KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Tak seharusnya dia diam seperti ini.

Selama bertahun-tahun dia hidup, tak pernah ada orang yang tega mengatakan kata sepedih itu. Nyaris telinganya putus karenanya. Entah kenapa, Candra bagai tertusuk pedang yang benar-benar panjang. Candra termenung.

“Aku tahu, kau tak pernah mendengar kata-kata seperti yang kukatakan khusus untukmu. Tapi itu memang pantas. Kau tak akan maju, bila kau seperti ini terus. Percayalah, ini demi kebaikanmu.”

Berbalik, dan pergi. Candra membiarkannya. Tak membalasnya dengan sumpah serapah. Toh dia tak tahu bagaimana caranya. Pasrah, menatap wanita, yang selama ini ia kira menyukainya, pergi meninggalkannya.

Terjawab sudah sekarang. Mengapa selama ini Vety selalu menatapnya dari jauh ? Mengapa dia selalu ikut tugas keluar kantor bersamanya ? Mengapa ? Mengapa hanya dia lelaki yang selalu menjadi pusat perhatiannya dari pada orang lain yang lebih menyukainya ?

Jujur, Candra katakan bahwa Vety adalah sosok wanita yang sempurna di mata lelaki. Dengan paras wajahnya yang tegas dan berwibawa, namun tak membuang kecantikannya yang luar biasa. Kulit putih bersihnya seakan-akan menutupi kegesitan dan kelihaiannya dalam berbagai hal. Walau dia masih termasuk bawahan di perusahaan ternama tersebut, namun namanya sudah harum di berbagai tempat. Sudah dipastikan, dia pasti akan menjadi manager hebat suatu saat nanti. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjadikannya posisi impian semua orang.

Walaupun beribu-ribu lelaki mengejarnya, mengingat ke-single-annya yang menganehkan, namun Candra tak pernah berpikiran untuk mengejarnya juga. Dia lebih suka memilih wanita yang hidup biasa-biasa saja. Yang bisa menghiburnya saat dia pulang kerja. Bukan malah menasehatinya dengan ucapan yang pedas, seperti yang Vety lakukan tadi.

Mungkin benar yang dikatakan Vety, perkataannya tak begitu pedas, manis malah. Namun, karena ketidakpernahan Candra menerima perkataan itu, Candra merana. Dia telah dipermalukan oleh seorang wanita!!! Begitu rendahkah?

Bagi orang seperti Candra, itu bukan masalah besar namun juga bukan masalah biasa. Candra sejak kecil sudah terbiasa tidak dianggap orang. Selama hidupnya, ia merasa lebih sering hidup berindividu daripada dengan bantuan orang lain. Dia hanya orang yang tak berderajat tinggi untuk dipandang, namun bukan kaum huafa untuk dilecehkan.

Candra tak pernah mendapatkan nilai 100 semasa sekolah. Nilai dibawah 50 hanya 2x. Dia bukan termasuk pintar karena mendapatkan juara 20 dari 40 siswa selama 6 tahun di SD, juara 17 dari 37 siswa di SMP, dan juara 24 dari 39 siswa di SMA. Dia lulus sebagai SSi (sarjana Sience) di universitas pinggiran. Walau tidak mendapatkan predikat cum loude, namun dia termasuk mahasiswa dengan nilai tertinggi di kampusnya. Tentu saja itu tak berpengaruh di kalangan pekerjaan karena hanya lulusan universitas swasta yang belum tentu terjamin.

Candra mengulang kembali kehidupannya yang tak menarik itu. Tak ada kerikil di jalannya, tak ada belokan di kotanya, tak ada tempat pemberhentian di jalur pilihannya. Semua serba lurus, tak ada namanya cobaan maupun kesenangan. Semua dilakukan juga dengan perasaan sama, tak ada sedih, tak ada senang, tak ada letih.

Keterlaluankah dia?

Vety… Vety…, mungkin jika bukan dengan perkataanmu, aku takkan pernah menyadari betapa tenangnya kehidupanku.

