Aku dan Mr. Darjeeling
Juli 22nd, 2008 by TIA CTQ
Secangkir Darjeeling panas kuteguk perlahan saat menemani dua orang temanku di sebuah kafe di hari Minggu. Kebetulan hari ini kami bisa meluangkan waktu untuk bertemu, di sela-sela jadwal kerja yang padat. Darla, temanku yang lebih tua dua tahun dariku sedang mengeluh tentang pernikahanya yang masih seumur jagung dan berharap banyak dari suami yang bahkan memiliki pemikiran bertolak belakang dengannya. Aku tersenyum dan menaikkan sebelah alis agar dia melanjutkan ceritanya, sementara Dina, teman kuliahku melamun terus-terusan dan tak ada nyawa di wajahnya.
Suasana kafe tak begitu ramai, namun irama jazzy yang kudengar menambah semangatku untuk menuntaskan pekerjaanku di kantor. Sudah tinggal satu yang belum selesai. Jika hari ini lembur, sebelum jam sebelas, mungkin sudah bisa kukirim lewat e-mail ke bosku.
”Din, bagaimana menurutmu? Apa yang harus kulakukan agar dia bisa menerimaku apa adanya?” tanya Darla padaku.
Aku masih menyesap kenikmatan Darjeeling di lidahku. Hangat dan nikmat. Aku menyukainya. Aku pun membiarkan Darla menunggu komentar dariku. Sekali-sekali, dia harus menunggu ucapan emasku.
”Din,” katanya, ”kamu kenapa sih, senyum-senyum sendiri!”
Aku kembali tersenyum. ”Mumpung di sini, aku ingin merilekskan diri. Darjeeling memang luar biasa, sedasyat Chamomile.”
”Diiiin,” rengeknya.
”Oke, bagaimana kalau kamu tanya Dina dulu sebelum kukatakan pendapatku.”
”Dia sedang tidak bersahabat hari ini. Kemarin, seharian di kantor bawaannya lesu. Entahlah, mungkin kena omelan atasannya. Mr. Dadi kan killer. Semua juga tahu itu. Makanya, bersyukurlah, kamu punya bos yang cakep, cool, manis, baik hati, perhatian lagi sama kamu. Beruntung sekali kamu sekantor sama tipe bos seperti itu. Tidak seperti bosku dan Dina.” Darla melirik Dina yang masih melamun, tanpa meminum orange juicenya sama sekali.
”Oh ya, kurasa kamu benar. Aku sangat beruntung. He… By the way Dar, kurasa sebelum kamu menginginkan Dito menerimamu apa adanya, justru kamu yang seharusnya menerimanya apa adanya. Setahuku dia tipe suami yang baik, penurut, sabar, cinta keluarga. Kamu hanya perlu dewasa sedikit Dar.”
”Ah, kamu itu. Aku ini kurang apa sih. Aku sudah rela resign dari pekerjaan lamaku yang menjanjikan demi dia. Dan, sekarang apa yang kudapatkan? Bahkan dia tak pernah menelponku sesering dulu Din.”
”Stop Darla, jangan pernah mengatakan kamu ingin seperti remaja lagi. Ingatlah, kamu sudah 27 tahun. Mungkin dia hanya sibuk. Tapi kemarin dia mengajakmu makan malam kan?”
Darla mengangguk. Wanita bertubuh lumayan mungil itu menyodorkan sebuah foto padaku. Foto seorang pria. ”Foto terakhir dariku. Terserah, aku tidak mau lagi ambil pusing menjodohkanmu. Aku angkat tangan. Kriteriamu terlalu tinggi Dinsi. Padahal, dengan kedudukan dan gajimu sekarang, kamu bisa cari pria manapun. Oh, aku salah. Kamu tidak perlu mencari, sebab di luar sana banyak pria yang antri demi mendapatkan cintamu. Aku jadi heran, apa sih yang kamu pikirkan lagi? Umur 25 itu sudah cukup matang kan untuk sebuah pernikahan?”
”Dia Diaz,” lanjutnya sementara aku menggerak-gerakkan telapak tanganku di depan wajah Dina. Dina tak berkedip sama sekali, ”teman sekantorku, 28 tahun, konyol tapi disiplin. Memang tak begitu tampan, tapi dia manis. Sepertinya cocok denganmu”.
