KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Halo Monika

Hari Sabtu, malam Minggu. Jam sudah menunjukkan pukul 1. Orang-orang mulai datang dan pergi silih berganti. Dan gadis itu duduk di depan meja teleponnya. Sekarang adalah jam kerjanya. Dalam tiga hari belakangan ia terpaksa harus mengambil jam kerja malam, karena seorang temannya sedang dalam masa pemulihan sehabis sakit dan dilarang untuk bekerja terlalu larut. Dan di sinilah ia sekarang. Seorang gadis muda berambut merah muda sebahu yang asyik mengunyah permen karet sambil sesekali mengisap rokok. Mengenakan baju ketat dengan motif bola mata. Ia terus menggosok kuku-kuku tangannya hingga halus. Sampai seorang temannya, seorang operator telepon, menjentikkan jari ke arahnya dan berteriak, “Line 3! Pelanggan pertama hari ini.”

Dia hanya mengedipkan sebelah matanya, lalu meraih telepon di depannya dan berkata dengan genit, “Haloow Shayang…”

Tidak ada suara.

“Halloow…Chintaa…”

Tidak ada suara lagi.

“Haloo!” ia menaikkan suaranya.

Tidak ada jawaban, hanya suara telepon yang bergerak-gerak. Ia menoleh ke arah operator, seorang wanita juga namun lebih tua dan berkacamata. Operator itu mengacung-acungkan telunjuknya, menyuruhnya untuk mencoba lagi.

“Halloo, kamu di shitu Sayang?”

Kembali tidak ada jawaban. Ia menoleh lagi ke arah operator dan menggelengkan kepalanya. Operator itu memerintahkan dengan isyarat tangan untuk menutup teleponnya, “Biar kucoba sekali lagi.” Gadis itu menurut.

Namun ketika ia hendak menutup teleponnya, tiba-tiba sebuah suara menyahut.

“Halo…halo…” gadis itu kembali menempelkan telinga kanannya pada gagang telepon.

“Yyaah..?” Ia menggoda dengan suaranya yang dibuat-buat.

“Halo? Eehh, maaf aku tadi…,” suara laki-laki itu menjawab. Gelisah. Terburu-buru.

“Tak apa-apa kok, aku tahu kamu pasti ingin bicara denganku, ya kan?” gadis itu memainkan permen karetnya. Membuat gelembung balon, lalu meletus, dan kembali dikunyah di dalam mulutnya.

“Y-y-ya, ya, ya, p-p-pasti…heh…ehh…makanya aku ehh…menelpon, mmm…ingin sekali bicara denganmu…mmm…,” laki-laki itu terdengar gugup. Ia terbatuk, melonggarkan tenggorokannya. Gadis itu hanya diam, mengambil cermin di lacinya dan menatap bayangan wajahnya. Menatap bulu matanya yang lentik. Terlalu lentik. Ia berkedip-kedip. Alis yang melengkung indah. Lipstik di bibirnya terlalu ungu. Ia mengulum bibirnya dan menyekanya dengan lidah. Dan giginya berada di antara warna putih dan kuning. Tapi ia tersenyum, mengagumi semuanya. Kesempurnaan. Kematangan. Dan kecantikan. Semua menjadi miliknya.

“Eeehh..Haalo…H-h-halo…kamu masih di sana?” laki-laki itu menyahut lagi.

“Yaa…aku cuma asyhik mendengaar syuara gugupmu Yangh, mmm…syheksi…” gadis itu memainkan bibirnya sehingga berbunyi seperti sebuah kecupan.

Dari balik telepon, laki-laki itu tertawa kecil.

“Apa kamuu slalu sheksi sperti ini, Sayang?”

“Aku tak tahu,” laki-laki itu berkata. Ia menarik napas panjang dan meniupnya bagaikan gemuruh di telepon. “Ini…jarang sekali terjadi.”

