KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

- untuk Kumanosuke Adachi

Pada tanah gelombang, hujan sempat membasahi bibir bumi

melumatnya dalam kecupan yang hambar

ada bandang kekhawatiran

jika retas air itu menyapanya terlalu mesrah

Pada tanah gelombang, ada sebak seekor ternak

yang linglung mendekap punggung kesedihan

sebab ia tak tau kemana pergi sang induk

untuk rumput sejumput ataukah sungut pejantan lagi

Pada tanah gelombang, ada nestapa seorang budak

yang tak punya tara tuk mengukir mantara

tertekuk ia di balik pintu kemiskinan

memandang sisa hujan yang terbang mengabur pelangi

Seperti ternak maupun budak,

pada tanah gelombang, tak boleh punya cukup mimpi

lubang yang menganga

menyedot semua kesadaran tuk cepat berpulang pada jasad

terbelalak akan kenyataan

tentang alur sungai yang ternyata kering

tentang hutan yang ternyata habis terbakar

dan tentang hujan yang ternyata tangis jutaan manusia yang kehilangan pekerjaan

Pada tanah gelombang, mimpi adalah eskalasi candu

sedang kesadaran adalah bengek yang akut

Pada tanah gelombang, hujan memilih untuk tak lagi jatuh

sebab dia takut mimpi-mimpi itu kian mengombak

pula, kian retas kesadaran-kesadaran itu.

Probolinggo, 28 Juni 2008.

Tinggalkan Komentar