”Thanks.” Kumasukkan foto itu setelah mencermatinya, lalu kumasukkan dalam tas. ”Dia lumayan tampan. Aku suka. Tapi, sepertinya aku pernah melihatnya Dar,” kataku menebak.
”Dinsi, ayolah. Dia sekantor denganku, jelas saja kamu pernah melihatnya. Bukankah kantor kita satu gedung. Kamu hanya perlu turun dua lantai ke kantorku untuk bisa menemuinya.”
”Oke.” Aku kembali meneguk Darjeeling. Sudah tinggal setengah. Aku memesan lagi satu cangkir pada pelayan. Kulihat wajah Dina semakin sendu, dan matanya mulai berkaca-kaca. Kalau Dina sudah begitu, pasti masalahnya sangat serius.
***
Sepulang dari kantor, sekitar jam 9 malam, aku dikejutkan sesekor kucing Persia yang tiba-tiba masuk kamarku. Aku tak tahu dia lewat mana, padahal bibi biasa disiplin menutup pintu. Bukannya aku benci kucing, namun aku geli bila harus bersentuhan dengan bulu-bulunya yang sangat halus.
”Miaw.”
”Dono. Jangan mendekat. Bibiiiiiiiiiiiiiiiiiii!”
Kudengar Bibi berlari kecil menuju kamarku. Dengan cepat dia sampai juga ke kamarku. ”Ada apa Mbak?”
”Kenapa Dono bisa masuk kamar Dinsi Bibi. Bukankah Bibi sudah tahu Dinsi tidak suka kucing.”
”Maaf Mbak, tadi Mas Ogam titip. Katanya segera diambil setelah pulang dari super market.”
”Ya sudahlah. Tolong bawa Dono pergi. Jangan sampai dia masuk kamar lagi.”
Bibi segera mengambil Dono, namun Dono malah melompat ke kasurku. Ah, aku benci kucing Mas Ogam. Dia sering masuk rumahku tanpa ijin. Setelah Bibi membawanya ke dapur, aku ganti piyama, lalu Mas Ogam mengetuk pintu kamarku. Dia menyuruhku ke apartemennya yang juga satu lantai denganku.
Sepuluh menit kemudian, setelah mengambil sepiring pasta dari meja makan, aku langsung menuju ke apartemen Mas Ogam. Kami berdua larut dalam meeting di dalam ruang kerjanya. Mas Ogam, bosku yang tampan itu selalu berbeda pendapat denganku, namun karena tujuan kami sama, menyangkut perusahaan tempat kami bekerja, kami pun di detik terakhir mencapai kata sepakat. Satu hal yang kusuka darinya, dia tak pernah menganggapku sebagai bawahannya, melainkan sebagai partner.
Mas Ogam mengenakan T-shirt Joger dan celana pendek khas Bali, dengan tangan kiri memegang cangkir kopi. Sesekali dia meneguknya. Aneh, aku lebih menyukai penampilan santainya daripada di kantor yang terbungkus oleh busana formal. Sedikit terasa lebih alami, meskipun di tengkuknya bisa kulihat dengan jelas tahi lalat yang berada tepat di tengah. Manis.
”Din,” katanya kemudian setelah kami bersitegang selama berjam-jam dan membuatku bersungut-sungut. Dia bahkan selalu melakukannya, padahal apa yang kusampaikan adalah hal yang paling rasional, apalagi menyangkut nominal. ”Aku lapar, buatin sesuatu kek di dapur,” perintahnya.
”Aduh Mas Ogam. Aku sudah benar-benar ngantuk nih. Aku mau tidur.”
Oke, dia memelas dengan tatapan sayunya dan aku tak pernah bisa menolak tatapan seperti itu. Aku pun membuatkan nasi goreng di dapurnya. Setelah itu baru aku kembali ke apartemenku. Dia sepertinya cukup puas dengan nasi goreng yang kubuat. Tak ada keluhan saat memakannya.
Aku menutup pintu kamar dan menghempaskan tubuhku yang penat ke ranjang, namun telepon berdering memekakkan telingaku. Dengan gontai aku kembali bangun dan meraih telepon di meja riasku.
