Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Saat ku mulai lelah…
Anganku mengayuh langkah tiada henti
Sampai suatu saat…
Ku terpuruk dalam kehampaan
Ku tersesat dalam lorong sepi
Di sini, ku sendiri dalam lamunan…
Hingga tetap ruang di hatiku
Hanyalah kosong…tiada tepi…
Ku ingin seulas senyum dan keikhlasan dari hati…
Kau padamkan aku disaat api amarahku mulai membara
Kau redamkan aku disaat nafsuku tak dapat aku tahan
Kau bimbing aku disaat aku tak tahu arah
Kau bersihkan aku disaat hatiku lekat dengan noda
Kini kau datang kembali
Dengan kehadiranmu yang sangat di nanti
Menyejukkan hati dari polusi duniawi
Menyegarkan iman makhlukmu di bumi
camar tak lagi berkumpul diatas karang
yang ketika itu jadi tempat peraduannya
ia telah pergi terbang untuk berlabuh
karena senja telah datang menghampiri.
Posted in Puisi, Intermezzo, Asa on Agustus 22nd, 2008 4 Comments »
Pagi
Kuawali hari
Mencari setitik rejeki
Dengan sepenuh hati
Siang
Kuuntai benang-benang
Meski kotor karena usang
Kulakukan dengan riang
Sore
Ingin kunikmati sate
Ingin kunikmati tempe
Ingin kunikmati air jahe
Malam
Cahaya matahari mulai padam
Segera kupakai jaket kusam
Pulang .. berjalan…di gelap malam
Permanent link to this post (45 words, estimated 11 secs reading time)
kau masih muda Swa
suaramu masih lantang,
jika yang keluar dari mulutmu hanya keluh kesah dan suara menghiba
tidak malukah kepada kondektur tua
yang serak suaranya adalah isyarat semangat dan kehidupan
memalukan rasanya jika hari-harimu hanya berisi umpatan atas sakit hati
bukankah rakyat yang tengah membersamaimu pun tengah tersakiti
disumpal dengan tiga ribu rupiah sebagai pembeli harga diri
luka mereka lebih menganga
Rintik-rintik hujan mengiringi ketukan-ketukan yang diciptakan oleh penaku. Aku duduk termenung menatap ke arah radio butut yang dari tadi mengeluarkan suara samar-samar. Kemudian melirik ke arah cerpenku yang belum juga selesai. Memandangi kata-kata berbaris bagaikan semut itu membuatku mengantuk. Oleh karena itu, kuputuskan untuk beranjak dari kursiku untuk membuyarkan semua rasa kantuk itu. Kuputar pinggangku ke kanan dan ke kiri, menepuk bokongku yang terasa panas karena sudah berjam-jam duduk lalu berjalan ke dapur.
Kutersudut di ujung tembok yang gelap
Di kala hati mati terkuras luka
Menganga menimbulkan nanah berbau bangkai
Ku tak sanggup
Ku tak mampu…..
Tutupi luka dengan tangan ini
Terlalu lebar hingga tangan ini tak patuh
Terlalu dalam hingga menembus punggung
Ada hari-hari dimana kerinduan untuk pulang terasa menyayat
Pulang ke seseorang yang akan selalu sigap menerima
Menyunggingkan sebaris senyuman sebagai sambutan
Sayatan pun tak lagi terasa menyakitkan, ketika kamu menegur perlahan
Membawa hadiah, cerita tentang kesabaran
Cerita tentang suatu hari, saat kesabaran datang membujuk agar ia diajak ikut dalam jalinan hati
Tersenyum kamu berkata, betapa riangnya dia ketika kamu langsung setuju
Menggandeng kesabaran, jadi pendamping hatimu
Abang,
Ibu bilang habis menikah kau akan menghajarku
Memakiku karena tidak punya pekerjaan
Berseloroh aku hanya pembantu rumah tangga yang tak punya harga
Abang,
Ibu bilang habis menikah kau akan rampas gajiku
Menutup lubang-lubang yang tak sanggup kau talangi dari kayuhan becak
Malamnya kau akan menyetubuhiku tanpa minta maaf
D isaat aku tahu apa yang kau lakukan di belakangku
Aku pun mulai berpikir apa kau memang masih yang terbaik untukku??
Rasa kecewa kini meyakinkanku untuk tak lagi percaya padamu
Manis kata - katamu, tapi menyakitkan tingkah lakumu
Manis hanya di depanku tapi menyakitkan di belakangku
Tak seharusnya kau lakukan itu