KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Matahari yang Tersesat

Aku paling suka awan, putih, lembut, dan pasti nyaman bersamanya. Tapi ternyata aku lebih suka matahari, walaupun ia panas, dan saat melihatnya aku perlu menyipitkan mata karena silau yang dipancarkannya. Aku suka matahari, dia gagah, tampan, dan yang terpenting dia menghangatkan  hatiku yang beku.

Aku baru saja kehilangan matahariku, orang yang telah mencairkan keegoisanku dengan keegoisannya. Orang yang mengajarkan aku betapa kejam dunia ini untuk orang-orang polos seperti aku, dan orang yang memilih untuk menyerah karena keterbatasan yang ia miliki.

Matahariku terlalu rapuh, walau orang-orang memandangnya gagah, tapi sesungguhnya ada sebuah luka yang dalam yang tidak dapat diselami siapapun.

Tidak ada yang bisa menghakimi kenapa dia bisa sekejam ini, semunafik ini, sedusta ini, segila ini, dan sebejat ini. Karena  manusia memang tidak berhak untuk itu.

Matahariku  pergi menjauh, meninggalkan  seberkas luka yang hanya sang waktu yang bisa menyembuhkannya. Dia datang untuk pergi, dia kembali untuk menyakiti, tapi dia tetap ada di hati.

Matahariku yang tersesat. Ketika semua orang menganggap dirimu tak hanya sekedar sampah, ketika hanya cacian hina yang pantas disandang olehmu, bahkan ketika hanya najis besar pun yang pantas ada di wajahmu, aku tetap berpikir kamu lebih baik dari semua itu.

Matahariku yang tersesat, masih selalu ada jalan untuk pulang. Dan pasti ada yang selalu menanti kepulanganmu. Banyak hal yang kadang kita lupa, manusia selalu punya alasan untuk berbuat dosa. Tapi Tuhan punya seribu alasan untuk mengampuni.

Hanya ada satu alasan kenapa aku tetap ada di sini. Memaafkan segala kesalahanmu, berusaha melupakan setiap hal yang menyakitkan yang telah kamu lakukan, dan bersabar atas keegoisanmu. Hanya satu, dan itu adalah cinta. Tapi cinta ini tidak berharap banyak padamu. Cinta ini hanya ingin kamu mendapat yang terbaik. Jika tidak olehku, mungkin dengan orang lain yang bisa memberi secercah cahaya untuk membawamu kembali pulang.

Selamat tinggal matahariku…

2 Responses to “Matahari yang Tersesat”

  1. on 05 Aug 2008 at 21:35amick

    bahasanya indah, bagus. saya suka.

  2. www.yahoo.com

Tinggalkan Komentar