‘Aku’ Chairil Anwar
Juli 2nd, 2008 by fauzil ikhsan
Aku binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Kini puisi itu menjadi cermin dari keadaanku sekarang ini. Seorang seniman yang menjadi binatang jalang. Dan dibuang dari kumpulanku. Semua ini sudah kuperkirakan dari dulu. Saat ketika aku mulai mengenal diriku dikehidupan yang lalu. Kini aku tidak bisa hidup untuk seribu tahun lagi.
Ketika aku mulai mencari jati diriku di setiap biografi yang ada di seluruh sudut perpustakaan. Aku mulai bingung akan garis takdir yang dituliskan untukku. Mengapa Tuhan menciptakan dua binatang jalang di jaman yang berbeda. Aku tak bisa mengatakan aku bukan dia, dan dia tidak bisa dikatakan berbeda dengan diriku.
Aku dan Chairil Anwar.
* * *
Malam menuntun para pencari mimpi ke pembaringannya. Setiap hembusan angin yang mampir di bulu roma, menghiburku dengan gelinya. Terangnya sintar raksasa di balik rindangnya pohon dan selimut awan. Menemaniku yang berduka dalam luka karna ditinggalkan seseorang. Aku cuma bisa menuliskan guratan perih dalam hati dengan sebuah pena dan selembar kertas. Beliau adalah ibu dari ibuku yang amat mengerti diriku. Seseorang yang menemaniku dalam kecilnya tangan dan kakiku.
Nenek adalah orang terdekat bagiku. Apa lagi, beliaulah lumbung keluh kesahku bersarang. Kepergian yang mendadak, membuatku serasa seperti seorang Muhammad, yang kehilangan Abdul Muthalib. Kehilangan, keresahan, kesedihan dan ketakutan, menyatu dalam dingin di malam penuh rasa ini.
Aku koma dalam renungku. Menilik ke masa depan yang kabur dan masa lalu yang makin menjauh. Tatapan Ibu menitipkan dalam sedihnya mengantarkan orang yang aku sayangi itu. Bale-bale bambu tempat aku merajut kenangan bersamanya, kini berubah menjadi tempat aku mengenang senyumnya.
Kini napasku sudah berbau Jakarta. Menempuh hidup baru bersama Ibu yang aku sayangi. Kami meninggalkan kampung halaman di akhir SMUku, setelah laki-laki yang menceraikan ibuku itu, sedang sibuk mencari-cari penghulu, untuk mengawini wanita pemuas nafsunya.
Semejak kakiku menginjak tanah Batavia itu, hasrat penaku bergelora, membawa pikiran ke dunia nyata. Mengajak kata-kata bermain rima dan eja. Semua ini sudah kumiliki semenjak kukenal membaca, menjadi roh yang merasukiku waktu kecil. Buku tak pernah terasa membosankan, ketika berada dalam genggaman kedua tangan dan makanan bagi otakku. Ribuan puisi sudah kulehap habis, ratusan cerpen menjadi penyangga di kepalaku. Semua rasa dalam lembaran kertas itu masih membekas imajiku.
Di sini, aku mengukir nama sebagai salah satu sastrawan terkenal dalam kancah sastra di ibukota. Siapa yang tidak mengenal aku, di tiap lomba karya tulis yang digelar, baik skala kecil maupun nasional. Namaku sudah menjadi penunggu yang tak pernah hilang di daftar peserta. Setiap melakukan apapun aku tak ingin kalah. Aku harus selalu menang. Karna aku dari kumpulan yang terbuang.
Namun, rasanya pujian yang mengucur padaku sangatlah monoton. “…puisimu bagus sekali tampak seperti puisi yang ditulis Chairil Anwar…”,”…puisi yang bagus, tidak kalah dangan puisinya Chairil Anwar…”,”…seperti Chairil Anwar hidup lagi pada dirimu…”. Kenyang kau mendengar pujian-pujian sok tahu seperti itu. Masak karena cuma tulisanku yang tajam dan liar, aku harus dibayangi oleh si jelak penyakitan itu.
Aku mulai pusing dengan pujian-pujian yang datang dan bernada yang sama. Hingga suatu hari aku bertemu dengan Husin di suatu sanggar budaya. Aku menceritakan semua keluh kesahku pada Husin temanku sesama seniman. Husin yang sudah lama berkecimpung di dunia sastra terkejut saat aku ceritakan pengalaman hidupku sewaktu kecil.
“Wah, rupanya riwayat hidupmu benar-benar sama seperti Chairil Anwar! Begitu dekat dengan Nenek, pindah ke Jakarta setelah kedua orang tua bercerai. Dan tanggal lahirmu sama pula! 26 Juli! Sepertinya semua hal yang ada pada diri Chairil ada juga pada dirimu,” Husin menghisap rokoknya yang tinggal sedikit.
“Tapi aku letih harus menjadi boneka untuk menanggung segala nama besarnya. Aku ingin dipuji sebagai diriku sendiri,” aku menunjukan rasa kesal dari wajahku. Husin yang dari tadi ingin tertawa menahan senyumnya.
“Kau untung memiliki seorang sastrawan besar sebagai simbol! Tidak seperti aku! Meski begitu banyak puisiku yang dimuat di koran-koran terkenal, tidak ada yang memuji atau bahkan mengenal siapa aku sebenarnya. Aku justru iri padamu,” Husin menatap jalan yang mulai macet total dari jendela sanggarnya dengan wajah yang sendu.