Semua ini, membuat Candra juga berkehidupan biasa di lingkungan pekerjaan. Untungnya dia langsung diterima di perusahaan ternama setelah 3 kali melamar di tempat berbeda, walau dia hanya sebagai security, tapi jangan tanya gajinya. Cukup untuk membiayai dua anak dan istri selama sebulan, itupun juga disisihkan untuk ditabung. Hanya saja, gaji itu Candra pakai bukan untuk anak dan istrinya, karena ia belum juga menikah di usianya yang seperempat abad itu. Dia memakai gaji itu untuk menghidupi orang tuanya yang sudah lemah dan sekolah adiknya yang masih SMA.

Keluarganya pun masih utuh, ayah, ibu, Candra, dan Indri, adiknya. Membuat Candra dan Indri tak pernah merasakan bagaimana rasanya di tinggal mati oleh seseorang kenalannya. Pernah sih, salah satu teman Candra kecelakaan hingga merenggut nyawanya. Namun Candra bersikap biasa karena merasa tidak terlalu dekat dengan dia. ‘Memang tak ada orang yang dekat denganmu’, Candra teringat kata-kata yang di ucapkan Indri.

Berbeda dengan Candra, Indri sendiri lebih memilih mencari tantangan. Dia begitu aktif di pramuka, karate, dan berbagai organisasi lainnya. Membuat mata Indri masuk ke dalam karena pengalamannya meluap di usianya yang terbilang dini. Dia bahkan nekat berjalan malam-malam di tempat yang sepi agar bisa diculik orang saat dia masih TK. Keinginannya terwujud, membuat ayahnya merogoh 20 juta untuk si penculik itu. Ibunya yang tak tahu apa-apa, hanya bersyukur dan memeluk anaknya yang imut itu. Sedangkan Candra mengacuhkannya selama 3 bulan karena dia tahu yang sesungguhnya. Dan Candra tidak suka melihat kecemasan yang melejit-lejit di muka orang tuanya untuk sebuah kesengajaan Indri.

Indri juga menyadari ketidak menariknya kehidupan kakaknya itu. Namun, apa mau dikata, Indri mendiamkannya. Ia tak mau merubah sikap orang, karena itu akan datang dari orangnya sendiri. Indri juga terlalu sayang kepada kakaknya itu, membuat dia tak tega memberitahunya seperti yang dilakukan Vety. Toh Indri juga tak mau kehilangan kakak karena dunia yang akan dia hadapi jika dia berubah. Seingat Indri, Candra tak pernah namanya jatuh cinta, bahkan pacaran. Ia yakin itu karena kakaknya tak pernah berbohong dan tak canggih menyimpan rahasia. Walau Indri sadar betul kakaknya termasuk membuat wanita melirik, walau tak semua. Ada cewek yang nekat nembak kakaknya saat masih duduk di bangku SMP. Jawabannya ? Kalian tahu sendiri.

Itulah, maka Candra hanya bisa mencintai yang Yang Maha Kuasa dan keluarganya. Candra selalu memperhatikan Indri. Pastinya orang yang tidak tahu mereka kakak beradik akan menganggap mereka berpacaran.

Candra kembali merenungi nasib. Dia yakin bahwa dia tidak bisa berubah. Walau ada pepatah mengatakan ‘tak ada kata terlambat’ dan ‘lebih baik terlambat daripada tidak samasekali.’ Namun Candra sudah terlalu jauh melangkah, ia sudah terbiasa hidup dengan kehidupannya itu, dan dia akan merasa tenang jika jalan yang ia lalui berlalu sama seperti sebelumnya. Candra tidak suka perubahan, jika ada perubahan sejengkal saja, maka Candra akan sulit untuk beradaptasi. Biasanya dia akan berpusing ria dan mual jika keperubahan itu amat sangat tidak disenangi.