“Sepertinya, inii pertama kali kamu telepon ke sini ya?” gadis itu menarik-narik rambutnya. Ia meraih rokoknya, lalu menghirupnya di depan cermin, seraya memperhatikan mimik mukanya saat sedang merokok. Kemudian ia memandangi kukunya yang dicat warna warni dan menelitinya satu per satu.

“Ya ‘kan?” katanya sambil membentangkan jemarinya.

Lalu setelah sekian detik, laki-laki itu kembali gugup.

“Y-ya…heh…sbenarnya iyaa…mmm…tapi…ehh…ee, tapi aku tidak…kau tahu…ini ehh bukan, bukan sperti yang kau kira. Aku hanya ingin…mmm, bicara…”

“Ya ya ya, aku tahu maksudmu, Sayang. Semua pria sangat ingin bicara denganku. Apalagi lelaki seksi seperti kamu. Mendengar suaramu saja, aku jadi…terangsang,” Gadis itu menggumam pelan.

Laki-laki itu kini tersipu malu, “Bukan sperti itu, maksud saya…ehh…ehh…begini, aku ingin sedikit bercerita…”

“Oh tentu saja, Sayang. Apapun untukmu. Aku adalah seorang pendengar yang baik.”

“Terserah kau S-s-sayang, aku…hanya ingin kau mendengarkan…”

“Pasti dong! Kalau begitu, pertama-tama, boleh kutahu nama pemilik suara seksi ini?”

Tidak ada jawaban. Laki-laki itu menggetarkan suaranya, menggumam seperti orang kebingungan. Ia terdengar begitu pelan. Mencari-cari sesuatu.

“T-t-tunggu sebentar.” Gadis itu menaruh cerminnya di atas meja. Menghisap rokok. Menghembuskannya dengan pelan dan panjang. Asap-asap bertebaran di sekeliling kepalanya lalu perlahan hilang terbawa oleh sapuan angin malam. Laki-laki itu mendehem.

“Namaku…ehh…”

Tiba-tiba gadis itu menyadari, kuku jari telunjuk kirinya lebih lebar daripada kuku telunjuk yang di sebelah kanan. Ia membentangkan kedua tangannya, mengamati dengan mata memicing. Dahinya berkerut. Wajahnya tampak serius. Terlalu serius. Ia menggelembungkan permen karetnya lagi. Dan dikunyah lagi sebelum sempat meletus. Kedua matanya masih tertuju pada kuku-kuku tangannya. Laki-laki itu mendehem lagi.

“Namaku…mmm…eemm… Panggil saja aku Robert…”

“Uhmm…nama yg chukup menggggodaa…”

“Y-y-ya, umm Robert, seperti Robert De Niro. Dia favoritku.”

“Oohhh…hahahaha (gadis itu tertawa, berhenti memperhatikan kuku-kuku tangannya)…” suara tawanya terdengar lembut dan sedikit kekanak-kanakan. Ia menutup bibirnya dengan punggung tangan kanan. “Baiklah kalau begitu, Mr. Robhert, kau boleh memanggilku Monika.”

“Halo Monika.”

***

Dalam hatinya, Monika berpikir pekerjaannya ini akan berlangsung seperti biasa. Ia hanya harus berpura-pura, berakting, bertingkah layaknya gadis kesepian. Seolah-olah ia sangat merindukan suara lelaki. Berimajinasi layaknya pasangan suami-istri yang mesra. Dan berbicara segenit mungkin. Kegugupan yang ditunjukkan laki-laki itu, Mr. Robert, bukanlah hal baru. Laki-laki memang terkadang selalu seperti itu, terutama apabila ini adalah pengalaman pertamanya menelepon ke sini.

“Mr. Robert, kayaknya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita berdua.”

“He..eh..mungkin. Sepertinya.”

Dari suaranya, Monika menggambarkan sosok Mr. Robert sebagai lelaki yang usianya jauh lebih tua darinya. Seperti seorang kepala sekolah. Seperti seorang dokter karatan. Atau seperti seorang profesor. Ia menghirup lagi rokoknya. Menjentikkan abunya ke dalam asbak berbentuk hati. Lalu menjepitnya di kedua jari tangan kirinya.

