Danta, Sahabatku
Juli 3rd, 2008 by yoshe
Pertama aku mengenalnya ketika kami mengadakan pelatihan kepemimpinan kaum muda di Tegal Jaya, sekitar 3 kilometer dari kota Denpasar. Saat itu kami berdelapan orang bergabung dalam satu mobil dari salah satu panitia pelaksana. Awalnya kami hanya bertegur sapa dan berjabatan tangan.
“Saya Yoshe.”
“Oh saya Danta.”
“Dari wilayah mana, Danta?”
“Dari wilayah Asumta, Kak.”
Aku memang yang paling tua di mobil itu. Satu persatu kami mengikuti lagu-lagu dari radio, sehingga tak sadar kami pun telah sampai di tempat pelatihan.
Semua bermula dari sini. Selama 3 hari kami lalui sesion demi sesion hingga akhirnya tiba saat malam kreatifitas. Semua anggota dibuat dalam kelompok. Terbentuklah 6 kelompok. Malam itu semua kelompok di wajibkan membawakan suatu acara. Kelompok saya membawakan drama horor. sementara kelompoknya Danta membawa cerita keluarga orang kaya dan pengemis. Dalam cerita itu Danta sebagai pengemisnya. Semua riuh sorak tepuk tangan manakala Danta melakonkan si pengemis itu dengan bagus.
“Cukup, Tuan!” sambil menyapu rambutnya yang lurus yang jatuh di mukanya. Danta seolah - olah menjadi aktor hebat malam itu.
“Saya memang orang miskin, Tuan. Dari dulu memang sudah miskin, ya tetap miskin. Tapi di bangsa pengemis sayalah pengemis yang tertampan.”
“Huuuuu!!” riuh teman - teman yang menyaksikan akting Danta.
Ada beberapa gadis mengatakan, “Iya sih, tampangnya gak cocok jadi pengemis, Danta cakep.”
Weh, kita mencibirnya, ” Danta sok ganteng”.
Akhir cerita si tuan yang kaya itu luluh juga karena bertemu pengemis yang ganteng, dia pun membagikan sedikit rezekinya buat pengemis tampan itu. Malam itu memang membuktikan Danta dinobatkan sebagai peserta terganteng menurut versi panitia dan anggota.
“Memang saya ganteng kah, terbukti toh!!” dialek Medan Danta keluar juga.
Keakraban peserta dan panitia membuat kami merasa enggan mengakhiri acara itu. Namun harus berakhir. Kami kembali dengan membawa suatu semangat kepemimpinan yang diharapkan bisa di terapkan dalam wilayah masing-masing. Rasa rindu pada teman-teman dan juga suasana pelatihan membawa kami untuk selalu SMS menanyakan kabar. Aku berpesan kepada teman - temanku. Jadilah saudara bagi sahabat atau temanmu.
****
Hari minggu adalah hari dimana aku dan semua orang menyempatkan diri untuk menikmati liburan, terkecuali mereka-mereka yang karena tanggung jawab dan jabatannya harus tetap bekerja. Pagi itu aku bangun dengan kedamaian hati. Doa dan Syukur tak lupa aku panjatkan Kepada TUHANKU karena aku di pelihara dan dijagaNya dalam istirahat malamku. Kini aku pun dibangunkaNya dari lelapku. Syukur TUHAN untuk nafas kehidupan buatku hingga aku masih di perbolehkan menikmati kesejukan pagimu yang indah ini. Sesaat mataku tertuju pada jam dinding di kamarku. Waktu menunjukan pukul 08.00 pagi. Aku lekas ke kamar mandi menyirami badan ini dengan air karena aku harus segera pergi beribadah. Dengan sepeda motor aku meluncur menjemput dua keponakanku yang tinggalnya tidak begitu jauh dari tempatku.
Hari ini aku diberi tugas dan tanggung jawab untuk memimpin koor di gereja. Denyut jantungku berdebar kencang, ketika barisan para pastor dan ajudan muncul dari pintu belakang podium altar. Aku harus segera naik keatas mimbar untuk memimpin teman-temanku menyanikan lagu pembukaan, yang menandakan ibadah dimulai. Lantunan musik piano yang dimainkan oleh jari-jari tangan lincah Mas Bima mengiringi nyanyian kami. Setelah mengakhiri lagu pembukaan, aku tidak merasa gugup lagi sampai akhir ibadah. Sorak riuh tepuk tangan umat ketika kami berhasil menyanyikan lagu “I will call upon The Lord”.
Di barisan kursi koor aku melihat ada yang kurang. Ternyata benar. Danta tidak ada dalam barisan. Dalam hati aku bertanya-tanya mengapa anak itu tidak hadir ibadah hari ini. Dan aku menanyakan keberadaannya ke teman-teman yang lain.
“Danta sakit, Kak Yoshe. Dia kena flu.”
Ampun, Danta sakit gara-gara hari Sabtu sebelumnya kita basah-basahan di pantai Bali Beach sampai malam. Mungkin itu penyebabnya Danta absen dalam pelayanan koor hari minggu ini.
Aku begitu lelah karena kurang tidur semalam. Aku bangun terlambat pagi ini. Tiba-tiba tampang Danta yang lucu melintas di kepalaku. Aku meraih HP di bawah bantalku segera mengetik SMS untuknya.
“Dek, apa kamu sudah sembuh. Kata Ramly kamu masih sakit. Kakak harap kamu segera sembuh ya!”
“Whuaha..ha.ha,” aku terbahak - bahak membaca balasan sms Danta.
“Saya dah sembuh Kak, tapi mungkin besok sembuhnya! Doain ya!”.
Danta, Danta. Kamu lucu..