KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Ijinkan Aku Menebus Dosa

Bayangan wajah Arin tergambar dengan jelas di anganku. Dia amat cantik, kulit putihnya seakan memancarkan cahaya. Rambutnya yang lurus panjang terurai membuatku jadi mabuk kepayang. Oh, betapa cantiknya wajahmu wanita pujaanku. Aku tak bisa tidur karena memikirkanmu. Namun apalah daya, diri ini tak berarti di matamu. Bagimu aku hanyalah seorang pria malang yang patut dikasihani karena berasal dari keluarga miskin. Adakah harapan bagiku untuk membahagiakanmu? Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutku. Aku menelan ludah, lalu menarik napas panjang.

Aku teringat bahwa besok malam akan diadakan pesta ulang tahun Arin ke-17. Apa yang harus aku berikan padanya? Dari mana aku bisa mendapatkan uang untuk membelikan Arin kado ulang tahun spesial agar membuatnya senang padaku? Aku jadi semakin gelisah. Aku terus memutar-mutar otakku, berpikir bagaimana cara cepat agar aku bisa mendapatkan uang yang banyak. Apakah aku harus mencuri atau merampok di Bank? Tidak, tidak boleh! Aku tak boleh melakukan perbuatan yang sangat tercela itu.

Di dalam kesenyuian malam, terdengar suara Ibu yang terbatuk-batuk dalam napasnya yang terengah-engah. Aku bangkit dari dudukku, lalu berjalan menuju kamar Ibu.
“Bu, batuk Ibu kambuh lagi ya? Ibu harus segera di bawa ke dokter! Kalau tidak penyakit Ibu akan semakin parah,” kataku pada Ibu dengan suara parau.
“Uhuk… uhuk…! Ibu sih mau-mau saja Adit, tapi berobat ke dokter itu tidak gratis. Nanti kita bayarnya pakai apa? Kita sudah tidak punya apa-apa lagi,” kata Ibu dengan suara yang sangat lemah. Aku termangu, menundukkan kepalaku sambil berpikir, apa yang harus aku lakukan?

Aku dihadapkan pada dua masalah yang sangat membebaniku. Pertama, aku harus memberikan hadiah ulang tahun spesial pada Arin besok malam, tapi aku tak punya uang untuk itu. Kedua, aku harus segera membawa Ibu berobat ke dokter, tapi aku juga tak punya uang untuk itu. Apa yang harus aku lakukan? Ya Tuhan, berikanlah jalan untukku! Kuambil minyak gosok, lalu kugunakan untuk mengurut kedua telapak tangan Ibuku yang dingin lagi keriput. Setidaknya aku bisa membuat Ibuku sedikit tenang.

“Ibu, Ibu tidak perlu kuatir. Pasti kita akan mendapatkan uang untuk berobat ke dokter! Ibu tenang saja. Adit yakin Ibu pasti akan segera sembuh! Adit tidak mau kehilangan Ibu seperti Adit kehilangan Ayah! Adit tidak mau Bu! Hanya Ibu satu-satunya orang yang masih Adit miliki di dunia ini. Tenang saja ya Bu! Adit akan berusaha mencari uang untuk biaya ibu berobat,” kataku sedikit terbata-bata. Ibu mengiyakan perkataanku. Aku pun merasa lega.
Perlahan, napas Ibu yang tadinya sesak kembali normal. Nampaknya Ibu telah tertidur. Aku menarik napas. Kasihan Ibuku ini. Usianya sudah lebih dari setengah abad. Lalu kukeluarkan secara perlahan. Kedua matanya sudah tak dapat lagi digunakannya untuk melihat betapa indahnya dunia ini. Belum lagi di usianya yang renta ini ia mengidap beberapa penyakit yang membuat setiap orang merasa prihatin.

Mataku mulai terasa berat. Aku menguap. Aku merasa sangat mengantuk. Kuputuskan untuk kembali ke kamarku setelah aku benar-benar yakin Ibuku yang malang itu telah tertidur. Aku pun berjalan menuju kamarku, lalu kurebahkan tubuhku pada kasur tuaku yang lusuh.

Bila cinta mendatangimu, ikuti dia.
Walaupun jalannya sulit dan terjal.
Dan ketika sayapnya mengembang mengundangmu,
Walaupun pedang yang tersembunyi di antara ujung sayapnya dapat melukaimu.
Dan ketika ia berkata padamu untuk mempercayainya,
Walaupun suaranya berserak dalam mimpimu bagaikan angin utara yang menghembus di kebun.