“Jadi apa saranmu untuk masalahku Sin?”
Husin berpaling dan menjawab, “Sebaiknya kau nikmati saja hidup di bawah bayangannya. Mungkin suatu saat kau akan mengetahui, makna dari hidupmu yang ditakdirkan oleh Tuhan,” Husin pergi meninggalkan asap mengepul dari rokok yang dibuangnya ke asbak.
Kata-kata Husin menjadi kiblat dari jalan yang akan kutempuh. Semenjak itu, kehidupanku berubah. Aku yang dulu begitu minim dalam bersastra, kini mulai mengepakkan sayapku dalam dunia sastra. Karya-karyaku yang dulunya malu mengumbar aurat negara, sekarang menjadi silet yang yang mencabik-cabik dosa para pemimpin. Bahkan, rokok yang dulu kubenci menjadi pacar kedua di kantongku.
Titel “Renkarnasi Chairil Anwar” pun, kini menjadi kenikmatan yang tiada tara. Wajah jelekku, kini bisa kutampakkan di depan para hawa yang kupuja. Mereka menyukaiku bukan karna wajahku, tetapi karna aku adalah setengah ‘Chairil’ dan setengah ‘aku’.
Kini aku mengerti nikmatnya menjadi Chairil di jaman milenium ini. Uang tak begitu susah kudapatkan. Bila hari ini aku mengirim karyaku untuk dimuat di koran, besoknya pasti tercantum. Cuma bermodal nama dan kemasyuranku. Tiap ada lomba karya sastra. Aku menjadi langganan dalam daftar juri. Pokoknya apa saja yang berhubungan dengan sastra dan seni. Namaku tak pernah absen dari mulut mereka.
Tujuh tahun hidup sebagai Chairil, serasa 7 abad bergelut dalam sastra. Tujuh hari ku bermain kata, tujuh jam tidurku tak menentu, tujuh detik napasku kian terpaku.
Rokok yang menjadi sahabatku sekarang jadi musuhku, dokter menjadi sahabat yang kutakuti saat batuk bersarang di tenggorokan. Napasku tak lagi sehidup dulu. Tapi entah kenapa rokok tak pernah jauh dari bibir.
Penyakit mulai datang silih berganti. Detak jantungku berteriak seakan ingin mati. Darah menjadi sesak di ujung nadi. Hamparan napas membumbung tinggi. Roh di raga kadang pergi kadang kembali, menembus lapak awan dan bumi. Kini ku lelah bila ingin berlari. Apalagi mencari tempat untuk bersembunyi.
Kini tubuh mudaku semakin sering terbaring lesu di bangsal hijau. Mengidap penyakit langganan orang miskin, TBC. Ya ampun, rupanya Tuhan belum berhenti mempermainkan takdirku. Masih saja aku dan si dia memiliki kesamaan.
Ajalku mungkin sudah dekat, karna imajinasiku mulai pekat. Tidak! Aku belum boleh mati. Masih ada satu hal yang belum kutiru dari Chairil.
Kuambil buku sastra Belanda yang ada di rumah sahabatku, kubaca dan kupermainkan kata-kata di dalamnya. Sekarang mungkin kata-kata itu sudah tersisip rapi di sela-sela kertas di toko buku.
Yah kini tugasku sudah selesai. Tinggal menunggu saat itu. Hadiah kejutan apa yang akan diberikan oleh Tuhan.
Masih di bangsal hijau yang kumuh itu. Baru saja anakku, bersama mantan istriku yang dulu kuceraikan tanpa sebab, pulang dari pintu gerbang peristirahatanku. Tiba-tiba Ahsani, sahabatku, datang dengan wajah yang kesal.
“Ada apa San!? Kok datang menjengukku dengan wajah yang kusut seperti itu?”
“Aku baru saja membaca buku kumpulan puisimu yang baru terbit! Ada yang membuatku kesal!” Bukuku itu tersimpan dalam genggam erat tangannya. Aku paham betul apa yang dimaksudkannya. Senyum terpampang di wajahku.
“Ada empat puisi karya penyair besar Belanda yang kau sadur disini. Tapi kenapa? Kenapa kau tidak kau tulis dari mana kau sadur puisi itu?”
Jawaban tak kunjung keluar dari mulutku. Senyumku tidak menghiraukan tatapan Sani yang tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.
“Aku Chairil Anwar,” terlepas kalimat itu dari mulutku. Wajah kesal Sani berubah menjadi rasa terkejut.
“Kau bukan Chairil Anwar! Kau adalah kau! Kau tak perlu meniru dosanya yang tak terampuni itu. Kau akan menjadi binatang jalang. Dan akan terbuang dari kumpulanmu!”
Senyumanku tiada bergeming dari opini Ahsani yang keras. Suasana menjadi hening sekejap.
“San, tanggal berapa sekarang?” tanyaku memecah keheningan.
“Tanggal 28,” jawab Sani heran
“Jam berapa?”
“Dua lebih 13 menit.”
“Oh, sebentar lagi.” Sani heran mendengar kalimat terakhirku itu.
Siang di bulan April, begitu hangat ketika kucoba memejamkan mataku. Dan menikmati hembusan napasku di tiap detik.
Banjarmasin. Mei 2008
sedikit ku sadur dari guratan pena chairil anwar, ‘aku’
Tulisan yang bagus….seperti ……..guratan pena Chairil Anwar……
ah cerpenx kueren bnget bos gua cka banget gaya loe. g rugi gua klw sring baca cerpen………..ok cinta