“Apa khamu syudah menikaah, Sayaang?”

“Eh…Iya…sudah.”

“Mmm…lalu di mana istrimu?”

“Dia pergi…pergi ke luar kota.”

“Ohh…aku suka ini. Kamu memang laki-laki tipeku, Sayang.”

Monika mengambil telepon genggam dari tasnya. Tidak ada pesan yang tertera. Jadi ia hanya melihat jam di layar, kemudian memasukkannya lagi ke dalam tas.

“Kamu sedang apaaa?”

“Tidak…ehh…aku hanya sedang sendiri. Aku butuh teman untuk bercerita.”

“Mmmhh…kebetulan sekali. Aku juga lagi kesepian nih. Aku sedang sendirian di kamarku. Mungkin kamu mau datang ke sini menemaniku?”

“Tidak…mmm, mungkin lain kali. Aku hanya ingin…eee…kamu mau kan dengar ceritaku?”

“Ya, pasti. Cerita apa nih? Pastinya cerita yang phaannaasss kan?”

“Tentang istriku. Bukan istriku yang sekarang, tapi istriku yang pertama.”

“Uuhh…kamu pasti tak dapat melupakan belaiannya ya?”

“Tolong, dengarkan saja ceritaku. Aku tak suka kau bicara seperti itu tentang istri pertamaku.”

“Uups…aku memang gadis nakal.”

Monika memang pendengar yang baik. Alasannya adalah karena ia tidak pernah benar-benar mendengarkan apa yang dibicarakan oleh orang lain. Dunia ini terlalu sempit untuk memikirkan masalah orang lain. Maka ia menyobek secarik kertas memo di hadapannya. Lalu menuliskan namanya dengan spidol merah. Monika, dengan gambar hati di atas huruf “i”.

“Mmm begini ceritanya. Kira-kira sekitar 10 hari yang lalu, tiba-tiba tak sengaja aku menemukan sebuah foto. Foto yang telah lama tersimpan tapi tak pernah kulihat lagi. Sampai akhirnya hari itu datang, 10 hari yang lalu, aku melihatnya lagi. Foto kusam yang sama. Yang kukira sudah terbuang entah ke mana, tapi aku menemukannya lagi.”

“Mmhhmm…” Monika berusaha terdengar antusias. Ia mematikan rokoknya yang masih tersisa setengahnya. Laki-laki ini memiliki bakat lain selain sifat gugupnya, yaitu berbelit-belit. Sementara ia terus menggoreskan spidolnya di atas kertas.

“Foto itu berdebu, terhimpit di antara lembaran buku lama. Aku menemukannya di gudang. Fotonya diambil sekitar tahun 90-an dan tergeletak di halaman buku di gudang. Banyak sekali debu.”

Monika menjepit gagang telepon pada bahu kanannya. Jari kelingking kirinya mengorek ujung mata kanannya. Sesuatu membuatnya gatal.

“Boleh aku tahu, foto apa itu, Manisku?” Permen karetnya mulai terasa hambar.

“Itu fotoku bersama istriku yang pertama. Bukan istriku yang sekarang tapi yang pertama. Aku duduk di atas kursi, dia berdiri di sampingku, dan aku menggendong anak perempuanku.”

“Lalu?”

“Ya, tiba-tiba aku merasa kangen. Aku ingat-ingat lagi masa lalu itu. Dan semuanya. Aku merasa menyesal dengan perpisahan kita. Sekarang aku kangen sekali dengan mereka.”

“Lalu?”

“Aku jadi ingat saat-saat bersama mereka. Ketika aku masih muda dan bodoh. Istriku seorang perempuan yang cantik yang menikahi aku lelaki muda dan tolol, tapi ia mencintaiku.”