(Kahlil Gibran, Sang Nabi)
Begitulah kata hatiku, membuatku semakin percaya dan yakin betapa aku mencintai Arin. Aku kembali mengingat wajahnya yang amat cantik. Wajah yang selalu kupuja dalam setiap detik waktuku. Hingga aku terbawa menuju tirai mimpi indahku.

***

Minggu sore. Aku membongkar semua isi lemariku. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya aku menemukan barang yang sejak tadi kucari. Barang itu adalah sebuah kalung emas peninggalan Nenekku. Kata Nenek kalung ini harganya sangat mahal. Nenek pernah berpesan padaku, sewaktu-waktu jika aku benar-benar membutuhkan uang, aku boleh menjual kalung ini. Asal digunakan untuk hal yang baik dan bermanfaat.

Aku berniat memberikan kalung ini pada Arin sebagai hadiah di acara ulang tahunnya malam nanti. Nenek pasti merasa senang dan ikhlas bila ia tahu aku memberikan kalung ini pada seorang wanita pujaanku, wanita terbaik dan tercantik yang pernah aku jumpai.

Tekadku sudah sangat bulat. Aku akan menghadiahkan kalung emas ini pada Arin. Aku pun membuka lemari pakaianku. Kucari kemeja lengan panjang biru berkotak-kotak yang kusimpan di lemari itu. Setelah menemukannya, aku mengambil celana jeans kesayanganku. Aku berharap bisa tampil beda pada acara ulang tahun Arin malam ini. Aku pun sangat berharap malam ini Arin akan terpana dengan penampilanku yang berbeda dari biasanya. Wajahku cukup tampan, hanya saja style-ku yang pas-pasan, bahkan 180 derajat di bawah pas-pasan yang membuatku terlihat begitu norak.

Jam dinding telah menunjukkan pukul 05.30 sore. Kukenakan kemeja lengan panjang serta celana jeans kesayanganku, lalu kukantongi uang secukupnya untuk biaya angkutan umum menuju rumah Arin. Aku segera bergegas sebelum Ibu bangun. Aku tahu Ibu pasti merasa sedih bila tahu aku meninggalkannya sendiri di rumah. Tapi ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk menarik hati Arin, wanita pujaanku itu.

Aku pun berjalan menuju pintu depan. Namun langkahku terhenti ketika aku mendengar suara Ibuku yang lemah tertatih-tatih memanggilku dengan napas terengah-engah dan batuknya yang terasa sangat berat.
“Adit…, uhuk…uhuk…! Tolong Dit, ambilkan Ibu minum! Ibu haus Dit! Uhuk…uhuk…! Adit…!” Hatiku merasa sedikit kesal. Namun kekesalanku terasa sirna setelah aku menyadari bahwa yang memanggil dan memerintahku itu bukan orang lain. Dia adalah Ibuku. Ibu yang telah meramutku sejak kecil dengan penuh kasih sayangnya. Aku menarik napas panjang. Lalu aku berjalan menuju dapur. Kuambilkan segelas air putih hangat untuk Ibu. Kemudian aku berjalan menuju kamarnya.

Aku duduk di sisi kanan Ibu dan memberinya minum dengan perlahan. Setelah beberapa saat, segelas air hangat itu telah habis diminumnya.
“Kamu mau kemana Dit, badan kamu kok wangi betul! Uhuk…uhuk…!”
“Mmmmhhhh…, tidak kok Bu! Adit hanya mau keluar sebentar. Ada acara sekolah, penting. Ibu istirahat saja ya Bu!”
“Tapi Dit…!”
“Bu…, sekarang Ibu istirahat saja ya Bu! Adit harus pergi sekarang!”
“Kamu mau kemana Dit. Ibu takut di rumah sendiri! Ibu kuatir kalau saja terjadi apa-apa pada Ibu!”
“Bu…, Ibu jangan berpikiran yang tidak-tidak! Ibu pasti akan segera sembuh. Percayalah Bu, Ibu pasti akan baik-baik saja,” kataku meyakinkan Ibu. Ibu terdiam. Ia hanya menganggukkan kepalanya. Aku merasa iba melihat keadaan Ibuku yang sudah renta itu. Tapi apa boleh buat!