”Halo.” Tak ada jawaban.
”Haloooo, siapa di sana?” tanyaku sebal. Hanya terdengar suara isak tangis seorang wanita. ”Din… Dina?” tanyaku menebak.
Dina pun akhirnya mulai bersuara dan menceritakan kesedihannya. Dia diultimatum Roi, tunangannya untuk memilihnya atau karir. Dina harus memilih dua pilihan yang sangat sulit. Pantas saja kemarin di kafe dia sangat tak bersemangat. Roi memberinya waktu seminggu dan jika pada saat itu Dina masih tidak bisa mengambil keputusan, terpaksa Roi memutuskan ikatan pertunangan mereka dan memupuskan harapan mereka untuk berakhir di pelaminan. Aku sangat mengerti apa yang sedang dirasakannya, namun aku menyuruhnya untuk berpikir lebih tenang dan meminta petunjuk pada Tuhan.
Tak lama setelah sambungan dengan Dina putus, telepon kembali berdering. ”Halo,” sapaku dengan lunglai. Kini mataku tak bisa lagi untuk berpura-pura membuka.
”Halo, Din.”
Ternyata Mas Ogam. Ah, bosku yang satu ini apakah tidak pernah capek. Pukul dua dini hari belum juga mengantuk? Terbuat dari apakah tubuhnya? Walaupun dengan tak bersemangat aku tetap mendengarkan curhatnya masalah mamanya yang sudah dua minggu sekarat di rumah sakit, kanker rahim. Beberapa kali aku menjenguk bersamanya. Aku sudah dekat dengan keluarganya. Mereka sudah seperti keluargaku sendiri. Mas Ogam terdengar sangat sedih dan dia mengatakan keinginan mamanya. Menyuruhnya segera menikah. Untuk pria 35 tahun, kurasa keinginan mamanya itu tidaklah sulit.
”Din, bagaimana menurutmu?”
”Apanya yang bagaimana? Ajak saja menikah pacar Mas Ogam. Beres sudah. Lagi pula Mas Ogam kan sudah 35? Jadi harus memikirkan apa lagi? Solusi sudah di depan mata kan?”
”Masalahnya. Wanita yang kucintai tak pernah mencintaiku.”
”Lo, kok bisa? Masa pacaran lama, masih juga dia tidak mencintai Mas Ogam?”
”Aku tidak pernah punya pacar Dinsi.”
”Lalu, siapa dong wanita yang Mas Ogam cintai?”
”Kau orangnya,” katanya lirih. Namun aku sudah terlanjur mendengarnya. Dan aku tak percaya ini semua. Bos yang selama ini aku pikir punya pacar cantik di luar sana ternyata menyukaiku yang setiap hari selalu bertemu dengannya hampir selama 20 jam. Oh, Tuhan. Apakah yang sedang terjadi?
”Dinsi. Will you marry me?” pintanya kemudian.
“Mm marry you?” tanyaku balik.
“Yes, marry me. You and I….. will be a great couple. Please, Dinsi for my mother, say yes!”
Aduh apa yang harus kukatakan? Ini menyangkut nyawa mamanya. Benar, aku tidak mencintainya, tapi aku juga sayang dia. Kasihan juga dia bila tidak bisa memenuhi keinginan mamanya. Lagi pula aku juga sampai sekarang belum punya pacar, dan aku juga tidak terlalu mengagungkan cinta. So why not?
”Baiklah, Mas Ogam. Aku bersedia!”
“Terima kasih Dinsi.”
***
Seminggu kemudian aku dan Mas Ogam bertunangan di ruang ICU. Selama hidup, baru kali ini aku melihat acara pertunangan teraneh di jagad raya dan itu adalah pertunanganku sendiri. Mama Mas Ogam terbaring lemah di ranjang pasien. Aku bisa merasakan kesedihan dalam hati Mas Ogam dan papanya, persis seperti yang kurasakan kala tsunami merenggut keluargaku dariku. Bahkan sampai saat ini aku belum tahu apakah mereka masih hidup ataukah sudah pergi. Mayat keluargaku tidak pernah ditemukan.
”Dinsi, kau masih di sini?” tanyanya tanpa membuka mata.
”Iya Mama. Dinsi di sini.”