“Tunggu dulu Mr. Robert Sayangku, bukankah harusnya cerita ini adalah cerita yang penuh gairah, yang merangsang, membangkitkan libido kita berdua, sayang? Karena aku merasa sangat membutuhkan suatu pelampiasan yang…mmm, menggelora…shekarangg.”

“Eh tidak, tidak, aku tidak bermaksud begitu. Aku ingin bercerita tentang ini, tentang perpisahan kita, dan penyesalanku dan semuanya. Aku rasa…”

“Ehm, maksudku bukannya kamu bisa menceritakan masalah ini di tempat lain? Kamu tahu kan, Sayangku, kemana kamu sedang menelepon sekarang?” Monika menghentikan gerakan spidolnya. Ia mengunyah permen karet lebih lambat, seperti unta memamah-biak.

“Oh maaf…aku kira kamu mau dengar…ceritaku. Menurutku akan lebih mudah kalau melakukannya di sini daripada di tempat lain. Aku tak ingin ada prasangka atau, atau diceramahi, karena sayang, aku tahu kamu tidak begitu, ya kan? Ya kan?”

“Ya tentu saja, tapi, kau tahu kan maksudku. Tapi tak apalah, buat kamu, Mr. seksi, aku tak keberatan kok (tertawa menggoda).” Lagipula Monika tidak peduli dengan cerita apapun. Kalaupun cerita ini sangat membosankan, toh ia akan dengan mudah tak mengacuhkannya dengan memandangi kuku-kukunya sepanjang sisa malam ini.

“Terima kasih, Sayang. Aku…aku…begini, aku ini orang yang bodoh. Dulu saat aku muda dan menikahi istri pertamaku, aku tak punya pekerjaan apapun. Dan sekarang aku menyesal. Aku seorang pemabuk. Aku depresi dengan keadaan keluargaku, terutama saat anak perempuanku lahir. Semua beban ini tak pernah aku duga. Aku hanya orang yang bodoh dan sekarang aku menyesal. Aku selalu marah-marah, menendang dan…memukul istriku…dengan ikat pinggang atau apapun yang…”

“Tunggu, tunggu Sayang. Kamu yakin ini cerita yang ingin kamu ceritakan padaku?”

“Emmm ya. Kamu keberatan?”

Monika menghela napas panjang. Ia berhenti mengunyah perman karetnya.

“Jangan buat aku mual ya, aku kan sedang…berfantasi memikirkan khamuu.” Ia menyobek secarik kertas lagi dan menuliskan namanya berulang-ulang dalam aneka bentuk dan variasi seni.

“Oh maaf, tapi aku merasa harus menceritakan ini padamu, sayang. Aku ini benar-benar laki-laki kesepian, tak kan ada yang akan mengerti. Makanya aku menelepon ke sini karena aku benar-benar kesepian. Istriku yang sekarang, ehh… anggap saja…bukan lagi tipeku…ia berubah, atau mungkin aku yang berubah, aku tak yakin, aku selalu merasa bodoh seperti ini, terutama kalau mengingat masa perkawinanku yang pertama. Istriku yang sekarang bukan lagi tipeku. Aku bosan dan kesepian.”

“Mmhhm…kamhu ini penggoda wanita ya, mudah merasa bosan. Aku penasaran dengan istri pertamamu, sehebat apa sih dia sampai membuat Manisku ini, tergila-ghilaa…?”

“Dia seorang wanita yang hebat. Malam pertamaku dengannya…eh…mmm…ehh…sangat luar…biasa. Dia membuatku ketagihan…” laki-laki itu berhenti sejenak. Suara napasnya tak terdengar di telepon. Sepertinya ia sedang pergi jauh bersama pikirannya ke saat-saat yang telah lama. Sementara Monika tengah sibuk mengarsir gambar hati yang ia buat. Ia mencobanya dengan setiap alat tulis yang tersedia di meja. Beberapa gadis temannya sedang sibuk bekerja seperti dirinya, berbicara dengan laki-laki di telepon.

“Tapi bukan!” suara laki-laki itu seolah datang dari kejauhan, “bukan itu yang ingin kuceritakan.”