Aku melihat jam dinding, sudah pukul 6 lewat. Aku harus segera bergegas. Kata teman-teman acara ulang tahun Arin akan dimulai pukul 7. Aku tak boleh terlambat sedetik pun.
“Bu…, Adit pergi dulu ya Bu! Acaranya akan segera dimulai,” kataku sambil mengecup kening ibuku. Lalu aku pun pergi. Pergi meninggalkan Ibuku demi Arin, gadis pujaanku.

Sebelum aku pergi ke rumah Arin, terlebih dahulu aku singgah di toko kecil yang letaknya tak jauh dari rumahku. Aku sengaja singgah di sana untuk membeli kertas kado dan meminta kepada pelayan toko itu untuk membungkus kalung beserta kotak kecilnya menjadi sebuah kado yang sederhana, namun tak dipandang sebelah mata oleh Arin nantinya. Setelah beberapa saat, akhirnya kalung itu telah terbungkus menjadi sebuah kado dengan kertas berwarna putih dan embel-embel merah muda. Aku sangat senang. Pasti Arin juga sangat senang menerima kado dariku ini.
Kulirik jam tanganku, sudah hampir pukul setengah tujuh. Aku pun pergi ke rumah Arin dengan menggunakan jasa angkutan umum. Jarak rumahku dengan rumah Arin cukup jauh, sekitar 5 km. Jadi memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke sana.

Sepanjang jalan, aku menimang-nimang kado yang berisi kalung emas itu dengan penuh keyakinan, Arin pasti sangat senang menerimanya. Aku sudah sangat tak sabar bertemu dengan gadis pujaanku itu di acara pesta ulang tahunnya nanti. Aku menghela napas panjang. Lalu kusimpan kado itu di saku celanaku.

Tanpa terasa, aku telah tiba di Jalan Banteng. Tak lama lagi aku akan tiba di rumah Arin. Kuatur wajahku sedemikian rupa agar tidak terlihat gugup. Terus terang saja, selama ini aku belum pernah ikut dalam acara pesta ulang tahun teman-temanku. Jadi wajar saja bila aku merasa sangat gugup. Namun sebisa mungkin kututupi rasa gugupku itu dengan senyum kecil yang kubuat-buat. Dan akhirnya, aku pun tiba di depan rumah Arin. Aku turun dari angkot dengan perasaan gugup. Kembali kuhela napas panjang. Kulihat pagar rumah Arin yang berdiri kokoh mengelilingi rumah mewah yang ada di dalamnya. Hiasan berupa pernak-pernik telah tertata rapi di depan dan samping pagar beton itu.

Aku pun berjalan menuju pintu pagar depan. Nampaknya para tamu undangan sudah ramai memenuhi halaman rumah yang tampak dari luar pagar. Kulirik jam tanganku, 5 menit lagi pukul 7. Aku memenuhi antrian panjang yang berderet sepanjang pintu pagar. Aku tak menyangka tamu undangannya sebanyak ini. Di sisi pintu terlihat 2 orang petugas keamanan beserta seorang wanita yang memegang buku tamu. Petugas yang satu memeriksa undangan dan yang satunya lagi mempersilakan para tamu undangan untuk masuk setelah nama tamu diperiksa pada buku tamu oleh wanita yang berdiri di antara kedua petugas itu.

Jantungku berdegup kencang. Hatiku bertanya-tanya khawatir. Para tamu undangan memperlihatkan undangannya sebelum masuk ke dalam. Bagaimana denganku? Aku tak memiliki undangan. Apakah itu artinya…, ya Tuhanku, aku tidak memiliki undangan, Arin tidak mengundangku! Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?

Para tamu undangan pun berjalan dengan perlahan memenuhi antrian. Setelah beberapa saat, tibalah giliranku untuk pemeriksaan undangan.
“Mas, namanya siapa?” tanya seorang petugas berkumis tebal.
“Mmmmhhhh…., nama saya…., nama saya Adit…, Maxwell Aditya,” kataku gugup. Keringat dingin membasahi pelipisku.

