Pada Tanah Gelombang
Juli 3rd, 2008 by Stebby Julionatan
- untuk Kumanosuke Adachi
Pada tanah gelombang, hujan sempat membasahi bibir bumi
melumatnya dalam kecupan yang hambar
ada bandang kekhawatiran
jika retas air itu menyapanya terlalu mesrah
Pada tanah gelombang, ada sebak seekor ternak
yang linglung mendekap punggung kesedihan
sebab ia tak tau kemana pergi sang induk
untuk rumput sejumput ataukah sungut pejantan lagi
Pada tanah gelombang, ada nestapa seorang budak
yang tak punya tara tuk mengukir mantara
tertekuk ia di balik pintu kemiskinan
memandang sisa hujan yang terbang mengabur pelangi
Seperti ternak maupun budak,
pada tanah gelombang, tak boleh punya cukup mimpi
lubang yang menganga
menyedot semua kesadaran tuk cepat berpulang pada jasad
terbelalak akan kenyataan
tentang alur sungai yang ternyata kering
tentang hutan yang ternyata habis terbakar
dan tentang hujan yang ternyata tangis jutaan manusia yang kehilangan pekerjaan
Pada tanah gelombang, mimpi adalah eskalasi candu
sedang kesadaran adalah bengek yang akut
Pada tanah gelombang, hujan memilih untuk tak lagi jatuh
sebab dia takut mimpi-mimpi itu kian mengombak
pula, kian retas kesadaran-kesadaran itu.
Probolinggo, 28 Juni 2008.