Tiga Matahari
Agustus 13th, 2008 by rifcreative
Fragmen I : Mimpiku belum terkubur
Pulang
Negeri ini sudah teramat asing bagiku semenjak kutinggalkan desaku beberapa tahun yang silam. Setiap tanah yang kupijak tidaklah lagi sama ketika saat pertama kali aku berlari bebas dengan kaki telanjangku, tertawa riang bersama bocah-bocah seusiaku, bermain dan bercanda dengan lumpur dan tanah becek disaat hujan turun. Kami terus bermain dan berlari, seakan-akan hujan adalah hadiah yang sangat menyenangkan, bahkan disaat langit menghitam dan hujan turun dengan iringan gemuruh geledek yang terus menggelegar, saat itupun aku langsung tertawa sekeras-kerasnya. Suara gemuruh petir itu selalu membuatku tertawa karena terdengar seperti sendawa Bapak yang sudah kekenyangan setiap kali beliau makan kebanyakan, dan setelah itu beliau biasanya berkata bahwa setiap makanan yang kita makan setiap hari adalah pemberian dari langit dan bumi dan sudah sepantasnya kita bersyukur atas semua itu, dan jangan menyia-nyiakan semua itu. Aku tidaklah takut… Dalam pikiranku seisi dunia dan jagad ini tak lain adalah sahabat bagi diriku dan juga bagi jutaan pikiran lainnya yang percaya akan setiap kebaikan yang langit turunkan.
Ya… langit adalah sahabat kami, sahabat bagi bocah-bocah yang berlari telanjang disetiap kali hujan turun, sahabat bagi bapak-bapak kami yang bergantung pada turunnya hujan supaya sawah mereka bisa terus bertahan hingga saatnya sawah-sawah itu menguning bagaikan emas yang menghiasai seluruh sawah kami dan memang bagi kami padi itu bagaikan emas, emas yang tumbuh dari tanah, emas yang tumbuh bersama harapan dan keyakinan kami semua dan keyakinanku semakin besar setiap kali hujan berhenti dan langit sudah bosan memainkan melodi nya yang menggelegar perlahan noda hitam pun menghilang dan berganti menjadi langit biru ku yang senantiasa membuatku tersenyum ditemani awan putih yang terus mengingatkanku dengan gulali kapas yang selalu kubeli setiap kali lonceng sekolah berteriak sekeras-kerasnya menandakan waktu bermain bagi kami. Langit biru dan awan putih lah yang selalu menemaniku disaat aku bermain di depan rumah kami sambil menantikan Bapak yang sedang menggarap setiap jengkal sawah miliknya yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri, dan seperti biasa Bapak kembali dengan sejuta peluh dan letih di balik langkahnya yang tertahan seakan ribuan ton beban yang terikat di pundaknya, namun satu hal yang tak pernah kulupa segurat senyum yang terukir di wajah Bapak yang seolah berbicara bahwa semua itu tidaklah menjadi masalah Selama kita masih menyimpan setitik harapan. Mmmm… aku teringat Bapak yang selalu mengajarkanku bahwa harapan kan selalu ada dibalik semua ketakutan, dibalik semua keputus-asaan, dibalik semua teror dan mimpi buruk semua orang. Seperti halnya Langit gelap dan segumpal awan hitam besar yang menyanyikan melodi gemuruh petirnya dan hujan deras yang terkadang memaksa semua orang masuk kedalam rumahnya, menghentikan mereka dari semua aktifitas mereka, namun setelah semua itu usai langit menyisakan tanah yang subur untuk kembali mereka garap, pepohonan yang menghijau yang memberikan segala yang mereka butuhkan. Itulah harapan yang langit berikan, dan pilihannya adalah apakah kita akan meraih harapan itu sebagaimana bapak dan penduduk desa lainnya bersyukur atas semua itu dengan menggarap sawah-sawah mereka dimana harapan mereka terkubur didalamnya dan muncul bersama bulir-bulir padi yang kian menghijau hingga saatnya menguning dan siap untuk mereka panen, ATAU..