“Ini demi kebaikanmu……” Candra kembali mengingat perkataan Vety. Benarkah? Benarkah jika ia berubah menjadi sosok lebih penting akan membuat dia lebih baik? Lebih maju? Akankah perkataan itu benar adanya? Atau, apakah dia dapat berubah? Berapa lama yang akan menyita waktunya jika ia memilih berubah?

Tidak, dia tidak boleh berubah. Dia tidak sanggup menatap dunia dengan kaca mata baru. Bukannya lebih mudah hidup seperti ini ? Tenang, damai, lurus, tak ada ganjalan. Setiap orang pasti mengidam-idamkan kehidupan seperti ini kan? Walau harus hidup sebagai orang menengah, yang takkan pernah hidup di atas, dan tak terlalu dianggap penting oleh orang lain. Toh, dia juga takkan pernah hidup di kolong jembatan dan dilecehkan orang. Lurus…, tak berlubang….

‘Tapi…’ Candra kembali menyadari. Mungkinkah Tuhan tidak menyayanginya? Dia ingat betul dakwah para ulama yang diselenggarakan secara mendadak di kelurahannya. Ulama itu mengatakan, bahwa jika Tuhan memberikanmu cobaan yang berat, maka terimalah, dan jangan berkecil hati dahulu. Karena seberat-beratnya cobaan, pastilah dapat dilalui oleh si penerima cobaan. Dan, yang paling utama, jika Tuhan benar-benar memberimu cobaan, itu berarti, Tuhan masih sayang sama kamu. Karena dengan memberimu cobaan, dan kamu berhasil, kamu akan mendapatkan ilmu dari belajar menghadapi cobaan itu, dan dinyatakan lulus dari salah satu ulangan kehidupan.

Ahh…, dia ingat betul kejadian itu. Saat sesi dakwah dialihkan ke tanya jawab, tangan Candra langsung teracungkan keatas. Candra menerima alat pengeras suara yang diberikan panitia untuknya.

Langsung, dengan wajah tanpa ekspresi, dia berucap setelah bersalam dan memperkenalkan diri, “Pak Ustad tadi berkata, bahwa jika orang diberi tantangan hidup, maka itu bertanda kalau Tuhan masih sayang kapada kita. Bagaimana dengan orang yang tidak diberi cobaan, apakah Tuhan amat menyayanginya atau malah membencinya?”

“Ada dua kemungkinan, seperti yang saudara sebutkan tadi. Tapi, kemungkinannya sedikit. Adakah manusia yang tercipta seperti itu ? Hidup tanpa cobaan?”

Sontak, Indri yang masih SD itu dengan lancang merebut mic di tangan kakaknya dan menjawab, “Ada.” Pak Ustad dan para hadirin hanya tersenyum melihat tingkah laku Indri yang lugu itu.

“Oh ya, siapakah orang itu adik manis?” tanya seorang ibu.

“Kak Candra,” jawab Indri bangga.

Orang-orang yang ingatannya kecil hanya menoleh kekanan dan kekiri menginginkan informasi lebih lanjut karena tak tahu siapa gerangan Kak Candra itu. Namun Candra menjawab, “Itu saya, Pak Ustad” yang ternyata terdengar di seluruh musholla walau tanpa menggunakan pengeras suara.

Candra membiarkan saja Pak Ustad dan hadirin pada saat itu yang tidak mempercayai kehidupannya. Candra pulang dari dakwah itu dan mengambil kesimpulan bahwa cobaan belum tentu karena disayang Tuhan. Candra pun melupakan kejadian itu.

Walau begitu, Candra dapat menarik kembali ingatannya, kejadian di musholla itu terasa baru terjadi kemarin lusa.

Apakah Tuhan benar-benar tidak menyayanginya? Apakah Tuhan menganggap dirinya tidak ada di muka bumi ini? Haruskah dia berubah dan berteriak ke langit agar Tuhan terkejut dan mengetahui keberadaannya?