Monika setengah terkejut, ia mencoret gambarnya. “Huff…kamu membuat akyu kaghet Sayaaang.”

“Maaf. Emm, begini, alasanku menelepon adalah menceritakan tindakan bodohku sewaktu aku masih bodoh dulu. Aku menyesal, sangat menyesal telah meninggalkan istri dan anakku itu. Ehh…sejujurnya, mereka yang pergi meninggalkan aku, tapi, tetap saja aku yang…yang…membuat mereka pergi karena aku meninggalkan mereka. Aku…aku…selingkuh dengan banyak wanita.”

“Mmhhm…ternyata kamu nakal juga ya.”

“Bukan begitu, itu karena aku bodoh. Aku kehilangan pekerjaan. Aku pergi keluar, berjudi, mabuk, menipu, mencuri, dan bermain wanita. Sementara ketika aku pulang, selalu saja istriku mengoceh ini-itu, anakku menangis keras, dan aku menjadi kesal. Kami bertengkar lalu aku pergi lagi keluar, mabuk, berjudi, dan main wanita.”

Monika diam saja. Cerita ini sedikit mempengaruhinya. Ia tidak terlalu menyukai tipe lelaki ini, yang meninggalkan istri dan anaknya sementara ia bersenang-senang lalu bertengkar ketika pulang seolah-olah semua masalah bukan tanggung jawabnya. Monika membuang permen karetnya. Ketika ia kembali pada telepon itu, ia tidak bisa memungkiri bahwa asap kisah masa lalunya mulai samar tercium. Namun ia kembali mencoretkan namanya pada secarik kertas dan tetap pada pekerjaannya. Karena ia percaya bahwa dia adalah gadis yang paling profesional yang masih tersisa di dunia ini.

“Lalu suatu hari,” laki-laki itu diam sejenak, “sampai hari itu datang. Hari yang tak pernah aku lupa,” ia kembali menghentikan kalimatnya. “Hari itu…akh!”

“Kenapa, Shayangg?”

“Tidak apa-apa. Pokoknya di hari itu…” kembali jeda. Bayangkan betapa sekarang Monika merasa kesal. “Itulah hari di mana semuanya berakhir…ketika mereka pergi…dan tak kembali. Aku merasa bodoh sekali.”

Laki-laki itu melanjutkan, “Saat itu larut malam. Aku tak ingat persis harinya, antara Jum’at atau Sabtu atau Rabu. Sepertinya larut malam seperti sekarang, aku lupa jam berapa tepatnya. Aku mabuk berat, pandanganku tak jelas, aku melihat bayangan dan kepalaku pusing seperti…yah, kau tahulah bagaimana orang mabuk. Kepalaku menabrak mobil yang sedang parkir. Aku tak merasakannya karena sedang mabuk, tapi besoknya dahiku benjol. Lumayan besar.”

Ia berhenti sejenak mengumpulkan napasnya, lalu memulai lagi, “Saat di rumah, pintu tak terkunci. Anakku di dalam, berdiri menggandeng boneka beruang, melihatku dengan kaget. Aku heran selarut ini dia belum tidur. Aku mabuk dan berteriak memanggil istriku, tapi ia tidak kelihatan juga. Aku berteriak keras sampai pita suaraku gatal. Anakku lari entah kemana.”

Monika berhenti menulis. Ia meletakkan spidolnya lalu meludahkan permen karetnya yang sudah tergulung menjadi bola kecil. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi beroda hitam. Ia tidak melakukan apa-apa kecuali mendengarkan suara di balik teleponnya.

“Aku berteriak lagi dan lagi, semakin keras dan lagi. Tapi dia tak datang juga. Anakku lari entah kemana. Karena lelah dan mabuk, aku tersungkur di atas karpet di ruang tamu, dan setengah pingsan selama beberapa lama. Istriku tak ada dan anakku lari ketakutan, entah ke mana.”