Wanita yang berdiri di sisi kedua petugas itu mencari namaku dalam buku tamu. Dahinya mengernyit.
“Mmmmmhhh, maaf Mas, namanya Maxwell Aditya ya? Nama Mas tidak terdaftar dalam buku tamu undangan. Mungkin ada kekeliruan. Tapi…, Mas bawa undangannya kan?” tanya wanita itu padaku. Aku menelan ludah, lalu kugelengkan kepalaku perlahan.
“Ti…, tidak…! Sa…, saya tidak punya undangan,” kataku dengan sangat gugup bercampur kekecewaan yang tiba-tiba saja merasuki tubuhku.
“Oh…, kalau begitu maaf ya Mas! Mas tidak diperkenankan masuk bila tidak membawa undangannya,” tegas seorang petugas berkulit hitam gelap. Aku jadi salah tingkah. Tak tahu harus bagaimana. Kekecewaan mendalam merasuki jiwaku. Rasanya begitu sakit hati ini. Aku meninggalkan antrian dengan perasaan sangat kecewa. Tak terasa air mataku menetes membasahi pipiku yang pucat. Pengorbananku terasa sia-sia.

Aku pun pergi meninggalkan kerumunan para tamu undangan itu. Perasaan kecewa, malu, dan sakit hati seakan menertawaiku. Aku berjalan tanpa arah dan tujuan. Sesalku tiada ujung. Mengapa aku tidak memikirkan hal ini sejak awal…?! Aku berjalan sambil menendang-nendang kerikil kecil di jalanan. Sepanjang jalan kulalui dengan hati yang memberontak. Aku kesal. Marah! Namun aku tak dapat melampiaskannya.

Entah berapa lama sudah aku berjalan, aku tak tahu. Aku duduk di tepi pantai yang indah, tak seindah hatiku saat ini. Kulirik jam tanganku, sudah pukul 10 lewat 30 menit. Air mataku terasa mulai kering. Namun kekesalanku masih tersisa. Aku menundukkan kepalaku. Kurogoh saku celanaku, lalu kuambil kado kecil yang tadinya ingin kuberikan pada Arin. Kubuka.bungkusan kado itu dengan perlahan. Kugenggam erat kalung itu. Tiba-tiba saja bayangan Ibu melintas di benakku. Aku mengingat kembali nasihat beliau padaku ketika aku menghadapi masalah ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku menangis di pangkuan Ibuku. Ibuku mengelus-elus rambutku yang lurus.
“Kamu tidak boleh cengeng Adit. Kamu seorang laki-laki. Kamu harus bisa mandiri!” Begitulah nasihat Ibuku yang masih terngiang di telingaku. Jantungku berdetak kencang. Yang terlintas di benakku hanyalah wajah Ibuku yang sangat aku cintai. Mengapa tak terpikirkan olehku sebelumnya. Ibu lebih membutuhkan kalung ini daripada Arin. Kalung ini bisa saja kujual untuk biaya pengobatan Ibuku yang sedang terkulai lemah di rumah. Ya…, aku harus menjual kalung ini untuk biaya berobat Ibu ke dokter.

Aku pun bergegas menuju toko perhiasan terdekat, tapi sayang, toko itu sudah tutup. Aku pun kembali berkeliling mencari toko perhiasan yang mungkin masih terbuka. Namun lagi-lagi hasilnya nihil. Tak ada satu pun toko perhiasan yang masih terbuka.. Kurasa, mungkin aku memang harus menjual kalung ini besok. Sebab sekarang semua took perhiasan sudah tutup.

Aku pun pulang dengan hati yang sedikit kecewa. Namun aku mencoba tetap tenang dan sabar. Masih ada hari esok.
“Ibu…, Ibu…, Adit pulang Bu…!” kataku sambil terus melangkah ke kamar Ibu. Setibanya di kamar Ibu, dahiku mengernyit, bingung, dimana Ibu? Mengapa kamar Ibu kosong…?
“Ibu…, Ibu di mana Bu…?” Aku kembali berjalan menuju kamarku. Siapa tahu saja Ibu sedang berada di kamarku, pikirku. Namun nihil, Ibu tidak ada. Kucari Ibu dalam setiap ruangan, tetap saja aku tak menemukannya. Hatiku mulai gelisah. Kalau sampai terjadi apa-apa pada Ibuku, akulah yang patut disalahkan. Aku pun berjalan menuju teras rumah. Seorang gadis sebaya denganku berlari ke arahku sambil berteriak-teriak memanggilku.
“Mas Adit…, Mas Adit…! Ibunya Mas… itu Mas Adit…!!! Anu…!!!”
“Ada apa Rin, ada apa dengan ibuku???” tanyaku gelisah.
“Itu Mas…, tadi ibunya Mas Adit ditemukan ibu saya pingsan di dalam kamarnya. Mulutnya mengalirkan darah,” kata Rini terbata-bata. Aku sangat terkejut. Air mataku pun mengalir.
“Sekarang di mana ibuku Rini?” tanyaku sangat cemas, tak sabar menunggu jawaban Rini.
“Ada di Rumah Sakit Umum Mas! Di ruang ICU.”
Aku berlari meninggalkan Rini tanpa kata-kata. Aku tak mempedulikan teriakkannya memanggilku. Aku berteriak memaki-maki diriku sendiri. Kekhawatiranku begitu mendalam. Peluh membasahi sekujur tubuhku. Entah berapa lama sudah aku berlari. Akhirnya aku tiba di RS Umum. Aku berlari kecil menuju ruangan ICU. Di depan pintu ruangan itu aku bertemu dengan seorang suster.
“Sus…, suster. Di mana pasien bernama Ibu Sulastri?”
“Maaf, Mas keluarga Ibu Sulastri ya?”
“Iya Sus, saya anaknya!”
“Mmmmhhh, maaf Mas, sekarang Ibu Sulastri sudah dipindahkan ke ruang jenazah. Baru saja,” kata suster itu dengan nada sopan. Seluruh tubuhku gemetaran dengan hebatnya, hingga tak sadar, aku terduduk. Hatiku merintih. Berteriak sekeras mungkin, sedangkan air mataku hampir habis terurai. Dimana lagi aku harus mencari? Aku menangis seorang diri.