”Dinsi berjanjilah padaku. Kau takkan pernah meninggalkan Ogam, apa pun yang terjadi.”
Aku mengangguk. ”Iya Mama. Dinsi akan selalu menjaga Mas Ogam, takkan pernah meninggalkannya.”
”Meskipun kau tahu Ogam buta warna dan akan menurunkannya pada anak cucu kalian?”
”Iya,” jawabku pasti.
Aku sangat tak tega melihatnya menangis menginginkan yang terbaik untuk anaknya, meskipun sebenarnya aku tidak mencintai Mas Ogam dan mungkin aku lebih menyukai Diaz. Setelah itu keadaan mama kritis. Aku berteriak memanggil Dokter dan Ogam serta Papa. Mereka sangat ketakutan akan kehilangan Mama. Dalam lubuk hatiku, aku kembali merasakan hal itu. Takut, rasa takut kehilangan, dan aku benar-benar kehilangan keluargaku.
Lima belas menit kemudian Dokter keluar ruangan dan memintaku untuk menemui Mama, hanya aku sendiri, tidak bersama Papa ataupun Mas Ogam. Mama meminta maaf padaku untuk keterbatasannya. Tak kusangka keluarga Mas Ogam selama ini mencari informasi tentang keluargaku. Aku tak pernah mengetahuinya, tak pernah sekalipun Mas Ogam mengatakannya padaku. Dan, sekarang dengan linangan air mata, aku berterima kasih pada Mama atas apa yang telah mereka lakukan untukku, meskipun keluargaku tetap tak bisa terlacak.
”Hiks.. hiks… hiks… Mama terima kasih. Dinsi telah merelakan mereka. Dinsi ikhlas.”
”Jadi sekarang, Dinsi ikhlaskanlah aku.”
***
Tiga bulan setelah itu, sehari sebelum pernikahanku, aku menjadi paranoid. Berbagai kemungkinan buruk bergelibat di pikiranku. Aku mulai berpikir keputusanku untuk segera menikah adalah salah. Hari ini aku bolos kerja dan menghabiskan waktu seharian bersama Diaz di Dufan. Aku tahu ini salah, tapi aku hanya ingin berpikir jernih atas keputusanku. Aku tak mau hidupku hancur hanya gara-gara keputusan yang terlalu terburu-buru. Masalahnya waktunya begitu cepat. Aku bahkan tidak menikmati saat merencanakan segala atribut pernikahan yang ditawarkan wedding organizer kepadaku.
Diaz, begitu baik. Waktu melihat fotonya, aku sudah tahu, aku menyukainya. Sebulan yang lalu dia mengutarakan cinta kepadaku, namun kutolak, karena aku sudah bertunangan dengan Mas Ogam. Tapi dia tetap mengejarku meskipun tahu aku adalah tunangan Mas Ogam dan membuat Mas Ogam cemburu. Namun tak dapat kupungkiri bahwa saat Diaz menyatakan cinta kepadaku, hatiku berdetak kencang tak karuan, dan aku merasakan kebahagiaan maha dasyat. Entahlah. Mungkin… sebenarnya Diaz adalah orang yang kuinginkan untuk menjadi pendampingku. Bersamanya aku begitu hidup, dia lucu, menyenangkan, dan baik hati.
Menjelang senja dalam perjalanan pulang, iseng-iseng aku menanyakan sesuatu kepadanya. ”Diaz, apa arti cinta bagimu?”
”Untuk apa kau menanyakannya?” tanyanya sambil mengemudikan Volkswagonnya.
”Tidak, aku hanya bertanya. Kalau tak mau menjawab, juga tak masalah.”
”Cinta…”, jawabnya kemudian dengan pandangan tetap fokus pada jalanan. ”Menurutku hanya rangkaian kata dari lima huruf, itu saja. Perasaan suka, lebih tepatnya menurutku. Tak ada yang spesial.”
