KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Temaram senja menyambut datangnya malam, perlahan mewarnai langit dengan rona senja yang memerah. Kunikmati saat itu, karena yang kutahu saat itulah siang terakhirku ditempat ini akan segera berakhir. Tak terasa sudah hampir seribu purnama lamanya kuhabiskan waktuku di tempat ini, tempat dimana waktu dan ruang terperangkap didalamnya, berputar dan terus berputar dan selalu kembali ke titik awal dimana aku harus memulai kembali semuanya dari awal dan ke tidak tahuan. Dan semua itu harus kujalani hingga saatnya tiba bagiku untuk menjalani takdir hidupku yang sesungguhnya.

Mmhh… kini malam telah mengunjungi tempat ini dan menyelimutinya dengan kegelapannya, namun kegalauan hatiku lenyap sesaat purnama hadir dan mewarnai langit malamku dengan harapan, seperti harapanku halnya bahwa esok kan menjadi jawaban dari hadirku disini. Kulangkahkan kakiku menuju sebuah bangunan tempatku tinggal selama ini dan menghabiskan malam-malamku. Bangunan ini hanyalah bangunan sederhana, terdiri dari sebuah atap berbentuk piramida menjulang menantang langit yang di topang empat tiang kayu tanpa ukiran sedikitpun di keempat titik sudutnya, sebenarnya bangunan itu sedikit menyerupai aula pendopo karena tidak mempunyai dinding di keempat sisinya, namun yang membuatnya agak sedikit berbeda bangunan itu mempunyai pintu kayu berwarana kecokelatan yang tegak menjulang tinggi berdiri ditengah salah satu sisi bangunan itu. Langkahku terhenti didepan pintu, aneh rasanya walaupun ketiga sisi lainnya melompong kosong dan aku bisa masuk kedalam tanpa harus melewati pintu, tetapi entah karena didorong perasaan yang tak kutahu alasannya tetap saja aku memasuki bangunan itu melalui pintu itu. Derit pintu terdengar saat kudorong daun pintu kedalam hingga cukup terbuka lebar untuk kumasuki Ruangan yang kosong melompong sudah menantiku. Nyaris tak ada isi didalam ruangan itu, kecuali selembar tikar yang mengalasi lantai semen yang dingin dan sesosok pria tua yang duduk menanti didepan lentera-lentera yang menyala terang.

Guru, pria tua dengan wajah bersahaja yang memancarkan kearifan disetiap kerut yang meliuk-liuk didahinya dan rambut putihnya yang yang tampak indah ditempa bias cahaya lentera yang memenuhi ruangan ini. Aku tak pernah tahu siapa nama pria tua itu sebenarnya, dan sejak kapan ia tinggal ditempat ini, namun yang kutahu ia telah mengajarkan ku banyak hal dan kurasa sebutan guru memanglah pantas untuknya.

“Kau terlambat dan darimana saja engkau?” suara parau dan datar nyaris tanpa emosi  keluar dari mulut pria tua itu.

“Maafkan aku Guru, tadi aku hanya menghabiskan waktu memandangi langit sore yang mungkin terakhir kalinya bisa kunikmati ditempat ini.”

Tawa yang sedikit tertahan terdengar keluar dari mulut Guru, meskipun terdengar datar tetapi aku merasa ada sedikit nada ejekan dibalik tawa itu.

“Mengapa kau pikir ini adalah malam terakhirmu di sini. Padahal kemarin pun masih menjadi misteri bagimu, bagaimana kau bisa berpikir tentang hari esok?”

“Aku hanya merasa yakin Guru, dan perasaan itu semakin kuat seolah meyakinkan aku bahwa malam ini akan mengatakan semua hal yang menjadi misteri bagiku seperti halnya hari kemarin.”

“Hah… perasaan katamu?”

“Ya Guru, dan bukan hanya itu saja.”

“Maksudmu masih ada hal lainnya?”

“Ya guru, bukankah tempat ini bernama Tanah Seribu Purnama, dan malam ini purnama yang ke-1000 sudah menampakkan dirinya. Bukankah itu berarti ini adalah malam terakhir bagiku?”