Monika diam. Tubuhnya mematung tetapi matanya menjelajah dengan tatapan kosong.

“Lalu beberapa menit kemudian, 15 atau 10 menit setelahnya, aku mendengar suara motor berhenti di depan pintuku. Motor jelek itu. Aku tahu suara motor itu. Motor brengsek! Dan motor brengsek itu membawa istriku dan laki-laki hina itu. Di tengah malam begini, istriku pergi dengan lelaki brengsek itu. Aku benci mengingat kumisnya! Aku keluar dan berteriak memaki mereka berdua, terutama laki-laki itu, yang menatapku keheranan. Istriku diam saja dan anakku telah bersembunyi entah di mana. Aku baru sadar, suaraku habis, yang terdengar hanyalah suara serakku yang kecil, infrasonik. Pantas saja mereka tak mengerti, padahal kalau tak salah aku berteriak ‘Dasar brengsek! Kumis brengsek! Kau apakan istriku, hah? Kau juga pelacur gatal! Tengah malam begini berduaan, tak tahu malu! Istri tolol!’ kira-kira seperti itu, aku tak ingat persis.”

Sebatang rokok dinyalakan oleh Monika. Entah kenapa tangan kanannya bergetar saat memantik korek api gasnya.

“Lalu aku berlari menghampiri mereka. Aku ingin menghajar mereka. Pertama laki-laki brengsek itu. Aku tendang motornya hingga jatuh, lalu tanganku berusaha menggapai kumisnya. Aku ingin mencabut sampai akarnya! Aku berhasil membuat hidungnya berdarah. Tapi dia berhasil meloloskan diri bersama motornya. Mungkin karena aku mabuk dan lengah, dia kabur begitu saja. Pengecut! Eehh…kamu masih dengar kan?”

“Ya, teruskan.”

“Sekarang tinggal istriku. Ehh…aku sulit menceritakannya. Ini sulit. Tapi…begini aku tak bermaksud menyakitinya, tapi dia membuatku marah dan cemburu. Aku sama sekali tidak…tapi aku memukulnya. Aku ingat aku memukulnya.”

“Tangan kosong?”

“Eehh…pokoknya aku memukulinya. Sampai ia…menangis. Aku terlalu mabuk untuk berhenti. Terlalu mabuk. Aku dengar ia menangis, tapi aku terlalu mabuk. Aku…,” ia berhenti, menarik napasnya lagi. Ia menahan desahannya lalu tersendat-sendat, “aku…ing-ingat dia…menangis. Aku terlalu mabuk…dan…anakku…berdiri di sana…terpaku melihat kejadian itu. Ia berdiri…menggandeng boneka beruangnya…,” lalu laki-laki itu diam. “Esoknya mereka pergi.”

Monika merasakan sesuatu tersangkut di lidahnya. Tak sepatah katapun ia mampu ucapkan, hanya asap rokok yang terus keluar dari mulutnya. Dirinya membeku.

Dan kini, tak ada suara yang keluar ataupun yang terdengar. Keduanya menyatu dalam kesunyian yang teramat mengganggu. Monika menghirup dan menghirup terus batang rokoknya. Ia berubah menjadi gelisah. Ketenangannya, ketidakpeduliannya, senyum kekanak-kanakannya, kecantikannya, rasa percaya dirinya seakan meluntur. Darahnya menyatu dengan dinginnya malam.

Tapi ia tak bisa diam saja. Keberaniannya muncul di saat yang tepat. Ia mengumpulkan kembali suaranya yang sesaat tenggelam. Melemaskan lidahnya yang kelu. Dan membetulkan posisi duduknya. “Ce-cerita siapa yang kaubicarakan ini?”

“Ini masa laluku.” Laki-laki itu menjawab datar.

“Siapa nama…nama istrimu itu?”

“Marina. Dan anak perempuanku Sof…”

“Cukup! Aku hanya ingin tahu nama istrimu!” Monika berteriak. Saat tenang kembali, ia menyadari kedua matanya berair. Air mukanya berubah, ia murung membiarkan rokoknya terbakar angin.