Pengalaman Candra sedikit sekali, maka dia tidak bisa memecahkan masalah yang baginya begitu rumit ini. Dia terombang-ambing dalam dua pilihan yang tak dapat dia pilih salah satunya. ‘Aku butuh Indri….

Tanpa menunggu jam pulang kerja, dia pulang lebih awal. Toh kerjaannya sudah selesai, dan dia juga tak ingin bertemu dengan Vety dahulu. Dia menaiki taksi karena hatinya sedang panas. Mengacuhkan angkot yang biasa ditumpanginya tercengang melihat kenekatannya menaiki taksi. Walau sebenarnya Candra juga kaget, melihat angkot langgananya sudah menunggunya di tempat biasanya lebih awal, tepat dia keluar kantor. Masak, sopir angkot dan Candra sudah mempunyai ikatan batin hingga tahu jika Candra pulang lebih cepat? Candra tak terlalu memikirkannya.

Tepat dengan prakiraannya, Candra sampai dirumah pada jam 4 sore, waktu pulang kerja perkantoran yang seharusnya dilakukan Candra. Perubahan ini tak membuatnya pusing dan mual, karena memang perubahan ini dia sengajakan.

Indri kaget sendiri melihat kakaknya tiba-tiba pulang cepat tanpa salam langsung masuk ke kamarnya. Tanpa basa-basi, yang Candra tidak sukai, Candra langsung menceritakan alasan mengapa dia pulang cepat. Mata Indri menatap tajam, jelas dia dengan tekun mendengar penjelasannya. ‘Kebetulan, aku sedang ingin memecahkan masalah, habis gak ada tantangan’, pikirnya.

Setelah selesai, Indri ngangguk-angguk, menunjukkan arti bahwa dia mengerti. Setengah menyesal tantangannya tak terlalu sulit.

“Dan Kakak bingung mau memilih yang mana ?” tanya Indri mantab. Candra tak menjawab pertanyaan terjawab itu.

“Gampang,” lanjut Indri melihat kebisuan kakaknya, “sebenarnya Kakak lebih condong ke pilihan mana ?”

Candra hanya menurut saja. Dia mencoba memilih, mana yang lebih menguatkan hatinya???

“Tidak berubah.”

“Ya udah, gak usah berubah kalau gitu. Beres!” jawab Indri. Candra tertegun, hanya itu ?

Dia menanyakan hal itu.

“Ya, hanya itu. Turuti aja apa kata hati Kakak, moga aja hal itu yang terbaik bagi Kakak. Gak usah mikirin Tuhan sayang ama Kakak apa nggak. Toh Kakak akan masuk neraka dulu untuk pencucian dosa, lalu masuk surga jika udah suci.”

“Kak, bisa aja loh, kehidupan Kakak ini termasuk cobaan terselubung. Setiap orang kan cobaannya kan beda-beda.”

Candra menatap adiknya, “Kalau memang ini cobaan, itu berarti Tuhan amat sayang ama Kakak dong. Buktinya memberikan cobaan terselubung, gak dilihatin kalau sebenarnya Kakak menghadapi cobaan”.

“Seratuuusss untuk my brother,” mereka berdua tertawa. Indri sering melakukan ini karena kasihan melihat kakaknya tidak pernah mendapatkan nilai seratus.

“Thanks, Indri, sekarang Kak Candra sudah tahu apa yang akan Kakak lakukan. Kau memang adikku yang bersikap sebagai kakakku.”

“Dan Kakak adalah kakakku yang harus aku jaga karena sikap Kakak yang mencerminkan seperti adikku.”

Mereka berdua kembali tertawa. Candaan itu tak membuat salah satu hati mereka sakit karena merasa terhina, keakraban merekalah yang menyebabkannya.

Diam-diam, Candra membayangkan kehidupannya yang akan datang. Mungkin kerjaanya yang telah naik menjadi juru pengetik akan naik jabatan ke asisten, wakil manager paling tidak. Lalu dia akan menikah dengan seorang wanita cantik yang rela hidup sebagai ibu rumah tangga dan menunggunya pulang dengan ke dua anak mereka dengan senang hati. Kehidupan itu akan berlalu dengan bahagia hingga dia dan istrinya melihat ke dua anaknya dipersunting dengan orang lain, dan hingga dirinya dan istri berumur setengah abad.