Aku terdiam. Tak menyangka jawaban Diaz akan sedangkal itu. Oh, jadi inikah makna cinta baginya. Jadi, saat dia menyatakan cinta kepadaku pun itu juga tidak dianggapnya spesial. Aku baru tahu Diaz tipe pria tak berkomitmen. Aku begitu bodoh telah berpikir aku telah memutuskan sesuatu yang salah dengan menyetujui lamaran Mas Ogam. Mas Ogam, pria yang sangat mencintaiku dan telah mencari keberadaan keluargaku tanpa sepengetahuanku. Oh Tuhan, mengapa aku baru sadar sekarang? Ternyata Kau telah memberiku pria yang jauh lebih baik dari Diaz.
***
Mas Ogam, seperti yang kuduga, telah menungguku dengan cemas di apartemenku. Kulihat Bibi juga cemas. Aku telah membuat dua orang yang kusayangi cemas. Mas Ogam, dengan rambut acak-acakan dan kemeja yang kusut menghampiriku.
”Kamu dari mana saja Dinsi? Kamu membuatku seperti orang gila. Aku sangat mencemaskanmu!” Mas Ogam marah dan aku memang pantas mendapatkannya.
Dengan senyuman, aku menarik tangannya ke balkon, setelah meminta Bibi membuatkan dua cangkir Darjeeling hangat untuk kami. Bintang begitu indah. Kupaksa Mas Ogam melihatnya. Dia tampak bingung dengan apa yang kulakukan, namun aku tak peduli.
”Main catur yuk,” ajakku.
”Oke,” jawabnya pasrah. Kemarahannya sudah menghilang bersama bintang-bintang di angkasa.
”Mas Ogam, bintangnya cantik ya.”
”Iya,” jawabnya seraya melihat kembali hamparan bintang di langit. ”Sangat cantik.”
Aku tersenyum ketika Mas Ogam masih menatap langit. ”Skak matt,” kataku kemudian sebelum dia mengalihkan pandangannya.
”Dinsi kau curang.” Lalu dia menggelitikiku sampai aku menangis.
”Hahahaha……. Yang penting aku menang.” Kemudian kuambil secangkir Darjeeling lalu meneguknya. ”Mas Ogam, besok kita sudah jadi suami istri ya.”
”Jadi, kamu sudah tidak meragukan aku lagi Dinsi?” tanyanya lucu. Aku cemberut mendengarnya.
”Siapa yang meragukan? Aku tak pernah meragukanmu.” Jelas ini sebuah pengakuan bohong.
”Syukurlah. Kupikir, besok aku tidak jadi menikah. Aku sempat berpikir untuk menggantikanmu dengan Dina.”
”Apa?” tanyaku tak percaya.
”He… Kenapa? Cemburu?”
Mas Ogam, tersenyum jahil kepadaku, lalu menarik lenganku ke dapur, memintaku membuatkan spageti untuknya. Di luar sana, kala bintang bersinar dengan indahnya, Darla dan Dito akhirnya pindah dari rumah orang tuanya ke sebuah apartemen dekat kantor kami. Dan Dina baru saja menelponku, katanya di akan resign dan akan segera menikah dengan Roi di Manado. Dan, aku, di sini, bersamanya, sedang makan spageti meskipun akan membuat perutku agak menonjol besok pagi. Namun, aku tak peduli. Aku meneguk Darjeeling dalam pelukan Mas Ogam di depan televisi. Sungguh, dia sehangat Darjeeling. Dialah Mr. Darjeelingku.
”Mas, aku mencintaimu,” ucapku lirih, namun dia mendengarnya. Mas Ogam mencium lembut ubun-ubunku lalu kembali ke apartemennya, menunggu mentari menyembul. Dan pada saat itu namaku akan berubah menjadi Dinsi Sulaiman.
Kalo menurutku critanya udah bagus hanya saja klimaksnya kurang greget………………………..so crita yang kamu buat masih belum bisa bikin yang baca nangis ato seneng, jadi jangan patah semangat ya untuk berkarya truz………..
jusy one word “incredible”
sukaa bnged ma cerpen niy
tia gnbatte
..neeya…
ceritanya udah bagus tapi endingnya kurang seru tuh
Tampilan awal kurang hidup. Suara musik jazz di kafe yg kurang ramai menambah semangat menuntaskan kerjaan di kantor? Sebenarnya dia itu ada dimana? Tp cukup bagus ide ceritanya, mungkin penataannya yg hrs diperbaiki.
ya sih, gak dapet klimaksnya, dasar ceritanya udah oke.