“Pernahkah,” Monika bicara pelan, “kau berpikir bahwa lelaki kumis brengsek itu adalah harapan hidup istri dan anakmu? Saat kau tak ada di rumah, mabuk-mabukkan, berjudi, sedangkan istri dan anakmu menderita di rumah. Terutama anakmu yang membutuhkan susu dan makanan tiap hari. Dan mereka dilupakan, ditinggalkan oleh seorang kepala keluarga yang seharusnya bertanggung jawab atas kehidupannya. Lalu menurutmu apa yang akan mereka lakukan? Lelaki kumis brengsek ini datang, memberikan harapan, memberi mereka makan, memberi mereka hidup yang layak, memberi mereka segala yang tak pernah kau beri. Dan pernahkah kau terpikir bahwa di malam itu, saat istrimu pergi dengan si kumis brengsek, adalah malam di mana anakmu bangun di tengah malam dan merengek lapar. Sementara kau pergi entah ke mana dan tak ada apapun yang bisa dimakan di rumah selain dari debu. Dan si kumis brengsek ini yang mengantar istrimu pergi mencari makanan di malam hari untuk anak satu-satunya. Pernahkah kau berpikir ke arah sana, Mr. Robert?”

“Heh, tidak. Aku tidak berpikir ke situ. Aku tahu mereka berselingkuh.”

“Ya…itulah dirimu.”

Monika menutup teleponnya. Ia menutup mulutnya lalu membersihkan mukanya dengan tisu. Ia hanya duduk. Untuk waktu yang lama, ia duduk. Merenung. Mematung. Dan menangis. Ia mengambil cermin di lacinya. Memandangi wajahnya lekat-lekat yang semakin lama semakin mengingatkannya pada wajah orang itu. Yang pernah menyakitinya di masa lalu.

***

Monika pergi dari tempat duduknya. Ia meminta izin untuk pulang. Jam kerjanya belum selesai, tapi ia ingin segera pulang, pergi dari tempat ini dan menenangkan diri. “Kepalaku pusing, masuk angin,” ia berkata pada si operator.

Di rumahnya ia bergegas ke kamar mandi. Rasa mualnya tak bisa ditahan lagi dan ia memuntahkan semuanya. Berceceran ke mana-mana. Lalu ia berbaring di ranjangnya. Berbaring di sana sampai pagi dengan selingan rokok dan obat sakit kepala. Ia bahkan tak melepas sepatunya. Sesekali ia menangis lagi. Namun, ia lebih banyak merokok.

Matahari terbit. Pagi hari telah datang dan Monika masih berada dalam rasa gelisahnya. Ketika hari mulai terang, ia meraih teleponnya. Dengan santai ia menekan tombol-tombolnya. Dan ketika ibunya menjawab, “Halo?” Monika segera menyambutnya, “Halo Ma. Coba tebak dengan siapa aku bicara tadi malam?”

6 Responses to “Halo Monika”

  1. on 12 Aug 2008 at 13:01layla

    cerita na agx m’bingung kan gt deh!!!!!!!!!!!!!!!!

  2. on 12 Aug 2008 at 22:56eq

    Critanya ckup bgus tpi kyknya blm klar deh… lanjutin dong…

  3. on 18 Aug 2008 at 11:51tama

    bagus, keren, tidak membingungkan, dan sepertinya cerpen ini memang pantas untuk dicukupkan sekian :)

    bravo!

  4. on 05 Sep 2008 at 13:21loves2read

    mmmm…endingnya bisa disimpulakan sendiri kok. skala 10, nilainya 7…keep writing

  5. on 14 Sep 2008 at 17:44Pie

    Easy..
    BuT so nice..
    And greaT.
    BuTuh ngegali Lg biar Lbih nampol!!

  6. on 20 Oct 2008 at 06:38Ayu

    Oow… I c. Pasti monika itu, anak dari lelaki itu kan?

Tinggalkan Komentar