Tapi yang pasti, besok, dia akan mengelak perkataan Vety. Dia bangga karena menemukan ketidakbenaran wanita yang kelewat sempurna itu. Dia akan menjelaskan bahwa sebenarnya bisa saja hidupnya termasuk cobaan, entah dilihat dari sisi yang mana. Candra tak sabar menyaksikan raut muka atasannya itu mendengar kata-kata yang telah ia siapkan di komputer pentium 3 nya, tinggal diprint di rental depan rumah saja. Dia membayangkan teman sekantornya juga ikut kagum melihat kata-katanya. Kebiasaan Candra mengetik berbagai macam naskah membuah kamus bahasanya tak terhingga. Dan Candra yakin, dengan koreksian adiknya, bahwa Candra pastinya akan membuat orang kantor tercengang.

Berkilo-kilometer jauhnya, Candra dan Indri tak menyadari, bahwa seorang wanita cantik sedang menatap dengan mata sayu ke sebuah foto 3×4 yang ia curi di arsip karyawan. Dia was-was dengan perkataannya yang ia ucapkan kepada lelaki yang diam-diam membuat ia penasaran dan karenanya membuat ia mencintainya. Dia tak bermaksud memaksanya berubah, karena Vety memang tidak menginginkan hal tersebut. Ia tak mau merubah sikap orang yang telah membuat ia kagum karena sikapnya yang lain dari pada yang lain. Vety berharap, Candra akan teguh pada pendiriannya untuk tidak berubah.

Vety menyesali perbuatannya. Pasti ada cara lain untuk berbicara dengan orang yang setengah bisu seperti Candra, kan? Tidak harus menyerempetnya di lorong kantor yang sepi dan memakinya dengan nasehat-nasehat yang tidak pantas. Sebegitu cintakah Vety hingga rela memaki orang yang dicintainya agar dapat berduaan di lorong yang sepi? Bukankah itu perbuatan yang kekanak-kanakan, perbuatan yang pantang dilakukan oleh orang berintelegensi tinggi seperti Vety, dirinya sendiri?

“Seandainya kau tahu apa yang kurasakan, Candra…”

8 Responses to “Di Balik Ketiadaan Hambatan Hidup”

  1. on 04 Jul 2008 at 10:51nany

    ehh bagus sih
    tapi akhirnya sepertinya agak melamun
    apa memang tokohnya sedang melamun ya?

  2. on 05 Jul 2008 at 09:59Noe

    kata-kata yg di buat si pengarang bagus.
    cmn, mungkin ‘erri’ lemah di kalimat langsungnya…
    jd, perlu diperbaiki.
    tapi, di luar itu, pokok pikirannya bisa di cerna dan bagus.

  3. on 12 Jul 2008 at 18:46Altair

    Ada bagian yang aku gak ngerti, tapi ceritanya bagus.
    100 % BAGUS !

  4. on 13 Jul 2008 at 13:42Tya

    Aq sk ma ceritax..
    Critax ngebwt qt brpikir, gmn khdpn qt sndri.

  5. on 15 Jul 2008 at 11:33Vety

    wah namaku di pakek.
    cerita yang menakjubkan
    aku suka ama ide ceritanya
    kenapa aku gak mikir nulis kyk gitu ya?

  6. on 08 Aug 2008 at 08:52pangki

    bagus. detil. tapi endingnya kurang menggigit.

  7. on 21 Aug 2008 at 14:47erri

    terima kasih atas kritikannya…..

    aku akan berusaha memperbaikinya

  8. on 05 Sep 2008 at 13:02Lin

    Ri kamu emang pinter bikin ceritanya….kasih tips dong…

Tinggalkan Komentar