Pusara Bapak
Aku salah, tidak semua tanah didesa ini menyambutku asing, tidak semua rumput menyapaku dingin, dan itu kurasakan ketika ku memasuki pelataran komplek pemakaman desaku, disini satu-satunya tempat yang tak pernah berubah, setiap jengkal tanahnya yang selalu tersenyum ramah, rumput dan pepohonan yang selalu menyambutku hangat, dan mereka semua yang tinggal ditanah ini dalam tidur panjang, mereka mereka yang pernah menjadi bagian dari hidupku, mereka yang selalu mengingatkanku betapa indahnya kehidupan dimana kedamaian mewarnai hati kami, penduduk desa yang bersahaja tanpa prasangka satu sama lain, tanpa ada kepura-puraan, tanpa ada intrik, ambisi dan keserakahan. Kehidupan berjalan apa adanya, mengalir begitu saja, begitu alami. Mereka bukannya tidak mempunyai tujuan hidup, tetapi tujuan hidup bagi mereka hanyalah satu dari seribu alasan lain untuk menjalani hidup, tujuan hidup mereka tidaklah membutakan mata mereka terlebih lagi mata hati mereka. Hidup bagi mereka ya hidup itu sendiri, tawa dan sedih, susah dan senang, harapan dan keputus-asaan yang kesemua itu mengikat takdir mereka dengan benang tak terlihat yang terikat di kaki, tangan dan hati mereka.
Perlahan kumasuki komplek pemakaman itu, kusapa mereka semua yang terbaring bisu dalam dekapan erat tanah desaku. Kusapa mereka satu per satu seolah mereka semua berdiri tepat di hadapanku. Pak Jarwo yang dulu ladang ketelanya seringkali kami curi meski tak seberapa, tapi beliau tak pernah marah, beliau hanya menganggap yang kami lakukan hanyalah kenakalan bocah-bocah kecil biasa. Mbah kardi yang tak pernah marah daun pisang dari kebunnya kami potong untuk kami buat permainan jaranan, bahkan beliau turut membantu kami membuat jaran untuk permainan kami. Mbok Ngirah yang tak pernah lupa membuatkan kami goreng pisang setiap sore selepas kami puas bermain. Pak Karjo yang sehari-hari menjadi guru di sekolah dasar kami dan sekaligus menjadi guru mengaji kami setiap malam selepas isya. Terakhir… yang menjadi alasan hadirku disini, Bapak…
Kutatap pusara yang berdiri tegak tepat dihadapanku, masih sama seperti 10 tahun yang lalu saat pertama kali pusara itu ditancapkan di tanah merah yang mendekap erat jasad Bapak, saat itulah sejuta harapan dan impianku turut terkubur bersamanya dan hanya menyisakan aku dan kehidupan yang tak mau berbagi denganku. Kebisuan turut membawaku dalam suasana yang begitu akrab bagiku, memandangi pusara Bapak dan mereka, bercengkrama dalam keheningan yang telah mengajariku banyak. Senja terakhir langitku hadir membawa semilir angin dalam temaram cahaya jingga, sudah waktunya pikirku. Kutinggalkan pemakaman itu, namun tak kutinggalkan Bapak dan mereka yang terbaring disana, kubawa mereka dalam kenanganku karena hanya itulah yang bisa kupegang dan kumiliki. Di sudut gerbang kupandangi kembali mereka tidak dalam kebisuan, pusara-pusara yang tidak lagi diam membatu, mereka berceloteh riang, tertawa dan sesekali berteriak kepadaku, memintaku membawa kembali impian dan harapanku yang telah lama terkubur dan muncul bersama pusara mereka.
