikan bangunan rumahnya, rumah besar yang belum diselesaikan. Berwarna kelabu semen. Aku putuskan mendekat dan berdiri di depan pagar.

Rumah ini begitu rimbun dan suram. Seandainya saja rumah ini sudah selesai dicat pasti cantik sekali. Perasaan hatiku tenang, begitu sejuk dan nyaman. Terdengar merdu kicauan burung gereja.

“Cari siapa?” seorang ibu tua tiba–tiba saja muncul merusak keheningan. Aku bingung untuk menjawab Seseorang yang kucari tak kukenal, ciri–cirinya pun aku tak jelas. Hanya payungnya saja yang kuingat.

“Seseorang… dengan payung hijau kelabu.”

“Pulanglah… Orang yang kau cari itu tak akan mau menampakkan diri…“ Ia menggantung ucapannya seraya tangan memberi tanda padaku untuk melihat ke arah atas.

”Matahari bersinar lagi,” ucapku.

Aku tersadar hujan sudah reda dan aku harus segera pulang.
Aku pulang tanpa rasa kecewa sedikitpun walau aku tidak berhasil menemuinya. Karena entah kenapa, hati ini merasa damai tapi sekali lagi kedamaian ini dirusak. Aku pulang disambut tatapan kesal ibuku.

“Anung, darimana saja kamu? Ibu mertuamu menelponmu terus dari tadi, ponsel ngga dibawa… bikin cemas.”

Aku diam mempertahankan kedamaian hati dengan membayangkan saat–saat damai tadi. Tiba – tiba kudengar.
Tes.. tes.. tes..

Hujan turun lagi. Begitu deras, menumbuhkan harapan untuk melihatnya lagi saat ia lewat di depan rumahku sebentar lagi. Tak memperdulikan ocehan ibu tentang hari pernikahanku, aku terus menunggu hingga terpikirkan olehku, pasti ia sudah tidur sekarang.
Dan esoknya hujan tak jua turun. Harapanku pupus ia tak nampak–nampak lagi.

“Kenapa?”

Aku terkejut, Ibu sudah di sebelahku menatap lekat seakan merasakan kerisauanku.

“Tegang sebelum nikah?”

“Mungkin.”

Malamnya hujan tak juga turun. Aku putuskan untuk ke rumahnya. Dan ibu tua kembali menyambutku.

“Kau lagi, masih mencari dia?”

“Ya, belakangan ini hujan tak turun… tapi ia pasti mau menemuiku kan?”

“Tidak.”

“Tak ada matahari di malam hari kan? Hanya sinarnya saja yang dipantulkan oleh Bulan.”

“Iya, tapi untuk apa kamu mencarinya?”

Ibu tua ini mengesalkanku, tapi perkataannya memang benar. Entah apa tujuanku yang begitu ingin menemuinya.

“Apa?”

Aku tak menjawab karena aku tak tahu apa yang harus kujawab.

“Apa kamu jatuh cinta padanya? Memang sudah banyak yang datang mencarinya untuk alasan itu, ia anakku tersayang sejak ditinggal mati suaminya ia tak lagi mau menampakkan diri untuk dunia. Percuma aku memanggilkannya untukmu karena toh ia tak akan mau menemuimu. Hujan adalah satu–satunya yang dapat membahagiakannya. Membuatnya merasakan kehadiran semu almarhum menantuku. Jadi, apa kau masih mau menemuinya?”

Aku mengangguk mantap.

Ibu tua membukakan gerbang. Dan mempersilahkanku masuk, baru satu langkah aku sudah disambut cicit–cuit penghuni kebun halaman rumah ini. Ramai sekali hingga sang empunya keluar menampakkan diri dengan tergesa.

Wanita ini cantik, wajahnya terlihat sendu dibawah temaram lampu yang tak menggelapkan cerah auranya saat melihat kedatanganku.

Segera ia menghentikan langkahnya ketika menyadari siapa aku. Bahwa aku bukan almarhum suaminya yang mengumpulkan penghuni kebun halaman rumah ini, yang akan menyelesaikan bangunan rumah ini, yang telah membuatnya menunggu sekian lama di bawah rintik hujan dengan payung hijau kelabu.

Ia kecewa.

“Anakku… terimalah ia sudah tidak ada, ia hanya…”

“Ibu, masuklah… tinggalkan kami.”

Ibu tua masuk, baru kudengar suaranya setelah selama ini hanya kulihat dalam bentuk empat dimensi. Begitu tegas namun seperti menahan sesuatu.

“Pergilah, jangan datang lagi untuk membuatku terpaksa mengingat mendiang suamiku.”

“Bukankah kau yang selalu mencari sosok semunya dalam rintik hujan, apa kau menemukannya?”

“Dia masih hidup, tapi pergi tak kembali–kembali hingga kami meng’almarhum’kan namanya.”

Aku tersentak.

“Pergi sebelum menyelesaikan rumah ini, berarti rumah ini tak akan selesai–selesai.”

“Ya…”

Ada aura kesedihan yang terdengar dari jawabannya.

“Boleh aku menyelesaikannya untukmu?”

“Bolehkah?”

“Boleh, asal kau mau membuang payung hijau kelabu yang selalu kau gunakan untuk mencarinya. Sia–sia, hujan tak akan turun lagi bulan ini. Kau harus mulai menikmati matahari yang riangkan penghuni halaman ini.”

