KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Secangkir Earl Grey

Kuteguk secangkir Earl Grey hangat bersama seorang sahabat yang akan menikah di bulan Juli. Yah, kurasa ini kesempatan emas untuk menghabiskan waktu dengannya, maksudku di pesta lajangnya, hari ini, dengan dua teman, dan dua ekor hamster. Kuakui, kami, dua tahun yang lalu, berkenalan secara tak sengaja di pet shop, saat membeli makanan untuk Lili, hamster kecil belangku. Luna melirik ke arahku, menyapaku seolah kami telah mengenal lama. Saling bertukar kartu dan mentraktirku secangkir Earl Grey. Begitulah, aku pun bertemu dengan pecandu Earl Grey lainnya juga di kafe tempat kami biasa nongkrong.

Lalu, hari ini, aku akan kehilangannya selamanya. Kami takkan pernah lagi bertemu. Oke, kupikir di jaman modern ini, kami bisa menyapa setiap pagi lewat chatting atau sekedar kirim e-mail. Dengan status yang kini sudah berbeda, baik statusnya (istri) dan aku (teman yang ditinggalkan), telah membuatku menjadi satu-satunya single dalam earlcommunity yang beranggotakan empat orang wanita cantik. Lulu, sudah punya dua anak. Sinta, hamil. Luna, mau menikah. Dan aku, masih saja dalam masa-masa pertunangan yang berkepanjangan. Entahlah, sepertinya aku yang tidak mau buru-buru menikah.

Masih banyak yang kupikirkan. Kadang kupikir Vito tidak benar-benar mencintaiku, atau sebenarnya kami berdua paranoid. Atau bisa saja aku yang selalu menghindar kalau Vito menyinggung masalah pernikahan.

Seminggu yang lalu, sebenarnya dia ingin melangsungkan pernikahan secepatnya dan mengajakku pindah ke Manado. Dengan statusku sebagai anak pertama yang harus menjaga adikku yang masih remaja, rasanya tak mungkin. Vito bahkan sudah meminta persetujuan pada orang tuaku, namun masalahnya tetap saja aku belum siap. Dan, adik yang selama ini menjadi tameng senjata alasanku pada Vito, telah mengatakan agar kami segera menikah pada Vito.

Usia 27 tahun, oke. Karir, sedang menanjak, oke. Masalahnya aku paranoid terhadap pernikahan. Pikiranku dihinggapi semacam iblis gara-gara sering membaca berita selebritis kawin-cerai kawin-cerai. Bukannya aku sok selebritis, namun di Ananda Corp., aku bisa disebut selebritis. Aku asisten pribadi sang pewaris. Vitolah orangnya.

Vito begitu baik padaku maupun keluargaku. Satu masalahnya, dia terlalu perhatian dan itu sering membuatku gerah. Aku yang dididik selalu mandiri, membuatku kadang merasa tidak butuh seorang pendamping. Aku merasa hidupku baik-baik saja, dan aku tetap bisa survive. Meskipun, aku tak pernah benar-benar jujur pada orang sekelilingku terhadap apa yang aku rasakan. Itulah yang menjadi boomerang bagiku. Berbeda dengan Vito, dia sangat optimis dan menginginkan menikah sebelum usianya menjadi 36 tahun, dan pilihannya jatuh padaku yang setiap hari bertemu dengannya di kantor dua tahun ini.

Luna menanyakan kelanjutan hubunganku dengannya, yang lain menatap mata curiga padaku.

“Jangan pernah bilang kau masih ragu,” Luna menebak tepat sasaran dan aku hanya mengangkat bahu.

“Kurang apa lagi sih Vito Kei? Dia kan perfect,” sambut Santi.

“Aku hanya kurang yakin.”

“Bagaimana caranya untuk meyakinkanmu lagi, aku angkat tangan deh Kei. Kamu terlalu lama, bisa-bisa Vito digaet orang lain. Barulah kamu rasakan sakitnya.”

“Bukannya aku tak yakin dia akan menjadi suami yang baik. Namun aku takut dia akan membatasi ruang gerakku.”

“Ya, bisa juga,” sela Lulu. “Tapi aku pikir bukan masalah itu kan? Manado kan?”

Aku terperanjat dan Lulu masih melanjutkan kalimatnya. “Di sana ada mantan kamu kan? Yang membuat hatimu berdetak kencang tak karuan dan dia dengan teganya menghempaskanmu dalam sedetik. Dia selingkuh. Heran aku Kei sama kamu. Kok bisa-bisanya sih kamu masih mikirin dia, sementara dulu kamu nangis-nangis gara-gara dia. Apa sih hebatnya dia, dan apa sih kurangnya Vito.”

Bukan, bukan itu masalahnya. Aku sudah melupakan masa sendu itu.

Parfait,” jawabku kemudian.

So?” tanya Lulu ingin mendengar jawabanku.

So, you are right and I was wrong.”

“Kei, come on! Lupakan Firman dan ambillah kebahagiaanmu bersama Vito.”

Aku berpikir keras. Memang ada benarnya apa yang dikatakan mereka atau pun orang tuaku. Setetes air mata kemudian hinggap juga di pipi, dan mengalirlah semua yang aku pendam selama ini. Bukan Firman penyebabnya, namun hal yang sangat menakutkan. Mereka ternganga mendengar ceritaku. Aku mengetahui dengan pasti aku sekarat. Dokter mengatakan dalam rahimku ada tumor, dan jika tidak segera diangkat akan membahayakan jika aku hamil nanti. Umurku hanya tinggal dua bulan lagi.

“Oh, Honey, aku tak menyangka hal itu terjadi padamu. Kau tak akan mati. Mungkin dokter salah analisis. Aku yakin itu.”

