Maafkan Aku Masa Lalu..
Juli 21st, 2008 by goldwinner
Memang lebih mudah untuk tidak menjadi seorang bijak. Berbuat sesuatu tanpa pernah berpikir apakah itu suatu yang bijak. Namun ada saatnya bagi kita untuk berkaca pada diri sendiri dan memulai untuk menjadi bijak. Ada kalanya juga bahan-bahan renungan itu muncul secara tak terduga, secara tiba-tiba. Entah lewat bahagia, tawa atau duka. Kadang muncul dari sesuatu yang selama ini tidak kita perhatikan, sesuatu yang tidak pernah terlintas di benak.
Aku bukanlah seseorang yang mudah melupakan masa lalu begitu saja. Bagiku hanya ada indah saja yang tetap hidup dari masa lalu. Kadang semua itu malah membuatku sukar menempatkannya sesuai porsi. Karena bagiku masa lalu adalah mungkin salah satu hal terbaik yang mampu mengajariku tentang sesuatu, tentang hidup. Sampai pada suatu peristiwa yang mau tidak mau membuatku berpikir kembali untuk mulai menempatkan masa lewat itu sekedarnya saja, tanpa berlebihan yang sangat. Walaupun peristiwa itu tetap saja meninggalkan bekas dan guratan yang lekat dan walaupun tetap tidak membuat dirinya kembali namun aku pikir tidak ada salahnya menjadi pelajaran berharga buat orang lain.
Peristiwa itu sendiri terjadi sudah lebih dari lima tahun silam. Saat aku masih kuliah dan aktif di Mapala di sebuah universitas di Jogjakarta. Vale datang begitu saja. Dengan sederhana dan mampu menata hidupku yang seolah ikut terbawa pergi bersama kepergian Dewi, kekasihku yang dulu. Dewi meninggal dalam pelukanku karena penyakit ketinggian yang menderanya saat mencoba menaklukkan Puncak Semeru. Mungkin bisa dikatakan saat itu adalah periode terburuk dari hidupku. Sampai pada saat terapuh itulah Vale memasuki kehidupanku tanpa disengaja. Dia adalah yuniorku di Mapala. Sifat tomboy dan seadanya yang membuatku agak melupakan kepergian Dewi dan mulai berpikir tentangnya. Cuma saja memang selalu ada saat-saat aku begitu merindukan sosok Dewi, walau Vale telah mengisi kembali lembaran hariku. Seolah masih ada ruang dalam hatiku yang selalu saja menyimpan Dewi, aku dan kenangan tentangnya. Jalan-jalan yang memakan ingatan dan menggurat dalam pada rasa.
Kesemuanya hanya tertambat pada bahagia. Pada indahnya hari aku dan Vale. Setidaknya itu sempat berjalan selama lima tahun. Sebuah ukuran waktu yang luar biasa bagiku. Sampai saat Vale menemukan helai-helai kertas kerjaku di bawah tumpukan berkas-berkas skripsi yang kusimpan rapi dalam kamar kosku. Saat aku berangkat penelitian di pedalaman Kalimantan Selatan. Kertas-kertas yang melulu tentang Dewi. Menceritakan semua ingin harap dan rasa kehilanganku. Kertas yang sebenarnya hanyalah seruas jalan buntu dan sekedar kata dari nuraniku yang tidak pernah terkirim dan terbaca oleh Dewi. Memang mungkin naif namun ternyata bisa memporandakan semua bahagia yang sudah ada di keseharian aku dan Vale. Mengirim badai pada biduk kecil yang sedang kujalani dengan indah.
Namun memang wajar jika Vale begitu terluka, paling tidak setelah kasihnya yang selalu utuh padaku. Kejadian yang bagiku seperti hujan badai yang menumpahkan segala murka lewat petir dan gelegar guntur juga amarah kilat yang memburu. Hujan badai yang begitu kuingin pada akhirnya akan kembali menjadi indah pelangi sebagai niat baik dan kasih sayangnya. Namun sebesar apapun inginku, serindu apapun aku pada peristiwa yang pernah menjamu aku dan Vale, akhirnya semua mesti berakhir. Meninggalkan kesedihan-kesedihan. Membiarkan aku yang masih saja termangu. Menyesali kekusutan yang tidak pernah terurai, yang ternyata berawal dari masa lalu.
Mungkin memang benar kata orang bijak. Jangan terlalu larut dengan masa lalu karena dia bisa menikam hidupmu dan melemparmu dari alam nyata. Bahkan seperti pengalamanku sendiri, membuyarkan segala yang indah dan menenggelamkan biduk sederhanaku. Mungin cukup saja buat mengenangnya. Dan tidak berlebihan bermain dengan masa lalu. Dia mungkin bisa menjadi guru yang terbaik tapi bisa juga menjadi guru yang buruk. Tergantung pada diri kita sendiri.