Seekor kutilang terbang mengitariku dan hinggap di atas rambutku, tergelincir pada halusnya rambutku tapi terus memaksa. Aku berusaha meraihnya dengan meringis kesakitan karena cakarnya mengenai kulit kepalaku. Ajaib! Ia tersenyum begitu cerah seakan matahari terbit di malam hari, ia menghampiriku dan meraih kutilang yang sudah kudapatkan.
Esoknya aku sudah disibukkan dengan banci–banci yang siap dengan alat–alat rias mereka. Hari ini pemberkatan tapi aku juga harus ada di rumah itu untuk mengecat dinding rumah itu. Agenda hari ini terlalu kuabaikan sehingga terabaikan sepenuhnya.

“Mas, kog ngga ada seneng–senengnya sih? Dijodohin ya?” salah satu banci yang sedang membersihkan wajahku bertanya. Aku tak menjawab terbayang wajah calon istriku yang sudah seminggu tak kulihat karena adatnya memmang begitu. Biar pangling dan kangen, katanya.

Gadis cina anak orang kaya cocok dengan selera ibu. Terbayang kala pertama kala pertama ia kubawa ke rumah. Ibu langsung senang dan setelahnya menyuruhku buru–buru melamarnya. Padahal aku baru enam bulan pacaran dan belum ada pikiran untuk itu.
Ternyata aku salah, mendadak terdengar suara deras hujan yang menghantam atap gedung. Di luar hujan turun begitu deras. Sementara aku menahan dingin dalam ruangan berpendingin.

Payung hijau lumut dan tubuh bungkuk karena erat memeluk payung membayang dalam benakku. Apapun yang terjadi aku harus segera keluar dari sesak ruangan ini. Aku rindu… Rindu kebun dingin itu. Rindu dengan para penghuninya yang menyambut kedatanganku, seakan sosok semu itu telah terlupakan dan tergantikan olehku…
Dan… Dengan tanganku ini aku ingin mencerahkan bangunan itu untuk dia.
Banci yang menangani wajahku bersorak membuyarkan imajiku. Ia begitu senang telah ‘mewarnai’-nya dengan sempurna.

“Yuk Say… ganti baju…”

Banci yang lainnya muncul dengan sama bersemangatnya, membawakanku setelan jas warna putih. Tapi aku bangkit dan berlari keluar menuju suara hujan yang memanggilku begitu keras hingga suara banci–banci yang mengejarku tak jelas terdengar. Samar menghilang juga karena ketidakpedulianku.

Karena di ujung pagar gedung dalam lebatnya hujan sosok berpayung hijau lumut memakukanku pada batas teras yang melindungiku dari terpaan air. Sosok itu pasti telah mengetahui semuanya tentang aku. Sebelum ia terpikir untuk berbalik dan meninggalkanku, aku sudah memburu dan meraihnya dalam deras hujan.

Aku sudah selesai mencat rumah ini. Cukup besar hingga butuh waktu tiga hari untuk menyelesaikannya. Dan tinggal sedikit sentuhan pada tembok pagar. Sekarang hampir pukul sembilan malam, kepergianku yang mendadak mengacaukan semua rencana matang yang telah tersusun demi lancarnya pernikahan kemarin. Tapi toh walaupun tidak mendadak acaranya tetap kacau.

Rana muncul membawakan teh, aku menghela nafas lega untuk sapuan terakhirku. Rana nama wanita ini, kemana pria bodoh yang meninggalkannya untukku? Aku menyeruput tehku dengan tersenyum lebih puas lagi.

“Rana?”

Rana menatapku yang masih menyeruput teh. “Apa?” tanyanya lembut.

Aku tersentak heran. Aku tak mengatakan apa–apa, bibirku masih menyatu pada gelas tapi aku mendengar suaraku menyebut namanya.

“Rana?”

Aku berbalik tiga meter di belakangku. Lurus pada tatapan Rana. Sosok itu berperawakkan mirip denganku, suaranya pun begitu mirip. Inikah dia? Inikah pria yang meninggalkanmu? Yang membuatmu lelah menunggu dalam rintik bulan Januari? Di bawah payungmu?

Aku tak akan membiarkanmu kembali padanya. Bahkan penghuni kebun ini pun tidak mengingatnya. Mereka tidak menyambutnya seperti aku. Karena mereka tahu, aku lebih mencintaimu.
Ibu tua keluar dengan tergesa.

“Kau? Untuk apa kembali, kau sudah dilupakan…”

Aku merasakan perih. Batinku seakan memposisikan diriku pada posisinya. Aku mengerti rasa ini. Terabaikan… Dilupakan…
“Maaf, kembalilah… Jangan pergi lagi, sebagai lelaki sejati aku… tak akan mengambilnya darimu.”

3 Responses to “Ketika Hujan yang Harus Menghadirkannya”

  1. on 26 Aug 2008 at 14:24eugine

    komentar pertama nich. Pembaca pertama musti dapet bonus ni, hehehe….. Oke, pertama kok ngebingungin ya. Kedua, apakah kau tipe orang yang begitu melankolis? Terkadang hasil karya perwujudan jiwa pengarang. Tapi kalo ternyata u bukan melankolis, ya maaf. Coba dech buat yang nggak sedih, bersemangat, dan apa yach….. ya gitu dech, penuturannya jangan kaku.

  2. on 03 Sep 2008 at 23:24syandee

    Bagus tp aku msh bingung. Apa anung jd menikah sm cwe cina itu? Hehe bingung

  3. on 15 Nov 2008 at 20:15bodat panjul

    cye bodat ……………………………………………sebenernyeeeeeeeeeeeeee gw gak terlalu zuka bangget bece nepel cey

Tinggalkan Komentar