Mereka semua merasakan kepedihan yang selama ini kualami dan tak pernah kuceritakan pada siapa pun. Mereka berjanji akan menemui dokterku dan memintaku untuk diperiksa kembali. Kurasa mereka terlalu memaksakan diri. Aku memang hanya sekali periksa, dan aku takut untuk bertemu dengan orang-orang bergelar dokter maupun rumah sakit. Aku sangat takut. Ya, aku takut pada kematian.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul satu pagi. Purnama masih dengan cantiknya menerangi kamar Luna. Hamster kami sudah terlelap di kabin kecil mereka. Kemudian blackberryku berbuyi. Dari Vito.

“Kau tak perlu mengatakannya lagi. Mungkin benar, kita tidak berjodoh.”

Tersayat-sayat hatiku membacanya. Kuputuskan untuk menelponnya namun tidak aktif. Aku menangis sepanjang malam di atas sajadah.

***

Pagi harinya saat mataku maih sembab, aku membuka pintu rumah Luna karena ada yang memencet bel tanpa henti. Anehnya, mereka belum bangun juga, atau pura-pura tak mendengar.

Rasanya detak jantungku tiba-tiba berhenti kala kulihat seorang pria yang sangat kukenal telah berdiri tepat di hadapanku dengan kaus oblong Adidas dan sepatu kets.

“Vi.. Vito. What are you doing here?” tanyaku kelabakan, tanpa mampu menyembunyikan mataku yang masih bengkak.

“Kamu menangis semalaman kan?”

“Ge-er.”

Vito menarik tanganku ke luar rumah menuju mobilnya. Mungkin saat ini ketiga temanku melihat di balik jendela kamar di lantai dua. Kudengar suara gaduh dari sana. Vito memutar CD Glenn Fredly yang mendayu sampai membuatku ingin menangis lagi.

“Sudahlah sayang. Tak perlu kau risaukan pesan dariku tadi malam. Aku hanya menggertakmu. Itu saja. Dan………,” Vito mencari-cari sesuatu di dalam tas kerjanya.

“Nah,” katanya setelah berhasil menemukan selembar kertas. “Ini yang ingin kuberikan padamu, dan kau tak punya alasan lagi untuk menunda-nunda lagi pernikahan kita. Aku sudah pesan tempat di KUA dua minggu lagi. Kurasa itu sudah cukup lama untuk mengepas baju pengantin kita.”

Aku mengambil kertas itu dengan sangat hati-hati. Membaca dari baris ke baris dengan seksama sampai akhir. Tak ada titik maupun koma yang aku lewatkan.

“Iya, sayang. Kau tak pernah mengidap tumor itu. Dokter itu salah memberikan diagnosa. Ada dua nama yang sama, Keisya Purnama. Satu seorang ibu berusia empat puluh lima tahun, dan satunya lagi duduk di sampingku. Hasil diagnosa kalian tertukar. Keisya tua telah meninggal dunia tadi malam, tepat seperti yang tercantum dalam kertas hasil diagnosis yang ada di tas kerjamu. Maaf, aku tak pernah bilang aku pernah membuka tas kerjamu. Namun, kau yang memaksaku melakuakannya. Kalau tidak begitu kau tidak akan pernah cerita padaku.”

Aku tak dapat menyembunyikan kebahagiaanku. Kembali air mata membasahi pipiku, dan Vito menghapusnya dengan jemarinya. “Ja… jadi aku sehat? Aku bisa punya anak?”

Vito mengangguk lalu memelukku. “Kita akan bahagia sayang. Kita akan punya dua anak seperti yang kita rencanakan setahun yang lalu.”

Aku melepaskan pelukannya dan mengajak Vito ke dalam rumah. Di sana mereka telah menungguku di bawah tangga. “Kapan tanggalnya?” tanya Sinta.

“Sepuluh Agustus,” jawabku mantap.

Mereka tersenyum dan memelukku satu per satu. “Jadi, kau sudah tidak akan mati?” canda mereka saat Vito mengatakan aku tak pernah mengidap tumor.

Aku mengangguk pasti dan kami berlima menikmati secangkir Earl Grey di cangkir kami masing-masing, di balkon rumah saat mentari bersinar hangat.

6 Responses to “Secangkir Earl Grey”

  1. on 22 Jul 2008 at 12:43Dona

    Waaah, udah ngalamin yaaaaaaaaaa ;-)

  2. on 23 Jul 2008 at 06:18atik

    seeeeeeeeeruuuuuuuuuuu bgt critanya…………….tapi klimaks crtanya masih kurang dapeeettttttttt

  3. on 23 Jul 2008 at 06:39neeya

    gud story,,
    i thnk tia is the next people who will write the best seller book,,amin,,,

  4. on 30 Jul 2008 at 08:34Fauzan Masri. Z

    Waduh, T.O.P BGT deh..
    benar-benar sebuah alur cerita yang bagus, menurut aku klimaks ceritan untuk penulisan cerpen sudah sangat bagus. Jika masih kurang puas tentu perlu dibikin novel.
    Padanan kisah dalam ceritanyapun sangat menarik, unik, tanpa ada yang bisa menebak kayak apa endingnya sebelum dibaca sampai tamat.
    Kalo ini kisah nyata aku ucapkan, “Selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga yang selalu berada dalam lindungan dan rahmat-Nya yang banyak.”

  5. on 04 Aug 2008 at 14:49zia

    WAH seru bangetbikin q hampir nangis

  6. on 28 Aug 2008 at 14:20Lin

    Aduh..terharu banget…sangat romantis, tapi endingnya kurang ngigit…so asik banget…

Tinggalkan Komentar