“Ha…ha…ha… pintar juga kau rupanya.”

“Tapi Guru, masih ada pertanyaan yang mengganjal di benakku.”

“Tanyakanlah!”

“Aku ingin mengetahui misteri hari kemarinku dan apa yang telah kulakukan selama ini?”

“Kau lihat lentera-lentera yang terusun rapi di hadapanku?
Kutatap lentera-lentera yang tersusun rapi membentuk lingkaran. Aku heran darimana asal semua lentera itu, setahuku memang tiap malam aku menyalakan lentera di ruangan itu, tetapi itu pun hanya satu yang memang cuma satu-satunya lentera di ruangan ini. Ada hal lain yang menarik perhatianku lagi, yakni di antara semua lentera itu ada satu lentera yang tidak menyala.

“Ya Guru, tapi darimana asal semua lentera itu dan mengapa ada satu lentera yang tidak menyala?”

“Lentera ini adalah semua lentera yang kau nyalakan setiap malam dan menemani tidur malammu hingga ku terbangun di keesokan hari. Lentera ini berjumlah seribu dan setiap purnama berganti, akupun mengganti lentera ini dengan lentera yang lain tanpa kau sadari. Mengenai satu lentera yang kau tanyakan, lentera itu bukanlah tidak menyala, melainkan belum menyala dan sekarang kau harus menyalakan lentera terakhir ini dan kau akan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanmu.”

“Baik Guru.”
Sesaat setelah aku menyalakan lentera itu, cahaya yang begitu terang mencuat dan memenuhi ruangan itu, kadangkala berwarna merah, lalu berganti biru, kemudian berubah menjadi warna lainnya. Seribu warna silih berganti bermain-main dengan indraku dan menghadirkan seribu persaan yang saling mengisi batinku.
Aku melihat didalam balutan cahaya itu sebuah sosok yang tampak samar tapi perasaanku sepertinya sangat mengenal sosok itu. Ia berganti-ganti kadangkala ia tampak begitu hangat dengan balutan cahaya biru yang menenangkan, tapi lantas ia pun berubah menjadi sososk yang menakutkanku dan cahaya merah pekat pun memenuhi ruangan. Kadangkala ia berganti menjadi perempuan yang tampak kesedihan merona di wajahnya, kadangkala juga ia menyerupai perempuan genit yang tertawa begitu menggoda.

“Guru, siapakah mereka semua yang kulihat dalam balutan cahaya lentera-lentera itu, dan mengapa aku sangat mengenal mereka?”

“Mereka adalah dirimu dalam seribu peran yang kau mainkan setiap hari hingga kau berganti peran di keesokan harinya. Lihatlah itu saat kau menjadi pelacur jalanan dan menjajakan dirimu sembari menggoda setiap yang melintas didepanmu, menyedihkan sekali. Oooh tunggu coba kau lihat lagi, itu saat  kau menjadi seorang penguasa dengan kekuasaan yang teramat besar dan rakyatmu yang merangkak-rangkak di bawah kakimu, bahkan di antara mereka ada yang sedang menjilati sepatumu mengkilapmu.”

“Apa peranku selalu buruk dan tercela guru?”

“Tidak juga, coba kau lihat itu. Kau sedang berkhotbah lantang diantara kerumunan manusia-manusia berkepala binatang yang hilir mudik didepanmu, namun tak ada satu pun dari mereka yang mendengarkanmu. Kau terus meneriakkan kebenaran hingga suaramu menghilang dan diikuti dengan dirimu yang perlahan dilupakan orang. Hah…  kali ini cukup menyenangkan. Kau berperan menjadi pemimpin yang adil, tidak ada  rakyatmu yang kelaparan, mereka semua sejahtera dibawah kepemimpinanmu, negerimu begitu subur menghijau. Mmhh begitu melegakan melihat masih adanya harapan di dunia yang kelak akan kau jalani.”

