KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

14 July 2008

Memandang jauh ke luar jendela. Aku mendengar ada yang salah. Salah? Apa yang salah? Apa yang dipersalahkan? Ya, memang ada yang salah. Akhirnya aku mengerti kalau sedang ada yang salah. Lantas, apa salah itu?

Aku bertanya kepada hati. Hati hanya menggeleng kepala. Ah, dia berbohong. Hati jelas-jelas sempat teriak kencang kemarin malam. Katanya ada yang salah. Kunci pintu hatiku sedang dipinjam oleh orang lain. Jadi, aku meminjam kunci serep dengan Tuhan. Kubuka pintu hati itu. Hawa di dalamnya panas. Nah, itu salahnya, pikirku. Akhirnya hati mengaku. Dia merindukan dia. Rindu? Bukan, kangen tepatnya. Halah, rindu dan kangen itu serupa. Hati bertanya kepadaku, apakah kangen ini pantas untuknya? Aku menjawab iya. Lalu, dia bertanya lagi, sampai kapankah kangen ini harus dipertahankan? Aku menjawab semampu kamu bisa. Dan, dia bertanya lagi, apakah kangen ini dapat bertahan meskipun disakiti? Aku menjawab pasti bisa, karena kangen sangatlah kuat, dia tidak lemah. Hati tidak bertanya lagi. Dia menyapu bersih kotoran di ruangannya dan membuangnya keluar dari pintu. Aku mengunci pintunya lagi.

Aku memandang angkasa. Aku mendengus pelan. Siapa dia? Sampai-sampai hati begitu kangen dengannya? Apakah dia pemberi cinta? Ah, cinta cinta cinta. 5 huruf ini selalu berhasil membuat penderitaan dan kebahagiaan, tangisan dan tawaan, luka dan kesembuhan. Dia bukan pemberi cinta, bukan juga pembawa cinta. Tapi dia penyejuk jiwa. Jika ada dia, hati akan merasa sejuk. Hawanya tidak akan panas lagi. Jika ada dia, hati tetap akan berteriak. Tapi hati meneriakkan kebahagiaan bukan kesalahan. Jika ada dia, hati akan semakin kangen.

Hati sedang gelisah. Tidak dapat makan apalagi tidur. Tidak dapat tersenyum apalagi tertawa. Tidak ada hidup baginya. Aku sedih melihatnya. Aku ingin membantunya, tapi apa dayaku? Hati hanya menginginkannya. Hati nggak mau yang lain.

Aku memanggil hati. Aku mengajaknya bermain supaya dia senang. Hati ikut bermain tapi dia tidak senang. Hati tetap murung. Hati tetap sedih. Tapi hati selalu berusaha tersenyum. Dan hati mencoba untuk tegar. Bukan karena hati ingin sok kuat atau sok tegar. Tapi hati mau dunia tahu dia masih bisa baik-baik saja.

Kemanakah aku harus mencari dia? Supaya hati sembuh kembali dari luka.

Kata-kata untuk dia, 14 July 2008.
02:01 a.m.

8 Responses to “14 July 2008”

  1. on 13 Aug 2008 at 17:10rosemary

    hmmm maksudnya apaan yach..tp lumayanlah..bagus

  2. on 16 Aug 2008 at 14:22Anastasya Dylan

    ???? Cerpen atau curhat atau puisi????

    Ini NaRasi…. nGgaK asiK! tP bhSa’y lumYaN puiTis… sALLuuuT

  3. on 18 Aug 2008 at 23:14adeline

    Kalau si dia membaca ini, pasti akan terasa. Begitu murni dari hatimu hingga yang baca ikut hanyut dengan kata-kata yang sederhana.

  4. on 25 Aug 2008 at 13:55cha

    hmm…bahasa tulisanya kegna q kenal…bagus sih,tp kegna bkn cerpen.

  5. on 25 Aug 2008 at 20:58helianthe

    Curahan hati nih ceritanya?
    Bagus sih…tapi masih ada yang kurang jelas….
    Ok d gitu aja…

  6. on 26 Aug 2008 at 13:49chae gyoung

    akkkkkkkkkkhhh…………..gak jelas bgt!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    tp,ttep maju yahhhh……

  7. on 26 Aug 2008 at 14:28eugine

    ya ke Tuhan nyari hatinya.

  8. on 05 Nov 2008 at 16:49aDiT

    MATAH!

Tinggalkan Komentar