Aku berjalan sempoyongan menuju kamar jenazah. Kulihat jasad ibuku terbaring di atas ranjang jenazah. Ia tak berdaya. Ia hanya seorang wanita tua yang ingin melihatku bahagia. Kupeluk erat jasad ibuku. Hingga kuteteskan air mata penyesalanku. Aku merengek di hadapannya. Aku merasa seakan seisi dunia telah memusuhiku. Aku merasa seakan langit telah runtuh dan jatuh menimpaku.
“Ibu.., bangun Bu. Adit minta maaf! Adit mengaku bersalah. Adit sudah meninggalkan Ibu sendiri di rumah! Adit menyesal Bu…, Adit menyesal! Bangun Bu…, bangun…!!! Ibu sayang sama Adit kan Bu? Jawab Bu, Adit mohon,” kataku lirih. Kurogoh saku celanaku. Kuambil kalung yang tadi tak jadi kujual. Lalu kukenakan pada leher ibuku. Kukecup kening ibuku. Lalu kusapu air mataku yang jatuh di pipinya. Sesalku tiada berujung. Aku adalah orang yang paling berdosa di dunia ini. Seandainya aku bisa, ingin kuulang waktu. Untuk memperbaiki semua yang telah terjadi. Dan kujaga ibuku agar selalu berada di sisiku. Selalu.

“Maafkan aku Ibu, maafkan aku! Andai aku diberi kesempatan kedua, kan kutebus segala dosaku.”

Palu, 23 Mei 2008
(Teruntuk mereka yang masih memiliki ibu)

10 Responses to “Ijinkan Aku Menebus Dosa”

  1. on 15 Jul 2008 at 11:23Vety

    cerpen yg bgt pnjg
    good!

  2. on 15 Jul 2008 at 12:46pecandu cerpen

    “Amat sangat bagus sekali, ceritanya menyentuh hati”

    Selamat ya…atas tulisan cerpennya.

  3. on 22 Jul 2008 at 16:14IyLia

    KeYeeeeeeeeeEeEEEeeN

    cErPen Na Sangat mEnyEntUh…..

    CaYo yAcH ^_*

  4. on 23 Jul 2008 at 10:42zia

    kueren bangets q jadi jadi kesian ama si adit

  5. on 03 Aug 2008 at 22:20steven

    Bagus banget Yah cerpenya.. Hmmm Andaiin Waktu bisa di Ulang Lagi…

  6. on 04 Aug 2008 at 11:35Febra

    Sedih..banged

  7. on 05 Aug 2008 at 00:09Kha

    Cerpennya bgs bgt.menyentuh.bwt aq sadar dan merenung.thanx y dan slamat krn cerpenny bgs.sukses…

  8. on 22 Aug 2008 at 11:46Arvin

    Cerpennya bagus & sangat menyentuh.

  9. on 29 Aug 2008 at 10:44rizta

    hix…hix…hix…sedih banget…..sih…

  10. on 20 Feb 2009 at 10:58nanny

    menyentuh banget……………
    pengalaman pribadi ya……..?

Tinggalkan Komentar