KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

16.50.
Aku menghela napas panjang. Kenapa waktu seakan berhenti jika kita sedang menunggu sesuatu. Kenapa jarum jam seakan malas untuk beranjak dari tempatnya sehingga membuat detik demi detik berlalu dengan enggannya. Masih 10 menit lagi menjelang jam 5 sore.

Aku kembali menyapukan pandangan ke arah beranda kecilku untuk ke sekian ratus kalinya. Mencoba mencari apakah ada setitik debu yang mungkin saja masih tertinggal atau selembar daun kering yang mungkin terlupa.

Koran sore sudah terlipat rapi di meja. Seteko teh panas, krim, dan gula tertata rapi dalam balutan keramik cina yang baru aku beli tadi pagi. Tanaman-tanaman terlihat hijau, segar dan terawat. Tak ada satupun daun kuning menggantung apalagi daun kering yang berserakan. Wangi melati mengharumkan udara. Aku pun tersenyum penuh kemenangan. Beranda yang sempurna untuk melepas lelah setelah seharian dihinggapi stress karena pekerjan.

16.55.
Ah.. sepertinya sang waktu sedang menggodaku. Lama sekali ia berlalu. Aku kembali memandang beranda kecilku. Mencari setitik nila yang mungkin dapat merusak kesempurnaan yang telah aku persiapkan untuk hari ini. Ah, di pojok sana, di dekat rumpun bunga melati ada selembar daun kering sedang mengintip menggoda. Bagaimana aku bisa teledor membiarkannya lepas dari pengamatanku?

Kring.. Kring..

16.58.
Dia kah yang menelepon? Ada apa? Apakah rapatnya diperpanjang? Ataukah terjebak macetnya lalu lintas Jakarta? Ah.. aku bisa gila jika harus menunggu lebih lama. Kupandang selembar daun yang sekarang merusak kesempurnaan berandaku. Nanti aku akan membuat perhitungan denganmu. Nanti.

Aku menghela napas panjang sebelum akhirnya meraih gagang telepon. Sebuah senyum paling manis aku tunjukkan sebelum menyapa. Kalau ini dia yang kutunggu setidaknya aku harus tampil sempurna. Dia mungkin tak bisa melihatnya tapi bolehkan aku berharap dia bisa merasakannya?

“Hallo.. Selamat sore.”

“Sayang? Ini aku.”

Ah, tiba-tiba semua kerinduan yang bertumpuk di dada menyeruak keluar. Dia yang kutunggu sedang berada di seberang sana. Begitu dekat tapi tak bisa diraih. Tak bisa disentuh, tak bisa dilihat.

”Sayang.. maafkan aku hari ini aku tak bisa datang.”

Suara yang tadinya memberikan kehangatan pada hatiku kini membuatku membeku. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Tetap tenang. Tetap terkontrol kata pikiranku menenangkan dada yang sedang bergejolak ini.

”Sayang? Kau mendengarkanku?”

Kembali aku mencoba menenangkan gejolak di dada. Aku mencoba memaklumi alasan yang mungkin nanti diutarakannya. Sibuk, banyak pekerjaan yang membutuhkan perhatiannya. Aku mencoba memaklumi posisinya dalam perusahaan. Usianya baru di awal 30 dan dia telah menjadi manajer sebuah bank berstandar internasional. Tentu saja ia harus bekerja keras. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Mencari ketenangan.

”Sayang..”

”Iya,” jawabku pendek

”Aku tak bisa datang lagi hari ini. Maafkan aku.”

Aku mencoba tersenyum semanis mungkin walau kini dia sedang tak ada di hadapanku. Aku ingin dia menyadari kalau aku akan selalu mengerti dia dan mendukung dia.

”Aku mengerti. Pasti pekerjaanmu sangat banyak. Tenanglah. Aku tak apa-apa. Besok, apakah besok kau bisa datang?”

Aku menggigit bibir menunggu jawabannya. Cemas menyeruak dalam dada.

”Aku.. besok..”

Terdengar dia menarik napas panjang dan berat. Ah, salahku membuatnya terbebani sedemikian rupa. Bagaimana ini.. Sedetik lalu aku berkata ingin selalu bisa mengerti dan mendukungnya sekarang aku membiarkan egoku, rinduku, dan cintaku mengambil alih segalanya.

”Hari ini ulang tahun Rama yang kelima. Aku.. Kami.. Malam ini kami mau merayakannya bersama. Besok kami akan pergi ke taman bermain.”

Tenggorokanku tercekat. Tak lagi mampu aku berkata-kata. Tenang. Rileks. Tarik napas panjang dan hembuskan perlahan. Otakku memberi perintah namun rasanya tubuhku dan hatiku tak mapu mematuhinya.

”Sayang…”

Suaranya kini terdengar memilukan. Aku pun kembali tersenyum.

”Tak apa. Besenang-senanglah kalian. Salamku untuk Rama. Ah, tak mungkin juga kau sampaikan padanya. Doaku saja untuknya. Semoga ia tumbuh sehat dan cerdas. Aku akan menutup telepon ini. Selamat sore.”

17.10.
Aku menutup gagang telepon dengan perasaan galau. Kembali aku memandang beranda kecilku untuk kesekian kalinya. Koran sore, sepoci teh yang sudah dingin, tanaman hijau yang menyegarkan, wangi bunga yang semerbak, ditambah senja merah yang indah. Sebuah beranda kecil yang sempurna jika saja ditambah keberadaannya.

***

2 Responses to “Sebuah Beranda yang Sempurna”

  1. on 05 Aug 2008 at 15:45ajis

    bagus aq ngerasa seneng setelah baca cerpen ini, terhibur aja gitu!
    sukses ya

  2. on 12 Aug 2008 at 13:12layla

    ih…….!!!!!!!!!!!!!
    sbr bgt’zzzzz sh jd cew,,,,,

Tinggalkan Komentar