Hei, Ini untuk Kamu!
Juli 21st, 2008 by Grian SUGANDRY
Asap rokok kembali menemani saya malam ini, menemani setiap kegelisahan yang selalu ada. Ya, rasa gelisah, takut, kalut, galau, khawatir, apapun itu namanya, perasaan seperti itu selalu dan selalu bakal tetap ada selama manusia masih bernapas dan berpijak di bumi ini.
Hanya bisa mengingatnya dari sini, tanpa pernah bisa berucap mesra. Tanpa pernah dia tahu betapa saya sangat mengharapkannya. Dia, entah di mana, di penghujung bumi yang lain mungkin, sedang tertawa atau mungkin sedang lelap tertidur setelah seharian perasaan lelah menderanya berulang-ulang.
Setiap pagi saya jatuh cinta kepada manusia yang sama dan setiap malam saya selalu tidur dengan perasaan rasa sakit yang sama. Perasaan patah hati.
Dia tak pernah tahu dan tak akan pernah tahu. Saya tak akan pernah mengatakan perasaan saya. Biarlah tetap seperti ini. Biarkan saya tetap mengaguminya dari jauh. Biarkan saya tetap berharap esok masih akan datang agar saya bisa melihat dia lagi. Berdiri dan tersenyum, seperti biasa. Perasaan yang biasa saja.
Dia terlalu sempurna untuk nyata dalam kehidupan saya. Dia terlalu mengagumkan. Sangat berat melihat dia menderita. Entah, entah sampai kapan rasa ini terus tertahan. Sampai saya mati mungkin.
Ah, persetan! Saya tak peduli. Yang jelas, melihat dia tersenyum saja sudah membuat saya benar-benar bahagia.
Tuhan memang sangat sempurna memang, karena bisa menciptakan makhluk yang sangat sempurna seperti dirinya.