Aku terpaku menatap bayangan samar itu seribu peran, seribu kisah, semuanya telah kumainkan. Bahagia, sedih, tangis, tawa, putus asa dan semua perasaan lainnya telah kurasakan. Aku larut dalam seribu getar emosi yang berguncang menjadi satu didalam perutku, berputar-putar disetiap usus-sususku, namun tertahan di kerongkongan, tak dapat kumuntahkan. Dadaku sesak, udara tak lagi dapat kurasakan, bahkan pertanyaanku yang selama ini terus mengiang-ngiang di telingaku semakin tak terjawab.

“Siapakah aku ini Guru?”

“Engkaulah yang memutuskan, bukan aku.”

“Tapi… tapi… mengapa harus kujalani ini semua, katakan Guru, mengapa?”

“Ada yang ingin kusampaikan padamu, setiap seribu purnama dunia akan melahirkan seorang manusia pilihan yang akan memimpin dunia, dan selama seribu purnama sebelum kelahirannya ia akan ditempa di tanah ini hingga satnya tiba. Pelajaran demi pelajaran mengenai kehidupan harus ia jalani, seribu wajah harus ia perankan, agar kelak ia mampu menjalani takdir hidupnya dengan jalan yang bijak, dan ia sendirilah yang menentukan jalan yang akan ia tempuh hingga akhirnya takdirnya berakhir dan akan tergantikan oleh manusia pilihan lainnya, dan manusia pilihan berikutnya yang akan menjalani takdir sebagai pemimpin dunia adalah engkau. Meskipun beberapa diantara orang-orang sebelummu gagal menjalani peran mereka dengan baik. Mereka tidak memimpin dunia ini dengan baik, melainkan merusak dan megacaukan dunia dengan jalan yang mereka pilih, penuh keserakahan, tamak dan kesombongan yang menjerumuskan mereka kedalam jurang kehinaan. Tak peduli dengan kemasyuran yang mereka dapatkan, mereka tak lain adalah sampah dari dunia. Dan kuharap kau tidak mengulanginya.”

“Aku… aku… aku takut Guru.”

“Janganlah engkau takut, paling tidak jangan sekarang, karena perjalananmu yang sesungguhnya belumlah dimulai. Sekarang yang aku ingin engkau menjawab pertanyaanku, kumohon pikirkankanlah dengan bijak sebelum kau menjawabnya.”

“Apa itu Guru?”

“Sebelum waktumu tiba esok, dan takdirmu akan dimulai. Kau memerlukan sesuatu, dan sudah sepatutnya aku memberikanmu bekal untuk dapat kau pergunakan di dunia yang kelak akan kau pimpin.”

“Maksud Guru?”

“Maksudku adalah, apa yang ingin kau minta dariku untuk kau pergunakan di dunia nanti?”

Aku terdiam sesaat setelah guru menanyakan pertanyaan tadi, jangankan menginginkan sesuatu, mengetahui apa yang akan kulakukan pun aku tak tahu. Kupandangi kembali bayang-bayang sosok didalam balutan cahaya lentera, mereka semua bahkan tak mampu membantuku. Emas pikirku ya.. emas, oohh tidak jangan emas bagaimana kalau wanita, tapi kalau aku ingin memimpin dunia tentu aku membutuhkan kekuasaan, sepertinya senjata boleh juga. Tidak… tidak  aku tak boleh begini, aku tak ingin gagal dan termakan oleh nafsu serakahku sendiri seperti orang-orang sebelumku, tapi apa yang harus kuminta. Aku pun semakin terdiam, aku takut, seribu bayang itu berkelebat silih bernti tertawa, menangis, tersenyum, dan berteriak didepanku. Mereka semua adalah seribu wajah dunia, ya… mereka semua adalah aku. Kurasa sekarang aku sudah tahu apa yang akan kuminta pada Guru

“Jawablah, apa yang ingin kau minta?”

“Guru, berikan aku pensil dan kertas saja.”
Tawa renyah keluar dari mulut guru, tapi kali tak ada nada mengejek sedikit pun, meskipun aku tak tahu apakah Guru senang atau tidak.

“Mengapa yang kau minta hanya pensil dan kertas saja, aneh, kau memang aneh. Kuakui kau memang sedikit berbeda dengan orang-orang sebelummu, tidak sedikit dari mereka yang menginginkan harta yang melimpah, kekuasaan dan kemasyuran, ada juga yang menginginkan 100.000 ekor kuda beserta prajurit lengkap dengan senjatanya, tapi kau, kau hanya menginginkan pensil dan kertas saja. Mengapa?”

