Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Balik ke kiri yang ada hanya kesesakan , ke kanan pun sama. Tak ada yang tahu mengapa ini terjadi. Tak ada yang tahu atas yang kurasakan. Sangat sakit. Aku tersenyum pada siapapun. Tapi tak ada yang tahu isi hatiku.
Akh sesaknya…
Seperti lebah yang menyengat
Sepertinya kehadiranku menyakitkan
Hanya mendapati orang-orang menyinggung ku
Melepas rasa kesal dengan amarah
Melihat yang nyata menjadi resah
Semua seperti hanya phobia
Menghempaskanku menjadi manusia paling terpuruk
Menakutiku sampai ke titik kegetiranku
Aku tidak ingin begini
Sayangi aku seperti yang aku mau
Menghempas segala paranoid yang menghantui
Aku yakin aku pantas untuk itu
Secangkir Darjeeling panas kuteguk perlahan saat menemani dua orang temanku di sebuah kafe di hari Minggu. Kebetulan hari ini kami bisa meluangkan waktu untuk bertemu, di sela-sela jadwal kerja yang padat. Darla, temanku yang lebih tua dua tahun dariku sedang mengeluh tentang pernikahanya yang masih seumur jagung dan berharap banyak dari suami yang bahkan memiliki pemikiran bertolak belakang dengannya. Aku tersenyum dan menaikkan sebelah alis agar dia melanjutkan ceritanya, sementara Dina, teman kuliahku melamun terus-terusan dan tak ada nyawa di wajahnya.
Akankah sebuah perpisahan menjadi awal dari goresan–goresan puisi sang bijak? Yang menggantikan secawan arak kedalam untaian–untaian doa, yang akan menggantikan gelap ke dalam terang binar mata, dan membisikkan petuah–petuah bijak dalam rahasia kehidupan ini?
Tuhan, aku yang terlahir dari keluarga yang mencintaiMu dengan segala kerendahan hati, saat ini telah berada dalam perangkap cobaan hidup yang berkepanjangan. Aku yang telah belajar bagaimana harus jujur dalam setiap lakuku, kini dipaksa harus belajar munafik dan mencintai dunia yang penuh kecerobohan. Aku yang telah mencoba berbuat terbaik bagi bangsaku, sekarang telah merasakan pedihnya hidup menjadi pengikutMu.
Malam
siang
Sama
Binatang liar saling mengaung
Kami sembunyi, bingung
Di balik kegelapan
Kami hanya mengintip
Tanpa gerak-gerik
Tanpa berkedip
Tanpa berkutik
Tanpa bicara
Tanpa suara
Sebab daya tak kami punya
Cengkeram dan gigitan melayang
Kami diam
Dan……
Kami hanya memandang
Tanpa tahu itu kawan
Tanpa tahu itu lawan
Sebab gulita melanda hutan
Suatu kali mentari dan bulan pada mengadu
Mentari : orang-orang mencercaku. Awan jauh dariku.
Bulan : langit sepi. Bintang-bintang pada pergi.
Lantas pantaskah mereka mengurung diri
menggerutu, salahkan nasib tak bermata?
Nyatanya mereka tetap disana
Bersama takdir mereka
Dan tiba-tiba kau teriak,
Posted in Puisi, Jeritan, Renungan on Juli 21st, 2008 1 Comment »
Ngibul lagi ngibul lagi
Partai-partai jualan janji
Setiap lima tahun sekali
Kerjaannya cuma begini
Ngibul…………….ngibul lagi
Eh, partai jualan janji
Ngibul…………….ngibul lagi
Yang penting dapat banyak kursi
Permanent link to this post (28 words, estimated 7 secs reading time)
Bagai meniti awan di bubungan langit merah
Bagai mengayuh di atas pasir hisap
Kurasakan detak jantung yang kian berdetak kencang
Membuatku sulit bernafas normal
Bagai menonton pertunjukan komedi
Yang dipenuhi nuansa jingga kelabu
Kebahagiaan semu dan seraut wajah palsu
Menari-nari di atas perih luka hati
This is a preview of
Bagai Meniti Awan di Bubungan Langit Merah
.
Read the full post (93 words, estimated 22 secs reading time)
Lama nian ku duduk di sini,tak ada seorangpun yang mendekatiku. Dalam keramaian aku merasa sangat kesepian.Dalam canda hatiku hancur dan dalam setiap kata yang terlontar dari bibirku hanya membuat orang kesal dan seolah memandangku sebelah mata.