KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Juli 2008

Balik ke kiri yang ada hanya kesesakan , ke kanan pun sama. Tak ada yang tahu mengapa ini terjadi. Tak ada yang tahu atas yang kurasakan. Sangat sakit. Aku tersenyum pada siapapun. Tapi tak ada yang tahu isi hatiku.

Akh sesaknya…

Seperti lebah yang menyengat
Sepertinya kehadiranku menyakitkan
Hanya mendapati orang-orang menyinggung ku
Melepas rasa kesal dengan amarah

Melihat yang nyata menjadi resah
Semua seperti hanya phobia
Menghempaskanku menjadi manusia paling terpuruk
Menakutiku sampai ke titik kegetiranku

Aku tidak ingin begini
Sayangi aku seperti yang aku mau
Menghempas segala paranoid yang menghantui
Aku yakin aku pantas untuk itu

Secangkir Darjeeling panas kuteguk perlahan saat menemani dua orang temanku di sebuah kafe di hari Minggu. Kebetulan hari ini kami bisa meluangkan waktu untuk bertemu, di sela-sela jadwal kerja yang padat. Darla, temanku yang lebih tua dua tahun dariku sedang mengeluh tentang pernikahanya yang masih seumur jagung dan berharap banyak dari suami yang bahkan memiliki pemikiran bertolak belakang dengannya. Aku tersenyum dan menaikkan sebelah alis agar dia melanjutkan ceritanya, sementara Dina, teman kuliahku melamun terus-terusan dan tak ada nyawa di wajahnya.

Akankah sebuah perpisahan menjadi awal dari goresan–goresan puisi sang bijak? Yang menggantikan secawan arak kedalam untaian–untaian doa, yang akan menggantikan gelap ke dalam terang binar mata, dan membisikkan petuah–petuah bijak dalam rahasia kehidupan ini?

Tuhan, aku yang terlahir dari keluarga yang mencintaiMu dengan segala kerendahan hati, saat ini telah berada dalam perangkap cobaan hidup yang berkepanjangan. Aku yang telah belajar bagaimana harus jujur dalam setiap lakuku, kini dipaksa harus belajar munafik dan mencintai dunia yang penuh kecerobohan. Aku yang telah mencoba berbuat terbaik bagi bangsaku, sekarang telah merasakan pedihnya hidup menjadi pengikutMu.

Malam
siang
Sama

Binatang liar saling mengaung
Kami sembunyi, bingung

Di balik kegelapan
Kami hanya mengintip
Tanpa gerak-gerik
Tanpa berkedip
Tanpa berkutik
Tanpa bicara
Tanpa suara
Sebab daya tak kami punya

Cengkeram dan gigitan melayang
Kami diam

Dan……
Kami hanya memandang
Tanpa tahu itu kawan
Tanpa tahu itu lawan
Sebab gulita melanda hutan

Suatu kali mentari dan bulan pada mengadu

Mentari : orang-orang mencercaku. Awan jauh dariku.

Bulan  : langit sepi. Bintang-bintang pada pergi.

Lantas pantaskah mereka mengurung diri

menggerutu, salahkan nasib tak bermata?

Nyatanya mereka tetap disana

Bersama takdir mereka

Dan tiba-tiba kau teriak,

Senandung Pemilu

Ngibul lagi ngibul lagi

Partai-partai jualan janji

Setiap lima tahun sekali

Kerjaannya cuma begini

Ngibul…………….ngibul lagi

Eh, partai jualan janji

Ngibul…………….ngibul lagi

Yang penting dapat banyak kursi

Bagai meniti awan di bubungan langit merah
Bagai mengayuh di atas pasir hisap
Kurasakan detak jantung yang kian berdetak kencang
Membuatku sulit bernafas normal

Bagai menonton pertunjukan komedi
Yang dipenuhi nuansa jingga kelabu
Kebahagiaan semu dan seraut wajah palsu
Menari-nari di atas perih luka hati

Lama nian ku duduk di sini,tak ada seorangpun yang mendekatiku. Dalam keramaian aku merasa sangat kesepian.Dalam canda hatiku hancur dan dalam setiap kata yang terlontar dari bibirku hanya membuat orang kesal dan seolah memandangku sebelah mata.

« Prev - Next »