Komplek pemakaman itu masih sama seperti 10 tahun yang lalu dan tahun demi tahun yang berlalu sesudahnya tak mengubah apapun seolah waktu tak rela meninggalkan Bapak dan mereka yang terbaring disana bersama setiap jengkal tanahnya yang selalu tersenyum ramah, rumput dan pepohonan yang selalu menyambutku hangat, meski langitku tak lagi berwarna biru…
Gerbang
Lamunanku buyar saat langkah kakiku terhenti tepat di depan gerbang kampus tempatku mengajar, sudah 27 tahun kubenamkan diriku di kampus ini, sudah 27 tahun pula waktu berlalu semenjak senja pertemuan terakhirku sebelum bencana gempa dan tanah longsor menimpa desa kami, membelah dan mengubur tanah desa kami dalam dekapan setiap jengkal tanah yang selalu tersenyum ramah manakala kupijakkan kakiku dengan kaki telanjangku dan rerumputan hijau yang selalu menyambutku hangat. Sekarang, di sinilah tempat kutancapkan pusaraku, diatas beton-beton semen dan paving block yang menggantikan tanah yang memerah dan rerumputan hijau, tak ada lagi sawah yang menghiasi sejauh mata memandang, dimana terkubur sejuta mimpi dan harapan yang muncul bersama bulir-bulir padi yang menguning. Sejenak kupandangi pagar-pagar besar gerbang kampus yang menjulang seakan menantang langit, berbaris rapi bagai tentara yang membentuk barisan barikade di depan gedung. Mmhhh… bahkan pagar ini pun tak ubahnya bagaikan penjara bagi orang-orang yang didalamnya, memenjarakan pemikiran dalam sel-sel sempit yang pengap yang mereka sebut ruangan kelas.
Langkahku kuteruskan menyusuri setiap lorong yang menghantarkanku ke sudut lorong. Di ujung lorong sebelah kiri di balik pintu kayu, disanalah aku akan memberikan kuliahku hari ini. Perlahan kubuka pintu kayu itu, ruangan muram menungguku dengan sambutan derit kipas angin yang sepertinya selalu lupa diberi pelumas, bahkan kursi kayu dengan bantalan busa seadanya sudah siap menantiku. Perlahan kuhampiri kursiku dan duduk di atasnya, kutatap sekeliling ruangan kelas yang nyaris kosong ini. Masih sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Aku tidak sendiri saat itu, dengan dua napas lain yang ikut berbagi oksigen denganku, seorang mahasiswa yang duduk di deretan kursi baris pertama tepat di depanku, tatap matanya tajam menatapku seperti sedang menunggu kata pertama yang keluar dari mulutku, dan seorang lagi perempuan yang kutaksir umurnya hanya beberapa tahun lebuih muda dariku. Dari seragamnya dapat dengan mudah kukenali bahwa ia adalah seorang petugas kebersihan kampus ini. Ia begitu sibuk dengan pekerjaannya hingga tak memperhatikan kedatanganku atau memang ia memang tak peduli dengan kedatanganku. Aku memang datang 20 menit lebih cepat dari waktu seharusnya aku mengajar, itu memang kebiasaanku sejak 27 tahun yang lalu saat aku pertama kali mengajar di kampus ini. Suasana hening kelas inilah yang selalu kunantikan. Mengingatkanku akan saat-saat aku bersama Bapak di pemakaman desaku, sepi, hanya aku dan pusara Bapak dan orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupanku, berbicara dengan angin hingga senja merah mewarnai temaram langit yang memisahkan pertemuanku dengan mereka. Sudah 27 tahun berlalu, sudah 27 tahun pula tak kutemui mereka lagi, dan kini ruangan kelas inilah yang menjadi pemakamanku dan meja serta bangku-bangku kosong dikelas inilah yang menjadi pusara-pusara yang berjajar rapi menghiasi indah di setiap sudut. Sekarang, di sinilah tempat kutancapkan pusaraku, di atas beton-beton semen yang menggantikan tanah yang memerah dan rerumputan hijau. Tak ada lagi sawah yang menghiasi sejauh mata memandang, dimana terkubur sejuta mimpi dan harapan yang muncul bersama bulir-bulir padi yang menguning. Ya… bersama meja dan bangku-bangku kelas inilah mimpi dan harapanku akan terus hidup hingga saatnya aku tak lagi mampu untuk bermimpi dan terlupakan.
Kok gak sebagus re-creative yang lalu ya? Menurutku, klo ingin menyampaikan pikiran dan isi hati, bahasanya musti dibuat lebih luwes dan puitis, biar kena ke hati. Aku selalu baca re-creative punya, aku tahu kamu bisa yang lebih bagus.
terus berkarya, ya!
ceritnaya bagus, sedikit menantang, juga mengingatkan aku pa sosok seorang ayah yang aku rindukan
terus berkarya yah