“Aku tak ingin memimpin dunia ini, Guru. Aku hanya ingin menjadi bagian dari dunia itu Guru. Aku telah merasakan semua emosi dan perasaan, aku telah perankan seribu wajah, itu saja sudah cukup Guru.”

“Tapi mengapa hanya pensil dan kertas?”

“Baru malam ini aku mengetahui semuanya, baru malam ini aku terbebas dari pertanyaan-pertanyaan yang setiap harinya menyiksaku, tanpa ada satu jawaban yang kudapat. Kini aku ingin menjadi jawaban itu sendiri. Aku ingin melukis wajah dunia, disaat ia tertawa maupun menangis, disaat ia bersedih atau bahagia, atau bahkan disaat ia putus asa kehilangan harapan. Kan kubiarkan pensilku menari-nari indah, meliuk diatas kertasku dan meninggalakan goresan hitam diatasnya, hingga semua orang dapat mengetahui dari setiap goresan itu.”
“Kau… Kau, tidak ingin…”

“Ya Guru… aku tidak ingin memimpin dunia, aku hanya ingin hidup di dalam hati semua orang, menjadi lentera bagi mereka, aku ingin menjadi jawaban atas seribu tanya mereka.”

“Baiklah, rupanya kau telah mengerti. Kalau memang itu yang kau inginkan, akan kupenuhi permintanmu. Esok pagi tatkala fajar menjelang, itulah saatnya takdir hidupmu telah dimulai. Malam ini bersiaplah.”

“Baik Guru.”
Sesaaat guru melangkah keluar dan meninggalkanku di ruangan ini, membiarkanku sendiri. Esok… ya esok adalah hari yang kutunggu. Selamat datang takdirku mendekaplah erat engkau di pundakku.

***

Malam ini adalah malam terakhirku di dunia ini, di dunia yang telah Guruku berikan kepadaku 1000 tahun yang lalu. Sekarang waktuku sudah semakin dekat, mungkin hanya tinggal beberapa jam saja. Kupandangi kertas-kertas lecak dan sebatang pensil yang ada digenggamanku, mereka semua telah menjadi saksi sejak seribu purnama lalu saat aku meninggalkan tanah itu dan menjalani kehidupanku di dunia. Dan kini tak ada lagi yang dapat kulakukakn melainkan hanya menunggu. Menunggu apa, entahlah akupun tak tahu. Tawa renyah khas yang terdengar akrab terdengar dan membuyarkan lamunanku, ah dia telah datang, pikirku.

“Engkau datang, lama tak berjumpa denganmu, Guru.”

“Ha…ha…ha…  kau telah siap rupanya.”

“Iya Guru, apalagi yang kutunggu, melainkan engkau.”

“Baiklah tampaknya kau begitu terburu-buru, tapi sebelumnya aku ingin menanyakan sesuatu hal kepadamu.”

“Apa lagi, Guru?”

“Sama seperti dengan pertanyaanku sebelum engkau meninggalkan Tanah Seribu Purnama, aku ingin menanyakan apakah ada sesuatu yang ingin kau bawa dari dunia ini?”

“Apa yang ingin kubawa, Guru?”

“Ya, terserah apapun maumu, kau bisa menbawa anak istrimu, temanmu, atau harta bendamu, semua  terserah padamu.”

“Mmmhh… aku… aku hanya ingin membawa pensil dan kertas ini saja, Guru. Ya cukup pensil dan kertas ini saja.”

rif_2007
“Untuk seluruh insan yang mendedikasikan hidupnya demi mencari sebuah jawaban dari seribu tanya”

One Response to “Berikan Aku Pensil dan Kertas Saja!”

  1. on 15 Sep 2008 at 12:59trish07_baek

    wuiih..berat nih kata2 nya!!
    ga t’giling usus batinku!!
    tp, apa cukup pensil
    dan kertas saja??
    p’hapusnya??
    gmn..??
    he2..
    ^^

Tinggalkan Komentar